
Rhea masih belum bisa mengangkat kepalanya didepan suaminya. Sungguh, tiba-tiba saja ia jadi gemetar karena gugup. Apalagi, Rey terus saja menatapnya tanpa henti sehingga membuat jantungnya semakin berdegup dengan sangat kencang. Rhea sendiri tidak tahu, apakah ia siap atau tidak melaksankan tugasnya sebagai istri Rey di malam pertama mereka sebagai pasangan suami istri.
Haruskah sekarang? Masa iya harus melakukannya sekarang? Kenapa aku gugup sekali? tanya Rhea dalam hati.
“Kalau kau tidak ingin melakukannya sekarang, kita bisa menundanya Sayang,” ujar Rey yang bisa mendengar suara hati istrinya.
“Benarkah?” mata Rhea langsung menatap wajah Rey. Ada sedikit aras tidak enak di hati Rhea karena tak seharusnya ia menunda ritual malam pertama mereka. Apalagi, saat inilah yang paling dinanti-nantikan Rey selama ini.
“Sejujurnya, aku juga sama sepertimu, Sayang. Aku gugup. Hanya saja … aku tak menunjukkannya padamu. Meski aku selalu menggodamu untuk melakukannya, tapi tetap saja saat ini aku sangat gugup. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku. Mungkin aku … terlalu bahagia kerena kau sudah menjadi istriku.”
“Kau gugup? Masa sih?” Rhea terkejut mendengar kejujuran suaminya, tapi ia juga tak lansgung percaya begitu saja. “Haruskah … kita mencobanya? Ayah bilang, kekuatanmu akan hilang setelah hari ini. Dan kau … akan jadi manusia biasa sepertiku.” Rhea menatap tajam mata Rey yang juga melihatnya.
Dalam diam, Rey langsung menggendong tubuh istrinya dan berjalan masuk kedalam rumah yang berdiri kokoh di samping air terjun. Kaki jenjang Rey perlahan menaiki anak tangga satu persatu sambil terus melihat wajah cantik Rhea. Jantung kedua pasangan pengantin baru ini juga sama-sama berdetak kencang, lebih kencang dari suara gendang.
Rey membuka sebuah kamar utama berukuran lumayan besar dan megah, dengan dekorasi putih mendominasi seluruh sudut ruangannya. Bau semerbak bunga-bunga yang ada diruangan ini langsung tercium oleh Rey dan Rhea sehingga menambah kesan romantis mereka berdua. Rhea sangat takjub dengan ruangan ini. Sebab, dibalkon kamarnya langsng menghadap air terjun yang mengalir deras diluar.
“Tempatnya indah sekali, dan air terjun itu … wauw … luar biasa! Ayah benar-benar menyiapkan tempat seindah ini untuk kita.” Rhea tertawa riang dalam gendongan suaminya.
“Ehm, tapi sebagai gantinya … ia ingin cucu dari kita.” Rey juga tersenyum dan itu membuat Rhea kembali merasa gugup.
Perlahan, Rey meletakkan tubuh ramping Rhea di atas pembaringan bertabur bunga mawar merah diatasnya. Rey terus menatap manik mata hitam istrinya. “Aduh, kenapa jadi aku yang malu?” gumam Rey tertawa, tapi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kalau dia malu.
__ADS_1
“Kenapa ucapan dan perbuatanmu tidak sama? Kau tak terlihat kalau kau malu? Malah sebaliknya … kau … bergairah!” ujar Rhea. Wajahnya sudah sangat merah seperti tomat.
“Sudah kubilang, Sayang. Aku malu … tapi aku sengaja tak menunjukkannya padamu.”
Rhea tertawa mendengar ucapan suaminya. Entah kenapa ia jadi sedikit rileks karena Rey terus membuatnya tertawa dengan alasan yang tak sinkron dengan perbuatannya. Sebab, sejak tadi Rey sudah menindih tubuhnya hingga tak bisa bergerak. Bahkan kedua tangan suaminya itu juga mengunci tangan Rhea sehingga tak bisa digerakkan. Tidak ada sekat diantara keduanya, masa iya seperti ini dibilang malu? Apanya yang malu? Malu-maluin, iya.
Sepetinya, cara Rey untuk membuat Rhea agar tidak gugup telah berhasil. Kini, gadis itu sudah siap melaksankan tugasnya dan menyerahkan seluruh jiwa raganya hanya untuk suami tercintanya. Reaksi tubuh Rhea yang tak tegang lagi seperti tadi, membuat Rey tersenyum tipis. Perlahan ia mencium kening Rhea dengan lembut untuk memulai ritual malam pertama mereka.
