
Rhea sungguh tidak mengerti apa yang sedang direncanakan Rey sebenarnya. Namun, bila dilihat dari mata Rey yang berbinar cerah, artinya tak ada yang perlu dikhawatirkan soal musuh-musuh mereka sekarang. Hanya saja, Rey jadi sedikit mencurigakan bila bersikap seperti itu.
"Cara? Apa itu?" tanya Rhea penasaran, berharap Rey segera memberitahunya.
Rey tak langsung menjawab dan menatap ibu mertuanya menggunakan bahasa isyarat mata.
"Musnahkan mereka semua begitu kuberi aba-aba, Ibu." Itulah kira-kira pesan yang dimaksudkan Rey. Ia sengaja tak memberikan pesan pada pak Po karena Rey tahu, ayah mertuanya itu takkan mengerti maksudnya.
Divani langsung paham dan iapun menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Melihat hal itu, Rey kembali beralih menatap mata indah Rhea dengan mesra.
"Sayang, apa kau keberatan jika kita beromantis ria disaat genting seperti ini?" tanya Rey dengan senyuman menggodanya.
"Beromantis ria disaat seperti ini? Apa kau sudah gila, Rey? Kita sedang berperang? Bukannya berbulan madu!" benar dugaan Rhea. Otak Rey, pasti sedang kumat.
Rey memegang lembut kedua pipi istrinya. "Itulah yang paling membuatku kesal, Sayang. Harusnya sekarang ini kita menikmati bulan madu indah kita berdua, tapi gara-gara dia ... rencana itu harus tertunda. Mau bagaimana lagi? Kita sudah terjebak di sini. Tapi aku rasa, kita masih punya kesempatan untuk tetap melakukan hal yang harusnya kita lakukan sejak awal." Rey sengaja menghadapkan wajah Rhea supaya terus menatapnya.
"Melakukan hal yang harusnya kita lakukan sejak awal? Kau ini bicara apa, sih? Aku sama sekali tidak mengerti apa maksudmu, Rey. Cepat kita kalahkan saja mereka semua dari sini dan cari jalan keluar." Rhea mencoba berpaling dari tatapan menghanyutkan Rey, sebelum dirinya juga hilang kendali dan terhanyut akan indahnya lautan cinta Rey.
"Sayang, tak peduli dimanapun kita berada, asal bersamamu ... aku tetap bahagia." Lagi-lagi, Rey memamerkan giginya yang rata.
__ADS_1
Kalau seperti ini, mana bisa Rhea berpaling? Pesona Rey benar-benar memabukkan. Sekarang Rhea mengerti kenapa banyak sekali wanita yang tergila-gila padanya dan bahkan rela melakukan apa saja demi bisa membuat Rey tertarik pada mereka. Bahkan Rhea, kini bisa mengerti bagaimana perasaan Irene yang sangat terobsesi pada suaminya meskipun cara yang ia gunakan ini salah.
"Kau bahagia, tapi aku tidak? Aku tidak mau terkurung di sini dalam jangka waktu lama, Rey? Bagaimana dengan kehidupan duniaku? Kuliahku? Raja dan ratu? Mereka pasti sedang mencemaskan kita, sekarang!"
Rhea heran melihat suaminya yang tenang-tenang saja disaat mereka berdua sedang dihadapkan antara hidup dan mati. Pandangan mata Rey, senyumannya, ekspresi wajahnya yang ceria, membuat Rhea ingin sekali memeluk pria yang kini sudah sah menjadi suaminya baik di dunia lain, maupun di dunia nyata.
"Kau mencintaiku?" tanya Rey mengalihkan pembicaraan dan langsung menatap manik mata Rhea. Kedua tangan besar Rey terus memegang kedua pipi merah merona istrinya agar Rhea tak bisa berpaling dari tatapannya.
"Ehm, aku sangat sangat sangat mencintaim. Harusnya kau sudah tahu itu."
"Kau, tak ingin berpisah dariku?" tanya Rey lagi, masih dalam tatapan mata yang sama.
"Tentu saja, selamanya ... aku ingin bersamamu."
