Menikahi Seorang Putra Raja

Menikahi Seorang Putra Raja
episode 34 Peringatan


__ADS_3

"Bibi, tolong hentikan ini. Tidak enak dilihat oleh banyak orang," ujar Jakson pada Fey yang sedang sibuk memelintir tangan Rara, tapi kepalanya langsung dijitak Riska dari belakang. "Auww?" erangnya. "Kenapa Mama memukulku?"⁰


"Kau masih berani membelanya? Setelah apa yang dia lakukan pada kami semua? Bagaimana aku bisa punya anak sepertimu, ha?" geram Riska melihat tingkah putranya.


"Aku bukan membelanya, Ma. Cuma tidak enak aja dilihatin banyak orang. Apa Mama suka menjadi pusat perhatian? Kalau aku sih tidak suka, Ma!" Jakson membela diri.


"Kau jangan ikut campur lagi, ayo pergi! Aku harus memberi pelajaran berharga untukmu!" Riska menyeret lengan putranya keluar dari restoran agar tidak mengganggu proses eksekusi yang dilakukan Fey terhadap Rara.


"Tidak, Ma. Aku tidak bisa pergi darisini. Siapa yang nanti mengantar Rara pulang?" Jakson melepas paksa cekalan tangannya dari Riska.


"Apa? Bisa-bisanya kau mengkhawatirkan ular berbisa itu? Ayo pulang!" Kali ini, Riska menjewer keras telinga Jakson dan benar-benar menyeretnya keluar.


"Ma? Lepasin, Ma! Sakit, nih!" Erang Jakson tapi Riska sama sekali tidak peduli. Kehadiran Jakson hanya akan mengganggu proses eksekusi. Satu-satunya cara yang bisa Riska lakukan untuk membantu Fey dan Rhea adalah dengan menjauhkan putranya dari ular berbisa itu.


Sementara Fey sendiri, perlahan melepaskan cengkeraman tangannya karena memang tidak enak juga dengan menejer hotel yang datang menghampirinya. Fey menjelaskan kronologi kejadian dan berjanji akan mengatasi semua ini secara kekeluargaan. Sang menejer akhirnya mengerti dan memberikan Fey kesempatan untuk menyelesaikan masalahnya dengan baik.


"Kali ini, aku masih bisa bersikap sabar padamu. Jika sekali lagi kau berbuat kasar pada menantuku, maka aku akan langsung mematahkan semua tulang-tulangmu. Selama ini aku diam, karena Rhea melarangku mendekatimu dengan harapan kau bisa mengubah perangai burukmu. Namun, bukannya berubah, kau malah lebih menyusahkannya." Fey menatap tajam Rara, tapi yang ditatap malah terus saja melirik Rhea.

__ADS_1


"Huh, inikah balasanmu padaku?" Rara memelototi Rhea. "Harusnya, dulu aku tidak menyelamatkanmu! Harusnya, dulu aku membiarkanmu mati tenggelam di danau itu!" Bentak Rara dan sebuah tamparan keras, lagi-lagi mendarat di pipi kiri Rara.


Plak!


Tamparan itu, berasal dari Fey. "Dasar wanita tidak tahu diri! Kau pikir berkat siapa kau bisa hidup enak sampai detik ini, ha? Kau membuat hidup menantuku menderita selama 3 tahun terakhir demi membalas kebaikanmu karena telah menyelamatkan nyawanya. Bahkan ia rela dengan iklhas menerima setiap perlakuan burukmu padanya. Karena Rhea berharap kau bisa berubah jadi wanita yang baik dan tidak bergantung lagi padanya.


Namun, rubah sepertimu tidak akan pernah bisa berubah karena hatimu sudah dipenuhi dengan dendam dan dengki. Sekarang, kau sudah tahu semuanya, aku tahu kau tidak akan pernah bisa terima kenyataan ini. Dan inilah faktanya, pabrik itu adalah milik ayah Rhea. Secara otomatis itu juga milik orang yang selalu kau hina dan kau rendahkan. Ah satu lagi, laki-laki yang kau sebut gembel ini adalah putraku. Dia ... bukanlah gembel seperti yang kau kira. Dia rela kau hina karena ia sangat mencintai Rhea. Apa kau tahu siapa putraku ini? Dia ... adalah seorang putra raja," tandas Fey.


