
Selagi Rhea disibukkan dengan segudang aktivitasnya, Rara pun menyempatkan diri untuk jalan-jalan pagi karena menuruti saran dari Rhea. Ia tidak mau membuat adiknya terus mengomel jika sarannya tidak ia kerjakan. Sementara ini, Rara tidak berani menampakkan diri di tempat keramaian. Sebab, ia tidak mau menjadi bahan pergunjingan walaupun telinganya sudah kebal. Akhirnya, Rara memilih pergi jalan-jalan ke sawah saja sambil memandangi pemandangan indah yang disuguhkan disana.
Sambil berjalan, Rara memikirkan banyak hal tentang apa yang akan ia lakukan setelah ini. Tidak dapat dipungkiri bahwa kini ia adalah calon ibu dari anak yang dikandungnya sekarang meski ayahnya tidak mau mengakuinya. Ia tidak mungkin terus-menerus menggantungkan hidupnya pada Rhea. Rara harus belajar mandiri mulai dari sekarang. Ia akan menggunakan uang pemberian Rhea sebagai modal hidupnya dan anak yang dikandungnya. Rara bertekad untuk menata hidupnya agar menjadi lebih baik.
Tanpa sengaja ia melihat Alan, mantan pacarnya yang pernah ia telantarkan sedang sibuk bekerja di ladang milik orangtuanya. Dialah alasan kenapa Jakson melakukan semua ini padanya. Seketika hati Rara jadi bergetar hebat saat melihat Alan yang sekarang. Sekelebat kenangan-kenangan buruk yang pernah ia lakukan pada Alan mulai muncul dikepalanya. Kondisi Alan saat ini sangat berbeda dengan yang dulu. Air mata Rara jatuh melihat betapa sengsaranya mantan pacarnya saat ini gara-gara dirinya.
Rara hanya bisa berdiri diam menatap Alan yang sedang mencangkul ladangnya. Gayanya yang dulu stylish dan modis abis, sudah tidak terlihat lagi. Hal itu membuat Rara semakin menjadi merasa bersalah. Ia tak sanggup melihat apalagi meminta maaf pada Alan sekarang. Rara juga takut, jika Alan melihatnya, cowok itu akan semakin membencinya. Akhirnya, dalam diam Rara balik badan dan berjalan pergi dengan sejuta rasa penyesalan yang amat dalam.
"Ra!" Panggil Alan tiba-tiba. Tentu saja hal itu membuat Rara terkejut. Tubuhnya menegang karena ia mengenali suara panggilan orang yang memanggilnya.
"Ngapain kamu kesini?" tanya Alan lagi. Ia berjalan mendekat ke arah Rara.
Sungguh Rara tidak tahu apakah ia berani mengangkat wajahnya di depan mantan pacarnya yang sudah ia hancurkan hidup dan masa depannya ini atau tidak. Yang bisa Rara lakukan hanyalah menunduk. Jangan sampaj Alan tahu apa yang menimpanya saat ini.
"Jawab aku, Ra? Kenapa kamu diam saja?" Alan geram karena Rara masih tidak mau mengangkat wajahnya ataupun menatapnya.
"Aku ...." Rara mencoba untuk tidak menangis di depan Alan. Mati-matian ia menahan air matanya agar tidak tumpah keluar. "Aku, hanya kebetulan lewat," jawab Rara sambil masih terus menundukkan kepalanya.
"Ayo, kita bicara!" ajak Alan dan iapun meraih tangan Rara namun langsung ditepis oleh wanita itu.
__ADS_1
Kakak angkat Rhea ini tidak ingin Alan tahu apa yang terjadi pada dirinya termasuk fakta bahwa ia telah berbadan dua hasil dari kesalahannya sendiri. Karena itulah ia menolak tawaran Alan, Rara merasa dirinya sudah kotor dan tak pantas berbicara dengan siapapun.
Sayangnya, penolakan Rara menimbulkan salah paham dan kembali menjadi bumerang dalam hati Alan. Alan mengira Rara benar-benar tidak menyukainya setelah apa yang sudah ia korbankan untuknya. Apalagi kabar terakhir yang ia terima, mantan pacarnya ini sudah menjadi kekasih sahabatnya, Jakson. Sepertinya, Alan tidak tahu apa yang sudah Jakson lakukan pada Rara demi membalaskan dendamnya.
