Menikahi Seorang Putra Raja

Menikahi Seorang Putra Raja
episode 22 Mesra


__ADS_3

Pagi-pagi, Rhea sudah dikejutkan dengan kehadiran Rey didepan rumahnya. Penampilannya kali ini berbeda lagi. Ia terlihat stylish dengan rambutnya yang klimis dan sangat rapi. Baunya juga sangat harum sekali sampai menyengat hidung. Entah sudah berapa botol parfum yang Rey habiskan dalam sekali pakai. Kekaksihnya itu sangat cocok memakai hem lengan pendek kotak-kotak dengan warna dominan hitam putih dan memadukannya dengan celana jins biru tua.


Penampilan Rey sangat kasual sekali pagi ini. Dengan begini, mungkin kakaknya tidak akan memanggilnya gembel lagi. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah, kenapa Rey mengubah penampilannya?


Apa benar pangeran yang dimaksud kakak semalam adalah Rey? batin Rhea sambil terus menatap Rey yang sedang berdiri dihadapannya.


"Bagaimana penampilanku hari ini, tampan kan?" tanya Rey sambil memamerkan gigi putihnya di depan Rhea.


"Ehm, kau tampan," jawab Rhea singkat.


"Cuma itu?"


"Memangnya apalagi? Kau bertanya dan aku sudah menjawabnya."


"Beri kecupan, disini!" Rey memonyongkan mulutnya dan Rhea langsung mendorong mulut Rey dengan buku yang ada ditangannya.


"Dasar mesum! Ayo berangkat!" Rhea tertawa dan ia pun berjalan keluar pintu menuju jalan utama.


"Kau tidak menyuruhku masuk dulu?"


"Tidak perlu, aku memang sudah menunggumu dari tadi, lagipula aku tidak mau berdebat dengan kakak angkatku."


"Apa dia mengganggumu lagi?"


"Tidak, aku hanya risih dengan ucapannya yang mengira kau hanyalah pria gembel biasa. Apa di pesta kalian tidak bertemu? Aku kira dia tahu siapa kau sebenarnya."


"Aku bersamamu saat pesta itu berlangsung. Mana aku tahu apa yang ia lakukan di pesta. Memangnya kenapa? Apa yang dia katakan padamu?"


"Kakakku sangat aneh hari ini. Pagi-pagi buta dia sudah mandi dan bersiap-siap. Bahkan ia berdandan lama sekali. Semua pertanyaanku tak digubrisnya, aku kira dia sudah tahu siapa kau sebenarnya dan mulai mengincarmu?"


"Kau cemburu?" Rey tersenyum.

__ADS_1


"Tidak, aku hanya takut. Kakakku sangat matre, aku tidak mau kau jadi incarannya." Wajah Rhea terlihat sedih. Ia mungkin tidak bisa menolak permintaan kakaknya jika ia meminta Rey untuknya.


"Aku akan pura-pura jadi gembel untukmu. Karena itulah aku menjemputmu dengan berjalan kaki seperti ini. Begitu melewati perbatasan, baru kita naik motorku." Rey menggenggam tangan Rhea dan mengajaknya berjalan bersama.


"Ehm, tapi ... mana ada gembel stilysh sepertimu? Tidak akan ada yang percaya kalau kau itu seorang gembel?" ujar Rhea.


"Sayang, kita hendak pergi kuliah, bukan pergi syuting film sinetron. Masa iya aku ke kampus memakai pakaian compang camping. Yang penting kakakmu tidak tertarik padaku dan aku tidak menunjukkan mobilku didepannya. Beres, kan?"


"Lalu, siapa yang dipanggilnya pangeran kalau bukan, kau?"


"Mana aku tahu? Tanyakan saja pada rumput yang bergoyang," jawab Rey ngasal.


"Bagaimana kalau rumputnya tidak mau bergoyang?" Rhea mencoba meladeni jawaban nggak jelas Rey.


"Kalau begitu, kau saja yang bergoyang-goyang." Rey tertawa membayangkan Rhea menari-nari didepannya.


"Dasar gila?" Rhea mulai geram dengan Rey. Gadis itu memutuskan untuk berjalan lebih dulu meninggalkan Rey dibelakang.


