
Upacara pemakaman untuk nenek Haida segera dilangsungkan. Rhea berdiri tepat didepan jasad almarhum untuk memberi tanda penghormatan terakhir sebelum jasadnya dikuburkan. Dibelakang Rhea, juga berdiri Rey dan seluruh penduduk kota yang ikut menghadiri pemakaman sesepuh mereka.
Rey berjalan pelan dan memberikan karangan sebuket bunga marigold untuk Rhea. Dengan ekspresi penuh duka yang mendalam, Rhea menerima bunga itu. Proses penguburan jasadpun dilakukan dan disaksikan oleh seluruh warga penduduk kota. Setelah selesai, Rhea berjalan pelan untuk meletakkan bunga marigold diatas pemakaman neneknya.
Namun, baru beberapa langkah Rhea berjalan, tiba-tiba saja sebuah tangan terulur dan ikut memegang bunga marigold yang ada ditangan Rhea. Rhea tercengang karena ternyata orang yang ikut memegeng bunga tersebut adalah kakaknya, Rara.
“Kakak!” ujar Rhea. Ia terkejut melihat Rhea sudah berdiri disampingnya.
“Kita akan meletakkan bunga ini bersama-sama.” Rara tersenyum tapi matanya berkaca-kaca seolah air matanya sudah ingin tumpah keluar. Namun, Rara berusaha keras menahannya.
“Tapi, kau ....” Rhea tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Sebab ia sendiri tidak menyangka kalau kakaknya akan pulih secepat ini. Rhea yakin, pasti ayah Reylah yang membantu menyembuhkan Rara.
“Aku kuat, aku masih bisa bertahan. Setidaknya, inilah tanda penghormatan terakhir dariku untuk satu-satunya orang yang kumiliki didunia ini. Aku harus mengantar kepergiannya juga, Rhea. Dengan begitu, aku tidak akan menyesal walapun aku harus mati sekarang.”
Rhea jadi ikut berkaca-kaca, tapi ia berusaha keras menahannya. Gadis itu yakin, inilah yang diinginkan neneknya. Rhea dan Rara bersama-sama mengantar kepergiannya. “Selamat tinggal nenek, selamat jalan. Semoga nenek tenang dialam sana dan terima kasih untuk semuanya,” ujar Rhea. Sedangkan Rara hanya diam saja.
Mereka berdua meletakkan bunga marigold itu untuk nenek tercintanya. Rara hanya bisa meminta maaf pada neneknya dengan sepenuh hati atas apa yang selama ini sudah ia lakukan.
__ADS_1
“Aku mendapat kesempatan kedua untuk menata hidupku kembali, Nek. Mulai sekarang, jangan khawatirkan aku lagi. Sebab, aku akan hidup dengan baik, karena aku tidak sendiri, ada si bodoh Rhea yang sudah berani membohongiku dan janin yanag ada dalam kandunganku. Apa nenek tahu? Cucu angkatmu itu mengira aku gampang dibohongi. Aku kembali sadar kerena ingin sekali menjitak kepalanya. Aku harap nenek tidak marah jika aku melakukannya karena cucumu itu sudah berani berbohong padaku,” ujar Rara yang langsung disambut tangis Rhea.
Rara menoleh pada Rhea dan langsng memeluk adik angkatnya. “Dasar kau! Apa kau mau aku cincang, ha? Berani sekali kau berbohong padaku mengatakan bahwa Jakson mau mengakuiku dan janin yang kukandung ini? Aku benar-benar kesal padamu! Itu jelas tidak mungkin! Aku ingin segera sadar dan memarahimu habis-habisan!” isak Rara sambil memeluk erat Rhea tepat didepan makam neneknya.
“Aku dengar, berbohong demi kebaikan itu tidak apa-apa, Kak. Aku mencoba melakukan itu karena ayah mertuaku bilang, Kakak kehilangan semangat untuk hidup. Aku tidak mau kehilanganmu, kau satu-satunya keluarga manusia yang aku miliki. Pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa kalau aku punya keluarga yang sempurna. Apa jadinya aku jika aku kehilanganmu juga?” Rhea menangis dipelukan Rara.
“Tetap saja, kau tidak perlu berbohong seperti itu? Aku marah padamu! Aku tidak mau kau memberikan pabrik itu untuk anakku. Tarik kembali semua ucapanmu atau aku tidak mau menganggapmu sebagai adikku lagi.”
