
Refald tak bisa berkata apa-apa, wajahnya terlihat sedih. Ia diam untuk beberapa saat. Semua orang yang ada disini juga diam, tidak ada yang berani buka suara. Rey sendiri juga tidak tahu harus berkata apa, sebab ia bingung harus sedih ataukah senang dengan semua kejadian ini. Rey masih mencemaskan keadaan Rhea yang sejak tadi, tidak bergeming ditempatnya. Entah kekaksihnya ini bisa merasakan pelukannya atau tidak.
Fey juga mulai panik lagi karena suami yang sudah lama ia rindukan tak juga bersuara. Jika sudah begini, artinya apa yang ditakutkan Fey akan terjadi. Suaminya yang baru saja kembali, terpaksa harus pergi lagi. Air mata ibu Rey kembali mengalir. Sudah cukup ia menahan kerinduan yang amat dalam dan Fey tidak yakin akan bisa menahan rindu lagi jika Refald sungguh harus pergi.
"Apa ... kau ... harus pergi?" tanya Fey dengan suara gemetar. Ia ingin memastikan dan berharap semoga pikirannya ini tidak benar.
Bukannya menjawab pertanyaan istrinya, Refald terus menunduk. Ia terlihat seolah tidak ingin melihat wajah Fey dalam situasi menyedihkan ini.
Diamnya Refald sudah membuat Fey yakin, ia beneran harus berpisah lagi dari Refald. Fey ingin marah tapi tidak tahu pada siapa. Akhirnya, ia terduduk lunglai dibawah kaki Refald sambil menangis sesenggukan.
"Anda kejam sekali, Raja! Bagaimana bisa anda membuat Ratu menangis sesenggukan seperti ini. Berhentilah tertawa dan hibur Ratu, Raja," ujar suara sosok yang amat sangat Fey kenal. Suara itu berasal dari balik punggung Fey. Seketika Fey balik badan dan menoleh ke sumber suara itu.
Dan benar dugaan Fey, itu tadi adalah suara Pak Po.
"Pak Po!" seru Fey terkejut. Ia melihat pak Po dan Di berdiri bersama, dibelakangnya ada mbak Kun, mas Gen, mas Ger dan makhluk-makhluk astral lainnya. Mereka semua adalah para pasukan dedemit Refald.
"Kalian kembali!" seru Fey lagi sambil menyeka air matanya. Ia sangat senang bertemu dengan semua pasukan dedemit ini.
"Salam dari kami semua, Ratu," ucap semua pasukan dedemit Refald dengan kompak. Mereka bersimpuh dihadapan Fey secara bersamaan sambil menundukkan kepala mereka sebagai tanda memberi hormat atas kembalinya mereka semua.
Sungguh Fey terharu melihat pasukan makhluk astral tak kasat mata ini. Tak dapat dilipungkiri, Fey juga merindukan seluruh pasukan suaminya. Ia senang karena akhirnya bisa bertemu kembali. Namun, ekspresi Fey yang sedikit senang tadi langsung berubah suram saat ia mengingat bahwa Refald akan kembali menghilang begitu ia menghidupkan Rara.
"Kalian semua, berdirilah!" pinta Fey pada seluruh pasukan dedemit Refald.
Pak Po dan yang lainnya pun berdiri mengikuti perintah ratunya. Namun, ia masih heran kenapa besannya ini masih terlihat sedih.
__ADS_1
"Kenapa anda bersedih, Ratu? Apa anda tidak senang kalau kami kembali?" tanya pak Po.
"Bagaimana aku bisa senang kalau kalian kembali hanya untuk pergi lagi." Fey menyindir halus suaminya.
Seluruh pasukan Refald hanya bisa saling pandang. Pak Po sendiri juga sudah mulai geram dengan Refald.
"Sampai kapan anda tertawa dibalik punggung Ratu, Raja? Akting anda sungguh luar biasa. Bagaimana kalau setelah ini, anda beralih profesi menjadi aktor saja. Pasti anda akan tenar." pak Po ikutan menyindir.
"Diam kau pak Po, kenapa kau mengacaukan rencanaku!" sengal Refald. Gara-gara mulut lamis pak Po, Refald terpaksa harus mengakhiri sandiwaranya.
