
Hari ini, Rara ada janji dengan kekasihnya. Ia hendak diajak Jakson pergi makan malam bersama dengan keluarga besarnya sebagai tanda bahwa putra Riska itu serius dengan Rara. Ini adalah pertemuan pertama Rara dengan calon mertuanya. Sebab itulah ia sibuk berdandan sejak tadi dan membuat berantakan seisi rumah.
Rhea yang baru saja pulang kuliah jadi bingung melihat tingkah Rara yang heboh sendiri seperti anak ayam kehilangan induknya. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah, kondisi rumah yang sudah tidak karuan. Padahal, pagi tadi masih terlihat rapi karena Rhea selalu bersih-bersih sebelum ia berangkat kuliah.
"Apa yang sedang kakak lakukan?" tanya Rara. Ia hanya bisa mengelus dada melihat pada yang terjadi disini. Sebab, Rhealah yang harus merapikan rumah ini kembali. Sedangkan ia masih sangat lelah.
"Ah, syukurlah kau sudah pulang. Kira-kira pakaian mana yang cocok untukku?" Rara memperlihatkan semua pakaian bagusnya yang tentunya ia beli menggunakan uang Rhea. Sementara Rhea sendiri hanya memakai pakaian itu-itu saja.
"Memang kakak mau pergi kemana?"
"Makan malam, tapi ini bukan makan malam biasa. Jakson mengajakku bertemu dengan keluarganya. Kau lihat? Sebentar lagi aku akan menjadi nyonya besar di kota ini." Rara tertawa senang. Sedangkan Rhea hanya diam dan ikut tersenyum biasa.
"Kalau begitu, pakai yang kasual saja?" Rhea memberi saran.
"Kau pikir aku mau bertemu dengan pejabat pemerintah? Aku mau bertemu calon mertuaku. Kesan pertama itu penting, tahu! Ah sudahlah. Percuma bicara denganmu. Mana mungkin kau tahu soal fashion. Baju bagus saja kau tidak punya. Pergi sana!" usir Rara dengan kasar.
Kakak angkat Rhea itu benar-benar tidak tahu terimakasih. Berkat siapa dia jadi seperti itu? Tanpa Rhea, tidak mungkin Rara bisa memenuhi kebutuhan fashionnya. Seandainya saja Rara tahu seperti apa Rhea diluar sana, mungkin ia akan pingsan karena orang yang ia hina habis-habisan bukanlah wanita biasa.
Rhea sangat sedih melihat perangai kakaknya yang masih belum juga mau berubah. "Kenapa Kakak selalu memandang rendah orang lain. Penampilan bisa menipu. Pakaian buruk, bukan berarti ia jelek dan tidak punya apa-apa. Coba bukalah mata hatimu, Kak. Aku khawatir kau akan terjerumus kedalam lubang yang salah karena ketamakanmu sendiri." Rhea berkata pada dirinya dan berjalan gontai masuk ke dalam kamarnya.
Rhea meletakkan tasnya dan kembali keluar memeriksa kamar neneknya. Rupanya nenek Haida juga sedang tidak ada dirumah.
"Kemana perginya nenek? Apa ia juga sedang sibuk mengurus semua persiapan ritualku? Tinggal 5 hari lagi." Hati Rhea semakin was-was dan juga cemas. Namun, setiap kali latihan, ia sudah berhasil melebihi target. Harusnya, ritual nanti sudah tidak jadi masalah.
Dengan lemas, Rhea kembali ke dalam kamar dan mencoba cuek dengan kehebohan yang diciptakan Rara dikamarnya. Keadaan didalam sana sudah tak bisa digambarkan. Kapal pecah saja masih mending. Rara benar-benar membuat berantakan kamarnya sendiri dan yang ketiban sial merapikannya, sudah pasti dirinya. Gadis itu merebahkan diri diatas kasur kecilnya untuk melepas lelah. Ia memandang langit-langit kamar. Ingin sekali Rhea tidur, tapi matanya tidak mau terpejam.
"Sedang apa?" Mendadak Rey muncul disamping Rhea sehingga gadis itu tersentak dan jatuh ke tanah dari atas tempat tidurnya sendiri.
"Agghh!" Pekik Rhea karena tangannya keseleo.
__ADS_1
"Sayang, kau tidak apa-apa?" Rey langsung melompat turun dari atas kasur dan menggendong Rhea lalu mendudukkan kekasihnya di kursi. Rey memerhatikan tangan Rhea yang langsung memar.
