Menikahi Seorang Putra Raja

Menikahi Seorang Putra Raja
episode 36 Berbadan Dua


__ADS_3

Setelah keributan yang diciptakan Rara di sebuah restoran, para petugas rumah sakit jiwa yang dipanggil oleh menejer hotel langsung datang dan menggelandang paksa Rara untuk dibawa kerumah sakit jiwa. Diruang interogasi, Rara tidak mengamuk lagi seperti yang ia lakukan saat berada di restoran. Kali ini, Rara malah bersikap kooperatif. Ia menjawab dengan tepat semua pertanyaan yang diajukan padanya layaknya orang normal pada umumnya. Dokter di rumah sakit jiwa tak bisa berbuat banyak karena Rara terbukti tidak memiliki tanda-tanda kelainan jiwa. Akhirnya, ia pun dibebaskan tanpa syarat.


Senyum tersungging di bibir Rara ketika ia keluar dari pintu gerbang rumah sakit jiwa. Ia sudah merencanakan segudang cara untuk balas dendam pada orang yang sudah membuatnya jadi seperti ini. Dan orang itu adalah siapa lagi kalau bukan Rhea, adik angkatnya sendiri.


Tak butuh waktu lama untuknya mengetahui dimana lokasi rumah Rey berada. Setelah mengambil pisau dari dalam rumahnya, Rara dengan tampang yang seperti kesetanan langsung pergi kerumah Rey dimana pasti ada Rhea disitu.


Dan benar saja dugaan Rara, ia melihat mobil baru Rey teparkir rapi di depan rumahnya. Karena hari sudah mulai gelap, Rara gampang saja menyelinap masuk kedalam rumah Rey tanpa ketahuan oleh siapapun. Mujurnya lagi, Rara menemukan Rhea sedang berdiri sendirian didepan lukisan mertuanya.


Itu adalah kesempatan emas yang dimiliki Rara untuk menyalurkan aksi balas dendamnya. "Kau pikir aku akan membiarkanmu memilki segalanya dan hidup bahagia?Huh, tidak akan. Aku baru bisa terima kau bahagia, bila kau sudah tinggal dialam baka sana," gumam Rara dengan api penuh kemarahan.


Awalnya, Rara berjalan pelan menuju ke tempat Rhea berdiri tanpa suara, tapi akhirnya ia memilih berlari dengan cepat dan langsung menikam Rhea. Sayangnya, usaha Rara gagal total. Pisaunya tidak mengenai tubuh Rara karena dihalau duluan oleh seseorang, dan orang itu adalah Rey, kekasih Rhea. Tangan Rey memegang kuat pisau itu tanpa peduli telapak tangannya yang tergores dan mulai mengeluarkan banyak darah.


"Kau!" geram Rey. Mata hitamnya langsung berubah warna menjadi merah menyala.


Serangan tak terduga itu membuat mata Rhea terbelalak tak percaya pada apa yang baru saja dilihatnya. Rhea semakin shock Kala melihat darah yang mengalir deras dari tangan Rey yang sedang menghalau pisau tikaman dari Rara saat ditujukan padanya.


Rey sendiri terus menatap tajam mata Rara dengan sejuta kemarahan yang amat sangat. Namun, dengan cepat Rhea menyadari situasi yang sedang gawat dan harus secepatnya bertindak.


Secepat kilat, Rhea merebut pisau kecil itu dan membuangnya jauh-jauh lalu menghadap wajah sang pujaan hati dan menciumnya dengan segenap hati dan jiwanya untuk meredakan amarah Rey tepat dihadapan Rara. Hal itu Rhea lakukan agar Rey tidak kehilangan kekuatannya karena marah pada seseorang sama seperti Refald saat masih menjadi pangeran dedemit.


Sedangkan Rara yang sempat melihat kilatan api kemarahan dalam diri Rey, jadi gemetar ketakutan. Sekilas, Rey memang benar-benar menakutkan. Di balik wajah tampannya itu, ternyata Rey bisa berubah terlihat seperti iblis mengerikan ketika sedang marah. Siapapun yang melihat Rey, pasti langsung ketakutan.

