
Rey tidak habis pikir, bagaimana Rhea bisa menghilang tanpa sepengetahuannya. Pasti ada susuatu yang sedang terjadi dan ini diluar kendalinya. Rey mencari Rhea kemana-mana, ke kampus, kerumah pengantin baru Rara dan Jakson, ke rumah teman-teman dekat Rhea selama ia tinggal di kota kecil ini dan tempat-tempat yang biasa dikunjungi Rhea. Namun, semua tempat yang didatangi Rey mengatakan satu kalimat yang sama, yaitu mereka semua tidak tahu dimana keberadaan Rhea saat ini. Bahkan Rara juga tidak melihat Rhea sejak kemarin.
Hilangnya Rhea juga mengundang tanda tangan besar bagi semua orang terdekat Rhea. Taka hanya Rey yang terlihat cemas dan khawatir, Rara dan yang lainnya juga cemas kalau-kalau terjadi sesuatu pada Rhea. Ditambah lagi, kedua orangtua Rey berserta seluruh pasukannya termasuk mertua Rey sendiri juga belum kembali dan tidak ada kabar sama sekali. Semuanya menghilang bagai ditelan bumi.
Satu-satunya orang yang bisa Rey andalkan saat ini hanyalah pamanya, Leo. Rey bergegas pergi menemui pamannya yang baru saja kembali pulang dari Amerika untuk perjalanan bisnisnya bersama Shena.
“Kenapa mukamu kisut begitu? Kau seperti gelandangan saja?” komentar Leo saat Rey datang menemuinya. Wajah Rey memang sedikit berantakan, rambutnya awut-awutan karena tidak disisir dan kurang tidur.
“Apa paman menerima kabar dari ayah?” tanya Rey dengan suara lirih tanpa tenaga.
“Apa maksudmu? Bukankah kakakku itu masih menghilang?” Leo malah balik bertanya. Sungguh ia tidak tega melihat keponakan kesayangannya ini terlihat bagai makhluk tak bernyawa.
“Dia sudah kembali, Paman. Tapi mereka semua menghilang lagi begitu juga dengan Rheaku. Sudah berhari-hari aku tidak tidur mencari mereka semua tapi tetap saja aku tidak menemukan keberadaan mereka. Semua orang yang berhubungan dengan ayah tiba-tiba saja menghilang kecuali aku. Awalnya, aku dan Rhea tidak menyadari hal itu, tapi setelah Rhea ikut menghilang juga, aku merasa telah terjadi sesuatu yang tidak aku ketahui apa itu. Tolong aku, paman Leo. Panggil ayahku kemari, ia tidak mau memenuhi panggilanku. Akan berbeda jika Paman yang memanggilnya. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada ayahku juga yang lainnya.”
“Bukannya aku tidak mau menolongmu, Rey. Tapi aku hanya manusia biasa yang tidak punya kekuatan super seperti yang kau dan kakakku miliki. Begini saja, aku akan mencoba memanggil ayahmu, tapi aku juga tidak tahu apakah ayahmu mau memenuhi panggilanku atau tidak. Untuk sekarang istrahatlah didalam kamar Yeon. Kau perlu tidur. Nanati aku akan membangunkanmu jika aku berhasil bertemu dengan ayahmu.”
“Baik, Paman. Terimakaih,” ujar Rey lemas tak bertenaga.
__ADS_1
Leo sungguh prihatiin melihat Rey seperti itu. Hidup enggan matipun tak mau, itulah pepatah yang cocok untuk menggambarkan seperti apa keadaan Rey saat ini.
“Apa yang terjadi dengan Rey. Kenapa mukanya ancur gitu?” tanya Shena setelah ia sempat berpapasan dengan keponakannya.
“Dia mirip aku saat akan menikah denganmu dulu.” Leo menghela napas panjang dan berjalan medekat ke tempat Shena berdiri. Leo duduk diatas meja kerjanya dan menarik tubuh Shena supaya duduk dipangkuannya.
“Memangnya seperti apa wajahmu dulu? Kok aku tidak tahu?” tanya Shena sambil mengalungkan tangannya di leher Leo.
“Seperti Rey sekarang ini. Apalagi, si biksu Tong itu pinter banget aktingnya. Kau tahu apa yang kakakku katakan padaku waktu itu?”
Shena menggelengkan kepalanya. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada Leo ketika dirinya sedang sibuk dirias dan diubah menjadi mempelai pengantin wanita suaminya saat itu.
Awalnya Shena terperangah mendengar cerita Leo, tapi ia langsung tertawa saat mengenang betapa lucunya Leo saat dikerjain seluruh keluarganya tepat dihari pernikahan mereka.
“Kenapa kau berpikiran ingin mati, kalaupun itu benar terjadi aku percaya kau masih bisa menyelamatkanku tanpa harus mengakhiri hidupmu sendiri.” Shenapun memberikan komentarnya atas aksi yang dilakukan suaminya dulu.
“Lebih baik aku mati daripada meniduri wanita lain meskipun itu hanya pura-pura, Sayang. Kau satu-satunya yang ingin aku .....”
__ADS_1
“Stop!” Shena menghentikan kata-kata Leo dengan menempelkan jari telunjuknya di mulut Leo. “Jangan diteruskan, aku tahu kelanjutannya. Kita sudah melewati masa-masa indah itu. Sekarang bagaimana dengan Rey? Apa yang harus kita lakukan padanya?”
“Sementara ini biarkan dulu dia istirahat. Pertunjukannya masih sangat panjang. Dimana Yeon dan Bima? Bagaimana dengan pernikahan Yeon?”
“Yeon tidak berkomentar apa-apa soal Yonna. Aku tidak tahu apa yang ada dipikiran Yeon dengan berbohong seperti itu pada Yonna dan keluarganya.”
“Biarkan saja Yeon melakukan apapun yang dia suka, dia punya cara tersendiri untuk menemukan cinta sejatinya. Yang aku khawatirkan adalah Bima. Catatan kriminalitasnya dikampus membuatku pusing sekali. Aku tidak tahu harus bagaimana menghadapi Bima si bengal itu. Dasar preman kampus! Itulah julukan Bima sekarang.”
“Yeon si tukang bikin onar, dan Bima si preman kampus. Wauuuw .... kita punya anak-anak yang luar biasa hebat rupanya.” Shena tersenyum untuk menghibur Leo.
“Kau bangga pada mereka? Sudah berapa banyak uang yang aku habiskan untuk menyelesaikan masalah mereka?”
“Dan kau juga menghasilkan banyak uang sebagai ganti uang yang kau keluarkan untuk mereka. Aku punya ide untuk masalah Bima. Tapi untuk Yeon, aku masih belum paham niatnya. Semoga saja Yeon benar-benar mencintai Yonna, karena gadis itu sama sepertiku dulu.”
“Baiklah, itu akan kita pikirkan masalah itu nanti. Sekarang, fokus pada Rey. Kau mau ikut aku? Kita temui biksu Tong.” Leo berdiri tegak dan menggandeng tangan Shena dan mengajaknya pergi kesuatu tempat.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***