
Yeon tak pernah menyangka bakal bisa bertemu kembali dengan Iran disini. Ia mengenal Iran sebagai gadis hutan penjaga goa yang tak sengaja Yeon temui saat dirinya dan Bima tersesat kala itu. Dan itu sudah lama sekali, Yeon tak sengaja terpisah dari teman-teman mendakinya bersama Bima.
Saat itu, kaki Bima terluka dan Yeon bingung harus minta bantuan siapa. Kebetulan Rhea datang dan menolong menyembuhkan kaki Bima. Sejak saat itu, Rhea, Bima dan Yeon jadi dekat dan berteman baik. Bahkan mereka bertiga sering hiking bersama tanpa ada yang tahu kalau Iran alias Rhea adalah calon kakak ipar Yeon dan Bima.
"Sebenarnya, namamu yang benar itu siapa? Leon atau Yeon?" tanya Rhea saat menyadari Yeon masih berdiri disampingnya.
"Namaku adalah Yeon Leon Pyordova. Semua keluargaku memanggilku Yeon. Cuma si bengal Bima itu saja yang memanggilku Leon," jawab Yeon. "Sekarang, jelaskan padaku? Bagaimana bisa kau jadi kakak iparku?"
Pertanyaan Yeon membuat Rhea tersenyum. Mana ia tahu kalau ia bakal menjadi kakak ipar dua laki-laki bersaudara yang digilai banyak wanita.
"Kedua orang tua Kamilah yang menjodohkam kami." Rhea senyam-senyum sendiri mengingat bagaimana pertemuan pertama Rey dengannya kala itu. Hampir sama seperti pertemuannya dengan dua bersaudara Rey dan Bima.
"Ah benar, aku baru ingat. Paman Refald pernah bilang kalau kak Rey sudah dijodohkan dengan gadis yang bernama Rhea. Jadi itu kau? Ini benar-benar kejutan yang mengejutkan. Habislah kau Bim." Yeon tertawa senang melihat adiknya sedang dihabisi kakaknya Rey.
"Kenapa dengan Bima?" tanya Rhea. Ia sangat penasaran, apa yang sedang dilakukan Rey pada adiknya.
"Memangnya kau tidak dengar apa yang dikatakan Bima tadi? Dia menyukaimu. Bahkan di bodoh itu ingin kau menjadi kekasihnya. Mana mungkin kak Rey membiarkannya begitu saja."
"Aku khawatir," ujar Rhea lirih.
"Tenang saja, kak Rey tidak akan membunuhnya."
"Bukan itu yang aku cemaskan. Aku takut Rey kehilangan kekuatannya kalau terus-terusan emosi gak jelas seperti itu."
"Wah, aku pikir kau mencemaskan Bima yang sedang dalam bahaya. Ternyata kau malah mencemaskan suamimu? Kalian memang serasi. Ah, satu lagi ... sepertinya, aku harus memanggilmu kakak ipar mulai sekarang. Sejujurnya aku senang karena kaulah yang terpilih menjadi pasangan kakakku yang aneh itu. Sebab, aku merasa kau sama anehnya dengannya. Rupanya ... kalian berjodoh."
__ADS_1
"Aku juga tidak menyangka kalau kalian berdua adalah adiknya Rey."
"Selamat datang dikeluarga besar kami, Kak." Yeon mengulurkan tangannya untuk memberi ucapan selamat, tapi Rey dengan cepat datang dan menyalami tangan Yeon sebelum tangan Rhea berhasil meraih tangan adik sepupu Rey yang terulur.
"Kenapa malah kau yang menjabat tanganku?" Protes Yeon pada Rey yang berdiri dihadapannya dan membelakangi Rhea.
"Tidak ada yang boleh menyentuh istriku selain aku." Rey menatap tajam Yeon.
"Dia kan kakak iparku? Masa kau cemburu pada adikmu sendiri? Kau payah! Dimana Bima? Kau apakan dia?"
Belum juga Rey menjawab, tiba-tiba terdengar suara teriakan Bima dari luar.
"Kak Leon! Tolong aku? Kak Rey benar-benar sudah tidak waras! Masa dia melemparku keatas pohon! Bantu aku turun, Kak!" Teriak Bima dari atas pohon besar yang berada diluar gedung ini.
"Huh, rasakan!" Gumam Yeon dan langsung berlari keluar untuk memeriksa adiknya yang tersangkut di pohon gara-gara ulah Rey.
