
Sementara ditempat lain, Rey dan Rhea masih terkejut dengan apa yang mereka lihat di depan mata. Keduanya saling bergandengan tangan dengan erat dan bersikap lebih waspada.
Baik Rey ataupun Rhea, sama-sama tidak percaya bahwa orang yang berdiri dihadapannya itu adalah Irene. Sekali lagi, orang yang berdiri tegak di depan Rey dan Rhea adalah Irene. Wanita yang dulu pernah menyebabkan bencana bagi keluarga besar Refald. Wanita yang sudah dikutuk oleh Refald sedemikian rupa. Wanita yang ternyata, dalang dibalik peristiwa ini. Orang itu ... adalah Irene. Seorang wanita yang sangat terobsesi untuk memiliki Rey.
"Kau?" seru Rey. Matanya menajam penuh api kebencian memandang wanita yang sudah ia anggap telah tiada. Tetapi ternyata dugaan Rey salah besar. Irene masih hidup dan terlihat segar bugar.
"Iya, ini aku. Tak kusangka, kau masih mengingatku, Rey! Apa kau merindukanku? Kalau aku ... aku sangat merindukanmu," ujar Irene tanpa malu sambil tersenyum. Penampilannya kini berbeda dengan yang dulu. Ia terlihat menyeramkan dan lebih mirip penyihir Hogwarts daripada manusia.
"Cuih, siapa yang merindukan wanita biiadap sepertimu! Aku tidak menyangka, rupanya kau masih hidup. Aku kira, kau sudah mati tertelan bumi!" ujar Rey dengan kasar.
"Ternyata kau masih sama saja seperti dulu, tetap jutek padaku. Huh, tapi tidak masalah ... kita lihat saja, apa nanti kau masih berani bersikap kasar lagi." Irene menatap sinis wajah Rey dan Rhea bersamaan.
"Siapa nenek lampir itu? Apa ... kalian mengenal mereka?" tanya pak Po dengan polosnya. Ditengah-tengah suasana tegang, pak Po malah dengan santainya menanyakan siapa Irene.
"Ezi, apa kau tidak ingat?" seru Divani marah. "Dialah yang menyebabkan kita semua harus berpisah dengan Rhea karena harus bertapa bersama raja di tempat itu selama 3 tahun lamanya. Dialah penyebab kekacauan yang terjadi di keluarga kita. Dan kau masih sempat-sempatnya bertanya siapa dia? Tidakkah kau marah pada nenek sihir itu?" Divani mengingatkan pak Po dengan nada tinggi.
Istri pak Po ini berbeda dengan suaminya. Sampai kapanpun, Divani takkan pernah memaafkan wanita jahat ini karena telah berani menyakiti Rhea dan mengusik ketenangan hidupnya.
"Benarkah? Tapi kenapa penampilannya lebih mirip nenek- nenek peot? Apa raja telah mengutuknya jadi jelek?" tanya pak Po blak-blakan.
"Tanpa dikutukpun, wajahnya memang sudah jelek," jawab Divani asal jeplak seperti pak Po.
__ADS_1
Irene adalah keturunan iblis jahat. Wajar jika sekarang wajahnya memang lebih menyerupai iblis daripada manusia.
"Apa maumu! Kenapa kau masih saja mengganggu kehidupan kami?" tanya Rhea yang sudah mulai bisa mengontrol emosinya. Matanya menatap tajam mata Irene seolah siap berperang dengannya.
"Apa mauku?" Irene mengulangi pertanyaan Rhea. "Sudah jelas, bukan? Merebut Rey darimu!" teriak Irene dengan lantang tanpa basa-basi.
"Tidak bisa!" balas Rhea cepat dan tak kalah lantang dari Irene. "Baik dulu, ataupun sekarang, aku tidak akan pernah membiarkan orang sepertimu merebut suamiku!" Emosi Rhea mulai menggebu-gebu.
"Hooo, takut! Hahaha ...." Irene malah tertawa keras mendengar ucapan Rhea. "Kau pikir kau bisa menang melawanku? Tanpa ayah mertuamu dan kekuatanmu, kau bukan tandinganku. Ah, aku hampir lupa memberitahumu. Apa ... kau tahu apa yang terjadi pada mereka semua? Maksudku ... seluruh keluarga besarmu?" Irene menatap sinis mata Rhea yang juga menatapinya.
Deg!
Hati Rhea serasa berhenti berdetak mendengar apa yang dikatakan Irene barusan. Rhea mulai menyadari banyak hal.
