Menikahi Seorang Putra Raja

Menikahi Seorang Putra Raja
episode 30 Akhirnya ...


__ADS_3

Yeon bingung karena tidak menemukan Bima diatas pohon. Padahal sebelumnya, adiknya bergelantungan disekitar tempat dia berada sekarang. "Bim! Kau dimana?" panggilnya.


"Disini, bodoh?" seru Bima dari bawah. Ia sudah terlentang menghadap Kakaknya yang malah asyik bertengger di salah atau dahan pohon.


"Kenapa kau tidak bilang kalau kau sudah rebahan di situ?"


"Siapa yang rebahan? Aku terjatuh karena kaget mendengar kau berteriak! Dasar menyebalkan. Aduh, sepertinya aku mengalami patah patah tulang!" keluh Bima, tubuhnya kaku dan tidak bisa bergerak.


"Pasti si Voldemort itu yang menurunkanmu. Kalau kau patah tulang, mana mungkin kau masih bisa bicara. Harusnya kau sudah pingsan karena jatuh dari ketinggian." Tidak ada sahutan, Yeon melihat adiknya yang ternyata pingsan beneran. "Lah, malah pingsan! Benar-benar kelewatan si Voldemort itu?" Yeon pun bergegas turun untuk memeriksa kondisi Bima.


Rey tertawa terbahak-bahak mengetahui apa yang terjadi pada dua bersaudara akibat ulah usilnya. Tentu saja sikap Rey mengundang tanda tanya besar bagi Rhea.


"Apa yang sedang kau tertawakan?" tanya Rhea bingung.


"Adikku, aku menjatuhkannya tepat saat Yeon naik keatas pohon. Wajah bodohnya benar-benar lucu. Sungguh aku sangat suka menjahili mereka. Itu hiburan tersendiri bagiku, apalagi setelah aku kehilanganmu, hanya mereka yang bisa membuatku tertawa. Akhirnya, mereka memanggilku Voldemort." Rey masih tertawa sambil terus menyetir.


"Mereka benar, kau memang Voldemort," ujar Rhea.


"Aku terlalu tampan untuk jadi Voldemort, Sayang."


"Dasar Dumbledore!"


"Itu terlalu tua!"


"Ya sudah! Malfoy saja!"


"Aku tidak sejahat dia."


"Siapa bilang kau tidak jahat? Kau membuat adikmu ketakutan dan terluka. Kau bahkan lebih jahat dari Malfoy."


"Mereka sudah biasa begitu, tidak ada kata takut untuk mereka. Berhentilah mencemaskan mereka, aku akan menyembuhkan Bima setelah ini."


"Sungguh malang nasib dua bersaudara itu karena punya kakak sesableng dirimu." Rhea mengutarakan pendapatnya.


"Dan aku sangat beruntung punya adik sepupu sebodoh mereka." Lagi-lagi, Rey tertawa dan itu membuat Rhea jadi puyeng melihatnya.


"Dasar Voldemort!"


"Bagaimana kalau kau panggil aku Cedric Diggory? Bukankah aku setampan dia?"

__ADS_1


Kini giliran Rhea yang tertawa tapi ia berusaha menahannya agar Rey tidak marah.


"Kenapa?" tanya Rey.


"Tidak apa-apa. Sebenarnya, paman Leo punya berapa anak?" tanya Rhea mengalihkan pembicaraan.


"Tiga, Yeon, Bimashena, dan Lea. Saat ini, Lea sedang belajar di Jerman dan tinggal bersama kakek Byon dan nenek Biyanca. Kapan-kapan akan aku ajak kau kesana."


"Wah, Daebak." Rhea tersenyum senang karena tidak menyangka bakal masuk ke dalam keluarga besar Rey yang luar biasa.


***


Sementara ditempat lain, makan malam Rara ternyata tak selancar apa yang ia harapkan. Hal itu karena Riska sama sekali tidak menyukai Rara terlebih atas apa yang sudah ia lakukan pada Rhea. Meski sampai saat ini tidak ada yang tahu siapa Rhea sebenarnya, bukan berarti Riska diam saja. Ia tidak menggangu Rara, karena Rhea yang memintanya. Padahal Riska sungguh emosi setiap kali Rara memperlakukan Rhea layaknya pembantunya. Namun, ia tidak pernah menyangka, kalau ternyata, putranya malah jatuh cinta pada gadis jahat itu.


"Jack, ikut mama sebentar!" Ujar Riska pada Jakson saat ia datang bersama Riska.


"Kemana? Kami baru saja tiba!"


"Ikut saja!" Riska memelototi putranya lalu menyeretnya pergi keluar restoran dan meninggalkan Riska sendirian seperti orang bodoh saja.


"Ada apa sih, Ma? Kenapa kita tidak bicara saja di dalam?"


"Tidak, Ma. Aku tidak bisa."


"Kenapa? Apa lebihnya gadis itu? Kau akan menyesal nanti. Sebelum itu terjadi, segera akhiri hubungan kalian.


