Menikahi Seorang Putra Raja

Menikahi Seorang Putra Raja
episode 150 Api Kemarahan


__ADS_3

Fey tidak tahu apa yang sedang dilakukan Ezi muda di dunia ini. Dari cerita yang pernah Refald beritahukan padanya, Pak Po alias Ezi tak pernah berbuat jahat dalam hidupnya. Kematian pak Po masih misteri dan hingga detik ini Refald tidak tahu menahu mengapa Ezi yang berusia remaja harus meninggal dan menjadi pasukannya. Bahkan sebelum Refald dilahirkan ke dunia.


Awalnya, Fey terkejut dengan kemunculan Ezi yang tiba-tiba dan ia sedang dalam situasi yang tidak baik. Ditambah lagi, Refald sekarang masih menjalankan ritualnya dan tak mungkin suaminya itu datang kemari untuk membantu menyelesaikan masalah pak Po. Fey tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Bagaimanapun juga, ia tak boleh berbuat sesuatu yang bisa merusak ritual suaminya.


“Kisanak, saya tanya sekali lagi, apa yang dilakukan pemuda ini hingga kalian semua mengejarnya dan terlihat sangat marah padanya.” Fey sangat berhati-hati dengan nada bicaranya agar tidak menyinggung perasaan orang-orang bertubuh kekar dan tinggi ini.


“Pemuda itu menggoda istri-istri kami, Nyi. Dia mencoba merayu bini kami,” terang salah satu pengawal dari sekian puluhan pengawal yang berdiri di depan Fey dengan penuh emosi.


“Hah?” mata Fey terbelalak antara percaya dan tidak percaya. Fey tahu seorang Ezi ini adalah pemuda yang lugu, tidak mungkin tampangnya ini termasuk tampang penggoda bini orang. Pasti ada kesalahpahaman disini. Iapun langsung beralih menatap Ezi. “Apa benar kau melakukannya? Kau jadi pebinor di dunia ini?” Fey agak marah pada pak Po yang juga tercengang mendengar pengakuan pria yang mengejarnya.


“Tidak, Nyi! Sungguh saya tidak menggoda bini mereka, tapi Nyi … pebinor itu apa, ya? Nama istri-istri mereka bukan pebinor Nyi, setahu saya sih ….”


“Bohong!” bentak pengawal itu memotong kata-kata pak Po. “Jelas-jelas kami semua melihatmu makan disuapi istriku!” teriak pengawal istana itu dengan lantang. Terlihat jelas kalau mereka semua cemburu dan tak terima.


Dasar bengek si pak Po, nggak di dunia ini, nggak di dunia nyata, ia selalu saja bikin ulah! Apalagi soal wanita. Batin Fey sambil menutup mukanya dengan satu tangan.


Sedikit banyak, Fey mulai paham situasinya. Sebenarnya bukan salah pak Po jika memang banyak wanita yang menyukainya meskipun mereka sudah bersuami atau masih lajang. Wajah pak Po memang unyu-unyu dan menggemaskan. Sang Pencipta memang menganugerahkan ketampanan paripurna pada sosok seorang Ezi. Siapapun bakal kepincut olehnya jika tidak tahan iman. Dan sepertinya, keunyuan itulah yang menyebabkan hidup pak Po harus berakhir tragis di dunia yang fana ini. Tak menuntut kemungkinan, dimanapun pak Po berada, hal sama seperti ini bakal terus saja terulang. Dan itu sudah menjadi takdir hidup pak Po.

__ADS_1


“Tidak, Kisanak.” Pak Po alias Ezi membela diri. “Anda salah paham. Saya hanya lewat setelah mencari kayu bakar, tiba-tiba saja istri Kisanak beserta teman-temannya datang dan membawakan makanan untuk saya. Katanya suaminya tidak suka makanan yang mereka masak makanya diberikan kepada saya. Saya sudah menolak tapi istri Kisanak terus saja memaksa, sungguh Kisanak … itulah yang terjadi sebenarnya.” Pak Po memasang wajah polos lugunya supaya orang-orang ini mau percaya pada ucapannya.


“Masa iya? Istriku bilang padaku, kalau makanannya dibawa lari kucing?” sahut pengawal lain yang berada paling belakang. “Oooh … jadi kucingnya kamu, toh!” tuduh orang itu semakin marah.