__ADS_1


Selagi Rhea menenangkan Rey dengan ciumannya, Rara mengambil kesempatan untuk melarikan diri. Namun baru juga beberapa langkah, Rara tak bisa melanjutkan aksi kaburnya karena Fey datang tepat dihadapannya. Tanpa buang waktu, Fey mencekik leher gadis itu dan mendorongnya kuat hingga sampai membentur dinding dengan keras.


"Aarggh!" Rara mengerang kesakitan.


"Beraninya kau!" Geram Fey dengan murka. Ia sudah tak bisa lagi memaafkan apa yang sudah dilakukan Rara. Tak hanya berbuat buruk pada Rhea tapi siluman rubah ini juga berniat membunuh manantunya. "Kau memang bukan manusia! Enyahlah kau dari muka bumi ini." Fey sunggguh terlihat sangat marah hingga bola matanya berubah menjadi merah seperti milik Refald.


"Le-lepas, le-lepaskan aku. Kau ... boleh membu-nuhku! Ta-pi ... ja-ngan bunuh anakku!" ujar Rara terbata-bata.


Bagai kejatuhan pohon besar, Fey terkejut mendengar pernyataan Rara yang ternyata, dirinya telah berbadan dua.


"Apa?" Fey mengendorkan cengkeramannya. Ia bahkan masih belum bisa percaya pada apa yang baru saja didengarnya. "Kau hamil? Dengan siapa? Jakson?" mata Fey langsung melotot menatap Rara.


Rara langsung terbatuk-batuk setelah lepas dari tekanan kuat tangan Fey. "Uhuk ... uhuk!"


"Aku bukan murahan, kami melakukannya karena saling mencintai satu sama lain."


"Huh, aku terkejut orang sepertimu membicarakan masalah cinta. Aku bahkan sanksi kau bisa mengerti apa arti cinta yang sesungguhnya," ujar Fey. Namun, ia juga harus memastikan sesuatu.


Setelah mengamati dari kejauhan kondisi Rey yang baik-baik saja, tanpa banyak bicara lagi, Fey menyeret paksa tubuh Rara keluar rumahnya dan membawanya pergi kerumah Riska.


Sementara itu, Rey menutup matanya yang sempat menyala merah karena marah dan menikmati ciuman terindah yang pernah diberikan Rhea untuknya. Ini pertama kalinya Rhea menciumnya seperti ini. Rey serasa terbang ke atas awan dan melayang-layang diatasnya. Seketika darah jiwa muda Rey bergejolak dan mendorongnya membalas ciuman maut dari Rhea.

__ADS_1


Amarah Rey yang tadinya memuncak perlahan mulai memudar dan lenyap tak berbekas. Kini, wajah Rey tak terlihat marah lagi. Bola matanya juga kembali normal seperti biasanya. Rhea menyudahi ciumannya dan membimbing Rey duduk disebuah sofa panjang bermaksud mengobati lukanya. Dalam diam, gadis cantik itu merobek bagian bawah bajunya dan mengikatkannya erat ditangan suaminya yang terluka untuk menghentikan pendarahannya.


Air mata Rhea kembali jatuh saat ia membalut luka di tangan kanan suaminya. Ia terus saja menyalahkan diri sendiri atas kebodohannya sehingga membuat Rey jadi seperti ini.


"Jangan menangis, Sayang. Aku tidak apa-apa." Rey menenangkan.


"Tidak apa-apa apanya? Kau kehilangan banyak darah," Isak Rhea.


"Aku sudah sembuh, berkat ciuman mautmu. Seandainya kau menciumku lagi seperti tadi, mungkin aku akan jadi lebih baik dari sekarang."


Rhea tidak menggubris candaan Rey. Air matanya terus menetes sampai ia selesai membalut luka di tangan suaminya.


"Ini tidak akan bisa bertahan lama, ayo kita pergi kerumah sakit. Aku khawatir, darahmu semakin banyak yang keluar kalau tidak segera dihentikan."


"Tidak perlu, Sayang. Untuk apa pergi kerumah sakit kalau dokterku ada disini." Rey tersenyum menatap wajah Rhea yang sendu. Meski dalam keadaan menangis, Rhea tetap terlihat cantik.


"Tapi , kau ...."


Sebuah ciuman manis mendarat mulus di bibir Rhea. "Sudah ku bilang, kalau tidak apa-apa ya tidak apa-apa." Rey tersenyum dan menunjukkan pesonanya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


***


__ADS_2