
Melihat kemesraan antara Rey dan Rhea, membuat pak Po jadi tak ingin kalah dengan pasangan muda mudi itu. Sayangnya, Divani malah terkesan tidak ngeh dengan maksud hati suaminya sebab ini memang bukan saatnya untuk mereka memadu kasih dalam situasi segenting ini.
"Ezi, apa kau tidak perhatikan, tempat ini ... aneh sekali? Aku tak bisa menghubungi raja ataupun ratu melalui telepati. Kekuatan kita juga melemah. Jangan-jangan terjadi sesuatu juga pada mereka." Divani mengalihkan perhatian pak Po. Menurutnya, ada hal yang lebih serius untuk dibahas daripada harus menuruti aksi ngambek suaminya.
Perkataan istrinya membuat pak Po menyadari banyak hal. Daripada ngambek nggak jelas, mending memikirkan cara untuk bisa keluar dari sini.
"Kau benar, Di ... kita sudah tak bisa terhubung dengan raja dan ratu lagi. Tapi aku ... masih bisa merasakan aura raja ada disekitar sini. Hanya saja ... tidak tahu ada dimana posisinya." Raut wajah pak Po mulai terlihat serius. Entah ini karena efek medan magnet atau karena hal lain sehingga membuat pak Po sedikit lebih pintar dari biasanya dan langsung nyambung kalau diajak bicara. Tidak lemot lagi seperti sebelumnya.
"Sebenarnya, tempat apa ini? Mendadak kita terjatuh dan kekuatan kita tidak bisa digunakan. Bahkan kita tak bisa menghubungi siapapun. Dan yang lebih parah, tubuh kita memadat layaknya tubuh manusia." Di sungguh tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya dan juga pada suaminya.
"Aku sendiri juga tidak tahu, Di. Seandainya raja dan ratu ada di sini, mungkin mereka bisa menjelaskan. Namun, aku ... sepertinya mengenal tempat ini. Tapi apa, ya?" Pak Po mencoba mengingat-ingat kembali.
"Oh iya? Tempat apa ini?" tanya Divani.
"Kalau ingatanku tidak salah, aku dan raja, pernah menemukan tempat ini di suatu tempat, hanya saja bukan di sini. Ini sangat aneh. Dan semoga saja dugaanku ini salah." Jawaban pak Po masih belum jelas dan terkesan digantung seperti Divani yang menggantung hati pak Po.
"Dugaan apa? Jangan bertele-tele, Ezi. Katakan padaku tempat apa ini? Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau ucapkan." Divani terus mendesak pak Po untuk memberitahunya ada dimana mereka sekarang. Ia sungguh sangat penasaran karena baru kali ini istri pak Po itu berada ditempat seperti ini.
Pak Po tak langsung menyahut, ia mengambil sebuah batu besar dan bersiap melempar ke suatu arah. "Oey, kalian berdua!" Teriak pak Po pada Rey dan Rhea yang sejak tadi berdiri sambil saling bertatapan.
"Ada apa Ayah?" tanya Rhea bingung melihat aksi ayahnya yang seolah-olah hendak melemparinya dengan batu berukuran lumayan besar.
__ADS_1
Itu batu, kalau terkena kepala orang, sudah pasti kepala orang tersebut bakal pecah. Yang menjadi pertanyaan adalah, kenapa pak Po malah mau melempar batu ke arah putri dan menantunya sendiri. Bukannya kearah lain?
"Ezi! Apa yang kau lakukan? Masa kau mau melempari putri dan menantumu dengan batu besar itu?" mata Divani terbelalak menyadari apa yang akan dilakukan suaminya.
"Aku harus melakukan ini untuk bisa menjawab pertanyaanmu itu, Di." Mata pak Po masih tetap menuju Rey dan Rhea yang berdiri tegang.
"Apa maksudmu?" Divani jadi semakin was-was melihat pak Po. Ini pertama kalinya, Divani melihat pak Po begitu serius dan tidak terlihat bloon seperti biasanya.
