
Fey masih tak percaya dengan keajaiban yang diciptakan suaminya, Refald. Terbang diudara bersama dengan seekor naga? Manusia mana yang bisa memercayai semua ini? Jika Fey menceritakan apa yang ia alami ini pada orang lain, pasti semua orang menganggap dirinya gila dan sudah tidak waras. Padahal ini nyata, Fey benar-benar terbang bersama dengan naga dan Refaldlah dalang dibalik semua hal menakjubkan ini.
“Honey, kau tidak punya cita-cita untuk menciumku disini?” Refald mulai menggoda istrinya. Sejak tadi ia tersenyum melihat wajah takjub Fey yang tak berhenti menatap area sekelilingnya.
“Sudah kubilang aku tidak mau? Masa mesum didalam mulut besanmu sendiri? Tidak, aku tidak mau. Meskipun kau berhasil membuatku terpukau dengan semua ini, tapi aku tetap tidak mau berciuman denganmu didalam mulut naga, rasanya aneh, tahu!” ekspersi Fey sekarang sulit sekali dijelaskan. Ia senang, tapi juga risih dan sedikit merasa aneh juga.
“Sebenarnya, aku bisa meminta mereka berdua menutup matanya sementara kita bercumbu mesra, Honey. Tapi, yang aku khawatirkan, pak Po akan menabrak gunung itu jika matanya tertutup karena ia masih belum terbiasa dengan wujud barunya.” Refald tertawa.
Terlepas dari permasalahan yang akan menanti anak-anak mereka, suami Fey ini masih bisa tertawa lepas seperti ini. Jika sudah begitu, pasti semua baik-baik saja. Rey dan Rhea pasti bahagia jika rencana drama ikan terbang yang disiapkan Refald berhasil dilakukan.
Dalam hati Fey yang terdalam, ia sangat bangga dan juga bahagia memiliki suami menakjubkan seperti Refald. Bahkan ia merasa menjadi wanita paling beruntung didunia karena dicintai oleh seorang Refald
“Tapi kenapa kita harus masuk kedalam jiwa pak Po yang berubah menjadi naga hitam, Refald?” walau mati-matian Fey mencoba memahami kekuatan baru suaminya, tetap saja ibu dari Rey ini masih bingung.
“Honey, untuk melakukan sandiwara ini, pak Po tidak bisa mengatakan kalimat menyakitkan yang harusnya dikatakan. Bisa-bisa … drama kita gagal total. Kau kan tahu, pak itu baperan, mana mungkin dia berakting dengan baik untuk membuat Rey emosi. Aku tidak percaya, dia bisa melakukannnya. Karena itulah aku harus masuk kedalam jiwanya dan menggantikannya berakting. Kau juga harus bekerja sama denganku, Honey. Saat aku mengatakan pada Rey bahwa ayahnya meninggal, mungkin Rey tidak akan percaya, tapi melalui aktingmu, aku yakin Rey baru bisa percaya.”
“Apa? Siapa yang meninggal? Kau?” teriak Fey seketika, ia sungguh terkejut. Bagaiaman bisa Refald mengatakan bahwa dirinya sendiri meninggal?
“Ini hanya akting Honey. Namanya juga drama ikan terbang, tidak lucu kalau tidak ada yang meninggal. Rey tidak akan percaya bila ayahnya yang hebat ini telah tiada dan dikalahkan oleh naga hitam, karena itulah kau harus berakting seolah apa yang aku katakan ini benar. Kau harus membayangkan bagaimana perasaanmu jika aku tiada tepat dihadapanmu.” Refald membantu mengatupkan mulut istrinya yang mengaga saat mendengar ucapannya. “Besok, begitu Yeon dan Bima mengitari gurun menuju lokasi yang sudah disiapkan pak Po. Kita akan menyerang mereka dengan wujud naga ini lalu menculik Rhea dari Yeon dan Bima. Inilah yang aku maksud dengan rencana B. Yang mengetahui rencana ini hanyalah kita berempat dan seluruh pasukanku yang juga sudah standby ditempatnya.” Refald tersenyum penuh pesona pada Fey.
Tidak ada yang bisa dikatakan Fey mengenai semua rencana ikan terbang yang disiapkan Refald demi mengatasi permasalahan yang akan menimpa putra putri mereka. Siapa yang menyangka kalau apa yang terjadi nanti hanyalah akting belaka yang pasti bisa menguras emosi jiwa Rey dan Rhea. Rencana Refald ini benar-benar sempurna.
***
__ADS_1
Tanpa terasa, hari sudah berganti dan pelaksanaan hari H drama ikan terbang Refaldpun dimulai. Malam dimana Rey dan Rhea pulang dari acara pernikahan Jakson dan Rara. Kedua keponakan Refald, yaitu Yeon dan Bima juga sudah mulai bersiap-siap melancarkan aksinya.
