
Fey berjalan mendekat ke arah Riska yang berdiri diam saking shocknya. Banyak hal tak terduga terjadi dirumahnya dan ia baru tahu sekarang. Riska tidak habis pikir, bagaimana bisa ia memiliki anak kurang ajar seperti Jakson. Padahal dimatanya, Jakson yang ia kenal adalah seorang anak yang baik dan tidak pernah neko-neko. Namun ternyata, penilaiannya selama ini salah besar. Jakson jauh lebih berbahaya dari pria hidung belang manapun.
"Riska," ujar Fey sambil menyentuh pelan bahunya. Seketika Riska tersadar dari lamunannya dan menatap wajah sendu Fey.
"Apa yang harus saya lakukan, nyonya Refald? Saya ... gagal mendidik putra saya sendiri." Riska mulai menangis karena tidak bisa mengajarkan anaknya dengan baik sehingga menyebabkan kekacauan ini.
"Yang terjadi, sudah terlanjur terjadi. Aku ... tidak bisa ikut campur lebih banyak dari ini. Semua kejadian ini adalah masalah intern keluarga kalian. Saranku, nikahkan saja mereka."
"Tidak, nyonya Refald!" tolak Riska seketika. "Aku tidak akan pernah menerima wanita jahat itu sebagai menantuku. Tidak akan pernah."
"Tapi kau tidak bisa menelantarkan bayi yang ada dalam kandungannya. Bayi itu tidak bersalah, kau tidak bisa menghukumnya hanya karena kesalahan orang tuanya. Bagaimanapun juga, bayi itu adalah cucumu. Darah keluargamu mengalir dalam darahnya. Tidak ada pilihan lain bagimu selain menikahkan mereka. Terima atau tidak terima, suka atau tidak suka, kau harus mengikhlaskan Rara sebagai menantumu.
"Jika tidak, sama saja kau menelantarkan aib keluargamu sendiri. Semakin lama perut Rara akan semakin membesar, dan semua orang akan mengetahui semuanya. Meski Raralah yang disalahkan, keluargamu pasti bakal terkena imbasnya juga. Pertimbangkan itu baik-baik." Sekali lagi, Fey menepuk pelan bahu Riska dan pergi meninggalkan Riska yang masih tertegun.
Bukan hanya Riska saja yang shock ketika mengetahui fakta mengejutkan ini. Fey juga sangat terkejut dan tidak pernah menyangka perkembangannya bakal seperti ini. Bukannya ia lepas tangan, tapi ia memang tidak bisa ikut campur urusan yang bukan urusannya, apalagi Fey tidak punya hak apapun terhadap Rara.
"Suamiku, Sayang. Cepatlah kembali, aku membutuhkanmu, aku ... juga merindukanmu. Jika kau ada diposisiku, apa yang akan kau lakukan?" gumam Fey.
Kini Fey sudah ada dipekarangan rumah Riska. Tiba-tiba saja, angin berhembus dengan kencang dan menerbangkan semua daun-daun yang berguguran ditanah. Fey mencoba menutupi terjangan angin itu dengan kedua tangannya dan ia sangat terkejut ketika selembar daun kering lebar berbentuk hati menempel erat ditelapak tangan Fey. Fey langsung menyadari siapa yang mengirim daun waru itu padanya.
Buru-buru istri Refald itu membaca pesan yang tertulis di atas daun tersebut.
__ADS_1
'Lakukan apa yang bisa kau lakukan, Honey. Dan biarkan semua berjalan sebagaimana mestinya. Dari suami yang mencintai dan merindukanmu, Refald.'
Itulah pesan singkat yang ditulis oleh Refald. Fey tersenyum membaca tulisan suami yang amat sangat dirindukannya. Matanya berkaca-kaca karena sudah terlalu merindukan Refald.
"Aku juga mencintai dan merindukanmu, Refald!" Fey terus memandangi surat cinta dari Refald.
***
Malam sudah semakin larut, tapi Rhea tetap tidak bisa tidur. Rey yang melihat itu, langsung berjalan pelan mendekati Rhea dan memeluk erat kekasihnya dari belakang untuk menenangkannya.
Tidak ada yang bisa Rey katakan saat ini. Semua yang terjadi diluar kendalinya. Apa yang menimpa Rara juga merupakan bentuk dari karma yang ia dapat. Dalam hal ini, tidak ada yang salah ataupun benar. Semua sudah terlanjur terjadi dan yang bisa dilakukan oleh semua pihak yang terlibat adalah menghadapinya lalu memecahkan solusi yang terbaik untuk semua.
