
Rhea tidak percaya, semudah itu pria yang baru saja menikahinya mengancamnya untuk membatalkan pernikahan ini hanya karena ia tak sanggup melakukan apa yang direncanakan Rey demi bisa mengenali siapakah pak Po yang asli. Masih banyak cara yang lain, kenapa Rey malah memilih mengorbankan dirinya sendiri? Itu yang membuat Rhea heran pada suaminya.
Kini, keduanya saling menatap satu sama lain dengan perasaan mereka masing-masing, muncul ketegangan diantara mereka berdua. Rey sendiri juga menatap Rhea dengan tajam. Ini pertama kalinya Rey kesal karena istrinya tak mau mendukung keputusannya, padahal Rey berani jamin kalau rencananya ini bakal berhasil.
“Jika aku jadi kau, maka aku akan melakukan apa yang aku katakan, karena itu demi kebaikan kita semua,” tandas Rey meyakinkan Rhea.
“Bukan kita semua, “ ralat Rhea dengan nada suara tinggi. “Kau tidak termasuk, dan aku tidak bisa membiarkan sesuatu terjadi padamu. Tidak Rey, aku tidak mau! Pokoknya aku tidak mau!” Rhea tetap pada pendiriannya.
“Rhea!” teriak Rey untuk pertama kalinya sehingga suasana di ruangan ini seketika menjadi tegang mencekam.
Mata merah Rey mulai menyala terang. Ia benar-benar marah sekarang, dan itu membuat Divani beserta duo pak Po jadi bingung dengan apa yang terjadi pada sepasang pengantin baru itu. Tidak ada angin tidak hujan, tiba-tiba saja mereka berdua malah bertengkar tanpa sebab.
“Kau membentakku?” mata Rhea berkaca-kaca. Baru kali ini Rey marah padanya.
“Kau tidak mau menuruti ucapanku? Jangan egois begitu!”
“Kau yang egois!” sengal Rhea sambil menangis.
“Baik! Jika aku memang egois, dan kau tak mau melakukan apa yang aku katakan, kita … batalkan saja pernikahan ini!” mata Rey semakin merah saat mengatakan kalimat menyakitkan itu. Iapun beranjak keluar setelah menatap wajah Rhea yang tercengang dengan sikap Rey yang berubah 180 derajat.
Baru juga beberapa langkah, Rey langsung dihadang oleh pak Po. “Tunggu Pangeran, anda … tidak bisa melakukan ini,” ujar pak Po ikut was-was dengan apa yang terjadi di sini.
Plak!
__ADS_1
Sebuah tamparan mendarat di wajah pak Po, dan itu berasal dari tangan Rey. “Minggir!” geram Rey dengan penuh emosi. Tak ada rasa hormat sama sekali dari Rey untuk ayah mertuanya yang masih belum diketahui apakah pak Po didepannya ini asli atau tidak.
Pak Po satunya tak tinggal diam, ia pun ikut menghadang tubuh Rey dengan tatapan api penuh kemarahan. Rey tertawa dan iapun melayangkan pukulan sama seperti yang ia lakukan pada pak Po lainnya. Namun, kali ini serangan Rey ditahan oleh pak Po kedua ini. dan malah balik melempar tubuh Rey yang masih dalam mode manusia biasa hingga jatuh membentur dinding.
Saking kerasnya lemparan itu, Rey sampai memuntahkan darah segar dari mulutnya. Sepertinya Rey terluka akibat lemparan tadi. Hal itu membuat Rhea langsung bergerak cepat berlari menghampiri Rey yang sedang terluka.
“Suamiku! Kau tidak apa-apa?” tanya Rhea penuh cemas. Ia membantu Rey bangun dan duduk dilantai.
“Aku tidak apa-apa,” ujar Rey sambil tersenyum manis. Ia mengusap pelan sisa darah yang keluar dari mulutnya. “Kau sudah tahu kan, Sayang? Lakukan sekarang!” ucap Rey menatap Rhea. Sudah tidak ada kemarahan lagi dimatanya dan pastinay membuat semua yang ada di sini bingung sendiri dengan apa yang terjadi diantara Rey dan Rhea.
“Ehm, aku tahu, tapi aku juga akan buat perhitungan denganmu setelah ini!” Rhea bangun berdiri dan berbalik arah menatap duo pak Po.
