
Kembali disaat Rhea terduduk lemah karena tak kuasa menahan rasa sakit sesakitnya akibat berpisah dari orang yang paling dicintainya. Hati Rhea serasa tercabik-cabik olah sayatan pisau tertajam. Pedih, perih terus menyerang hati dan jiwa gadis itu. Yang membuatnya lebih sedih lagi adalah, ia tak bisa melupakan kenangan-kenangan indah selama Rey berada disisinya.
Pelukan, Rey, senyuman Rey kejahilan Rey yang selalu ia lakukan padanya serta ciuman manisnya, kini Rhea tak lagi bisa merasakan hal itu. Tangis Rhea semakin menjadi kala mengingat masa-masa menyenangkan saat ia bersama suaminya, tapi sekarang ... Rey sudah bukan lagi miliknya. Jangankan bisa melihatnya, memikirkannya saja itu sudah terlarang untuk Rhea.
“Rey ....” ujar Rhea lirih sambil memegangi dadanya. Gadis itu sdah tidak punya tenaga lagi untuk berdiri. Rhea bersandar didinding goa sambil terus menangis dan memanggil-manggil nama mantan kekaksihnya.
Kejadian ini bagai mimipi bagi Rhea, ia tak pernah menduga kali ini ia bakal benar-benar berpisah dari Rey untuk selamanya, sebab Rey sudah menjadi suami wanita lain. Rhea menelungkupkan wajahnya diantara kedua lututnya. Ia tersedu-sedu dan tangisannya terdengar semakin pilu. Di depan Rey, Rhea berusaha terlihat tegar, kuat dan baik-baik saja meski ia tidak terlihat baik. Namun, dibelakangnya ... Rhea tak berdaya, hatinya hancur lebur, remuk menjadi butiran debu. Yang tersisa dalam diri Rhea hanyalah kenangannya bersama Rey, dan itu akan ia simpan hingga akhir hayatnya.
Tiba-tiba dari arah belakang, datanglah sosok hitam berkepala marshmello yang mengejar Rhea tadi. Tanpa peringatan, sosok hitam tersebut langsung memukul tengkuk Rhea hingga gadis itu pingsan.
Setelah memastikan kalau Rhea sudah tak sadarkan diri, sosok hitam itu langsung menggendong tubuh Rhea dan membawanya pergi kesuatu tempat. Setelah beberapa menit, akhirnya sosok hitam berkepala marshmello itu sampai disuatu ruangan khusus dan langsung meletakkan Rhea diatas tempat tidur.
“Haiiishhh, ini sungguh merepotkan sekali, dan kenapa aku mau saja jadi seperti ini, hadeuh ... rambutku jadi rusak,” ujar sosok itu sambil mencopot topeng marshmellonya dan merapikan rambutnya yang terlihat acak-acakan. “Tapi ini semua demi si Voldemort itu. Aku tidak bisa bilang tidak saat paman memintaku melakukan semua ini. Maafkan aku kakak ipar, karena telah membuatmu pingsan seperti ini. Menurutku lebih baik kau tidak sadarkan diri daripada terus menangis pilu begitu. Setelah ini, aku yakin kau akan bahagia selamanya. Biar si Voldemort itu yang menyembuhkan lukamu, nanti.” Seseorang itu mengambil ponselnya dan menelepon seseorang yang lain. “Disini beres, sekarang giliranmu!” ujarnya dan ia pun pergi meninggalkan Rhea yang masih pingsan.
Sementara ditempat lain, Rey yang sudah seperti mayat hidup langsung dibawa sosok marshmello lain keruangan dimana Rhea berada yang pastinya, tanpa sepengetahuan Rey. Dari balik punggung Rey, sosok hitam itu terus saja menahan tawa dan hampir saja muncrat keluar kalau saja ia tidak ingat ancaman pamannya.
Dasar Voldemort, tapi kasihan juga sih lihat dia hancur begitu, hehehe. Paman kau sungguh luar biasa, batin sosok hitam itu.
Sebenarnya, sosok hitam yang tidak lain adalah rekan sosok hitam yang membawa Rhea tadi jadi iba melihat Rey, tapi mau bagaimana lagi. Ia harus menjalankan skenario yang sudah direncanakan dengan matang.
Setelah membukakan pintu ruangan untuk Rey, tanpa suara sosok hitam tersebut keluar dan menutup kembali pintunya meninggalkan Rey dan Rhea berdua saja di kamar pengantin mereka. Dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
__ADS_1
“Disini juga sudah beres. Sebaiknya, siap-siap tutup telinga kalian semua karena sebentar lagi akan ada suara petir menggelegar, hehe ....” sosok hitam itupun terkekeh dan langsung kembali berkumpul ke tempat dimana semua rekan-rekannya berada untuk menyambut Rey dan Rhea nanti.