Rey dan Rhea sukses membuat baper siapapun yang melihat kemesraan keduanya. Bagaimana tidak, Rey tak henti-hentinya menjahili Rhea sehingga membuat gadis itu kesal setengah mati. Kalau Rhea sudah Ngambek, maka hal romantis yang Rey lakukan adalah langsung menggendong tubuh ramping Rhea dan mengajaknya berputar-putar sampai kepala gadis itu kliyengan. Adegan mereka berdua ini bagai melihat life streaming film sinetron sungguhan. Yang melihat kemesraan mereka hanya bisa gigit jari.


"Hentikan, Rey! Aku pusing sekali?" Rhea memegangi kepalanya yang jadi serasa berputar-putar.


"Benarkah? Memang sudah berapa bulan?" tanya Rey sambil terus menggendong Rhea berjalan.


"Apanya yang berapa bulan?" Rhea mengernyitkan alisnya karena bingung dengan pertanyaan Rey.


"Kau bilang sedang pusing, apa kau sedang hamil anak kita?" Goda Rey, tapi wajahnya serius menatap Rhea.


"Apa kau gila? Kita bahkan belum pernah melakukannya, bagaimana bisa aku hamil anakmu? Dan juga bagaimana bisa kau berpikiran aku hamil, ha?" Geram Rhea karena disangka yang bukan-bukan.


"Bukankah pusing itu salah satu tanda-tanda wanita hamil?"

__ADS_1


"Pusing bukan berarti aku hamil, Rey!" Pekik Rhea. Rey tetap saja sukses membuat darah tingginya naik. "Kau mengajakku berputar-putar tadi, wajar jika kepalaku pusing!" terang Rhea. Entah Rey nyambung dengan penjelasannya atau tidak.


"Oh, aku kira kau hamil."


"Itu jelas tidak mungkin!" Sergah Rhea.


"Kenapa tidak mungkin, kita pernah melakukan malam pertama, sebelum akhirnya kita terpisah."


"Rey, jika aku hamil, kenapa harus menunggu selama 3 tahun setelah malam pertama kita waktu itu? Jika itu yang kau maksud, bukankah harusnya aku hamil setelah kita terpisah? Tak perlu menunggu sekarang. Lagipula, yang melakukan malam pertama adalah jiwa kita, bukan raga kita. Jadi tidak mungkin jika sekarang aku hamil, bodoh!" Rhea benar-benar kesal dengan Rey yang suka ngomong asal jeplak saja.


"Iya juga ya? Apa kau menyembunyikan anakku? Bisa saja kau hamil dan aku tidak tahu?" Rey malah ngelantur kemana-mana.


"Reyyy!" Rhea mendengus kesal. Sungguh ia sudah tidak tahan menghadapi Rey yang bengek habis itu.


Rey tertawa keras menikmati wajah kesal Rhea. Tidak ada yang lebih menyenangkan selain membuat kekasihnya kesal.


"Apa kau tahu Sayang? Kau semakin cantik kalau sedang marah. Dan lebih cantik lagi kalau kau tertawa."


"Turunkan aku! Setelah membuatku kesal kau mau merayuku? Tapi sayangnya aku tidak gampang dirayu! Cepat turunkan aku!" paksa Rhea.


"Tidak mau! Cium aku dulu baru aku akan menurunkanmu."


"Apa kau sudah tidak waras? Banyak orang sedang melihat kita sekarang? Digendong olehmu saja aku sudah tidak tahu, mau ditaruh dimana lagi mukaku ini. Dan sekarang kau malah ingin aku menciummu?" Rhea memicingkan mata melihat betapa menjengkelkannya Rey saat ini.


"Ya sudah kalau begitu. Tetaplah digendonganku. Kau tidak bisa melawanku karena aku jauh lebih kuat darimu." Rey tersenyum puas sekali. Ia terus berjalan sambil menggendong Rhea tanpa peduli pada banyaknya pasang mata yang memandang mereka.


Mendadak Rhea jadi murung. "Ini tidak adil, kenapa kekuatanku tidak kembali meski aku sudah mengingat semuanya." Rhea sedikit kecewa tapi juga tak bisa berbuat apa-apa.


BERSAMBUNG


***

__ADS_1


__ADS_2