
Setelah puas mencium mesra istrinya, Refald menatap wajah Fey dengan tatapan penuh cinta. “Bersiaplah Honey, sebentar lagi putra kita akan segera tiba.” Refald tersenyum senang, bukan karena ia akan melakukan drama ikan terbang yang menguras banyak emosi jiwa, melainkan karena ia bahagia melihat tatapan mata Fey saat melihatnya. Terlihat jelas sekali kalau istrinya itu benar-benar mengaguminya lebih dari sebelumnya dan semakin jatuh cintalah Refald saat melihat Fey melihatnya seperti itu.
“Apa yang kau lihat? Kenapa menatapku begitu? Apa ada masalah dengan wajahku? Oh tidak … apa aku sekarang terlihat tua?” Fey jadi panik sendiri dan langsung memegang kedua pipinya. Aksi menggemaskan Fey membuat Refald tertawa.
“Tidak Honey. Kau justru semakin terlihat awet muda seperti gadis berusia 17 tahun. Kau bahkan lebih cantik sekarang.” Refald memegang kedua pipi istrinya. “Aku mencintaimu, Honey. Sangat sangat sangat mencintaimu.” Refald hendak mencium mesra Fey untuk kesekian kalinya, tapi niatnya tertunda karena mereka berdua dikagetkan dengan suara teriakan Rey menggelegar memanggil-manggil naga hitam yang tidak lain adalah pak Po, mertuanya sendiri.
“Raja, sudah selesaikah mesra-mesraannya? Sampai kapan saya harus menutupi tubuh anda berdua? Pangeran sudah mulai naik pitam,” gemas pak Po karean sejak tadi raja dan ratunay tak henti-hentinya memadu kasih semenatra dirinya harsu menjadi kambing hitam anatar ayah dan anak ini. “Aku ini naga hitam, tapi entah kenapa aku merasa menjadi kambing hitam, bukan naga hitam,” gerutu pak Po.
“Hah … kenapa selalu saja ada yang mengganggu keromantisan kita, Honey.” Refald tersenyum melihat Fey yang juga tersenyum padannya. “Dan kau pak Po, kenapa kau berisik sekali. Diam dan jangan bersuara atau kau akan mengacaukan segalanya!” gertak Refald dan pak Popun langsung diam tanpa berani membantah omelan Refald. “Honey, today we sould work too … Fighting!” ujar Refald dalam bahasa Korea.
Fey sungguh terpesona melihat gaya Refald yang bagai bak anak remaja itu. Setelah berkata demikian, Refaldpun melesat cepat kembali masuk kedalam mulut naga. Tadinya Refald dan Fey berada disekitar perut pak Po yang berwujud naga untuk menyembunyikan diri dari penglihatan Rey. Dan kini, sudah saatnya Refald memulai pertunjukan sandiwaranya disaksikan oleh Fey dan seluruh pasukan dedemit Refald.
Suasaa mulai memasuki ketegangan saat Refald mengatakan pada Rey bahwa dirinya sendiri telah tiada. Bila Rey tercengang dan mati-matian tak percaya dengan apa yang dikatakan ayahnya saat menyamar sebagai naga hitam melalui pak Po, lain halnya dengan seluruh pasukan Refald yang mati-matian menahan tawa ketika mereka semua ada didasar sungai larva yang didalamnya hanyalah air biasa.
“Dasar Raja somplak! Bisa-bisanya sang raja mengatakan bahwa dirinya sendiri sudah meninggal. Mana ada yang percaya?” Gumam mas Gen pada rekan-rekannya.
“Meninggalnya dalam rangka apa dulu? Bagaimana kalau kita memperingati kematiannya sekarang?” gurau yang lain.
“Apa jadinya jika raja kita yang nggak ada akhlak ini beneran meninggal? Kalian sedih nggak?” tanya mas Ger.
“Nggak? Mati ataupun tidak mati, dia tetap saja jadi raja dedemit, tidak ada bedanya,” jawab mas Gen dan langsung disambut tawa rekan-rekannya yang lain.
Para dedemit itu malah bersenda gurau ditengah gentingnya suasana yang melanda hati Rey akibat panggung sandiwara ayahnya sendiri.
__ADS_1
“Diam kalian semua!” terdengar suara Refald menggema disekitar aliran sungai. Tentu saja yang bisa mendengar suara Refald hanyalah pasukan Refald sendiri karena ia berbicara melalui telepati. “Berani berkomentar lagi, akan aku jadikan kalian bagian dari aliran larva itu! Dasar dedemit, bisa-bisanya kalian mengghibahiku!”
