
Rey merasakan ada yang tidak beres dengan latihan Rhea kali ini. Awan hitam tiba-tiba saja muncul mengitari area sekitar danau. Perasaan Rey benar-benar tidak enak dan ia langsung tertegun saat mendengar suara minta tolong. Padahal tidak ada siapa-siapa disini selain dirinya dan Rhea.
"Itu suara Rhea!" Pekik Rey langsung karena menyadari wanita pujaan hatinya sedang dalam bahaya.
Tanpa pikir panjang, Rey melepas sepatunya dan menceburkan diri kedalam air lalu menyelam mencari-cari keberadaan Rhea. Mata Rey terbelalak melihat kekasihnya sedang kesulitan. Ia melesat cepat bagai angin menuju tempat Rhea yang masih terlilit semak belukar, semak-semak itu memang berbahaya.
Rhea sudah kehilangan kesadaran saat Rey tiba. Dengan kekuatan Rey, ia memotong semak itu dengan tangannya dan membawa Rhea ke permukaan.
Rey meletakkan tubuh Rhea yang pingsan di tepi danau. Ia melakukan pertolongan pertama dengan menekan kuat dada Rhea serta memberikan bantuan pernapasan melalui rongga mulut gadis ini.
"Bangun, Sayang! Cepat bangun!" Seru Rey sambil terus menekan dada kekasihnya. Ia juga terus mencium bibir Rhea untuk memberikan udara agar Rhea bisa kembali bernapas.
Tak berselang lama, Rhea tersadar dan ia terbatuk-batuk sambil mengeluarkan beberapa air yang terminum melalui mulutnya. Seketika Rey langsung terduduk lunglai karena untuk sesaat, ia berpikir bakal kehilangan Rhea lagi. Ia membantu menepuk pelan punggung istri ghaibnya yang sedang berusaha mengeluarkan air yang tak sengaja terminum oleh Rhea.
"Apa kau terluka, Sayang?" tanya Rey sambil terus mengamati Rhea.
Karena masih shock, Rhea belum bisa bicara. Ini kedua kalinya ia seolah sedang berhadapan dengan kematian. Alhasil Rhea hanya mengangkat satu tangan sambil terus menunduk.
Rey bangun dari tempatnya dan membuka tas Rhea yang berisi handuk dan baju ganti. Sepertinya Rhea memang sengaja menyiapkannya setiap kali ia latihan. Dalam tas Rhea juga ada botol minuman.
"Minumlah ini, Sayang. Aku mengambilnya dari tasmu." Rey membantu meminumkan air dalam botol minuman itu pelan-pelan. "Bagaimana sekarang? Apa lebih baik?"
"Ehm." Akhirnya, Rhea bisa kembali bicara karena ia lega ada Rey disisinya. "Sudah lebih baik. Terimakasih, Rey. Lagi-lagi, kau menyelamatkanku. Entah apa yang terjadi padaku jika kau tidak datang tepat waktu."
Rey langsung memeluk tubuh Rhea dengan erat. "Aku hampir mati karena mencemaskanmu. Untunglah aku bisa mendengar suara hatimu, jadi aku langsung terjun ke dalam. Lain kali, aku akan ikut menyelam bersamamu. Tidak akan aku biarkan kau menyelam sendirian lagi."
"Tapi ...."
__ADS_1
"Tidak ada tapi-tapian! Ini sudah keputusanku." Rey mengambil handuk dan mengeringkan rambut Rhea. "Sudah cukup latihannya. Ayo, aku antar kau pulang."
"Bagaimana dengan latihanku?"
"Dalam keadaan begini kau masih saja memikirkan latihan? Kau hampir saja mati di dalam?" Rey tidak percaya kekasihnya ini masih ingin melanjutkan latihannya setelah apa yang barusan terjadi.
Rhea mengamati pakaian suaminya yang juga jadi basah gara-gara dirinya. Sebenarnya, latihan Rhea kali ini bisa dikatakan berhasil karena ia sudah mencapai target. Ia hanya apes karena harus berhadapan dengan semak-semak belukar bahaya yang tumbuh liar di dasar air.
"Bawa aku ke kekamarmu. Aku mau ganti baju. Kaupun juga harus mengganti pakaianmu," ujar Rhea lirih. Ia tidak ingin membuat Rey marah lagi.