Fey yang mendengar itu langsung berbalik badan menghadap suaminya. Dan ia terkejut Refald sama sekali tidak terlihat sedih seperti dirinya. Sebaliknya, suaminya itu malah terlihat senang. Fey baru sadar, ternyata Refald menundukkan kepalanya bukan karena ia bersedih, tapi karena ia menyembunyikan tawanya.
"Ada apa ini? Kenapa kau tertawa disaat menantu kita sedang berduka?" Fey mulai geram karena sikap Refald yang tidak toleran.
Belum juga Refald buka suara untuk menjelaskan apa yang terjadi, tiba-tiba angin topan datang lagi. Semua makhluk astral yang terdiri dari iblis jahat mulai berdatangan kembali. Kali ini, jumlahnya jauh lebih banyak dari yang tadi.
Sambil menatap Fey dengan kilatan mata yang memabukkan setiap wanita yang memandang, Refald merentangkan kedua tangannya untuk membuat lapisan pelindung diatas langit untuk melindungi Fey dan orang- orang yang ada disekitarnya.
"Rey!" panggil Refald pada putranya tanpa berpaling dari tatapan mata istrinya.
"Iya, Ayah!" Sahut Rey yang masih memeluk Rhea.
"Bawa Rhea menjauh dari tubuh Rara, berikan lilin yang ada ditangan Rhea pada ibunya," perintah Refald sambil terus menatap Fey.
"Baik, Ayah." Rey mengiyakan titah ayahnya.
__ADS_1
Divani yang sejak tadi berdiri disamping pak Po maju mendekat ke arah putrinya untuk mengambil alih lilin yang ada ditangan kanan Rhea. Begitu lilin tersebut berpindah tangan, Rhea langsung pingsan dan Rey sigap menangkap tubuh Rhea. Tanpa diperintah lagi, Rey menggendong tubuh Rhea yang tidak sadarkan diri menjauh dari jasad Rara.
"Kau tahu apa yang harus kau lakukan, Di. Hati-hati dengan janinnya. Lakukan perlahan. Mbak Kun, bantu Divani," ujar Refald pada mbak Kun.
"Baik, Raja." Mbak Kun langsung bepindah tempat dan duduk dihadapan Divani yang mulai bersiap-siap.
Mata Refald masih menatap Fey yang juga menatapnya dengan sejuta pertanyaan. Fey sungguh tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Refald kepada seluruh pasukannya. Ia bingung dan butuh penjelasan dari Refald.
"Pak Po, lindungi Rey dan Rhea, dan kalian semua yang ada disini, hadapi iblis menyebalkan itu. Jangan terlalu brutal mentang-mentang kalian baru saja keluar dari sangkar, kasihan mereka nanti." Refald memberi peringatan.
"Siap yang mulia! Semoga saja kami tidak lupa dengan titah anda ini," Seru seluruh pasukan Refald dengan penuh semangat melebihi semangat 45. Sepertinya, para pasukan Refald ini sudah tidak sabar ingin bertarung lagi.
"Lalu ... bagaimana dengan anda, Raja?" tanya pak Po bingung.
"Aku?" Refald tersenyum mencurigakan, matanya terus saja memandangi istrinya. "Huh, tentu saja aku harus melakukan tugasku ... "
"Tugas apa? Anda masih setia berdiri disitu," protes pak Po yang bersiap-siap menghadapi serangan para iblis jahat itu.
"Tentu saja ... tugasku adalah ... menghibur istriku yang tadi sudah kubuat menangis." Refald mulai mendekat ke arah istrinya dan langsung mencium Fey tepat didepan semua pasukannya.
Tentu saja hal itu membuat seluruh pasukan dedemit Refald memalingkan wajah dan lebih memilih pergi untuk bertempur.
Dasar raja nggak ada akhlak! Batin seluruh pasukan Refald dengan kata-kata yang sama.
"Aku bisa mendengar kalian. Jangan sampai setelah ini giliran kalian yang aku musnahkan," ancam Refald sambil terus menatap mata indah Fey yang terbelalak tak percaya karena Refald bisa juga berkata seperti itu pada pasukan dedemitnya sendiri.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***