Pak Po tak menjawab lagi pertanyaan istrinya. Sebaliknya, ayah Rhea itu malah berteriak kencang, "Minggir!" terika pak Po lantang dan bersamaan dengan itu, iapun melempar batu besar tersebut menggunakan seluruh tenaga yang ia punya ke arah Rey dan Rhea.
Spontan Rey langsung memeluk tubuh Rhea dan mengajaknya membungkukkan badan untuk menghindari lemparan batu ayah mertuanya. Ajaibnya, belum juga Rey dan Rhea menegakkan kepalanya setelah sempat membungkuk, tiba-tiba saja batu yang dilempar pak Po tadi kembali melesat cepat ke arah pak Po dan tentu saja melewati Rey dan Rhea lagi.
Dengan sigap, pak Po kembali menangkap batu itu dan terkejutlah semua orang yang ada di sini. Mata Divani memelototi batu besar yang dipegang pak Po begitu pula dengan Rey dan Rhea yang mulutnya sama-sama menganga lebar melihat hal yang aneh bin ajaib ini.
"Tidak salah lagi, tempat ini ... adalah medan magnet bumi." Akhirnya pak Po bisa mengingat kembali tempat yang dulu memang pernah ia lewati bersama Refald.
Hanya saja waktu itu, pak Po dan Refald tak terjebak masuk dalam area ini seperti yang sedang mereka alami sekarang. Saat itu, pak Po dan Refald hanya kebetulan lewat dari kejauhan saja. Sebab, Refald tahu kalau medan magnet ini bisa menetralisir kekuatan mereka sehingga tak dapat digunakan bila terseret masuk kedalamnya. Pak Po tidak pernah menyangka bakal terjebak didalamnya bahkan kini kekuatannya pun juga tidak berfungsi di sini.
"Kau bilang apa tadi? Medan magnet?" tanya Divani. "Apa itu?"
"Ehmm ... kalau itu aku tidak tahu, Di. Aku hanya tahu kalau tempat ini namanya medan magnet. Itupun raja yang memberitahu, artinya apa aku tidak begitu paham. Nanti tanyakan sendiri pada raja kalau kita ketemu dengannya.
__ADS_1
"Kalau begitu, ayo cepat kita pergi dari sini dan mencari keberadaan raja, tunggu apalagi?" ajak Di.
"Tidak bisa," jawab pak Po cepat.
"Kenapa tidak bisa?" nada suara Divani sedikit meninggi.
"Ehm ... itu ... ehm ... apa ya?" Pak Po malah tidak tahu bagaimana menjelaskannya pada Divani.
"Kita tidak akan semudah itu keluar dari tempat ini, Ibu." Rey bantu menjelaskan.
"Ah benar!" pak Po membenarkan.
"Tapi kenapa?" tanya Divani masih tidak mengerti.
Semua mata langsung tertuju kearah Rey untuk meminta penjelasan lebih lanjut lagi.
"Apa maksudnya ini, Suamiku? Bagaimana kau bisa tahu kalau kita ... tidak akan bisa keluar dari sini?" tanya Rhea sambil menatap lurus Rey.
"Seperti halnya batu yang dilempar Ayah langsung kembali kepemiliknya dengan sendirinya, begitu pula dengan kita. Sejauh apapun kita melangkah meninggalkan tempat ini, maka kita tetap akan kembali kemari. Itulah medan magnet yang dimaksud Ayah. Aku rasa, ayahku sendiri juga sedang terjebak dalam area medan magnet ini dan kekuatannya sama melemahnya seperti kekuatanmu. Aku ... juga bisa merasakan keberadaan Ayah dan ia tak sendirian. Aku yakin, ayah sedang bersama dengan Paman Leo sekarang. Hanya saja, kita tidak tahu, dimana posisi mereka berada saat ini."
Apa yang dijelaskan Rey nyatanya benar. Semua orang yang ada disini minus Shena, Fey dan keluarga besar Refald memang sedang terjebak dalam pusaran medan magnet Bumi. Selama ini, tidak ada yang tahu bagaimana cara agar bisa keluar dari tempat ini. Sebab, ini pertama kalinya keluarga besar Refald berhadapan dengan alam yang pastinya sangat berbeda dengan musuh-musuh mereka selama ini.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***