
Riska dan Fey masih memerhatikan gerak-gerik Jakson dan Rara yang sok mesra dari luar restoran. Sedangkan Rara sendiri masih heran kenapa ibu mertuanya sama sekali tidak welcome padanya. Namun ia sudah merasa kalau orangtuanya Jakson tidak menyukainya. Bukannya berkecil hati, Rara malah bersikap tidak peduli . Ia hanya perlu menjadi istri Jakson, setelah itu ia akan menendang siapapun orang yang tidak suka padanya dari istana milik Jakson termasuk mertuanya sendiri. Untuk sementara ini, Rhea hanya perlu pura-pura menarik simpati dari Jakson agar terus mempertahankan dirinya dan secepatnya menikahinya.
"Dimana mamamu? Kenapa belum juga kembali kemari? Bukankah kita mau makan malam bersama?" tanya Rhea sok polos. Padahal ia sudah tahu apa alasan Riska tidak lagi hadir disini.
"Ada urusan penting katanya." Jakson terpaksa berbohong. Ia sendiri sedang galau sekarang.
Jakson mengira Rara sudah mulai sedikit berubah. Ia sudah tidak terlalu berbuat kasar lagi pada Rhea. Wajar saja, karena Rhea jarang sekali ada dirumah. Bagaimana Rara bisa bersikap kasar kalau orang yang dikasari tidak ada dihadapannya.
"Apa urusan penting yang kau maksud adalah duduk bersama wanita muda itu?" tanya Rara menatap Fey yang memang terlihat awet muda meski ia sudah punya 1 orang putra sebesar dirinya.
Jakson mengikuti arah pandang mata Rara dan sedikit terkejut melihat ibunya sudah duduk dalam satu meja dengan Fey.
Sejak kapan ibu mertua Rhea ada disitu? Gawat! batin Jakson. Laki-laki itu sedikit cemas kalau rahasia Rhea yang sudah ia simpan dari Rara bakal terungkap karena kehadiran Fey disini.
"Oh, itu bibi Fey," jawab Jakson singkat.
"Bibi? Sepertinya dia masih seumuran dengan kita. Kenapa kau memanggilnya Bibi?"
"Siapa bilang dia seumuran kita, di seumuran mama. Dia juga punya putra semata wayang seumuran kita. Hanya saja, wajahnya memang awet muda. Sepertinya, sampai kapanpun ia tidak akan pernah menua."
"Wah, enaknya terus terlihat awet muda. Aku juga ingin seperti dia."
"Kau sungguh tidak tahu siapa bibi Fey?" tanya Jakson ragu apakah ia harus memberitahu Rara atau tidak bahwa Fey adalah mertua Rhea. Adik angkat Rara sendiri.
"Aku malah baru melihatnya sekarang. Memang siapa dia?" tanya Rara penasaran.
__ADS_1
Belum juga Rey menjawab, tiba-tiba ada seseorang yang menyapa keduanya. "Hai, boleh aku bergabung dengan kalian?" tanya Fey yang berdiri diantara Rara dan Jakson diikuti oleh Riska dibelakangnya.
Dua orang itu agak terkejut karena tiba-tiba saja Fey sudah ada diantara mereka. Padahal sebelumnya, ia masih duduk santai dengan Riska diluar sana.
"Ah, tentu saja Bibi." Jakson balas menyapa. "Aku senang Bibi bisa makan malam bersama dengan kami." Sejujurnya, Jakson sangat gugup. Ia merasakan kalau sebentar lagi akan ada bom api kemarahan, akan meledak disini.
"Thanks, Jack." Ia dan Riska duduk bersamaan.
"Ah, Bi. Kenalkan, wanita ini adalah Rara. Calon istriku." Jackson memperkenalkan Rara pada Fey.
Rara segera mengulurkan tangannya, untuk menjabat tangan Fey, tapi ibu dari Rey itu malah bersikap cuek dan acuh pada Rara. Ia sengaja tidak mau membalas uluran tangan Rara dan malah asyik ngobrol dengan Riska.
Tentu saja, apa yang dilakukan Fey membuat Rara jadi geram, karena ini pertama kalinya ia diperlakukan kasar secara mental oleh orang yang tidak ia kenal. Namun, Rara juga tidak tahu, Fey bukanlah orang sembarangan yang bisa Rara perlakukan seenaknya seperti saat ia memperlakukan Rhea.
