Menikahi Seorang Putra Raja

Menikahi Seorang Putra Raja
episode 149 Muncul


__ADS_3

Pergerakan janin yang ada dalam kandungan Fey membuat Fey merasakan sesuatu hal yang besar, telah ia lupakan. Tanpa peringatan, sekilas bayang-bayang kebersamaan dirinya dan orang yang berdiri menatap bulan purnama, terlintas diingatan Fey. Tidak salah lagi, Fey yang kini masih menjadi putri Candra Kirana, telah mengingat jelas tentang siapa dirinya dan orang yang bernama Refald itu. Seketika Fey bangun berdiri dan berjalan mendekat ke tempat suaminya berada.


Perlahan, Fey melangkahkan kakinya dengan mata berkaca-kaca. Anehnya, setiap derai langkah kaki Fey saat berjalan, menggambarkan satu persatu kenangan yang pernah ia lalui bersama dengan Refald. Di mulai dari ketika ia pertama kali bertemu dengan suaminya, insiden banteng, jatuhnya Fey ke dalam jurang dan Refald datang menolongnya, kencan romantis mereka saat Refald membawanya terbang kesana-kemari, pernikahan ghaib yang ia lakukan di dunia lain dan pernikahan sesungguhnya di dunia nyata mereka. Semua itu terlihat jelas dipikiran Fey.


Semakin lama, pandangan Fey semakin kabur karena matanya dipenuhi dengan bulir air mata melihat kenangan-kenangan itu. Fey menundukkan wajahnya untuk menjatuhkan air mata tersebut ke tanah. Fey sudah tak bisa menahan air mata itu untuk tidak terus mengalir. Rasa haru, senang dan juga takut, bercampur aduk jadi satu. Akhirnya, setelah beberapa waktu lamanya, ia mengingat siapa dirinya yang sebenarnya dan juga siapa Refald serta status keduanya.


Bahkan Shena dan Leopun, Fey juga sudah ingat. Namun, hal itu tidak ia perlihatkan terang-terangan kepada semua orang yang ada di sini karena Fey masih kalut dan juga bingung. Yang sangat Fey inginkan sekarang adalah memeluk erat raja dedemit yang amat ia cintai itu karena Fey sangat merindukannya. Padahal mereka terus bersama beberapa waktu lalu, tapi Fey benar-benar merasa sangat rindu suaminya seolah mereka baru saja bertemu. Hal itu wajar saja terjadi karena sebelumnya, Fey tidak ingat apapun tentang Refald. Namun, entah kenapa, menjelang ritual dilakukan, ingatan Fey telah kembali dengan sendirinya.


“Refald,” panggil Fey dengan nada suara gemetar. Pandangan matanya menatap lembut tubuh suaminya yang langsung berbalik arah menatap Fey.


“Honey,” seru Refald terkejut. “Kau memanggilku?” tanya Refald memastikan antar percaya dan tidak percaya.


“Refald.” Fey memanggil nama suaminya sekali lagi. Kali ini hatinya sungguh terasa berat sampai ia menangis dihadapan suaminya.


“Kau mengingatku, Honey? Kau sudah ingat semuanya?” lagi-lagi Refald bertanya untuk memastikan apakah dugaannya itu benar atau tidak.


Refald melangkah cepat menuju tempat Fey berdiri, sayangnya sebuah dinding penghalang transparan menghalangi Refald sehingga ia tak bisa menyentuh istrinya. Namun, mereka masih bisa saling melihat satu sama lain.


“Honey!” seru Refald lagi, matanya berbinar-binar senang karena akhirnya Fey bisa mengenalinya bukan sebagai orang asing lagi, melainkan sebagai suaminya.

__ADS_1


“Refald! Ada apa ini? Kenapa kita tidak bisa saling bersentuhan? Dinding penghalang apa ini?” tanya Fey panik dan juga sedih.


“Tenanglah Honey. Ini hanya sementara, sebentar lagi aku harus melakukan ritual yang bisa membuka gerbang medan magnet bumi agar kekuatanku kembali. Dengan begitu, kita bisa kembali ke dunia nyata kita dan menyelamatkan semuanya. Begitu ritualku selesai, maka dinding penghalang ini akan hilang dengan sendirinya. Kau tak perlu khawatir, oke. Aku mencintaimu, Honey. Senang melihatmu bisa mengenaliku lagi.” Refald memamerkan senyum tampannya dan itu membuat air mata Fey mengalir semakin deras.


“Jangan menangis Honey. Aku akan segera menyelesaikan ritualnya sehingga kita bisa kembali bersama. Tunggu aku, kau harus percaya padaku, Honey. Kau adalah sumber kekuatanku, kalau kau rapuh, maka kekuatankupun melemah.” Refald menatap wajah istrinya yang juga langsung menatapnya.


