
Bila Refald dan putranya sedang bertarung dengan menggunakan kekuatan mereka masing-masing, maka lain halnya dengan Fey dan Divani. Dua wanita cantik itu lebih memilih menemui putri mereka yang sedang bersiap untuk merayakan malam pesta pernikahannya daripada melihat Rey kalap.
Setelah berjalan beberapa menit, Fey dan Divani sampai didepan sebuah pintu. Istri Refald membuka daun pintu ruangan dan Fey langsung takjub saat melihat betapa cantiknya Rhea sekarang ini. Gaun putih panjang tanpa lengan yang melekat ditubuh Rhea semakin menambah pesona rupawan wajah Rhea, ia sangat anggun memakai gaun putih yang indah itu.
“Kau cantik sekali Rhea,” ujar Fey begitu ia masuk kedalam saat Rhea duduk didepan cermin.
“Ibu,” panggil Rhea dan gadis itu berdiri menyongsong ibu kandung dan ibu mertuanya.
Fey memeluk menantunya dengan erat dan Divani yang menyaksikan hal itu jadi ikut terharu melihat ratunya begitu menyayangi putrinya seperti anak kandungnya sendiri. Divani tidak lagi mengkhawatirkan Rhea karena putrinya ini kini memiliki suami dan keluarga yang menyayanginya melebihi dirinya sendiri.
Kenangan saat Divani melahirkan Rheapun terlintas dibenak istri pak Po. Malam itu, malam dimana Rhea hendak lahir kedunia. Hujan begitu deras membasahi seluruh sekitar goa tempat tinggal Divani dan pak Po sementara. Divani yang sedang hamil tua, mulai merasakan sakit yang luar biasa saat mengalami kontraksi. Pak Po yang bodoh hanya bisa menenangkan Divani tanpa tahu bahwa anaknya akan lahir.
Waktu itu, keduanya memang diminta Refald dan Fey tinggal disebuah goa tempat Refald dan suaminya dulu bertapa. Sebab, hanay goa itulah yang bisa melindungi Divani dan anaknya yang akan lahir karena menjadi sasaran incaran para iblis jahat. Mereka tahu anak pak Po, kelak akan menjadi bumerang bagi para makkluk astral tak kasat mata itu. Karena itulah para iblis jahat mencoba melenyapkan Divani dan anaknya.
“Apa yang terjadi, Di … kenapa kau merintih seperti itu?” Tanya pak Po sedikit panik.
“Sepertinya, anakmu akan lahir, Zi … panggilkan Raja dan Ratu segera,” pinta Divani sambil menahan rasa sakit yang amat sangat.
“Baik,” ujar pak Po.
Namun, belum juga dedemit itu memanggil raja dan ratunya, Fey sudah ada didalam goa dan muncul didepan Divani. Sementara suaminya Refald langsung bertarung dengan semua iblis jahat yang hendak masuk menyerang Divani. Saat itu, istri pak Po masih menjadi manusia biasa saat melahirkan Rhea.
“Di ….,” seru Fey ikut cemas sekaligus sedih. Sebab, dengan lahirnya Rhea kedunia, artinya istri pak Po ini juga harus meninggalkan dunia yang fana ini.
__ADS_1
“Saya siap, Ratu. Anda sudah memberitahu saya sebelumnya dan sayalah yang memilih jalan ini. Anak ini … adalah buah cinta kami berdua, apapun akan saya lakukan asalkan suatu hari nanti anak kami bahagia,” ujar Divani disela-sela ia menahan rasa sakit yang amat sangat.
“Putrimu akan bahagia, Di. Karena dia … akan menjadi menantu dikeluarga kami. Putrimu akan menikah dengan putraku. Dan setelah kau tiada, kalian berdua tetap bisa menjaga dan membesarkannya bersama. Putrimu akan mewarisi kekuatan pak Po. Dia bisa melihat kalian berdua meski berbeda dunia. Putrimu, tidak akan pernah kesepian sampai waktunya tiba. Waktu dimana ia harus bertemu dengan calon suaminya dan menikah dengannya. Itulah yang dikatakan Refald padaku,” Fey berkaca-kaca saat mengatakan hal itu.
Sedangkan Divani, jangan ditanya lagi. Ia begitu bahagia karena putrinya telah terpilih menjadi menantu keluarga seorang raja dedemit terkuat yang pernah ada didunia. Yang ia cemaskan hanya satu, apakah nanti Rhea bisa mendapatkan cinta dari suami dan keluarga menantunya? Sebagai seorang ibu, Divani hanya memikirkan yang terbaik untuk masa depan putrinya.
“Kau jangan khawatir Di, aku akan mencintai dan menyayangi putrimu layaknya putriku sendiri. Meskipun aku dan Refald serta calon suami putrimu tinggal di Swiss. Kami masih bisa melindungi Rhea dari mara bahaya yang mengancamnya. Jangan khawatirkan apapun. Begitu Rhea lahir kedunia, artinya dia menjadi putriku juga.” Fey menjawab semua kekhawatiran yang dirasakan Divani saat ini. Sebab, seperti halnya Refald, Fey juga bisa membaca pikiran orang lain.