Istri Refald itu terlihat keren dan sangat luar biasa. Bahkan Rey dan Rheapun dibuat kagum olehnya.


Wah, ibu mertuaku, hebat. Batin Rhea.


"Baik, ibu."


Rey merangkul bahu Rhea dan mengajaknya pergi meninggalkan Rara yang masih diam mematung. Hatinya sudah meledak tak karuan. Pandangan matanya kosong dan juga lemas tak berdaya. Hancur sudah dunia dan impiannya selama ini. Apalagi setelah ia tahu ternyata adiknya adalah orang terkaya dikotanya dan selama ini, ia hanya memandang Rhea sebelah mata karena mengira tak punya apa-apa.


Rara tertawa keras seperti orang gila tapi langsung menangis di detik itu juga. Semua orang tidak ada yang berani mendekatinya. Sampai akhirnya, sang menejer hotel terpaksa menelepon pihak rumah sakit jiwa. Sebab Rara sudah tidak bisa dikendalikan lagi. Ia mengamuk kesana kemari dan menghancurkan semua barang yang ia temui disekitarnya sambil tertawa dan menangis dalam waktu yang bersamaan.

__ADS_1


"Apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian panggil dokter jiwa? Apa kalian pikir aku gila? Aku tidak gila! Aku masih waras! Kalian semua dengar itu? Aku adalah wanita tercantik di kota ini. Bagaimana mungkin kalian mengira aku gila, ha? Apa kalian belum tahu siapa aku? Aku adalah kakak dari pemilik pabrik itu, hahaha ... ternyata aku kakak dari gadis menyebalkan itu. Awas saja kau Rhea! Akan kubuat kau lebih menderita dari ini. Lihat saja nanti ... Hahaha." Siapapun yang melihat Rara, pasti menyangka dia sudah gila sungguhan. Mana ada orang gila mau ngaku kalau dia gila. Semua orang gila pasti bilang kalau dia tidak gila.


***


Rhea masih saja diam dan terus bergelut dengan hati dan pikirannya sendiri. Bukan seperti ini akhir yang ia inginkan, tapi ia juga tidak tahu berapa lama lagi dirinya harus menunggu Rara merubah sikapnya. Mungkin memang inilah saatnya Rara tahu fakta sebenarnya walaupun kenyataan, ini sangat tidak disukai Rara. Seandainya saja Rara memahami bahwa ia juga menyayanginya, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi. Rhea sadar, selama ini, ia hanyalah beban bagi Rara. Semua karena salahnya sehingga Rara jadi seperti itu.


"Semua ini bukan salahmu, Sayang. Jangan terlalu dipikirkan," ujar Rey saat keduanya sedang dalam perjalanan pulang. Rhea tersadar dari lamunannya dan baru tahu kalau Fey sudah tidak bersama dengan mereka lagi.


"Dimana ibu?" tanya Rhea.


"Dia sedang ada urusan, Ibu ingin aku menghiburmu sekarang. Malam ini, tidur saja dirumahku. Kau harus tetap fokus dan tenang sayang. Jangan khawatirkan apapun. Ibu sudah mengurus semuanya."


"Lalu, bagaimana dengan, nenek? Sejak beberapa hari lalu, aku tidak pernah berinteraksi ataupun bicara padanya. Bisakah kau mengantarku untuk menemuinya? Kakakku sangat membenciku sekarang, tidak mungkin kami tinggal serumah. Aku hanya akan mengacaukan hidupnya. Karena itu, aku ingin pamitan dulu pada nenek sekaligus minta maaf juga padanya."


Rey tidak langsung menyahut, ia diam seolah sedang mencari kata yang tepat untuk merespon permintaan kekasihnya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


***


__ADS_2