"Oke! Kau benar-benar wanita terkejam yang pernah aku temui di dunia ini, Ra. Kau sungguh sangat kejam, semoga saja hidupmu bahagia! Dan aku berdoa, semoga kita tidak pernah bertemu lagi." Sindir Alan dan iapun pergi meninggalkan Rara yang menangis dalam diam.
Rara sudah tidak kuat lagi. Iapun pergi sambil berlinang air mata. Ucapan Alan adalah pukulan telak baginya. Sampai kapanpun, ia tidak akan pernah bisa hidup bahagia setelah apa yang sudah ia perbuat pada orang-orang yang menyanginya.
Belum juga kering air mata Rara, ia sudah dikejutkan dengan apa yang ia lihat didepan mata. Rara tidak sengaja melihat Jakson bergandengan tangan dan bermesraan dengan pacar barunya padahal Jakson tahu, kini Rara telah mengandung buah hati mereka. Mata Rara terbelalak tak percaya, Jakson yang dulu terlihat sangat mencintainya, kini berubah jadi bajiingan penikmat wanita. Sungguh perih, pedih hati Rara melihat ayah dari anaknya ini bercumbu mesra dengan wanita lain. Ia pun hanya bisa menangis mengamati gerak gerik Jakson yang sedang merayu wanita di pinggir jalan dari dalam mobilnya.
"Siapa wanita itu? Kenapa ia menangis melihat kita?" tanya wanita yang kini menjadi pacar baru Jakson.
"Apa yang kau lakukan, ha?" tanya Jakson marah.
"Aku tidak melakukan apa-apa."
"Kenapa ibu Rey ngotot supaya aku harus menikahimu? Apa yang kau katakan padanya?"
"Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku juga tidak minta kau nikahi. Aku tidak mau anakku punya ayah bajingaan sepertimu."
__ADS_1
"Huh, kau mengataiku bajingaan! Bagaimana denganmu? Wahai wanita murahan!" Jakson benar-benar merendahkan Rara.
"Terserah kau mau memanggilku apa!" Rara melepas paksa cengkeraman tangan Jakson dan bergegas pergi meninggalkannya tanpa mau bicara lagi. Sudah cukup rasa sakit yang Jakson berikan dan Rara tak mau ditambah lagi.
"Ibunya Rey ingin aku menikahimu malam ini juga! Jika tidak, maka ia akan memasukkanku ke penjara."
Seketika langkah Rara terhenti. Rara sudah tahu karena Fey juga memberitahunya. Namun setelah melihat seperti apa Jakson sekarang, ia tidak lagi menginginkan pernikahan ini.
"Jangan khawatir, aku sudah memutuskan untuk merawat dan membesarkan anak ini sendiri. Kita tidak perlu menikah dan kau juga tidak perlu bertanggung jawab. Anggap saja kita tidak saling kenal. Soal ibu mertua Rhea, biar aku yang bicara." usai berkata begitu, Rara pergi meninggalkan Jakson dengan hati yang terluka. Semuanya sudah hancur lebur sekarang dan tidak ada lagi perasaan cinta yang tersisa. Rara sudah mengikhlaskan segalanya dan menerima karma yang ia dapat atas perbuatannya sendiri.
Aku akan hidup, tapi bukan demi diriku. Aku hidup ... demi Rhea dan juga janin ini, batin Rara sambil berlinang air mata. Ia pergi dan memegangi perutnya dengan sejuta luka hati yang menganga.
Malam ini, adalah malam ritual Rhea dilakukan. Segala sesuatu yang diperlukan, juga sudah disiapkan dengan matang. Rhea berdiri di depan jendela kamar Rey sambil terus memandang ke danau tempat ia akan melakukan ritualnya malam nanti.
"Semoga malam ini, berjalan dengan lancar." Rhea menghela napas panjang sambil menatap lurus danau yang sudah menyatu dengan dirinya. Setelah ini, ia bakal bertemu lagi dengan kedua orangtuanya dan juga yang lainnya. Inilah hari yang sudah ia nantikan selama ini.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1