Dalam diam, Rey menggenggam erat tangan Rhea dan keduanya sudah berada di kamar Rey hanya dalam satu kedipan mata. Enak sekali punya kekasih seperti Rey yang bisa kesana kemari ta pa perlu bersusah payah.
***
"Kau marah padaku?" tanya Rhea sembari mengeringkan rambutnya saat melihat Rey duduk berdiri sambil menghadap jendela.
Kekasihnya itu sedang mengamati pemandangan sekitar rumahnya. Rhea juga baru sadar kalau ternyata dari sini, ia bisa melihat danau dan rumah tempat tinggal Rhea sekarang. Kerena tidak ada sahutan dari Rey, Rhea memberanikan diri memeluk Rey dari belakang.
"Ehm, aku janji. Aku akan latihan bersamamu. Tapi kau tidak perlu ikut menyelam di dalam air. Bukankah kau bisa mendengar suara hatiku? Aku akan memanggil namamu jika aku dalam kesulitan."
"Kita lihat saja nanti. Sekarang sudah hampir malam. Ayo, aku antar pulang. Atau ... kau mau bermalam disini."
"Tidak, aku tidak mau berdebat dengan kakakku. Aku juga harus melihat nenek karena sejak tadi, aku belum bertemu dengannya."
"Oh," jawab Rey singkat dan itu membuat Rhea agak sedikit merasa aneh.
***
__ADS_1
Rey memutuskan mengantarkan Rhea pulang dengan berjalan kaki. Tak seperti biasanya, Rey lebih banyak diam disepanjang perjalanan mereka. Sepertinya, ada banyak hal yang sedang Rey pikirkan saat ini.
"Dimana kau akan melakukan ritual terakhirmu, Sayang?" tanya Rey saat mereka berdua sampai di depan rumah Rhea.
"Di belakang rumah ini, tepatnya di danau itu." Rhea menunjuk danau yang ada didepannya.
Rey mengamati danau itu dengan serius sampai tidak sadar kalau Rara dan Jakson ada di belakang mereka.
"Sedang apa kalian disini?" tanya Rara dan iapun terkejut melihat penampilan Rey yang sudah berubah 180° dari sebelumnya. Kini, Rey tak terlihat seperti gembel lagi. Bahkan Rey terlihat jauh lebih cool dari Jakson. "Wauw, kau mengubah penampilanmu, Rey?" Puji Rara. Ia sungguh tidak tahu malu karena memuji pria lain di depan kekasihnya sendiri. Yah, Jakson dan Rara sudah jadian dan mereka berdua berencana membawa hubungan itu kejenjang yang lebih serius.
"Ehm, aku adalah calon menantu keluarga ini, setidaknya aku tidak mau bikin malu dengan penampilanku yang seperti gembel kemarin." Rey melirik Rhea yang sedang was-was sambil tersenyum.
"Ternyata wajahmu lumayan sih, apa kau datang dengan berjalan kaki?" tanya Rara. Ia mengamati sekeliling, tapi tidak menemukan yang ia cari.
"Jalan kaki lebih sehat, Kak." ganti Rhea yang menjawab.
"Huh, coba kalau kau punya mobil. Mungkin aku akan tertarik padamu, sayang sekali kau tidak punya." Rara masih saja menghina Rey. Gadis itu masuk kedalam rumah sambil menggandeng tangan Jakson yang sejak tadi ingin buka suara tapi dilarang keras oleh Rey.
"Maafkan kata-kata kakakku, ia sungguh keterlaluan padamu. Harusnya ia tidak boleh bicara seperti itu." Rhea jadi tidak enak hati pada Rey Bagaimanapun juga, Rey adalah seorang pangeran. Bisa-bisanya kakaknya itu merendahkannya sampai seperti itu.
"Tidak apa-apa. Asal kau tidak was-was lagi, aku rela. Istirahatlah didalam. Besok, aku akan datang lagi." Rey mengecup mesra kening Rhea.
"Terimakasih untuk hari ini." Rhea tersenyum manis pada Rey.
"Sama-sama." Rey pamit undur diri. Sedangkan Rhea terus mengamati punggung Rey yang berjalan meninggalkan dirinya.
"Apa yang sedang kau pikirkan, Rey?" gumam Rhea.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***