
Namun tetap saja, Rey tidak bisa menerima semua ini, Bima … adalah korban pertama keteledorannya. Kepalan tangan Rey semakin menguat serta darahnya sudah mendidih seakan ingin meledak. Tidak ada yang bisa dilakukan Rey selain menuruti kemauan sang naga meski dalam hatinya timbul gejolak jiwa untuk menolak semua ini.
Tidak! Tidak mungkin aku mengkhianati Rheaku. Tidak mungkin aku menkhianati cintaku sendiri. Rhea … apa kau dengar aku? Batin Rey.
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya untuk mengatasi pergulatan batin yang ada dihatinya. Dan untuk kedua kalinya, terdengar suara gelembung besar jatuh kedalam aliran sungai larva. Menyadari hal itu, Rey membuka mata dan kali ini giliran Yeon yang sudah tidak ada diantara mereka. Kini, hanya tinggal 2 gelembung, yaitu gelembung Shena dan Leo.
“Apa yang kau lakukan? Kau benar-benar biadab!” teriak Rey menggelegar. Saking marahnya seluruh urat nadi Rey sampai terlihat. “Kembalikan Yeon dan Bima padaku!” teriak Rey lagi.
“Aku sudah tidak bisa menunggu lama lagi, cepat lakukan ritual pernikahan dengan putriku lalu temui kekasihmu. Atau … kau ingin aku melempar wanita itu kedalam larva itu juga seperti yang lainnya?” tanya naga itu sambil mengarahkan gelembung udara yang mengurung Shena ketengah-tengah jurang.
Pancaran mata Rey sudah menyiratkan bola api kemarahan yang tak terkira. Sampai kapanpun ia tidak akan pernah memaafkan perbuatan naga hitam ini pada keluaraganya. Ia akan membalas apa yang sudah monster itu lakukan padanya.
“Apa … yang harus aku lakukan sekarang?” tanya Rey dengan suara gemetar akibat menahan kemarahan yang tak terkira.
“Berdirilah di altar itu dan katubkan kedua tanganmu, pejamkan mata dan ucapkan janji pernikahan dengan putriku.” Naga itu mendatangkan dua sosok hitam bertopeng marshmello yang menutupi seluruh wajah mereka dengan wujud manusia. “Kalian berdua, kawal dia untuk melakukan ritualnya,” perintah naga hitam pada sosok ciptaannya itu.
__ADS_1
Dua sosok hitam berkepala marshmello menundukkan kepala mereka dan berjalan pelan layaknya manusia dan mengawal Rey menuju altar pernikahannya. Salah satu sosok hitam itu memberikan selembar kertas yang harus dibaca Rey saat mengucapkan janji ikatan pernikahan.
Dengan tangan gemetar, Rey membaca sekilas kertas tersebut lalu meletakannya dimeja sebagai tanda ia sudah mengerti apa yang harus diucapkan. Perlahan putra Refald itu mengatupkan kedua tangannya didepan dada sambil memejamkan mata. Rey ingin sekali menangis tapi entah air matanya tidak bisa keluar lagi. Mungkin karena rasa marah yang begitu besar sehingga membuat Rey tak bisa meluapkan amarahnya. Ditambah lagi, ia sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini. Sungguh Rey tidak ingin melakukannya, tapi ia tidak punya pilihan lain sekarang.
Sekelebat bayangan wajah cantik Rhea datang menghiasi pikiran dan hati Rey. Hanya gadis itulah yang ia cintai dan satu-satunya wanita yang bisa membuatnya bahagia. Rey menjerit dalam hati memanggil nama Rhea.
“Aku … Reyshinhard … Refey … Dilagara … telah menjadikan putri naga hitam … sebagai … istriku,” ujar Rey terbata-bata. Ia tidak sanggup mengatakan kalimat itu.
