Menikahi Seorang Putra Raja

Menikahi Seorang Putra Raja
episode 108 Adu Romantis


__ADS_3

Mendengar jawaban dari ayah Refald, ibu Refald tersenyum simpul kerena ingatan suaminya yang sudah berumur ini tajam juga. Dengan begitu, ibu Refald jadi tahu manakah suaminya yang asli. Tanpa pikir panjang lagi, kakak dari ibu Leo itu mengambil senjata api yang terselip dibalik gaun indahnya. Ia memang sengaja membawa senjata api ini untuk berjaga-jaga, kalau ada bahaya datang mengancamnya mengingat disetiap pesta pernikahan anggota keluarganya, selalu saja ada pangacau yang mengganggu jalannya pesta.


Dengan cepat, ibu mertua Fey langsung menembak orang yang telah berani menyamar sebagai suaminya. Siapa lagi kalau bukan pria yang menjawab pertama pertanyaannya tadi.


Dor! Dor! Dor!


Tiga timah panas mendarat mulus dibagian kepala Dilagara palsu dan seketika, monster itupun tumbang hingga berubah jadi abu. Tentu saja aksi memukau ibu Refald membuat takjub setiap orang yang menyaksikannya. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa wanita anggun nan elegan itu bisa jago menembak juga.


“Wuah, ibu keren sekali,” puji Fey girang.


“Tentu saja, Honey. Ayahlah yang mengajari ibu menembak sejak mereka berdua masih berpacaran dulu,” terang Refald ikut senang.


“Benarkah, sekarang aku tahu dariman keromantisanmu menurun.” Fey tersenyum pada suaminya dan Refaldpun balas tersenyum.


“Hemmm, dari mereka berdua.” Refald merangkul erat bahu Fey dalam dekapannya.


Tak hanya Fey yang kagum akan eksistensi ibu mertuanya. Shenapun juga ikut terkesima. Ternyata dikeluarga besar Leo, tak hanya para lelaki saja yang memiliki pesona memukau luar biasa, para wanita yang menjadi pasangannyapun juga tak kalah menakjubkan. Hal itu membuat Shena jadi bertanya-tanya, apakah ibu mertuanya juga sama hebatnya dengan saudarinya. Jika demikian, maka secepatnya Shena juga harus belajar menembak dari suaminya.


“Leo,” bisik Shena pada suaminya.


“Ehm, apa Sayang? Kau minta dicium lagi?” goda Leo.


“Ih, apaan sih? Aku hanya penasaran, apa ibu … juga jago menembak seperti bibi?” tanya Shena tanpa mengindahkan godaan Leo.


“Kenapa kau tidak tanyakan sendiri, padanya?”


“Ayah dan ibu sedang memadu kasih, tidak enak mengganggu momen indah mereka,” ujar Shena jujur dan itu membuat tawa Leo pecah.


“Mereka suka mengganggu keromantisan kita berdua, tidak ada salahnya jika sekarang giliranmu balas dendam pada mereka.”


“Tidak, aku ingin kau sendiri yang memberitahuku,” cetus Shena.

__ADS_1


“Bisa, ibu bisa menembak dan ayahlah yang mengajarinya sama seperti yang pernah kuajarkan padamu. Lain kali, kita akan berlatih menembak lagi jika kau mau Sayang.”


Sebuah pelukan mesra Dari Shena mendarat mulus dileher Leo. “Aku mau! Ajari aku menjadi penembak jitu sepertimu!”


“Tentu, tapi sebagai bayarannya ….”


“Iya … iya … aku tahu, kau boleh minta bulan tertusuk ilalang sebanyak yang kau mau!” sela Shena karena sudah bisa menebak kemana alur pembicaraan suaminya.


“Setuju!” kini giliran Leo yang memeluk erat Shena yang pastinnya tak mau kalah dengan Refald-Fey.


Sementara ayah Refald, berjalan pelan mendekat kearah istri cantiknya. “Kau keren seperti biasanya, Sayang,” ujar Dilagara sambil merebut senjata api ditangan wanita anggun yang berdiri tegap didepannya. “Tapi wanita cantik sepertimu, lebih pantas berdansa denganku daripada memegang senjata.” Dilagara tersenyum simpul menatap tajam mata indah istrinya.


Dengan lembut, ayah Refald itu meletakkan kedua tangan wanita yang bernama Mei diatas kedua bahunya. Alunan musikpun mendadak terdengar syahdu dan dua sejoli itupun berdansa bersama mengikuti irama.