"Lebih dari diriku sendiri. Aku ... memercayaimu sepenuhnya." Rhea tak mengerti kenapa suami pengerannya ini menanyakan hal seperti itu. Jantung Rhea jadi berdetak lebih cepat dan ia sedikit merasa gugup kalau suaminya terus-terusan menatapnya dengan tatapan indahnya.
"Kalau begitu, jangan menolak ciuman mautku." Rey tersenyum lembut.
"Hah ...." belum sempat Rhea bertanya lagi, Rey sudah mencium mesra Rhea tepat di depan banyak pasang mata.
__ADS_1
Tentu saja Rey punya alasan kenapa ia harus melakukan itu pada Rhea meski sebenarnya ini bukanlah waktu yang tepat untuk berciuman. Walau awalnya Divani sangat terkejut, ia pun mencoba memahami apa yang dilakukan Rey sekarang ini.
Divani yang sejak tadi menanti kode dari Rey juga sudah mulai bersiap-siap. Ada pemandangan menakjubkan begitu Rey dan Rhea saling bertatap mesra dan kini mereka berdua mulai beromantis ria mencurahkan hasrat birahi mereka. Semua para kloningan Rey dan Rhea, ternyata melakukan hal sama seperti yang dilakukan orang yang ditirunya. Itulah yang direncanakan Rey, yaitu membuat kloningannya melakukan hal sama seperti yang ia dan Rhea lakukan saat ini.
"Haah, aku jadi malu sendiri jika kalian berdua bermesraan seperti itu," ujar pak Po tapi ia langsung bingung karena ada banyak sekali pasangan Rey dan Rhea yang sedang berciuman mesra. "Wuah, Daebak! Bisa gitu, ya?" Pak Po terkagum-kagum menyaksikan pemandangan indah nan eksotis didepannya. Iapun melirik Divani yang ada dihadapannya. "Di ... bisakah kita ...."
"Tidak!" sengal Divani langsung sebelum pak Po melanjutkan kata-katanya. Ia sangat tahu apa yang ada dipikiran suaminya.
"Kenapa? Aku kan belum bilang apa-apa!" pak Po langsung cemberut akut.
"Aku sudah tahu apa yang ingin kau katakan, tapi ... tidak bisa Ezi, tugas kita adalah menghancurkan para kloningan itu selagi Rey dan Rhea memancing mereka dengan membuat kloningannya tak bisa berkutik lagi. Kau dan aku ... tak bisa melakukan apa yang dilakukannya Rey dan Rhea. Apa kau mengerti?"
"Mengerti!" wajah pak Po terlihat kecewa seperti anak kecil yang gagal mendapatkan hadiah mainan. Mulut pak Po bahkan manyun saat ia menatap putri dan menantunya beromantis ria sementara ia malah disuruh berperang. Sayangnya, tak ada yang peduli dengan wajah cemberut pak Po dan lebih fokus pada tugas mereka masing-masing.
Begitu memastikan para kloningannya melakukan hal sama seperti dirinya, Rey langsung mengangkat satu tangannya sementara ia masih tetap mencium Rhea dengan menghitung mundur jari jemarinya. Rey terus mengecup bergantian bagian atas dan bawah bibir Rhea. Matanya melirik ibu mertuanya dan bersiap menghitung mundur.
"Tiga ... dua ... satu," gumam Divani mengikuti arah gerak tangan Rey. "Ezi, bantu aku memusnahkan semua kloningan Rey dan Rhea yang sedang berciuman itu!" seru Divani seketika sambil berlari kearah Rey dan Rhea untuk memberi tanda lingkaran di sekitar pasangan sejoli itu berdiri dengan menggunakan batang kayu sebagai penanda bahwa mereka berdualah yang asli. "Kecuali yang ini! Kau mengerti, Ezi!" Teriak Divani sambil berlari cepat setelah mengelilingi tubuh putri dan menantunya.
Wanita cantik itu langsung menghancurkan satu persatu pasangan Rey dan Rhea palsu dengan gerakan secepat kilat. Begitu pula dengan pak Po yang mengikuti gerakan istrinya walau ia masih belum paham. Namun, ia tetap melaksanakan arahan yang diarahkan Divani untuk memusnahkan para monster kloningan ini dengan menghancurkan kepala mereka menjadi butiran debu tanpa ampun.
__ADS_1
BERSAMBUNG
****