
Sekarang ini, Refald dan Leo sedang terjebak dalam pusaran medan magnet, yaitu medan magnet Bumi yang juga disebut dengan medan geomagnetik. Secara teori, medan magnet menjangkau dari bagian dalam Bumi hingga ke batas di mana medan magnet ini bertemu radiasi matahari. Pergerakan Medan magnet bumi, setiap kali bisa mengalami pergeseran letak, baik letak yang ada di kutub utara maupun kutub selatan Bumi.
Bagian bumi yang sedang dilintasi medan magnet ini, maka segalanya akan ternetralisir secara alami. Penggunaan senjata berbahan kimia yang diciptakan manusia, tidak akan berfungsi di area ini. Begitu juga dengan kekuatan supranatural ataupun hal-hal yang berada diluar nalar manusia. Semuanya akan melemah sementara jika berada di area medan magnet bumi ini. Baik secara teori ataupun nalar, tak dapat dijelaskan mengapa hal itu bisa terjadi. Yang jelas, siapapun yang sudah masuk dalam area ini, maka ia takkan bisa keluar dengan mudah.
Artinya, Leo dan Refald sudah terjebak dalam pusaran medan magnet bumi dan mereka tak bisa keluar. Kemanapun mereka melangkah, hasilnya mereka akan kembali lagi ke tempat semula mereka berdiri.
"Apa ini?" tanya Leo bingung. "Kenapa aku bisa kembali lagi kemari?" Leo menatap Refald yang sejak tadi diam berdiri di tempatnya. Ia tahu walaupun Leo memutuskan untuk pergi meninggalkannya dan mencari keberadaan putranya seorang diri, adiknya itu ajan tetap kembali kemari.
"Kemungkinan, gaya gravitasi bumi yang terjadi di pusaran medan magnet ini terlalu kuat, tanpa sadar kau hanya berjalan berputar-putar. Sejauh apapun kau melangkah, tetap saja kau akan kembali ketempat ini bersamaku." Refald tetap mengamati sekitarnya. Tubuhnya memang merasakan sebuah tarikan yang sangat kuat.
"Kenapa kau tidak memberitahuku sejak tadi, ha? Tahu gitu aku tak perlu berjalan jauh kalau ujung-ujungnya malah kembali lagi kemari." Leo berdecak kesal. Ia mulai merasa lelah juga.
"Aku sedang mempelajari medan ini Leo. Kekuatanku melemah dan aku tak bisa memprediksi apa yang akan terjadi. Sebaiknya kau duduk diam saja disitu dan jangan buang-buang tenagamu."
"Apa tidak ada solusi?" tanya Leo cemas. "Bagaimana dengan kedua putraku?"
"Akupun juga mencemaskan mereka Leo. Tapi ... entah kau percaya atau tidak, aku bisa merasakan kalau mereka berdua baik-baik saja disuatu tempat." Refald mencoba menenangkan adiknya. "Hanya ada dua hal yang bisa membuat kita keluar dari sini."
"Apa itu? Cepat katakan!" seru Leo.
"Pertama, menunggu medan magnet ini mengalami pergeseran secara alami. Hanya saja yang menjadi kendala, aku tidak tahu kapan persisnya itu terjadi mengingat sepertinya medan magnet ini baru saja bergeser ke area ini. Padahal sebelumnya, Medan magnet ini tidak ada di sini."
__ADS_1
"Kira-kira berapa lama kita harus menunggu, satu jam? Dua jam?"
"Aku tidak tahu, tapi dilihat dari pengaruh cuaca dan musim, sepertinya medan magnet ini bergeser antara 2 atau 3 tahun sekali." Refald tetap tenang menjawab semua pertanyaan-pertanyaan adiknya.
"Apa? Selama itu? Artinya aku akan terjebak di sini bersamamu selama kurang lebih setahun? Tanpa Shena?" Mata Leo melotot menatap Refald. "Oh tidak, aku bisa mati bosan denganmu. Etalibunku bisa karatan!" decak Leo kesal.
"Dasar nggak ada akhlak! Disaat seperti ini kau masih saja kepikiran etalibun, heh? Apa otakmu isinya cuma itu saja?"