Divani tidak bisa berkata lagi, rasa sakitnya semakin menjadi, sepertinya ia sudah mulai mengalami pembukaan dimana proses melahirkanpun dimulai. Fey yang sudah terlebih dulu merasakan seperti apa rasanya melahirkan juga berusaha membantu Divani untuk mengatur napasnya dan disasat dorongan terakhir, seiring jeritan terakhir dari Divan, Rhea lahir kedunia dengan suara tangisnya yang kencang.
Pak Po yang mendengar kalau putrinya sudah lahir langsung tertegun, saat ini ia juga sedang membantu Refald melawan para iblis jahat yang mencoba menyerang istri dan anaknya. “Raja … i-itu … suara … tangisan anakkukah?” tanya pak Po mulai berkaca-kaca. Salah satu pasukan dedemit itu memang sensitif dan gampang sekali menangis.
“Selamat pak Po, putrimu telah hadir kedunia ini. Ayo kita bereskan ini semua supaya kau bisa segera melihat putrimu,” ujar Refald masih sambil manatap para iblis jahat itu.
“Sudah beres, Raja. Ayo kita lihat seperti apa anakku,” ujar pak Po sambil tertawa. Refald tak menjawab. Rupanya anak buahnya ini hebat juga.
Fey langsung menggendong bayi Rhea yang terlihat sangat menggemaskan. Mbak Kun yang juga hadir disitu jadi ikut terharu melihat putri pertama rekannya telah lahir. Ia membantu membersihkan bayi mungil yang baru saja lahir dan membalutnya dengan pakaian hangat. Tangis bayi itu langsung mereda setelah ia merasa hangat dan nyaman.
“Dia cantik sekali, benarkan Ratu?” ujar mbak Kun pada Fey.
“Ehm, kau benar, mbak Kun.” Fey tersenyum senang.
Kerena waktu yang dimiliki Divani tidak banyak, Fey langsung membawa bayi menggemaskan yang mereka beri nama Rhea Sasikirana Fahrezi kedalam dekapan ibunya. Tentu saja Divani juga ikut tersenyum walau ia tidak bisa melihat seperti apa wajah cantik putrinya.
__ADS_1
“Selamat, Di … putrimu lahir dengan sempurna. Dia juga sangat cantik sekali. Dia perpaduan antara dirimu dan pak Po.” Fey ikut bahagia melihat Divani tersenyum menggendong putrinya.
Bertepatan dengan itu, pak Po datang dan langsung memeluk istrinya yang sedang menggendong Rhea. Sementara Refald juga memeluk pinggang Fey dengan mesra seperti biasanya.
“Terimaksih Di … putri kita sungguh cantik sepertimu.” Pak Po tak henti-hentinay tersenyum, ia tidak pernah menyangka akan memliki seorang anak. Rasanya ia ingin sekali melompat-lompat jadi pocong sungguhan saking senangnya. Namun, rasa senangnya itu mendadak lenyap setelah mendengar ucapan dari Refald.
“Sudah waktunya, Di. Berikan putrimu pada mbak Kun dulu.” Refald mulai bersiap dan berdiri didepan Divani.
“Tunggu, Raja!” ujar pak Po sebelum Refald melakukan ritualnya.
“Ada apa?” sengal Refald. Padahal pak Po sudah ia beritahu apa yang bakal terjadi pada Divani begitu ia selesai melahirkan.
“Ehm, Raja … jika Divani menjadi sepertiku … berarti … apakah aku … bisa punya anak lagi?” Tanya pak Po sok polos dan ia langsung mendapat lemparan sandal dari Fey.
“Pak Pooo! Dasar bengek kau! Disaat seperti ini masih sempatnya kau memikirkan bagaimana membuat anak lagi? Dedemit macam apa kau, ha!” teriak Fey dengan kesal.
Tentu saja lemparan sandal Fey terhadap pak Po tidak mempan karena tubuh pasukan dedemit Refald itu transaparan. Hanya saja, pak Po kaget juga karena tiba-tiba Fey melemparinya dengan sandal dan langsung emosi padanya.
BERSAMBUNG
***
Kita flashback sebentar kemasa Rhea dilahirkan dulu, ya … yang penasaran seperti apa sewaktu Rhea lahir, inilah kisahnya. Si pak Po tetep suka bikin Fey darah tinggi. Hehehe … sabar ya Fey.
__ADS_1
untuk Visual Yeon udah pernah aku upload di Ig .. klo visual Bima, sudah ada tapi aku gk mau post dulu karena ceritanya masih belum aku buat. Maaf kalau telat upnya karena kondisi tubuh lagi gak vit ... mohon sabar nunggu kisah Rey dan Rhea selanjutnya. Dan terimakasih atas semua dukungannya. Love you all ...