Satu nama yang ingin selalu ia ucapkan saat ia melangsungkan pernikahan sekali seumur hidupmya. Ia ingin menyebutkan nama Rhea, dan Rey melakukannya dalam hati saat mengatakan kalimat pernikahan tadi. Dengan kata lain, meski bibirnya mengatakan kata ‘putri naga’, tapi di dalam hatinya ia menyebut nama Rhea Sasikirana Fahrezi dan untungnya naga itu tidak menyadarinya.
“Dimana Rheaku, sekarang?” Tanya Rey dengan tatapan mata yang amat tajam. Tidak ada ekspresi lagi di wajah Rey.
“Kau ini tidak sabaran sekali, ya? Baiklah, semakin cepat kau bertemu dengannya semakin cepat pula kau menjadi suami putriku seutuhnya.” Naga itu beralih pada dua sosok hitam yang ada dibelakang Rey. “Kawal dia bertemu dengan kekasihnya. Pastikan mereka berdua melakukan apa yang sudah aku katakan. Setelah selesai, kalian tahu apa yang harus dilakukan.”
Kedua sosok hitam itu hanya menundukkan kepalanya tanpa bersuara. Hal itu karena wajah mereka berbentuk marshmello, entah mereka punya mulut atau tidak, tidak ada yang tahu. Mereka berdua mengawal Rey menuju ke suatu tempat dimana Rhea sekarang ini berada.
__ADS_1
Rey langsung terpaku saat melihat Rhea sedang duduk bersimpuh sambil memeluk kedua lututnya sendiri dan bersandar pada batu besar tepat dipinggir air kolam yang airnya berwarna jernih. Wajahnya terlihat pucat dan sembab karena kebanyakan menangis. Hati Rey hancur melihat kekasihnya sangat berantakan begitu. Rey sangat merindukan wajah ceria Rhea terutama saat ia menggoda dan menjaili gadis manis itu.
Perlahan, Rey melangkahkan kakinya dengan perasaan remuk redam. Rey ikut bersimpuh dihadapan Rhea yang masih melamun dengan pandangan mata kosong. Dengan ragu, Rey memberanikan diri menyentuh dagu wanita yang amat sangat dicintainya supaya mau menatapnya. Tentu saja hal itu mengagetkan Rhea. Matanya langsung berbinar cerah setelah melihat Rey datang untuknya.
“Rey!” serunya. Rhea langsung memeluk tubuh suaminya dengan sangat erat. “Akhirnya, kau datang juga. Aku tahu kau pasti menyelamatkanku. Karena itulah aku diam disini. Aku percaya, pangeranku pasti segera datang kemari. Aku senang sekali, Rey. Terimakasih sudah datang kemari.” Rhea tersenyum dan terus mengeratkan pelukannya tanpa ia tahu kalau orang yang sedang dipeluknya ini menangis tanpa suara. “Rey, kenapa … kau diam saja? Ada apa denganmu?” Rhea hendak melepaskan pelukannya, tapi Rey menolak. Ia tidak ingin Rhea melihatnya menangis pilu dan tetap memeluknya dalam diam.
“Ada apa Rey? Kenapa kau menangis? Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu menangis seperti itu. Sekarang kau sudah datang, ayo kita pergi dari sini. Kau ingin kita segera menikah, bukan? Aku bersedia menikah denganmu. Maafkan aku karena selama ini sudah menunda pernikahan kita, mulai sekarang … aku tidak akan menunda lagi. Ayo kita menikah,” ujar Rhea menggebu-gebu. Ia begitu bahagia saat mengajak suaminya menikah. Tapi anehnya, tidak ada sahutan dari Rey. Sebab Rey masih menangis dalam diam dan tetap memeluk erat tubuh istrinya.
Diamnya Rey membuat perasaan Rhea jadi tidak enak. Ia memaksakan diri lepas dalam pelukan suaminya dan benar saja, Rhea sangat terkejut melihat kondisi Rey yang terlihat hancur, air matanya bahkan mengalir sangat deras.
“Ada apa, Rey? Kenapa kau seperti ini? Apa yang terjadi? Katakan padaku? Ada apa denganmu?” seru Rhea. Matanya jadi ikut berkaca-kaca melihat pria yang dicintainya terlihat seperti mayat hidup.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1