Semua yang dikatakan Rey memang benar, tapi tak dapat dipungkiri, Rhea masih tetap merasa bersalah dan juga ikut sedih atas apa yang menimpa kakaknya. Sayangnya, Rhea memang tidak punya hak untuk ikut campur semua urusan Rara.
Pelan tapi pasti, Rey melepaskan pelukannya dan tanpa Rhea duga Rey berlutut dihadapannya sambil menggenggam erat kedua tangan Rhea.
"Rey apa yang kau lakukan? Bangun!" pinta Rhea. Ia tidak ingin Rey bersikap seperti ini padanya, sebab bagaimanapun juga Rey adalah pangerannya. Dan Rhea adalah bawahannya. Tidak seharusnya Rey berlutut dihadapannya. "Rey, aku mohon, bangunlah. Harusnya aku yang berlutut padamu, bukannya kau."
"Dengarkan aku dulu, Sayang. Aku melakukan ini, karena ada yang ingin aku minta darimu. Mungkin permintaanku ini sangat berat dan merupakan beban besar untukmu, tapi ... hanya kaulah satu-satunya orang yang bisa mengembalikan ayahku beserta seluruh pasukannya. Aku mohon padamu, kau ... harus bisa menyelesaikan ritualmu. Tidak peduli apa yang sudah terjadi disekitar kita, kau harus tetap bisa berkonsentrasi untuk upacara ritual terkahirmu. 4 hari lagi Sayang ... dan kau harus siap. Aku tidak ingin persaan yang kau rasakan sekarang, bisa menggagalkan semuanya." Rey menengadah menatap mata Rhea.
Perlahan, Rhea sendiri ikut berlutut dihadapan Rey sambil menangis. "Maafkan aku, Pangeranku. Maaf karena aku telah membuatmu sekhawatir ini. Aku akui aku sangat rapuh dan lemah. Tapi percayalah, bukan hanya kau yang mengharapkan Raja Refald beserta seluruh pasukannya kembali. Akupun juga menginginkannya begitu pula dengan ibu.
__ADS_1
"Aku ... juga tidak akan pernah membiarkan diriku gagal, terlebih banyak sekali orang-orang yang mengorbankan dirinya demi diriku. Aku akan berusaha lebih keras lagi. Jadi, mulai sekarang, jangan khawatir lagi, oke!" Rhea mencoba tersenyum sambil menyeka air matanya. "Dan jangan pernah bilang, kalau ini adalah beban. Sudah tugasku sebagai menantu keluarga raja Mirza Banta melakukan ritual yang dititahkan padaku. Sampai matipun, aku akan melakukan semua yang kalian perintahkan padaku tanpa syarat. Sebab itulah jalan hidup yang harus aku jalani."
Rey langsung mencium mesra bibir Rhea yang masih menangis. "Terimakasih, Sayang dan aku sangat mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu Pangeranku. Sekarang, ayo temani aku latihan. Aku tidak boleh lengah dan harus terus berusaha. Kau tidak keberatan, kan?" tanya Rhea.
"Aku keberatan," jawab Rey pelan. "Kau belum istirahat sama sekali. Tidurlah sebentar. Nanti aku akan membangunkanmu jika ingin latihan."
Rhea langsung bersandar di dada Rey. "Aku ingin tidur dipelukanmu. Entah kenapa, aku ... ingin dipeluk seperti ini." Rhea menempelkan pipinya di dada Rey dan mencoba mendengar detak jantung suaminya yang berdetak cepat.
"Kalau kau tidur disini, kau bisa kedinginan Sayang." Rey mengeratkan pelukannya.
"Kau bisa menghangatkanku. Aku baru sadar, ternyata tubuh suamiku ini hangat sekali." Rhea juga mengeratkan pelukannya.
"Ya sudah, tidurlah dipelukanku jika itu bisa membuatmu nyaman. Aku milikmu sekarang." Rey mencium kening Rhea dengan mesra.
Tidak ada sahutan lagi, Rhea benar-benar tertidur pulas dalam dekapan Rey dalam waktu cepat. Rey bisa merasakan napas Rhea yang mulai teratur. Mungkin Rhea terlalu lelah sehingga ia langsung tidur dimana saja bahkan dalam pelukan Rey sekalipun. Gadis itu, sungguh tertidur dengan pulas sekali.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1