Mendengar ucapan Refald, Fey mencoba menata hati dan pikirannya. Ia berdiri tegap sambil mengusap sisa bulir air matanya. “Kau benar Refald, maaf. harusnya aku tidak boleh lemah. Ingatanku sudah kembali, dan aku akan menunggumu di sini. Pergilah! Lakukan ritualku dan jemput aku di tempat ini.” Mata Fey mengisayaratkan betapa besar rasa rindu dan cintanya untuk Refald sehingga membuat sang raja dedemit semakin bersemangat menjalankan ritual ini.


“Ehm.” Refald mengangguk senang. “Tetaplah disitu dan jangan pergi kemana-mana sampai aku kembali. Jangan pernah meninggalkan lingkaran putih itu Honey, sebab diluar sana, banyak iblis jahat yang memanfaatkan kesempatan ini untuk mengusik ritualku.” Refald mengingatkan.


“Aku mengerti. Aku mencintaimu, Refald.”


Fey sendiri juga ikut melambaikan tangan dengan segudang rasa cemas dihatinya, tapi ia berusaha kuat menepis rasa cemas itu agar suaminya bisa menjalankan ritualnya dengan baik tanpa perlu mengkhawatirkan dirinya. Shena dan Leo sudah tertidur lelap saat Refald sudah memulai ritualnya. Fey tidak tahu ritual seperti apa yang dijalankan Refald karena ia tak bisa melihatnya dari sini.


Dinding penghalang ini juga membatasi pergerakan Fey sehingga ia hanya bisa mondar mandir saja kesana kemari sambil mengamati sekeliling. Syukurlah suasana tidak terlalu gelap, karen acahaya bulan purnama menyinari seluruh alam jagad raya.


Satu jam sudah berlalu sejak kepergian Refald yang sedang melaksanakan ritulnya. Malam semakin larut dan juga mencekam. Suasana sangat sepi dan juga sunyi, sesekali terdengar suara angin berhembus mengusik daun-daun yang sedang tidur. Hembusan angin itu memicu suara burung-burung malam dan juga binatang-binatang kecil untuk mengelurakan suara-suara merdu mereka. Fey masih tak bisa tidur seperti Leo dan Shena yang saling berpelukan dan saling menghangatkan. Ia terus terjaga dan menunggu datangnya Refald kembali.


Tiba-tiba dari sudut barat daya, terdengar suara gemerisik orang dan tak berselang lama, munculah sesosok pemuda yang masih berusia kira-kira kurang lebih 18 tahunan dari balik semak-semak belukar. Pemuda itu melompat dan terus berlari melewati tempat Fey berdiri. Mata Fey terbelalak seakan ingin meloncat keluar tatkala melihat siapa sesosok pemuda yang dikejar-kejar penduduk desa yang ternyata merupakan pengawal istana entah dari kerajaan mana.

__ADS_1


“Pak Po?” seru Fey terkejut. Pemuda itupun berhenti berlari ketika mendengar seruan Fey.


“Hei kau yang disana! Berhenti berlari!” teriak seseorang yang tak lain adalah pengawal kerajaan.


Pemuda yang memang tak lain dan tak bukan adalah pak Po, langsung berlari ke balik punggung Fey untuk meminta perlindungan. “Tolong saya, Nyi? Mereka mau membunuh saya,” ucap pak Po ketakutan. ia meringkuk dan menundukkan kepalanya di belakang Fey.


Fey terdiam antara bingung dan juga takjub. Ia sampai tak bisa berkata-kata melihat situasi yang aneh bin ajaib ini. Bagaimana mungkin pak Po ada disini? Apa yang terjadi? Pikir Fey.


“Nyi, tolong jangan ikut campur. Serahkan pemuda itu pada kami. Maka kami akan segera pergi dari sini,” ujar pengawal itu pada Fey.


“Maaf Kisanak. Saya tidak bermaksud ikut campur urusan Kisanak dengan pemuda ini, tapi … bolehkan saya tahu kesalahan apa yang pemuda ini lakukan sehingga anda berdua hendak menangkapnya?” tanya Fey dengan penuh waspada.


Jika benar pemuda ini adalah Ezi di masa lalu, maka ia tahu betul seperti apa pak Po itu. Orang seperti Ezi, takkan pernah bisa menyakiti orang lain bahkan binatang kecil sekalipun.


Dua pengawal kerajaan itu saling pandang, mereka ragu apakah hendak menceritakan kejadian sesunguhnya atau tidak.


BERSAMBUNG


****

__ADS_1


Biar nggak bingung, disinilah awal mula cerita kenapa pak Po menjadi pasukan dedemit Refald. itu aja sih, tunggu aja kisah selanjutnya, siap-sipa tegang dan juga baper karena kehadiran pak Po di dunia ini.


__ADS_2