Bila semua orang yang ada diluar ruangan ini sedang berbahagia, maka lain halnya dengan Rey yang masih merasa sedih akibat ditinggal sang kekasih. Ia sangat membenci wanita yang sedang terbaring lemah diatas tempat tidur tanpa ia tahu bahwa wanita itu adalah Rhea, kekasihnya sendiri.
Sudah satu jam lamanya, Rey ada didalam kamar bersama wanita yang entah kenapa ia tidak bergerak sama sekali sejak tadi. Hal itu menjadi sebuah tanda tanya besar bagi Rey. Walau awalnya ia tidak peduli, tapi akhirnya ia juga tetap penasaran, apa yang terjadi dengan wanita itu?
Hati Rey terus berperang untuk meminta memeriksa kondisi wanita yang mau tidak mau telah menjadi istri Rey. Dan hatinya berhasil mengalahkan Rey supaya menuntunnya mendekat kearah wanita lemah itu. Saat mendekat, Rey tidak bisa langsung melihat wajahnya karena tertutup oleh rambut hitam panjangnya. Entah kenapa sekelebat bayangan Rhea terlintas dibenak Rey seolah wanita ini adalah Rhea.
Hati Rey kembali menjerit mengingat air mata yang keluar dari mata wanita pujaan hatinya. Sungguh, Rey tidak sanggup bila harus menjalani hari-hari tanpa Rhea. Namun, semuanay sudah terjadi, baik dirinya ataupun Rhea, harus menerima takdir ini. Bagaimanapun juga, sampai kapanpun, wanita yang Rey cintai hanyalah Rhea. Meski kini mereka tidak bisa bersama, Rey tetap akan mencintainya sampai hembusan napas terakhirnya. Dan wanita ini ... Rey hanya akan mengangap wanita ini orang asing.
“Kau ... tidak akan pernah bisa menggantikan Rhea dihatiku sampai kapanpun,” gumam Rey lirih dan mulai menyibak rambut wanita itu untuk mencari tahu bagaimana keadaannya.
“Rhea! Astaga, apa yang terjadi denganmu, Sayang?” Rey duduk disamping Rhea dan mencoba menyadarkannya. Rey meraih tubuh kekasihnya dan langsung memeluknya. “Rhea, bangun. Kau bisa dengar aku?” Rey semakin cemas. Ia menyesal karena tidak menyadari dari awal bahwa wanita yang sejak tadi bersamanya adalah Rhea dan Rey malah membiarkannya begitu saja.
Rey memejamkan mata untuk menyembuhka luka Rhea, dan berhasil. Gadis itu mulai sadar dan terbatuk-batuk dalam pelukan Rey.
“Sayang, kau sudah sadar?” Rey mengusap lembut punggung Rhea yang juga langsung bingung, kenapa ia tiba-tiba bisa ada dalam pelukan Rey.
Setelah benar-benar sadar, Rhea langsung menjauhkan diri dari Rey dan menatapnya tajam. “Kenapa kau ada disini? Harusnya, kau ... bersama istrimu.” Rhea menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan air matanya. Entah kenapa setiap kali melihat Rey, hati Rhea kembali hancur. Yang lebih parah adalah, Rhea masih belum sadar ada dimana dia sekarang.
Mendengar ucapan Rhea, Rey akhirnya menyadari sesuatu dan iapun jadi geram, marah bahkan sampai mengepalkan kedua tangannya setelah tahu apa yang terjadi sebenarnya.
__ADS_1
“Ayaaaaahhh!” teriak Rey sekencang-kencangnya dan itu sangat mengagetkan Rhea. Gadis itu bahkan sampai menutup kedua telinganya saking kerasnya teriakan Rey.
BERSAMBUNG
****
.
.
.
Jeng ... jeng ... jeng ...
Bukan aku yang ngeprank loh iya, tapi Refald tuh ... kalau kalian baper, salahin Refald saja ... Hehehe ....
Waktu bikin part itu, beneran aku nangis juga loh, bukan cuma kalian saja yang nangis, yuk bejek-bejek si Refald, yang sudah nabur bawang dimana-mana. Hehehe ... Bercanda, semoga kalian terhibur dengan alur ceritaku yang nggak jelas ini.
Part selanjutnya penjelasan tentang rencana Refald. Kita akan flashback ke hari pernikahan Rara dan Jakson, dimana Refald mulai menunjukkan kejutannya. Ditunggu saja ya, dan jangan bosan menunggu.
Terimakasih, buat ka Bhibah, ka Ariju Ari, kak Yans, yang sudah mau memberikan hati dan pialanya untuk novel ini, dan kalian semua yang tidak bisa aku sebutkan satu persatu. Terimakasih atas dukungan poin, koin dan ghifnya serta like dan komentarnya. Aku semangat nulis juga karena kalian semua. Aku tetap bertahan di noveltoon juga karena kalian semua. love you all pokoknya.
__ADS_1