
Sementara di luar medan magnet. Arka yang memang sedang mencari cara untuk membuka medan magnet dari luar, juga sedang mengalami kesulitan. Iblis-iblis pengkloning berdatangan dari segala arah untuk menyerangnya. Tentu saja Arka kualahan, meskipun ia kuat, jumlah iblas tersebut semakin bertambah banyak seperti tidak ada habisnya. Mereka terus saja datang dan terus menyerang Arka.
Beruntung, disaat genting tersebut, seluruh keluarga besar Pyordova dan Dilagara datang berbondong-bondong membantu iblis Arka membasmi para iblis pengkloning itu. Mereka sudah pernah melawan iblis tersebut sehingga mereka tahu kelemahannya. Arka jadi sedikit terbantu.
Ditengah perkelahian sengit itu, tiba-tiba saja Arka mendapat bisikan dari suara yang sangat familiar baginya. Suara itu adalah suara Refald yang saat itu sedang bersemedi di bawah gunung untuk menjalankan ritual.
Ritual yang dilakukan Refald hampir selesai saat Fey mengubah takdir pak Po yang harusnya mati menjadi tetap hidup sehingga Refald terperangkap di dasar gunung dan tidak bisa keluar. Namun, sedikit banyak kekuataan Refald telah kembali dan jika ia ingin keluar dari dasar gunung, maka Refald harus membuat gunung itu meletus.
Sayangnya, Refald tak bisa melakukannya sendirian. Ia butuh pasukannya untuk membantu menahan larva agar tidak ikut muntah keluar dulu sebelum Refald mencapai puncak gunung. Jiaka tidak, tubuh Refald bisa ikut melebur jadi satu dengan larva.
Saat itulah Refald mendatangi istrinya melalui mimpi dan meminta Fey memainkan biola pembuka gerbang pintu penghubung antara dunia lain dengan dunia nyata. Hal itu bertujuan agar Arka dan juga pak Po yang jiwanya masih terikat di dunia istana sentris bisa masuk melalui gerbang penghubung tersebut. Begitu Fey menyelesaikan irama biolanya, Arka yang sudah dibukakan pintu gerbang oleh Fey masuk ke dunia Refald dan membantunya keluar dari dasar gunung.
Sebenarnya, Refald masih belum bisa keluar dengan mudah selama pak Po masih hidup di dunia tempatnya berada. Ia terpaksa menunggu di dasar gunung bersama Arka.
Namun, karena pak Po memilih pilihan yang tepat, maka begitu ia menerjunkan dirinya ke jurang menggantikan Fey dan meninggal, jiwa pak Po yang ada di dunia nyatapun terpanggil untuk menyatu dengan jiwanya yang sudah keluar dari jasadnya di dasar jurang. Kekuatan pak Po juga langsung kembali seketika.
Itulah mengapa pak Po langsung menghilang tiba-tiba ketika ia berada dalam cengkeraman Bima. Sedangkan mata merah pak Po saat menggiring Shena dan Leo menyusul Fey ke atas bukit, itu adalah jiwa Biku Gandasari yang dimintai tolong Refald untuk membantu membawa Leo dan Shena agar begitu Refald keluar dari dasar gunung, ia bisa langsung membawa semua anggota keluarganya pergi dari dunia ini dengan cepat. Jiwa Biku keluar setelah pak Po menerjunkan diri ke jurang dan kembali ke raganya yang ada di dalam goa untuk melanjutkan pertapaannya.
“Raja!” ujar pak Po dari dasar gunung karena ia senang bisa bertemu dengan rajanya kembali.
“Nanti saja reuninya pak Po. Aku harus segera meluncur ke atas, sementara kau dan Arka, menahan agar larva yang ada dibawah kakimu itu tidak mengikutiku keluar,” ujar Refald.
__ADS_1
Pak Po pun langsung terkejut karena dia baru sadar kalau kakinya sedang berada di atas larva yang mendidih.
“Astaganaga, Raja! Kenapa anda tidak bilang sejak tadi? Untung saya tidak mati!” pak Po terperanjat sok kaget.
“Kau itu sudah mati! Untuk apa kau mati lagi?” sengal Refald mulai kesal dengan pak Po.
“Oh iya ya … maaf Raja, saya lupa. Tadi Divani melempari saya dengan balok kayu dan rasanya sakit sekali, saya kira saya telah menjadi manusia. Hehehe ….”
“Masih untung istrimu itu cuma melemparimu dengan balok kayu, kalau aku jadi dia … sudah kuhancur leburkan jiwamu itu jadi abu!”
“Sejak kapan anda jadi kejam, Raja!”
