Menikahi Seorang Putra Raja

Menikahi Seorang Putra Raja
episode 50


__ADS_3

Seluruh pasukan Refald bergerak cepat melesat terbang dan langsung menghalau semua iblis jahat yang menyerang mereka semua. Karena ini sudah malam, pertempuran para makhluk astral tak kasat mata itu tidak bisa dilihat dengan jelas. Hanya sekelebat bayangan hitam yang bergerak bebas kesana kemari.


Tak bisa dibayangkan betapa sengitnya peperangan antar makhluk astral ini. Fey yang melihat kejadian itu, agak sedikit tegang juga, meski iblis jahat yang ada diluar pelindung buatan Refald tak bisa menembus masuk, tetap saja Fey mengkhawatirkan yang lainnya. Sementara dirinya malah terjebak dalam jeratan cinta sang raja dedemit yang tidak tahu situasi dan kondisi ini.


"Kenapa kau masih disini? Seluruh anak buahmu sedang bertempur diluar sana," tanya Fey sambil menatap lurus suaminya.


"Untuk mengalahkan para iblis jahat itu, mereka tak butuh ikut campur tanganku, Honey. Sudah 3 tahun lamanya mereka tidak bertarung dan akhirnya kini mereka bisa melampiaskan semuanya pada para iblis jahat itu. Aku hanya tidak ingin merusak kesenangan mereka saja." Refald membelai lembut pipi istrinya.


"Lalu bagaimana dengan Rara dan Rhea?" Fey heran, ada banyak masalah disini tapi suaminya malah tenang-tenang saja.


"Soal Rhea, sudah ada ayahnya yang menanganinya, kalau soal Rara, sudah ada Divani dan mbak Kun yang mengurusnya. Kalau kau ...." Refald sengaja menggantungkan kalimatnya.


"Kau sama sekali tidak berubah, Refald. Tetap menyebalkan seperti 3 tahun yang lalu."


"Kau pun juga sama Honey. Selalu saja terlihat cantik."


Fey menghela napas panjang. "Apa yang akan dilakukan Di dan mbak Kun terhadap jasad Rara?" Fey terus saja bertanya.


"Perhatikan saja?" jawab Refald tenang.


Sejak tadi tangan Refald tidak pernah bisa diam. Ia menyentuh halus bagian lengan dan wajah Fey dan terus menatap tajam istrinya tanpa peduli pada kesibukan seluruh pasukannya yang sedang was wus was wus kesana kemari membasmi para iblis jahat atas perintah darinya.

__ADS_1


"Refald, bisa lepaskan aku? Sangat tidak etis bila semua orang sedang sibuk dengan urusan mereka masing-masing atas perintah darimu sementara kau dan aku malah enak-enakan disini."


"Karena urusanku denganmu, masih belum selesai, Honey. Aku masih ingin berlama-lama denganmu." Refald terus mendekatkan wajahnya ke wajah Fey.


"Tidak bisakah kita melanjutkan pelampiasan kerinduanmu ini nanti saja, Refald? Hargai orang-orang yang berjuang melaksanakan perintah darimu. Kau sungguh tega sama mereka semua."


"Justru mereka sangat memahami seperti apa aku tanpamu, Honey. 3 tahun, bukanlah waktu yang singkat. Aku sudah lama menantikan hari ini tiba dan sekarang saat aku sudah muncul dihadapanmu, kau malah melarangku melampiaskan semua perasaan rinduku padamu? Sungguh teganya dirimu padaku, Honey." Refald memasang wajah sedih.


"Bukan melarang, tapi menunda. Setidaknya sampai semua ini selesai. Masa begitu saja kau keberatan?" tanya Fey.


"Ehm, sangat keberatan. Aku tak bisa menunda lagi." Refald terus menatap wajah istrinya.


Fey sendiri memilih cuek tehadap suaminya yang bengek ini, ia memerhatikan apa yang sedang dilakukan Di dan mbak Kun dalam kurungan tangan Refald. Fey tahu, Refald tidak akan membiarkannya pergi dari sini.


"Kau siap, Di? Mulailah!" ujar mbak Kun fokus, setelah persiapan Divani dirasa cukup.


Istri pak Po itu hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Perlahan, ia menggeser kedua telapak tangannya yang tadinya menempel jadi satu sama lain ke arah yang berlawanan. Tangan kanan Rhea bergeser horizontal ke ke kanan sedangkan tangan kirinya bergeser horizontal ke kiri. Dengan kata lain, Di memisahkan telapak tangannya yang tadi terdapat lilin diatasnya.


Ajaibnya, meski tangan Di sudah terpisah dan tidak menempel menjadi satu lagi, lilin itu tetap berada di tempatnya dan melayang tepat didepan dada Rara. Pelan-pelan, lilin itupun mulai bergerak turun dan masuk ke dalam tubuh Rara dengan menembus dadanya. Dalam sekejap, lilin tersebut sudah menyatu dalam tubuh Rara.


Mata Fey dan Rey terbelalak menyaksikan keajaiban itu. Ini pertama kalinya Fey melihat hal magic paling aneh selama hidupnya. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah, kulit Rara yang tadinya pucat pasi, kini berangsur mulai memerah dan tidak pucat lagi. Bahkan suhu tubuhnya langsung meningkat seperti suhu tubuh normal orang-orang biasa. Rara mulai kembali bernapas tapi kondisinya sangat lemah.

__ADS_1


"Raja, Rara sudah mulai sadar," seru mbak Kun.


Refald tidak langsung menjawab. Ia memerhatikan sekeliling, dan seluruh pasukannya masih sibuk bertempur.


"Apa kalian masih lama?" tanya Refald dengan lantang.


"Sebentar lagi, Raja!" jawab salah satu pasukan dedemit Refald.


"Pak Po ...." Belum juga Refald selesai bicara, ia terkejut karena pak Po sudah tidak ada bersama Rey dan Rhea lagi. Padahal, putrinya itu masih pingsan. "Dimana ayah mertuamu?" tanya Refald pada putranya.


"Disana, Ayah!" Rey menunjuk ke arah pak Po yang sedang ikut bertempur melawan seluruh pasukan iblis jahat yang mendekat kearahnya diluar pelindung yang dibuat Refald.


"Apa yang kau lakukan, pak Po? Aku menyuruhmu melindungi putrimu. Kenapa kau ikut bertarung?"


"Pangeran Rey sudah melindungi Rhea dengan baik, Raja. Mereka tak butuh perlindungan dariku," ujar pak Po sambil menghempaskan ratusan iblis yang mendekat hanya dalam satu kibasan tangan. Bila pak Po saja bisa mengalahkan musuhnya dengan cepat, sudah bisa dipastikan seperti apa kekuatan Refald yang sekarang.


Sebenarnya, bukannya pak Po tidak mau melindungi putrinya, ia hanya tidak ingin menangis didepan menantunya karena rasa rindu tak terbendung pada putri semata wayangnya yang kini sudah menjadi istri putra rajanya sendiri. Sebagai gantinya, pak Po melampiaskan semuanya pada iblis jahat karena sudah mengacaukan tempat ini.


"Beres!" ujar pak Po setelah mengalahkan iblis terakhir dengan serangannya.


"Masih belum," ujar Refald sambil tersenyum.

__ADS_1


BERSAMBUNG


****


__ADS_2