"Aku yakin Rara bisa berubah, Ma. Tunggu saja." Jakson membela Rara. Ia tetap kukuh ingin terus melanjutkan hubungannya dengan saudara angkat Rhea itu.


"Gadis seperti dia tidak akan pernah bisa berubah, Jack. Percayalah pada mama. Hanya takdir dan keajaiban saja yang bisa mengubahnya. Dan itu sangat mustahil untuk gadis congkak seperti Rara."


"Mama juga harus percaya padaku. Aku pasti bisa mengubahnya."


"Apa kau yakin dia mencintaimu? Jika dia tahu siapa Rhea, apa dia tetap mau denganmu? Huh, mama yakin dia mau pacaran denganmu karena mengira kau adalah Sultan calon pewaris pabrik terbesar di kota ini."


"Karena itulah, sebelum Rara tahu, ia harus jatuh cinta padaku." Jakson pergi meninggalkan ibunya yang terperangah tak percaya mendengar jawaban putranya.


"Huh, makan tuh cinta? Memangnya kau bisa bertahan hidup hanya dengan makan cinta! Dasar bekantan!" Riska sungguh emosi karena putranya sangat keras kepala.


Sepertinya, Jakson sudah tidak bisa dibujuk lagi. Ia tetap bersikukuh menjalin hubungan dengan Rara dan ingin mengubah perangai gadis kejam itu.

__ADS_1


Riska sendiri sudah enggan masuk ke dalam lagi dan memutuskan untuk pergi, tapi langkahnya terhenti saat ia melihat Fey sedang duduk di meja restoran depan sambil menikmati pemandangan indah disekitarnya. Fey memilih bangku meja yang ada diluar restoran untuk menikmati jus lemon ditangannya. Daridulu, Fey memang sangat menyukai jus buah masam itu.


"Nyonya Rerald!" Sapa Riska senang setelah ia berdiri di samping Fey.


Fey yang tadinya sedang mengamati panorama alam langsung menoleh pada Riska.


"Hai, wah kebetulan sekali. Sedang apa kau disini? Duduklah!" Fey mempersilahkan Riska duduk didepannya.


"Aku ada janji dengan putraku. Tapi aku benar-benar kesal padanya jadi kuputuskan untuk pergi saja dari sini," terang Riska.


"Oh iya? Memang apa yang tejadi?" tanya Fey penasaran.


Riskapun akhirnya menceritakan alasan kenapa dia kesal. Fey menyimak dengan seksama dan mulai ikut heran juga. Sebab sedikit banyak, ia juga tahu apa yang terjadi pada menantunya. Sejak awal, Fey memang kurang setuju jika Rhea harus tinggal satu atap dengan Rara, tapi suaminya Refald sudah memutuskan bahwa Rhea harus menghadapi semua cobaan hidup selama ia tinggal disini. Selama ini, Fey diam karena Rey juga melarangnya ikut campur. Sebagai ibu mertua Rhea, tentu saja ia sudah tidak bisa membiarkan Rara bersikap semena-mena lagi pada Rhea.


"Dimana mereka sekarang?" tanya Fey sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Ada didalam sana," jawab Riska memandang putranya yang sedang asyik berbicara dengan Riska.


Feypun mengikuti arah pandang Riska dan menatap tajam Rara. Entah apa yang sedang Fey pikirkan, yang jelas Rara sudah tidak bisa dibiarkan lagi.


"Apa yang akan anda lakukan nyonya, Refald?" tanya Riska.


"Tentu saja melakukan apa yang sudah sejak dulu harus aku lakukan. Sudah waktunya, ular itu tahu siapa Rhea sebenarnya."


"Tapi, saya yakin Rhea tidak akan setuju bila anda membuka rahasia yang sudah ia jaga selama ini. Ia tidak ingin ada masalah, sebab itulah saya cuma bisa mendukungnya walau tangan ini sudah sangat gatal ingin sekali menjambak rambut wanita tidak punya hati itu."


"Cepat atau lambat rahasia ini akan terbongkar, Riska. Apa bedanya wanita itu tahu sekarang atau nanti. Lagipula, putramu juga harus tahu seperti apa wanita yang ia sukai itu sebenarnya. Jika Refald tahu apa yang dialami menantunya selama kepergiannya, aku takut ia tidak terima dan menyalahgunakan kekuatannya untuk menghukum ular berbisa itu. Segera perketat penjagaan di kota. Aku yakin wanita itu tidak akan tinggal diam setelah tahu siapa Rhea." Fey terus saja merasa geram. Namun tidak dengan Riska, ia malah tidak sabar menunggu seperti apa reaksi Rara jika ia mengetahui semuanya.


"Akhirnya, hari pembalasan untuk ular berbisa Rara telah tiba," gumam Riska sambil tersenyum puas.


BERSAMBUNG


***


Baca juga kisah Leo dan Shena ya .. maaf kalau Gonta ganti cover, bis gabut banget ... hiks hiks ...


Ini cover barunya.


__ADS_1


__ADS_2