“Sejak kau jadi pasukanku. Aku memang sudah jahat padamu, kalau tidak begitu, bloonmu semakin parah. Sejak kapan kau jadi mellow begitu, ha?” Refald benar-benar kesal melihat tingkah pak Po yang semakin lama semakin bengek saja.
“Kenapa bahasamu jadi aneh begitu? Selalu always itu apa bedanya, bodoh!” Refald memicingkan matanya menatap pak Po. Ia benar-benar harus bersabar ketika berbicara dengan pak Po.
“Saya belajar bahasa Inggris dari pangeran raja. Saya tidak ingin jadi mertua katrok. Tapi … saya tidak tahu cara menerapkan bahasa yang benar itu seperti apa, jadi ya ... no what what kan, Raja?”
“Siapa yang peduli kau bisa bahasa inggris atau tidak? Orang tidak akan bisa melihat atau mendengarmu berbicara! Kenapa kau repot-epot belajar bahasa gaul anak zaman sekarang? Kau semakin memperburuk zaman saja,” sengal Refald sambil menutup wajahnya dengan satu tangan saking kesalnya menghadapi pak Po.
Yang paling kasihan adalah Arka, mati-matian ia menahan tawa agar tidak muncrat keluar mendegar perdebatan raja dedemit dan pasukannya. Namun tak ada yang bisa dilakukan Arka selain diam dan menyimak saja.
__ADS_1
Pak Po hendak buka suara lagi, tapi langsung disengal oleh Refald sebelum darah tingginya naik bila semakin lama bersama dengan pasukan dedemitnya yang super duper bloon ini. “Sudah jangan banyak bicara, istriku sedang bersedih di atas sana gara-gara menangisimu. Lakukan apa yang aku katakan tadi, aku pergi dulu!”
Tanpa menunggu sahutan dari pak Po, Refald langsung melesat pergi meluncur ke atas menuju puncak gunung di mana di bawahnya sudah ada Fey dan adik-adiknya yang sedang bersedih atas kematian dan pengorbanan pak Po tanpa mereka tahu, kalau pak Po yang Fey tangisi sudah kembali bengek seperti biasanya.
Begitu Refald keluar dari dalam gunung, ia langsung turun ke tempat istri dan adik-adiknya berada. Adegan romantis yang Refald bayangkan saat bertemu lagi dengan Fey langsung sirna ketika Leo menerobos memeluknya lebih dulu. Sebenarnya, Refald sangat terkejut tapi ia juga menyayangi Leo. Melihat si gangster menangis untuknya, hati Refald jadi merasa trenyuh. Namun, sebagai raja dedemit yang paling ditakuti diseluruh alam jagad raya, masa iya ia ikutan melow seperti pak Po, gengsi dong. Alhasil ia pura-pura kesal pada Leo.
Mata Refald kembali tertuju pada wanita pujaan hatinya yang kini telah mengandung buah hati kedua mereka. Tak bisa terbendung lagi betapa Refald sangat merindukan Fey. Selama berada di dalam perut gunung, Refald berusaha keras untuk menyelesaikan ritualnya agar bisa segera bertemu dan berkumpul kembali dengan istrinya. Kini keinginan Refald sudah terwujud tetapi ia masih belum bisa bersweet-sweet ria dengan Fey karena bahaya besar sudah siap menanti.
Refald memberi kode pada pak Po dan Arka yang menahan semburan larva dari dasar gunung agar tidak muntah keluar dulu sebelum keduanya keluar dari dalam perut gunung tersebut. Begitu kode itu diterima, secara bersama-sama, Arka dan pak Po terbang melesat cepat melebihi kecepatan udara menuju puncak gunung dan menyusul Refald yang sudah terbang tinggi di atas langit-langit membawa Fey dan juga adik-adiknya. Bersamaan dengan itu, gunung meletus dengan dahsyatnya dan memuntahkan seluruh isi perutnya.
Hanya ada satu kata yang mewakili kejadian menakjubkan ini, yaitu ‘Daebak’.
“Kau baik-baik saja kan, Honey?” tanya Refald disela-sela mereka terbang.
“Aku baik-baik saja selama ada kau bersamaku, Raja.” Mata Fey tak pernah berhenti menatap wajah tampan suaminya yang tersenyum manis kearahnya.
Leo dan Shena yang ada dibalik punggung Refald hanya bisa senyam-senyum sendiri melihat dua sejoli yang barus saja bertemu ini. Mereka turut bahagia karena Refald dan Fey sudah kembali bersama.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1
NB: Dilarang ngakak dan baper saat baca part ini. Dan mohon dimaklumi atas kehaluan dari fantasi yang kuciptakan. Soalnya kalau lagi kumat, susah sekali dikendalikan, hehe ….