“Kakak dan anak Kakak, lebih membutuhkan pabrik itu daripada aku. Jangan khawatirkan aku karena aku menikah dengan seorang pangeran. Dia jauh lebih tajir dariku. Dia tidak akan mungkin membiarkanku kekurangan apapun. Lagipula, itu adalah pabrik buatan ayah mertuaku yang diberikan pada ayahku. Kami semua tidak membutuhkan semua itu. Begitu aku menikah dengan Rey, aku pasti akan ikut suamiku kemanapun ia pergi. Tidak akan ada yang mengelola pabrik itu jika aku pergi nanti. Karena itulah, pabrik itu aku berikan padamu sekarang.”
“Rhea tidak bohong, Ra!” ujar seseorang dari balik punggung Rara. “Yang dikatakan Rhea memang benar. Aku ... menerima anak yang ada dalam kandunganmu sebagai anakku, darah dagingku. Dan aku mau ... kau memaafkanku atas semua kesalahan yang aku lakukan padamu karena sudah menyakitimu. Maafkan aku, Ra.”
Dihadapan semua orang, Jakson berlutut dihadapan Rara yang berdiri tertegun tak percaya setelah melihat kedatangannya kemari.
"Untuk apa kau kesini?" tanya Rara. Air matanya mengalir membasahi pipi.
“Aku sungguh-sungguh minta maaf padamu, Ra. Aku harap kau bersedia menikah denganku sekarang juga. Aku berjanji, akan menjaga dan melindungimu serta menjadi suami dan ayah yang baik untuk anak kita.” Jakson menengadah menatap Rara yang sejak tadi hanya diam.
__ADS_1
Rara tidak tahu harus bilang apa, kehadiran dan pernyataan Jakson membuatnya galau. Disaat ia siap untuk menata hidupnya seorang diri, tiba-tiab saja Jakson datang dengan janji. Dulu ia mengharapkan janji ini, tapi setelah apa yang dilakukan Jakson padanya. Rara takut dan trauma jika suatu hari nanti, Jakson akan menyakitinya lagi.
Seakan tahu apa yang dipikirkan Rara tentangnya, maka Jakson pun mengeluarkan sebilah pisau kecil dan menggores telapak tangannya dengan pisau kecil tersebut. Darah mengalir deras dari telapak tangan Jakson.
“Apa yang kau lakukan?” teriak Rara. Ia merobek pakaian bagian bawahnya untuk membalut luka ditangan Jakson. “Apa kau sudah gila? Apa dengan begini kau bisa membuatku memaafkanmu? Aku akan semakin membencimu jika kau melakukan tindakan bodoh seperti ini. Kau dengar itu!” Rara terus mengomel sambil berlinang air mata, tapi tangannya sibuk membalut luka yang ada ditangan Jakson.
“Darah ini tidak sebanding dengan air mata yang kau keluarkan gara-gara aku. Maafkan aku, Ra ... sejak malam itu ... aku terus memikirkan ucapanmu saat kau menolak menikah denganku. Aku marah, aku kesal pada diriku sendiri. Aku melakukan sesuatu yang bukan diriku. Alan datang dan menghajarku habis-habisan. Pukulan-pukulan Alan kembali menyadarkanku bahwa apa yang aku lakukan salah besar.”
“Lalu ... bagaiamana dengan wanita yang ada dimobil itu? Kau juga sudah tebar benih padanya? Apa kau juga akan berangungjawab padanya? Dan memadu kami? Tidak, Jack. Aku tidak mau dimadu ...”
“Aku tidak melakukan itu padanya, walaupun aku ingin ... aku tidak bisa. Karena hanya wajahmu saja yang terbayang dikepalaku setiap kali aku mencoba melupakanmu dengan mengencani banyak wanita. Aku tersiksa Ra, aku hanya ingin balas dendam padamu, tapi aku baru sadar kalau aku ... juga jatuh cinta padamu. Aku tahu aku tidak pantas bicara soal cinta didepanmu setelah apa yang aku lakukan. Namun, aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri. Aku bersedia menerima hukuman apapun darimu. Lakukan apapun yang kau inginkan, bahkan jika kau ingin membunuku. Aku siap mati ditanganmu.” Jakson memberikan pisau kecil yang tadi ia gunakan untuk menggores telapak tangannya pada Rara.
Dengan ragu, Rara mengambil pisau tersebut sambil menatap tajam mata Jakson.
***
BERSAMBUNG
__ADS_1