Saking takjubnya dengan aksi yang dilakukan ayah dan ibu Refald serta Byon dan Biyanca, semua orang baru sadar kalau ternyata para monster bertopeng sudah berhasil mereka kalahkan semua tanpa ada yang tersisa. Artinya, dalam peperangan ini, ketulusan cinta sejati merekalah yang menang.


Dari setiap pasangan yang ada disini, semua wanita bisa mengenali pasangan mereka dengan baik tanpa mengalami kendala sulit. Merekapun merayakan keberhasilan ini dengan saling berdansa bersama pasangan masing-masing dan pastinya sebuah kecupan-kecupan mesra menghiasi para apsangan seluruh sejoli yang ad adi pesta ini.


“Kenapa kau menghalangi mataku, Kak? Turunkan tanganmu!” bentak Bima.


“Kau belum cukup umur!” ujar Yeon santai.


“Aku sudah lebih dari 17 tahun, artinya aku sudah cukup umur!” protes Bima.


“Kau itu masih bocah bau kencur! Tidak seharusnya kau melihat pemandangan vulgar ini!” Yeon masih tidak mengizinkan adiknya melihat kemesraan seluruh anggota keluarganya.


“Vulgar apanya? Mereka sweet banget, tahu! Minggir! Singkirkan tanganmu dari mataku!” bentak Bima lagi.


“Baik, aku akan menurunkan tanganku, tapi kau tidak boleh melihat mereka semua dari tempat ini. Ayo ikut aku, lihat dari arah lain saja!” Yeon langsung menuntun adiknya tanpa perlu menunggu persetujuan dari Bima.


Keduanya berjalan menjauh dari lokasi pesta sambil terus menutup mata Bima dari belakang menggunakan kedua tangan Yeon. Tak ada yang bisa dilakukan Bima kecuali menuruti petunjuk kakaknya. Sebenarnya, Bima bisa saja melawan, tapi ia tidak melakukannya karena ia sangat tahu apa yang dilakukan kakaknya ini adalah yang terbaik untuknya.

__ADS_1


“Sudah belum? Singkirkan tanganmu, aku ingin melihat adegan romantis mereka!”


“Belum, terus saja jalan!” seru Yeon.


“Kenapa lama sekali, kan hanya pindah tempat!” Bima mulai protes lagi. Ia merasa aneh karena ini sudah terlalu lama kalau hanya pindah tempat saja.


“Cari tempat yang pas untukmu, makanya lama,” jawab Yeon singkat.


“Ck, kau ini ada-ada saja, jika begini mereka semua keburu selesai.


“Nah, sudah sampai! Inilah tempat yang pas untuk matamu! Tada ….” ujar Yeon sambil tersenyum senang. Iapun menurunkan tanganya dari mata Bima dan membiarkan adiknya menikmati pemandangan yang ada dihadapannya.


Sudah bisa ditebak sepertia apa reaski Bima saat ia tahu tentang apa yang ada didepannya. Spontan napas Bima langsung naik turun saking kesalnya.


“Kakaaaak!” teriak Bima menggelegar, dan Yeon sudah menutup telinganya sejak tadi. “Apa yang kau lakukan, ha!” bentak Bima.


“Apanya? Memperlihatkan apa yang pas untuk kau lihat!”


“Kau!” geram Bima. “Seandainya kau bukan kakakku sudah kubikin dadar gulung kau!” Bima ingin berbalik arah menuju lokasi sebelumnya, tapi tubuhnya langsung ditahan oleh Yeon. Putra sulung Leo itu, tidak akan membiarkan adiknya pergi dari sini dengan mudah.


“Minggir!’ teriak Bima kesal.”


“Langkahi dulu mayatku! Baru kau bisa lewat!” tandas Yeon sambil terus menahan tubuh Bima yang berontak minta dilepaskan dari cengkeraman tangan Yeon.


“Apa ini Kak, aku ingin melihat pemandangan indah! Kenapa kau malah bawa aku kemari, ha?” sengal Bima masih kesal.


“Dibelakangmu itu juga pemandangan indah, bodoh! Apa kau buta? Kau tidak lihat? Ada danau dan gunung menakjubkan terhempas luas disana. Itu adalah pemandangan tereksotis yang pernah kulihat di tempat ini.” Yeon menyeringai.


“Kakaaaak!” teriak Bima sekali lagi dan tawa Yeon semakin keras terdengar melihat tingkah adiknya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


***


__ADS_2