"Permisi, Nyonya." Akhirnya Rara berani angkat bicara. "Bukankah jika ada seseorang yang mengulurkan tangan padamu, kau harus membalas uluran tangan orang itu? Itu merupakan nilai kesopanan yang dilakukan sehari-hari." Sungguh Rara benar-benar cari mati karena telah berani bersikap sok pintar di depan Fey. Apalagi ia berbicara tentang norma kesopanan dimana ia sendiri tak pernah bisa menerapkannya dengan baik. Perlakuan kasarnya pada Rhea contohnya.
"Biarkan saja, aku sudah bersikap baik padanya. Kenapa, sikapnya acuh sekali padaku. Memang apa salahku padanya? Jangan mentang-mentang ia lebih tua dari kita terus ia bersikap seenaknya?" Rara terlihat emosi sehingga Riska ingin sekali menampar wajah wanita tidak tahu diri itu. Namun, Fey mencegahnya agar tidak ikut campur urusannya.
"Kau sadar dengan apa yang kau katakan, nona ... Rara? Aku jadi ragu, jangan-jangan kau sendiri tidak pernah paham nilai kesopanan itu seperti apa. Kalau kau paham, kau pasti punya malu berkata seperti itu didepanku." Fey tersenyum mengejek.
Senyuman Fey membuat Rara terlihat emosi. Awas kau! Begitu aku menjadi nyonya besar dan pemilik pabrik terbesar di kota ini. Akan aku mengusirmu dari sini. Batin Rara.
"Itu tidak akan mungkin terjadi, Nina Rara," ejek Fey lagi dengan senyuman menjengkelkan karena ia bisa mendengar pikiran Rara. "Kau tidak akan pernah menjadi nyonya besar di kota ini. Kau tahu kenapa?" Fey sengaja menggantung kalimatnya untuk mengetahui reaksi Rara.
"Huh, bagaimana kau bisa berkata seperti itu? Memangnya siapa kau?" Rara sudah tidak tahan dengan sikap Fey yang sengaja memancing kemarahannya.
__ADS_1
"Ra! Sudah hentikan!" cegah Jakson. Ia tidak ingin apa yang ia khawatirkan benar-benar terjadi.
"Aku tidak bisa terima, Jack. Ia berkata seolah kau bukanlah pemiliknya."
"Itu memang benar." akhirnya, Jakson mengakui makna dibalik ucapan Fey. "Orangtuaku, bukanlah pemilik asli pabrik itu," terang Jakson.
"Apa?" Rara terkejut setengah mati. Bagai kejatuhan batu besar tepat diatas kepalanya, Rhea sama sekali tidak bisa percaya kabar ini begitu saja. "Tidak, ini tidak mungkin, kau pasti bohong. Bilang saja kalau kau sedang bercanda. Aku pasti bisa memakluminya." Rara berusaha tersenyum, tapi wajahnya jadi pucat karena terlalu shock.
"Aku tidak bercanda, Ra. Itu benar, pemiliknya memercayakan pabrik itu pada kami karena ia tidak bisa melakukannya sendiri." Jakson berkata lirih. Ia pasrah dengan apa yang terjadi disini. Lagipula, ia juga sudah tidak bisa menyembunyikan rahasia Rhea lebih lama lagi dari ini.
"Jika bukan kau, lalu siapa pemilik aslinya? Katakan padaku, siapa?" bentak Rara masih shock dan emosi.
"Pemilik sebenarnya dari pabrik itu adalah aku." Fey yang menjawab dan semakin terkejutlah Rara. Tubuhnya langsung lemas karena tidak menyangka wanita yang ia anggap remeh ternyata pemilik pabrik terbesar di kota ini. "Suamiku yang membangun pabrik tersebut untuk pak Po. Dan kini, pabrik itu telah diwariskan pak Po pada putrinya. Kau ingin tahu siapa dia? Putri dari pemilik pabrik sebenarnya?" Fey sengaja mengintimidasi Rara.
Wajah Rara sudah tak bisa digambarkan lagi bentuknya. Rasa marah, kesal karena merasa dibodohi menjadi satu dalam dirinya. Ingin sekali ia memporak-porandakan tempat ini. Namun, ia juga penasaran, siapakah pemilik pabrik besar itu sebenarnya.
"Siapa?" akhirnya Rara buka suara dengan bibir bergetar menahan amarah.
"Mereka akan tiba sebentar lagi," jawab Fey sambil tersenyum puas menikmati wajah pucat Rara.
"Mereka?" tanya Rara bingung.
"Ehm, sang pemilik pabrik dan juga calon suaminya."
Seketika, tubuh Rara menegang mendengar jawaban Fey.
__ADS_1
BERSAMBUNG
****