Fey hanya tertawa mendengar omelan suaminya pada pasukannya. “Dasar tak sadar diri, kau itu bahkan rajanya dedemit,” ujar Fey lirih.
“Aku bisa mendengarmu, Honey. Tunggu saja nanti.” Refaldpun juga bertelepati dengan Fey karena ia bisa mendengar gerutuan istrinya. Mereka semua asyik bergunjing dibalik layar sementara Rey sedang dilandau rasa terkejut dan perasaan galau akut.
Seperti dugaan Refald, putranya itu sama sekali tidak percaya dengan perihal kematiannya. Jangankan Rey, seluruh pasukannyapun juga takkan pernah percaya kalau rajanya itu bisa mati dengan begitu mudahnya. Sebab itulah, Refald meminta istrinya untuk menunjang drama ikan terbang Refald ini agar Rey mau percaya pada ucapannya.
“Apa yang harus aku lakukan?” Tanya Fey polos.
“Keluarkan air mata buayamu, Honey. Anggap aku benar-benar sudah meningggal,” ujar Refald dalam telepatinya.
“Mana bisa? Kau kan belum mati?”
“Aku bukan aktris papan atas sepertimu, Refald. Mana bisa aku menangis tanpa sebab?” cetus Fey.
“Ratu, bagaimana kalau kuoleskan bawang merah dimata Ratu supaya anda bisa menangis,” usul pak Po.
“Setuju!” ujar Refald sambil tertawa. “Tumben otakmu encer, pak Po?” puji Refald.
“Entahlah Raja, mungkin efek jadi naga sehingga saya tidak bloon lagi. Apa kata dunia jika ada naga sebloon saya,” jawab pak Po lagi-lagi bikin Fey makin kesal.
“Mana ada bawang merah ditempat panas seperti ini, ha? Yang ada, belum juga sempat kau oleskan dimataku, itu bawang merah sudah berubah jadi bawang goreng!” ujar Fey kesal. Bisa-bisanya pak Po memberikan usul nggak jelas ditengah-tengah suasana mengharukan seperti ini.
__ADS_1
“Kalau begitu, bagaimana kalau saya nyanyikan lagi sedih, Ratu. Ehem … ehem.” Pak Po berdeham mengetes suaranya.
Tanpa menunggu persetujuan dari Fey, Pak Po pun mulai bernyanyi lagu yang menurutnya sedih, yaitu ‘Hati yang Kau sakiti’ milik penyanyi papan atas Rossa. Namun, suara pak Po bukan membuat orang yang mendengarnya merasa sedih melainkan malah jadi emosi sebab suara pak Po benar-benar bikin sakit telinga.
“Hentikan nyanyianmu, pak Po. Kau itu nyanyi atau menjerit, sih? Bikin telingaku sakit saja. Mana ada penyanyi aneh sepertimu!” Fey benar-benar dibuat kesal oleh pak Po.
“Lah, saya memang bukan penyanyi, Ratu. Saya dede ….”
“Diam kau!” bentak Fey memotong kata-kata salah satu pasukan Refald yang paling menjengkelkan ini. Kesabaran istri Refald itu selalu habis bila dihadapkan dengan pak Po. “Biar aku pikirkan caraku sendiri. Jiak sampai kau buka suara lagi akan kulumaat mulutmu itu!” ancam Fey kesal.
“Begini saja Honey,” ujar Refald akhirnya ikut buka suara setelah mati-matian menahan tawa saat melihat aksi pak Po yang membaut kesal istrinya. “Bayangkan perpisahan kita 3 tahu lalu, kau menangis tersedu-sedu saat aku meninggalkanmu. Kau harus bisa Honey. Buat Rey percaya kalau aku sudah tiada. Aku yakin, Rey pasti memercayaimu. Lakukan demi kebahagiaan putra putri kita. Setelah mereka berdua melalui ini semua, mereka berhak bahagia selamanya.”
Kata-kata Refald sungguh mengena di hati Fey. “Akan aku coba,” ujaranya lembut dan mulai memejamkan mata membayangkan hal tersedih yang pernah Fey rasakan. Yaitu … kenangan saat Refald meninggalkannya sendirian.
BERSAMBUNG
****
Maaf harusnya part ini masuk adegan Rey ngamuk parah, tapi aku gereget juga sama ulah pak Po. Hehehehe ….
Mau tahu gimana suara menggoda Refald saat manggil Honey. Yuk kepoin video visualnya di igku … cek aja!
__ADS_1