Mendadak kamar Rhea terbuka, dan Rara muncul dari balik pintu kamar Rhea. Tentu saja gadis itu terkejut setengah mati. Untungnya Rey langsung menghilang begitu Rara muncul.
"Kenapa kau?" Selidik Rhea karena ia mendengar suara teriakan Rhea.
"Tidak apa-apa, Kak. Tadi aku hanya terjatuh."
"Kok bisa?"
"Aku terkejut karena mendadak ada cicak disampingku." Rhea berbohong. "Saking, kagetnya aku terjatuh dari tempat tidur.
Maaf aku mengataimu cicak, Rey. batin Rhea.
"Kau itu sama saja dengan cicak itu? Bagaimana kau bisa takut dengan saudara kembarmu sendiri!" Ledek Rara dan ia kembali menutup pintu kamar Rhea dengan kasar.
Rhea sendiri bernapas lega karena kakaknya tidak melihat Rey. Tiba-tiba saja Rey muncul kembali bersamaan dengan pintu kamar Rhea terbuka lagi. Dan malangnya, posisi Rey ada dibalik pintu kamar Rhea. Atau lebih tepatnya, ada dibelakang Rara. Rey bahkan menahan napas supaya tidak ketahuan kalau ada orag dibalik pintu.
Rhea mendadak gugup, tapi ia berusaha menutupinya. "Ah, justru aku sangat terkejut karena Kakak terlihat sangat cantik sekali saat ini." Lagi-lagi Rhea berbohong. Sebenarnya ia mengkhawatirkan Rey yang ada dibelakang kakaknya. Jangan sampai Rara melihat Rey.
"Aku memang cantik daridulu. Tidak sepertimu. Katakan pada Nenek kalau aku pulang terlambat malam ini supaya ia tidak mencariku."
"Baik, Kak. Nanti aku sampaikan. Hati-hati dijalan. Semoga acaranya lancar." Rhea memaksakan diri tersenyum padahal hatinya deg-degan.
Rara tak menyahut dan langsung pergi begitu saja.
"Kenapa kakakmu tidak pernah mengetuk pintu? Dasar tidak sopan!" Omel Rey setelah memastikan Rara benar-benar sudah pergi dari rumah ini dan tidak kembali lagi.
"Kau sendiri? Kenapa kau datang kemari tiba-tiba begitu? Bahkan sampai mengagetkanku? Kau jauh lebih tidak sopan!" protes Rhea.
__ADS_1
"Maaf Sayang, aku tidak menyangka kau bakal terkejut dengan kedatanganku yang tiba-tiba. Aku pikir kau sudah biasa dengan kemunculanku yang dadakan ini. Tadinya aku mau beromantis ria denganmu, tapi aku malah membuatmu terluka."
Rey memeriksa tangan Rhea yang terluka lalu menciumnya. Seketika tangan Rhea yang tadinya memar langsung sembuh tak berbekas. Bahkan sudah tidak terasa sakit lagi.
"Wauw, lukanya sembuh!" seru Rhea takjub. "Kau juga bisa melakukan ini?" Rhea menatap Rey yang sangat luar biasa.
"Tentu saja, karena aku mewarisi kekuatan ayahku." Rey mengecup pelan kening Rhea. "Ayo ikut denganku. Ibu ingin kita makan bersama."
"Sekarang?"
"Tahun depan," jawab Rey jutek. "Tentu saja sekarang."
"Tapi aku harus membersihkan rumah ini dulu."
"Tidak perlu, aku sudah membersihkannya."
"Hah? Kapan?"
"Lihat saja kalau tidak percaya." Rey menunjukkan senyum tampannya.
Rhea langsung berlari keluar kamar dan langsung tercengang setelah melihat setiap sudut ruangan dirumahnya terlihat bersih, rapi dan kinclong. Rhea juga membuka pintu kamar kakaknya yang juga sudah rapi.
"Bagaimana bisa?" tanya Rhea masih tak percaya. Rey berjalan mendekat ke arah Rhea dan memeluk pinggang kekasihnya.
"Tentu saja bisa, karena aku ...."
"Seorang putra raja." Rhea memotong kalimat Rey. "Calon suamiku." Rhea mencium mesra Rey sebagai ucapan terimakasih karena sudah membantu meringankan pekerjaannya.
BERSAMBUNG
__ADS_1
****