
Bila Rey dan Rhea sedang menikmati malam pertama sebagai pasangan pengantin baru. Maka, Refald dan Feypun juga tak mau kalah dengan putra dan menantunya. Ia mengajak Fey kesuatu tempat untuk mengenang masa-masa indah mereka yang dulu pernah Refald dan Fey lalui bersama. Dimulai dari vila milik paman Refald yang letaknya tak jauh dari tempat tinggal almarhum nenek dan kakek Fey. Keduanya langsung tiba dibalkon lantai dua vila dimana Refald dulu meminta istrinya ini untuk jatuh cinta padanya.
“Kau ingat tempat ini, Honey?” Tanya Refald sambil terus memeluk pinggang istrinya.
Fey mengamati lokasi sekitar yang sama sekali tak berubah. Bahkan, kini keduanya juga sedang berada dibawah sinar rembulan malam yang bersinar terang.
“Tentu saja, bagaimana aku bisa lupa? Ditempat inilah aku mulai jatuh cinta padamu dan kau malah memaksaku mencintaimu juga disaat kau memiliki wanita lain yang kau cintai. Kau tahu betapa tersiksanya aku waktu itu? Aku kira … aku mencintai laki-laki yang sudah menjadi milik orang lain. Aku kira … aku telah menjadi wanita perebut laki orang. Aku kira … aku telah menjadi wanita paling buruk di dunia karena ingin merebutmu dari wanita yang kau cintai itu. Tidak tahunya wanita itu … adalah aku sendiri.” Fey tersenyum jika mengingat masa-masa saat dirinya masih berusia remaja. “Kau jahat sekali Refald. Sepertinya memainkan perasaan orang lain adalah keahlianmu. Perasanku, perasaan pak Po, perasaan Leo dan Shena dan yang terakhir, perasaan putra dan menantumu sendiri. Wuah … kau lebih hebat dari sutradara ternama yang pernah ada.” Fey menatap wajah tampan suaminya yang sejak tadi ada dihadapannya.
“Terimakasih atas pujianmu, Honey.” Refald tersenyum sambil mencium kening Fey.
“Siapa yang memujimu?”
“Kau!” Refald langsung melancarkan ciuman mautnya sebelum Fey kembali mengomel. “Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan agar kalian semua bahagia, Honey. Jika saat itu aku tidak memaksamu mencintaiku maka selamanya, kau akan terus membenciku karena statusku sebagai tunanganmu yang sama sekali tak kau kenali. Dan jika aku tak memainkan perasaan pak Po ia takkan bisa hidup bahagia bersama Divani, begitupula dengan Leo dan Shena serta Rey dan Rhea. Kini, semua orang-orang yang aku sayangi bisa hidup bahagai terlepas dari segala cobaan yang menerpa hidup mereka semua.” Refald merengkuh Fey kedalam pelukannya.
“Lalu … bagaimana dengan kita … apa … kita juga akan hidup bahagia?” Fey menenggelamkan wajahnya dalam pelukan Refald. Sudah lama juga ia tak dipeluk suaminya seperti ini. Apalagi dibawah sinar bulan purnama dengan suasana syahdu yang menyelimuti cinta keduanya.
“Lebih dari apa yang kau bayangkan Honey, kau dan aku … sangat bahagia. bersiaplah mulai dari sekarang. Karena benih cinta kita, sudah mulai tumbuh lagi.” Refald tersenyum senang sambil mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
“Benih cinta? Apa maksudmu?” Fey melepas pelukan suaminya dan menatap wajah semringah Refald.
“Apa kau tidak sadar, Honey. Kau … sedang berbadan dua. Mungkin gejalanya belum ada kerena baru beberapa hari. Tapi setelah seminggu, kau akan mulai merasakannya,” terang Refald. Senyumnya benar-benar membuat Fey semakin shock.
“Apa?” pekik Fey mengagetkan semua binatang malam yang ada disekitarnya. Bahkan burung-burung malam beterbangan diudara menjauh dari pohon-pohon yang ada di dekat Fey dan Refald berada. “Diusiaku sekarang ini? Aku hamil? Anakmu?” Fey ingin sekali tidak percaya, tapi suaminya ini tidak mungkin berbohong soal kehamilannya.
“Ehm.” Refald terus tersenyum. “Tentu saja anakku, kau hanya melakukannya denganku. Anak siapa lagi kalau bukan anakku!” entah kenapa, Refald sangat menikmati wajah shock istrinya.