"Salah sendiri? Siapa suruh dia menyukaimu?"
"Tapi kan dia adikmu? Aku sendiri juga shock kalau ternyata teman-teman hikingku selama ini adalah calon adik iparku sendiri."
"Sudah cukup, jangan bahas masa lalu kalian lagi. Aku sedang badmood sekarang. Ayo, kita pergi dari sini dan menemui ibu. Urusanku disini sudah selesai."
"Lalu? Bagaimana dengan adikkmu?" tanya Rhea bingung.
"Ada Yeon disini. Ayo!" Rey mengajak Rhea menuju sebuah mobil sport supercar pengeluaran terbaru yang baru saja dibeli Yeon. Bahkan peluncuran mobil tersebut baru akan digelar, tapi entah bagaimana caranya, Yeon bisa mendapatkan mobil baru ini.
__ADS_1
"Tapi turunkan dulu adikmu! Kasihan dia ... tunggu! Kenapa kau masuk ke dalam mobil itu? Bukankah lebih cepat kalau kau berteleportasi?" Rhea terkejut karena Rey membuka pintu mobil silver yang entah apa nama merk mobil unik ini dan masuk ke dalamnya.
"Kekuatanku melemah sekarang, aku harus hemat tenaga," jawab Rey sambil menyuruh Rhea ikut masuk ke dalam mobil.
"Hah? Kok bisa? Pasti kau menyalahgunakan kekuatanmu." Rhea memicingkan matanya memandang Rey.
"Jangan khawatir, Sayang. Nanti juga akan pulih sendiri. Mobil Aston Martin ini salah satu mobil tercepat karena menggunakan mesin V8 berdaya 973 hp dan dapat mencapai kecepatan tertinggi 330 km/jam. Kita akan cepat sampai dalam waktu kurang lebih 30 menit dari lokasi ibu menunggu," terang Rey sambil menyalakan mesin. "Pasang sabuk pengamanmu, Sayang."
"Bagaimana caranya? Mobil ini aneh. Bentuknya juga tidak sama seperti mobil Volvomu."
Rey tersenyum dan membantu memasangkan sabuk pengaman untuk Rhea.
"Volvo itu bukan mobilku. Itu mobil ayahku. Inilah mobilku yang sesungguhnya. Aku meminta Yeon mendapatkan mobil ini karena mobil ini hanya diproduksi beberapa unit saja didunia."
"Apa?" mulut Rhea langsung menganga. Pasti mobil ini berharga fantastis. "Apa nanti tidak terlalu mencolok jika kau membawa mobil ini? Bagaimana kalau sampai kakak tahu?"
"Kita akan bertemu ibu diluar kota. Lagian kakakmu kan sedang makan malam dengan bibi Riska. Tidak akan ada yang tahu. Jangan cemas begitu, aku ingin mengajakmu jalan-jalan menggunakan mobil baruku. Kau adalah penumpang pertamaku, Sayang. Harusnya kau senang. Kau punya suami anak sultan."
Bagaimana Rhea bisa senang. Ia tidak terbiasa dengan kemewahan. Pabrik milik ayahnya saja sengaja ia biarkan Riska dan keluarganya yang mengelola. Karena ia tidak ingin tahu orang-orang disekitarnya tahu siapa Rhea ini sebenarnya. Namun, ia juga tidak bisa menghalangi apapun yang disukai Rey. Asal Rey bahagia, Rhea juga ikut bahagia.
Rey melesat kencang menuju pintu keluar gedung dan langsung pergi begitu saja tanpa pamit pada Yeon yang sibuk menurunkan Bima dari atas pohon.
"Oey! Kakak! Itu surat-suratnya belum keluar? Peluncurannya belum dimulai! Kau tidak bisa membawa mobi itu seenaknya? Oey bocah tengil! Kau dengar tidak!" Teriak Yeon dengan kencang. Sedangkan Rey malah tersenyum tanpa peduli teriakan Yeon. Ia terus melaju dengan sangat cepat. "Ah terserahlah! Kau urus sendiri saja!" gumam Yeon dan hendak menurunkan adiknya.
Posisi Yeon sudah ada diatas salah satu dahan pohon, tapi ia kaget karena Bima yang tadinya bergelantungan di pohon sudah tidak ada lagi. "Lah, kemana si cecurut itu?" Yeon mencari Bima kesana kemari tapi tidak menemukan adiknya dimana-mana.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***