“Kau siap, Sayang?” tanya Rey dengan suara yang menggoda.
“Tergantung seberapa besar malumu padaku sekarang,” sindir Rhea sambil tersenyum simpul.
“Aku sangat malu Sayang, saking malunya … aku bahkan sampai tak berani menatap wajah cantikmu itu.”
Mereka berdua kini saling menatap satu sama lain dengan perasaan cinta yang membara. Rey mulai menanggalkan pakainnya dan pakaian Rhea sehingga keduanya sama-sama tak memakai apapun bagai bayi yang baru saja lahir. Rhea memejamkan mata antara takut dan juga gugup. Namun, sekali lagi, Rey terus membuatnya tertawa dengan pernyataan konyolnya.
“Bagaimana ini Sayang, aku jadi semakin malu karena tidak pakai baju didepanmu,” ujar Rey sambil menahan senyum.
“Kalau begitu, pakai lagi bajumu supaya kau tidak malu lagi,” ucap Rhea karena lagi-lagi ia merasa tersindir.
“Ehm, bagaimana ya? Aku sudah melempar seluruh pakaian kita jauh disana? Aku juga sudah PW sekarang, jadi aku tidak bisa bangun dari posisi ini.”
__ADS_1
“PW? Apa itu PW?” tanya Rhea bingung.
“Beri aku satu ciuman dulu, baru aku beritahu,” ujar Rey sambil mengedipkan salah satu matanya.
“Kau sudah menciumku barusan,” ujar Rhea cemberut.
“Belum disini.” Rey memonyongkan mulutnya sehingga membuat Rhea lagi-lagi tertawa. Namun ia pun menuruti keinginan suaminya.
Dengan mesra, Rhea mencium lembut bibir merah Rey. Mengisapnya pelan dan Rey langsung membalas ciumannya. Akhirnya, ritual malam pertamapun dimulai, Rey terus memberikan sentuhan-sentuhan lembut yang membuat Rhea merasakan sensasi hasrat bercintanya yang selama ini, belum pernah ia rasakan sebelumnya. Rey benar-benar membutnya terbang diatas awan hingga tak terasa *******-******* kecil mulai menghiasi kamar pengantin Rey dan Rhea.
Begitu tiba giliran Rey memasukkan pedangnya, gadis itu hanya bisa merintih dan memeluk erat tubuh suaminya untuk menahan sakit yang luar biasa, tetapi terasa indah dan membuat Rhea bahagia karena kini, gadis itu merasa menjadi seorang istri yang sempurna untuk Rey. Air mata kebahagiaan itu keluar begitu saja dari mata indah Rhea dan Rey langsung menyapunya dengan ciuman lembutnya.
Hati dan jiwa Rey-Rhea, telah menjadi satu dalam ritual malam pertama mereka kali ini. Hentakan-hentakan lembut dari Rey membuat Rhea marasakan betapa indahnya surga dunia yang sedang mereka lakukan sebagai pasangan suami istri yang sah. Hampir 30 menit lamanya keduanya bergelut dalam indahnya cinta yang menyelimuti Rey dan Rhea dimalam pertama mereka. Sampai akhirnya, keduanya mengalami puncak birahi dan Rey berhasil mentrasfer benih cintanya untuk Rhea dan berharap buah cinta dari keduanya ini akan segera hadir menghiasi hari-hari indah dalam bahtera rumah tangga mereka yang baru saja dibangun.
Setelah selesai menunaikan malam pertama mereka, Rey terus berada diatas Rhea dan merebahkan kepalanya didada indah istrinya sambil menikmati detak jantung Rhea yang berdetak sangat kencang. Napas keduanya juga masih ngos-ngosan akibat aksi bercinta yang baru saja mereka berdua lakukan.
“Kau masih malu?” tanya Rhea lembut sambil mengusap rambut hitam legam Rey saat terbaring didadanya.
“Ehm, aku masih malu, tapi juga sangat bahagia. Ternyata rasanya seperti ini. Hari ini adalah hari yang paling membahagiakan dalam hidupku, Sayang. Karena kau … sudah menjadi milikku seutuhnya dan juga selamanya.” Rey mengangkat kepalanya dan menatap penuh cinta mata indah Rhea. “Terimakasih sudah memberikanku kebahagiaan tak terkira.” Rey mencium mesra kening istrinya dan itu membuat Rhea jadi semakin terharu saja.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***