
Kejadian naas yang menimpa pak Po, disaksikan Leo, Shena dan Fey yang langsung terbelalak tak percaya. Momen mengerikan itu begitu cepat terjadi sampai-sampai ketiga orang itu tak bisa mengeluarkan pita suara mereka seakan tertahan tanpa sebab. Bahkan untuk berteriakpun mereka tidak bisa saking shocknya melihat pak Po jatuh ke dalam jurang. Sekali lagi … pak Po jatuh ke dalam jurang menganga dengan posisi terlentang dan anehnya pemuda tampan itu malah tersenyum bahagia.
Dari mulut pak Po yang semakin terhempas jauh ke bawah, dapat dilihat kalau ia mengucapkan sepatah kalimat yang mengatakan “Inilah pilihan hidupku, terimakasih semuanya, sampai jumpa,” itulah kata-kata terakhir yang diucapkan pak Po sebelum ia benar-benar tenggelam jauh di dasar jurang.
Suasana mendadak hening dan hanya terdengar suara derai angin menghiasi area sekitar tempat langka ini. Beberapa detik kemudian, terdengar jeritan Fey yang memekikkan telinga sampai suaranya menggema di seluruh area pegunungan. Bahkan burung-burung yang ada di sekitar Fey cs berada, langsung beterbangan menjauh karena tak tahan mendengar suara lengkingan Fey yang berteriak kencang sambil berurai air mata.
“Pak Poooooo!” teriak Fey. Tubuhnya langsung terduduk lunglai begitu pula dengan Leo dan Shena.
Sekilas bayangan tentang pak Po, baik sebelum dan sesudah bertemu dengan makhluk astral pasukan dedemit suaminya terlintas dipikiran Fey begitu saja. Masih teringat jelas dibenak Fey, bagaimana ia bertemu pertama kali dengan pak Po melalui mimpinya. Saat itu, akan ada hal buruk menimpa Refald. Pak Po datang pertama kali dan bicara pada Fey dengan sikap sok narsisnya yang mengatakan kalau pak Po jauh lebih tampan dari Refald. Tentu saja, Fey tidak terima karena baginya, Refaldlah yang paling tampan. Kenangan itu, takkan pernah Fey lupakan seumur hidupnya.
Air mata Fey semakin deras mengalir kala mengingat perlakuan juteknya terhadap pak Po karena ia terpisah dengan Refald gara-gara mengubah takdir hidup pemuda yang kelewat polos itu. Sekelebat kebersamaan mereka terus saja terbayang dan semakin sedihlah Fey saat ini.
“Maaf pak Po … maafkan aku …” Tangisan Fey terdengar pilu membuat Shena yang ada di samping Fey juga ikutan menangis tersedu-sedu. Shena memeluk erat tubuh kakak iparnya tanpa tahu harus berkata apa.
Sementara Leo, hanya bisa mengepalkan kedua tangannya karena selama ia ada di dunia istana sentris yang penuh dengan mistis dan misteri ini, sama sekali membuat Leo tak berdaya. Lebih baik Leo melawan para penjahat kelas kakap dan berperang menggunakan senjata ketimbang harus terjebak ke dalam dunia fantasi yang sama sekali tak ia mengerti.
Ingin rasanya Leo berteriak sekencang-kencangnya untuk meluapkan seluruh amarahnya, tapi ia tak bisa melakukannya. Dua wanita yang sedang bersedih ini pasti akan menjadi lebih sedih bila Leo juga terlihat lemah.
__ADS_1
“Kakak, di mana kau? Kembalilah pada kami,” ujar Leo lirih sambil terus menundukkan kepalanya.
Air mata Leo terus jatuh mengalir merindukan kakak yang selalu ada untuknya. Namun sekarang, disaat semua orang yang dikasihi Refald sedang bersedih. Sosok raja dedemit itu tak kunjung datang juga.
“Pak Po … Refald,” isak Fey dalam dekapan Shena. “Kembalilah padaku! Kenapa kalian berdua pergi meninggalkanku? Kenapa kalian tega padaku?” teriak Fey masih sambil terus menangis. Ia memegangi dadanya yang serasa sesak.
“Kakak,” isak Shena juga. Ia tak tega melihat kondisi kakak iparnya.
Secara tidak langsung Shena juga bisa merasakan kepedihan Fey tapi ia tak bisa mengungkapkannya. Yang bisa Shena lakukan sekarang adalah memeluk erat tubuh lemah itu dan mencoba menguatkannya. Mereka berdua saling berpelukan dipinggir bibir jurang. Siapapun pasti akan merasakan kepediahan yang amat sangat kehilangan orang yang dikasihi melebihi nyawa kita sendiri. Seperti Fey saat ini. tak hanya kehilangan pasukan kepercayaan yang setia padanya, tetapi Ratu dedemit itu juga kehilangan suaminya yang sekarang tak tahu bagaimana rimbanya.