"Membayangkan aku terjebak denganmu hanya berdua saja ditempat seperti ini dalam jangka waktu lama membuatku ngeri. Kalau cuma aku dan Shena saja sih tidak masalah, tapi kalau bersamamu, entah apa yang akan terjadi pada etalibunku."
"Haish, haish kau ini membuatku kesal. Percuma bicara denganmu kalau setan mesum sudah menempeli dirimu. Apa kau tak sadar diri, ha? Kau itu sudah tua dan sudah waktunya punya cucu! Kau bukan pria muda lagi! Masih saja memikirkan begituan!" Refald hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Leo yang sok sedih itu hanya karena masalah sepele.
"Justru karena aku sudah tua, harusnya aku menghabiskan sisa hidupku dengan Shena. Kenapa aku malah menghabiskan sisa hidupku denganmu? Dan juga usiaku masih kepala 4. Dan wajahku tetap tampan. Apa kau tidak lihat, ha?" ujar Leo. Namun ia kembali menunduk lesu sambil bergumam, "Apa gunanya wajah tampan ini kalau tak ada Shena di sini. Mana aku belum dikasih jatah, tadi!" Leo mencoret-coret tanah menggunakan ranting seperti anak kecil yang sedang ngambek karena tidak dapat kue ulang tahun.
"Oh, iya ya?" Leo langsung membuang rantingnya. "Kau bilang ada dua cara? Apa satunya?" Leo kembali mengangkat wajahnya dan tak lagi terlihat ngambek.
"Nah itu dia ... yang bisa membantu kita keluar dari sini adalah para istri-istri kita dan juga keluarga besar kita. Merekalah yang bisa kita andalkan sekarang."
"Benarkah, bagaimana caranya kita memanggil mereka kemari? Disini ponsel tidak berfungsi?" tanya Leo penasaran.
"Aku tidak yakin, tapi ... kita hanya bisa berharap, Fey bisa mendengar suara hatiku." Mata Refald tertuju pada istana tempat Fey berada.
__ADS_1
Honey, kau bisa dengar aku? Cepatlah kemari, Honey. batin Refald.
Sedikit banyak, Leo juga mulai mengerti maksud Refald. Iapun menatap tajam istana tempat Shena berada sekarang.
Sayang ... kau bisa mendengarku? Keluarkan aku dari sini, Sayang. batin Leo.
***
Tak hanya Leo dan Refald saja yang mengalami kesulitan karena terjebak di pusaran medan magnet bumi. Hal serupa juga terjadi pada Rhea dan juga yang lainnya.
Rhea merasakan ada sesuatu yang tak beres dengan area pengunungan membentang luas di area istana milik keluarga Refald, istri Rey itu langsung melesat cepat menuju pusat sesuatu yang belum ia ketahui hingga detik ini. Ia bahkan tidak peduli pada resiko yang menimpanya nanti dan tetap melesat pergi. Di tambah lagi, Rhea sangat marah pada orang yang menjadi dalang kekacauan di pesta pernikahannya bersama Rey. Rhea mengira sesuatu yang ia rasakan berasal dari orang yang mengganggu pesta resepsinya dan ia ingin menemui orang itu.
Ketika melintas diatas medan magnet, kekuatan Rhea langsung melemah secara tiba-tiba dan iapun terjatuh seolah ada gravitasi kuat menarik tubuh Rhea sama seperti yang terjadi dengan Refald dan Leo.
Beruntung, Rhea terhempas diatas dahan pohon dan tubuhnya tak sampai menyentuh tanah. Jika sampai itu terjadi, maka Rhea bisa saja mati akibat mengalami patah tulang di sekujur tubuhnya. Sebab, Rhea terbang diatas ketinggian lebih dari 20 m. Manusia biasa bisa langsung koaps bila jatuh dari ketinggian itu, tak terkecuali Rhea sendiri.
"Auchh!" rintih Rhea. Ia terkejut karena tiba-tiba saja, dirinya sudah berada diatas dahan pohon besar.
BERSAMBUNG:
***
__ADS_1
PERINGATAN!
Ini hanya cerita fiksi fantasi loh ya ... kalau ada kesamaan cerita, tokoh dan hal lainnya, itu hanya kebetulan. no bully ... heheee ...