Rencana Rey telah berhasil dan kini Rhea tahu siapakah ayahnya yang asli. Tanpa menunggu waktu lama, Rhea mendekat kearah pak Po yang tadi melempar tubuh Rey dengan keras dan langsung menhempaskan sosok pak Po yang ternyata monster bertopeng itu tak kalah keras dari apa yang ia lakukan pada suaminya. Dengan emosi yang meluap-luap, Rhea menghancurkan kepala monster itu hingga wajahnya tak terdefinisikan lagi. Dalam sekejap, monster itupun lenyap seketika dan menjadi abu.
“Beres, sudah! Itulah akibatnya berani memukul suamiku! Dasar monster!” gumam Rhea masih kesal dan iapun langsung kembali ketempat suaminya berada. Rhea langsung memerikasa luka-luka Rey akibat benturan keras tadi.
“Tapi aku benci padamu! Bisa-bisanya kau mengorbankan dirimu seperti ini? Kalau sampai kau kenapa-napa aku tidak mau bicara lagi padamu. Kau dengar aku?” Rhea memasang wajah cemberut karena terlalu mencemaskan suaminya.
“Aktingmu tadi sungguh bagus, Sayang. Lihatlah! Ayah dan ibu saja sampai tertegun dan tak bisa berkata-kata. Mereka pikir, kita sedang bertengkar sungguhan!” Rey memaksakan diri tertawa ditengah-tengah luka dalam yang dideritanya.
“Diam dan jangan banyak bicara lagi, kau sedang terluka!” Rhea lansgung beralih posisi duduk dibelakang Rey.
“Jangan bergerak dulu, aku akan menyembuhkan lukamu!” Rhea membantu membenahi posisi suaminya.
__ADS_1
Baik Rey dan Rhea, kini sudah saling duduk bersila. Rhea menempelkan kedua telapak tangannya di punggung Rey dan mulai memejamkan mata begitu pula dengan Rey. Untuk beberapa saat, suasana menjadi hening karena Rhea sedang berkonsentrasi menyembuhkan luka dalam Rey akibat serangan monster kloningan tadi. Syukurlah luka Pangerannya ini tidak terlalu parah karena Rey memang memiliki fisik kuat jauh diatas rata-rata manusia biasa sehingga dengan mudah, Rhea bisa menyembuhkan suaminya lebih cepat dari perkiraannya. Jika manusa biasa lainnya mengalami kejadian ini, mungkin skarang mereka dalam keadaan koma.
“Bagaimana? Apa masih ada yang sakit?” tanya Rhea setelah ia membuka mata. Sekali lagi, Rhea memeriksa kondisi suaminya.
“Ehmmm, di sini!” ujar Rey sambil membalikkan tubuhnya menghadap Rhea, ia menempelkan satu tangannya didadanya dan pura-pura kesakitan.
“Dimana?” tanya Rhea cemas. Iapun ikut menyentuh dada bidang Rey. “Disini?” tanya Rhea memastikan. Ia menatap mata Rey yang juga menatapnya.
Tanpa diduga, Rey langsung menarik tanga Rhea hingga gadis itu terjatuh dalam pelukan Rey. Dengan cepat sang pangeran memberikan kecupan mesra nan syahdu untuk Rhea. Tentu saja hal itu membuat wajah Rhea menjadi merah padam apalagi adegan mesra itu disaksikan kedua orangtua Rhea tepat didepan mata kepaal mereka sendri.
Spontan saja pak Po menutup kedua matanya melihat pangeran dan putrinya bercumbu mesra dihadapannya. Tak lupa iapun ikut membantu menutup mata Divani tapi langsung ditepis kasar oleh istrinya.
“Jangan dilihat!” bisik pak Po pada Divani.
“Kau diam saja!” balas Divani sedikit sewot dengan sikap pak Po. Waniat cantik itu kembali Rey dan Rhea yang sedang beromantis ria.
“Sekarang sudah tidak sakit lagi,” ucap Rey setelah menyudahi ciumannya.
“Apa yang kau lakukan? Tidak enak dilihat ayah dan ibu?” Rhea memukul pelan bahu Rey dan bangun berdiri karena sepertinya suaminya sudah tidak apa-apa. Hanya saja, Rhea agak bingung harus bagaimana ketika melihat wajah pak Po dan ibunya sedang menatap aneh padanya.
“Sebenarnya … kalian ini bertengkar atau bulan madu sih? Bukankah barusan kalian sedang marahan?” tanya pak Po bingung.
“Ehm … itu ….” Rhea tidak tahu bagaimana menjelaskannya.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***