“Sepertinya obatnya sudah mulai bereaksi!” ujar Bima pada kakaknya.
“Ayo kita beraksi!” ajak Yeon dan mereka berdua langsung menuju kamar Rey dimana Rhea sedang tertidur dalam pelukan kekasihnya.
“Dasar mereka ini! Belum menikah saja sudah berani tidur bersama!” gerutu Bima sedikit iri melihat betapa mesranya Rey dan Rhea.
“Paman dan ayah juga seperti itu saat mereka muda dulu, jangan kaget!” ujar Yeon yang bersikap santai.
“Hah? Masa? Darimana kau tahu?”
“Paman Refald yang memberitahuku! Sudah, jangan banyak bicara, cepat angkat kakak ipar!”
“Kenapa aku? Kenapa bukan kau saja yang mengangkatnya?” protes Bima tidak terima.
“Dasar kau ini! Dan kenapa aku mau saja menurutimu!” gerutu Bima sambil mulai mengangkat tubuh Rhea.
“Kau adikku! Dan aku kakakmu! Wajar kalau kau wajib menurutiku.” Yeon tersenyum menang.
Bima tidak menjawab, ia malas berdebat dengan Yeon dan lebih fokus membawa Rhea. Dua bersaudara itupun keluar dari kamar Rey setelah memastikan Rey benar-benar tidak sadar dari tidurnya yang lelap. Hal itu karena sebelumnya, Rey dan Rhea telah meminum obat tidur yang sudah sengaja Yeon campurkan kedalam minuman mereka berdua.
“Kita berdua benar-benar akan mati jika si Voldemort ini tahu bahwa kitalah yang menculik kekasihnya. Aish, si paman benar-benar membuat kita dalam masalah besar,” gumam Yeon saat mereka semua sudah berada didalam mobil Lamborghini milik Yeon.
__ADS_1
“Kenapa kau memakai mobil ini, ha? Merepotkan sekali!” lagi-lagi Bima protes karena ia harus memangku tubuh Rhea. “Kalau sampai si Voldemort itu tahu semesra ini aku dengan kakak ipar, habislah aku.”
“Dia tidak akan tahu! Aku akan jaga rahasiamu, bukankah ini kesempatanmu? Kau menyukai kakak ipar juga, kan? Sepertinya paman memang sengaja melakukan ini padamu!” Yeon terkekeh melihat wajah kikuk adiknya.
“Bukan paman yang sengaja! Tapi kau … harusnya kau pakai mobil lain saja! Kau ini menyebalkan sekali, untung saja kau kakakku, jika tidak sudah kubikin daging giling kau!” gerutu Bima sambil mendengus kesal.
“Aku suka mobil ini.” Yeon tertawa melihat adiknya semakin kesal padanya. Ia malah melesat kencang ketempat yang sudah diberitahukan Refald sebelumnya.
Haripun sudah berganti, tapi Rhea masih belum sadar juga. Perjalanan yang mereka tempuh juga lumayan jauh sehingga berkali-kali Yeon dan Bima harus berhenti untuk beristirahat sekedar isi bensin.
“Kapan kita akan sampai? Ini sudah siang dan sebentar lagi malam,” ujar Bima tidak sabar.
“Setelah melewati gurun itu, kita akan sampai! Ayo, kita berangkat lagi, jangan sampai kakak ipar terbangun.” Yeon mulai menyalakan mesin dan melaju kencang lagi memasuki kawasan gurun.
Kakak beradik itu akhirnya sampai disebuah gurun yang gersang dan jarang dilewati banyak orang. Cuaca disini sangatlah panas karena sedang musim kemarau juga, sama sekali tidak ada tumbuhan apapun yang tumbuh ditempat ini. Yeon dan Bima juga mulai sedikit kelelahan tapi mereka haru tetap melanjutkan perjalanan sebelum matahari terbenam.
Tiba-tiba dari kejauhan, muncul angin hitam besar dan betapa terkejutnya dua bersaudara itu setelah melihat apa yang ada dihadapan mereka. Sesosok makhluk besar muncul dari kejauhan dan pastinya hendak menyerang Yeon dan Bima.
“Kakak … i-itu … apa?” tanya Bima terperangah dan Yeounpun juga tak kalah terkejut dari Bima.
“Asataga … itu … naga!” ujar Yeon masih dengan ekspresi terkejut yang amat sangat. Dalam hitungan detik, naga hitam itu datang dan langsung menyerang mereka berdua.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***
Ini flashback versi Yeon dan Bima ya … masih ada kisah menarik lainnya saat Fey harus bersandiwara. Tetap tunggu kelanjutan kisahnya, love you all …