“Bukan Kisanak, saya bukan Kucing, saya manusia. Kalau kucing … saya sudah bicara meong-meong sejak tadi, buktinya saya bisa berbahasa seperti bahasa kalian semua.” pak Po dengan lugunya menjelasan pada orang-orang ini kalau ia manusia tulen dan bukanlah kucing seperti yang mereka tuduhkan.


Fey sungguh tak bisa berkata apa-apa mendengar penjelasan pak Po yang bikin orang mengalami darah tinggi dadakan itu. dalam kondisi genting antara hidup dan mati, ia masih bisa mbanyol.


“Kami tetap tidak percaya! Kucing atau bukan, kau tetap saja menggoda istri kami. Mana mungkin kau menolak badan semloheh istri kami. Kau pasti sengaja menggoda mereka supaya terpikat dengan wajah sok lugumu itu. Kau itu benar-benar perlu dibinasakan!” teriak pengawal paling depan dan siap menyerang diikuti oleh para pasukan yang lain.


“Saya tidak pernah menggoda mereka Kisanak, justru saya takut dengan mereka, mereka ganas sekali seperti wewe gombel!”


“Hentikan Kisanak! Kalian semua tidak bisa main hakim sendiri.”


“Jangan ikut campur urusan kami, Nyi? Kenapa anda membelanya? Apa hubungan anda dengan orang ini?” tanya pengawal istana itu pada Fey.


“Dia dalah pasukan dedemit suamiku, Raja Mirza Banta,” jawab Fey langsung tanpa ragu dan semua pengawal itu langsung diam dan saling pandang.

__ADS_1


“Apa? Ra-raja siapa?” tanya pengawal itu bingung, sebab ia serasa tak asing dengan nama raja yang baru saja disebutkan Fey.


“Orang ini adalah pasukan setia suamiku, jika kalian melukainya, maka kalian semua harus berurusan denganku. Aku … adalah putri Lafeysionara Kinara, permaisuri dari raja Mirza Banta. Raja dedemit yang paling berkuasa diseluruh alam jagad raya. Jika kalian masih ingin hidup lama, maka pergilah dari sini atau kalian semua akan mati.” Fey mengeluarkan jurus ancaman yang menakutkan.


Tentu saja nyali para pengawal istana ini sedikit ciut mendengar pengakuan Fey yang memang benar. Tidak ada kebohongan di mata istri Refald itu sehingga para pengawal ini tanpa sadar berjalan mundur. Di tambah lagi, tiba-tiba saja angin kencang mulai datang menyerang dan membuat hawa dingin malam semakin mencekam. Bulu kuduk mereka berdiri tegak dan tubuh orang-orang ini menjadi gemetar ketakutan. Badan boleh gede, tapi aklau urusan dunia perdemitan, nyali pengawal ini langsung menciut.


Tatapan tajam mata Fey sungguh membuat merinding siapapun yang melihatnya. Akhirnya, mereka semua balik badan dan langsung berlari tunggang langgang setelah melihat ada aura menakutkan muncul dari balik punggung wanita yang tak lain adalah istri Refald. bahkan beberapa mereka ada yang sampai menabrak pohon akrena tak melihat jalan. Namun, karena rasa takut mereka jauh lebih besar, mereka lebih memilih menahan rasa malu dan sakit agar bisa segera pergi dari sini.


“Wuaaaah … Nyi … anda hebat sekali … sandiwara anda benar-benar luar biasa. Mereka langsung lari ketakutan,” puji pak Po.


“Siapa yang bersandiwara?” Fey langsung sewot. “Aku mengatakan yang sebenarnya.” Wajah Fey langsung berubah serius menatap Ezi.


“Tapi kan saya … bukan dedemit, Nyi ….” Pak Po jadi semakin bingung. Ia juga penasaran siapa wanita penyelamat hidupnya ini.


“Putri Lafeysionara Kinara!” teriak seseorang yang ternyata adalah Bikunya. Wanita berambut putih itu turun dari atas langit-langit dengan kilatan mata merah menyala. “Apa yang kau lakukan?” teriaknya marah.


Fey terkejut begitupula dengan pak Po. Bahkan Shena dan Leo yang sejak tadi tertidur jadi ikutan terbangun mendengar suara gelegar petir dari kemarahan seorang Biku Gandasari.

__ADS_1


BERSAMBUNG


***


__ADS_2