Jika dilihat dari apa yang sedang dirasakan Fey sekarang, sudah jelas kalau Refald dan orang yang baru saja jatuh ke jurang, memang telah pergi meninggalkan mereka. Entah berita kejadian benar atau tidak, Shena masih belum bisa memastikannya. Apa yang ia lihat di depan mata barusan, membuat Shena sulit membedakan manakah dunia nyata dan manakah yang hanya khayalan semata. Ia sangat sulit memercayai semua ini.
“Kakak, kuatkan dirimu. Ingalah kalau kakak sedang hamil. Jika kakak seperti ini, tidak baik untuk kondisi kakak yang sekarang. Kau harus kuat, Kak.” Shena mencoba menenangkan Fey meskipun ia sendiri tidak tahu harus bersikap bagaimana.
“Aku … tak bisa hiudp tanpa Refald, Shena. Untuk apa aku hidup bila suamiku tidak ada disisiku … katakan padaku kalau ini mimpi. Ini pasti cuma mimpi.” Fey terus sesenggukan saat mengatakan kalmat itu membuat Shena jadi semakin kencang menangis.
“Aku tahu, aku mengerti, tapi … aku rasa, kak Refald juga takkan suka bila kakak terus bersedih seperti ini. Kakak harus terus melanjutkan hidup, menjaga kesehatan kaka, hingga kakak melahirkan. Aku yakin … itulah yang kak Refald inginkan.” Shena terus berusaha membuat Fey menerima semua kenyataan pahit ini meskipun itu tidak mudah dilakukan.
__ADS_1
“Tidak Shena, aku tak tahu bagaimana caraku melanjutkan hidup tanpa Refaldku. Aku tak ingin berpisah darinya. Aku hanya ingin bersamanya. Biarkan aku pergi Shena, biarkan aku pergi menyusul suamiku.” Fey hendak berdiri tapi ia oleng lagi karena tubuhnay terllau lemah akibat ksediha yang begitu dalam mendera dihati dan jiwa Fey.
“Tidak, Kak. Aku tahu aku tak punya hak apapun untuk menentang keputusan kakak. Tapi … janin yang ada dalam kandunganmu berhak hidup, kau tak bisa membunuhnya bersamamu, dia sama sekali tidak bersalah. Aku … tidak akan menghalangi apapun keputusan yang kakak inginkan, tapi aku mohon … biarkan keponakanku hidup. Beri dia kesempatan untuk lahir kedunia ini, Kak. Aku mohon … setelah itu, aku tidak akan menghalangi keputusan kakak untuk menyusul kepergian kakak ipar.” Shena menangis sekencang-kencangnya sambil berlutut dihadapan Fey agar istri Refald itu tak jadi pergi emnyusl Refald sekarang.
Fey tertegun melihat ketulusan hati Shena. Ia kembali menangis dan memeluk adik iparnya yang begitu peduli padanya. “Maafkan aku Shena. Aku … sudah sangat egois, aku terlalu mencintai suamiku melebihi apapun. Sampai-sampai aku tak peduli padamu ataupun pada Leo dan semua orang yang mencintaiku. Padahal Refald sudah mengingatkanku sebelumnya, tapi aku tak mendengarkannya. Maafkan aku Shena,” isak Fey semakin mengeratkan pelukan Shena.
“Tidak apa-apa, Kak. Kau tidak perlu minta maaf. Jangan menangis lagi, aku yakin kak Refald tidak suka melihat kakak seperti ini.” Shena melepas pelukan Fey dan membantu mengusap air mata Fey yang terus menangis membasahi wajah cantiknya.
“Itu benar Honey, aku tidak suka kau menangis,” ujar seseorang.
Fey tersenyum, tapi air matanya masih mengalir. “Kau dengar itu, Shena? Aku bahkan mendengar suara suamiku ada disekitar sini? Bagaimana aku bisa hidup jika bayang-bayang dirinya selalu ada dipikiranku tanpa bisa kuraih? Apa yang harus aku lakukan, Shena?” tanya Fey kembali menangis karena mengira ia mendengar suara Refald. Sedangkan yang ditanya langsung terbujur kaku menatap sesuatu.
BERSAMBUNG
***
Eh tisunya udah siap kan? hehehe ...
__ADS_1
Dilarang nangis kalau belum siap tisu, wkwkwkwkwk ...
Hayooo siapa yang udah nangis? Sini aku peluk, kayak Shena meluk Fey. hehehe ...