Tangan Rhea mengepal kuat menahan api kemarahan yang begitu besar. Jebakan yang dibuat Irene ini begitu sempurna dan pastinya ia takkan melakukan semua ini sendirian. Pasti ada yang membantunya. Hanya saja, sekarang Rhea merasa situasinya sedang tidak memungkinkan untuk mencari tahu siapa yang membantu Irene melakukan semua ini. Sebab, saat ini ia dan seluruh keluarganya sedang dalam bahaya besar.
"Apa yang kau lakukan pada mereka? Katakan!" Teriak Rhea berapi-api. "Kalau sampai sesuatu terjadi pada mereka, akan aku pastikan kau tidak akan pernah bisa menghembuskan napasmu lagi dikehidupan ini."
Bukannya takut dengan ancaman Rhea, Irene malah tertawa terbahak-bahak. "Hahahaha, kau pikir aku takut dengan ancaman murahanmu? Kau masih belum sadar juga? Tidak akan ada yang bisa menolongmu! Karena siapapun yang sudah masuk dalam area ini. Tidak akan bisa keluar dengan mudah. Ah, kau tidak bertanya apa yang aku lakukan pada keluargamu yang lain?" Irene sengaja memancing emosi Rhea.
"Kau apakan mereka?" tanya Rhea menahan amarah.
__ADS_1
"Ehm ... kasih tahu nggak, ya? Nanti saja deh ... kalau sudah waktunya. Sekarang aku ingin bermain-main dulu dengan kalian. Bagiamana? Apa kalian siap?" Irene tersenyum senang.
"Heh nenek peot!" seru pak Po dengan wajah polosnya sebelum Rhea atau Rey buka suara. Pak Po yang sejak tadi diam, jadi ikutan geram juga mendengar perkataan wanita yang bernama Irene itu.
"Siapa yang kau panggil nenek peot, ha?" bentak Irene langsung. Ia tak emosi saat Rey dan Rhea mengancam dan mengatainya. Tapi emosinya langsung tersulut begitu pak Po yang bicara apalagi suami Divani itu bersikap menjengkelkan dengan wajah sok polosnya.
"Kau lah, siapa lagi? Satu-satunya wanita terjelek di sini itu ya cuma, kau! Tidak ada yang lain? Apa kau sudah menikah? Pasti belum, kan? Sebab, cuma orang bodoh dan buta saja yang mau menikahi nenek-nenek peot sepertimu. Makanya karena kau tidak laku, kau mau merebut menantuku. Wajahnya memang tampan sih, sama sepertiku!" ujar pak Po ketularan narsisnya Refald. Tapi, kata-kata polos pak Po sukses membuat Divani tertawa. Inilah yang paling Divani suka dari suaminya. Mulutnya kalau bicara selalu tampil apa adanya meskipun kadang terdengar pedas gila.
"Dasar! Pocong sinting! Sudah terdesak masih saja bisa songong, ha!" balas Irene.
"Eitz, jangan salah ... rekan-rekanku menjulukiku 'pocong tampan' bukan 'sinting', yang sinting itu, kau! Bukan aku. Tak sadar diri, kah? Kalau kau itu tidak sinting, tidak mungkin kau berani mengganggu kehidupan orang lain. Berhubung tingkat kesintinganmu tinggi, makanya kau kadi begini. CK ck ck, kasihan sekali. Karena tidak laku, kau memutuskan jadi pelakor," seru pak Po dengan gaya sok polosnya. Ucapannya ini benar-benar bikin ngakak orang yang mendengarnya tapi memang benar adanya.
"Kau sungguh membuatku kesal. Huh, bersiaplah menghadapi kematianmu!" Teriak Irene penuh emosi. Matanya menatap tajam pak Po.
"Hadeuh, selain sinting, kau itu begoo juga, ya? Aku ini sudah mati? Mana bisa mati lagi? Bego kok dipelihara!"
Divani sudah tak bisa menahan tawanya lagi. Kata-kata yang baru saja keluar dari mulut pak Po itu juga pantas ditujukan pada dirinya sendiri. Dasar pak Po!
"Hei!" teriak Irene. Kali ini, ia benar-benar marah besar. "Kau!" Nada suara Irene bahkan bergetar saking emosinya.
Wanita itu memberi kode seolah sedang memanggil seseorang. Dan benar saja, dari balik punggung Irene, muncul segerombolan makhluk yang sudah Rey dan yang lainnya kenal.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***