“Ini tidak mungkin, aku bahkan sudah punya menantu dan sebentar lagi memiliki cucu? Bagaimana bisa aku … tidak Refald, apa kata orang-orang nanti? Kita akan punya anak dan cucu sekaligus? Bagaimana dengan Rey dan Rhea? Mereka akan punya anak dan adik dalam waktu yang sama?” Fey menutup wajahnya dengan kedua tangan. Sedangkan Refald malah tertawa. Ia sama sekali tak mengkhawatirkan kecemasan istrinya.
“Tapi aku malu, Refald. Harus ditaruh dimana muka cantikku ini jika semua orang tahu kalau aku hamil disaat menantuku juga hamil? Kau bisa mengerti perasaanku tidak, sih?” Fey ingin sekali menjerit, tapi Refald malah menertawainya. “Terus saja tertawa! Kau ini menyebalkan sekali!” Fey memukul pelan dada suaminya. Dan Refald langsung merengkuh tubuh istrinya kedalam pelukannya.
“Kenapa harus malu, Honey. Aku sendiri yang menghamilimu. Kau dihamili suamimu sendiri. Tidak akan ada yang menghujatmu karena anak ini adalah buah cinta kita berdua, selain Rey tentunya.” Sebenarnya, Refald ingin tertawa mendengar kalimat yang keluar dari mulutnya. Tapi ia berusaha menahan tawa itu agar Fey tidak marah padanya.
“Kata-katamu itu bukannya menghiburku malah semakin membuatku badmood saja. Haaaisshh … kenapa bisa jadi begini, sih? Apa yang harus aku lakukan sekarang?” Fey menendang-nendang lantai dengan kakinya seperti anak kecil yang sedang merajuk karena keinginannya tak dituruti.
“Kau tidak perlu melakukan apapun, Honey. Ada aku yang setia bersamamu. Aku akan menjadi suami yang siap siaga untukmu selama masa kehamilan keduamu ini. Kau cukup menjaga kesehatanmu sampai anak kedua kita ini lahir kedunia ….”
__ADS_1
“Sudah cukup, Refald! Hentikan … kenapa aku malah semakin stress sekarang.” Fey memotong kata-kata suaminya. “Tinggalkan aku sendiri. Aku tidak mau melihatmu!” Fey menjauhkan tubuhnya dari Refald dan iapun langsung beranjak pergi keluar dari vila ini. Perasaannya benar-benar sedang kacau sekarang.
Untuk kedua kalinya, ditempat yang sama dan di momen yang hampir sama pula, Fey pergi meninggalkan Refald seorang diri dan berlari keluar dari vila ini. Namun, Refald dengan cepat menyusul istrinya yang sedang ngambek dan langsung menghalangi jalannya.
“Jangan seperti ini, Honey.” Refald menarik tangan istrinya dan merengkuhnya kedalam pelukannya. “Aku sangat mencintaimu. Aku tahu apa yang kau khawatirkan sekarang, tapi percayalah padaku. Tidak akan ada yang menghujatmu, Honey. Aku akan sealu pasang badan untukmu jika sampai ada yang membuatmu malu. Dan masalah melahirkan … aku … akan berbagi rasa sakit itu denganmu.” Refald mencium kening istrinya yang terdiam.
Fey sendiri juga mulai menyadari kalau ia bersikap terlalu berlebihan. Tidak seharusnya ia seperti ini padahal harusnya ia juga bahagia bisa memberikan Refald keturunan lagi. “Maaf Refald, bukannya aku tidak mau menerima kehamilan keduaku. Aku hanya … belum siap saja. Asal kau tahu, dari lubuk hatiku yang terdalam, aku senang karena melihatmu bahagia dengan hadirnya buah hati kedua kita. Meskipun sejujurnya … aku sudah terlalu tua untuk bisa hamil lagi.”
“Aku tahu Honey, aku mengerti. Kita akan melalui masa-masa indah ini bersama hingga 9 bulan kedepan. Percayalah padaku. Aku … akan selalu membuatmu bahagia lebih dari yang kau bayangkan.” Refald langsung mencium mesra bibir Fey yang bergetar.
Keduanya saling meluapkan perasaan cinta mereka masing-masing ditemani sinar bulan purnama yang juga turut bahagia atas kabar gembira seputar kehamilan kedua dari istri sang raja dedemit penguasa alam.
BERSAMBUNG
***
Maaf upnya telat … semoga terhibur ya … love you all …
__ADS_1