Menikahi Seorang Putra Raja

Menikahi Seorang Putra Raja
episode 158 Flashback 1


__ADS_3

Kembali ke masa saat Rey-Rhea, pak Po dan Divani melawan Yeon-Bima yang dalam kendali iblis jahat. Mereka berempat tak bisa melukai kedua putra Leo sehingga pertarungan mereka tidak seimbang karena baik pak Po ataupun Rey tak bisa bertarung maksimal. Mereka lebih memilih bertahan ketimbang melawan. Akibatnya, Bima dan Yeon jauh lebih unggul ketimbang ayah dan menantu itu.


Berbagai macam cara sudah Rey dan pak Po lakukan untuk menyadarkan kedua putra Leo. Namun, mereka berdua selalu saja gagal. Setiap kali Yeon kalah, Rey selalu saja menghentikan aksinya yang hendak memukul wajah adiknya sendiri meskipun putra sulung Leo itu sedang kerasukan. Alhasil, kelemahan Rey itu digunakan Yeon membalikkan keadaan dengan menendang kakaknya ke balakang dan mereka berdua kembali berkelahi.


“Yeon! Sadarlah! Kau dengar aku?” teriak Rey sambil menahan kedua tangan Yeon dengan tangannya.


Dua lelaki perkasa itu saling beradu kekuatan masing-masing. Namun, jangankan bisa mendengar suara Rey, mata Yeon semakin menyala merah terang. Yeon terlihat semakin marah dan terus mendorong tubuh Rey hingga suami Rhea itu terhuyung kebelakang.


Sadar suaminya sedang dalam bahaya, Rhea pun mencoba memukul tengkuk Yeon dari belakang dengan sebalok kayu sehingga adik iparnya jatuh terhuyung. Setelah itu, Rhea menyeret suaminya pergi menjauh dari Yeon. Mereka tidak bisa terus menerus bertarung secara langsung seperti tadi, Rhea sangat tahu, Rey tak mungkin bisa memukul adiknya sendiri karena suaminya itu sangat menyayangi adik-adiknya. Sebab itulah pertempuran ini sangat sulit dimenangkan pihak Rey cs.


“Kau memukul Yeon, Sayang.” Rey terkejut Rhea berani memukul adik iparnya sendiri.


“Yeon anak yang sangat kuat. Satu pukulan saja takkan membuatnya sekarat,” ujar Rhea sambil terus bersikap waspada menatap gerak gerik Yeon yang terdiam akibat pukulannya. Tiba-tiba saja tubuh Rhea serasa lemah dan ia mengeluarkan banyak sekali keringat dingin.


“Kau tidak apa-apa, Sayang?” tanya Rey penuh perhatian. Ia merangkul bahu istrinya dan membantu mengusap keringat Rhea. “Sepertinya kau lelah. Istirahatlah sebentar. Biar aku saja yang melawan Yeon.” Rey mendudukkan Rhea didekatnya. “Kita pasti bisa mengatasi semua ini, percayalah padaku.” Rey mencoba tersenyum manis pada istrinya lalu berdiri menatap Yeon yang juga menatapnya.


Saat ini, kondisi Rhea dan Divani mulai lemah karena mereka kelelahan menghadapi pertarungan sengit itu. Pak Po masih bisa bertahan melawan Bima begitu pula sengan Rey yang berusaha keras menghadapi kekuatan Yeon tanpa melukainya. Hanya saja, mereka tidak bisa terus menerus hanya betahan saja, mereka harus melakukan sesuatu untuk mengakhiri perang ini secepat mungkin.


“Ayah, bagaimana ini? Kita tak bisa begini terus?” tanya Rey pada pak Po yang berdiri di sampingnya sambil menatap lurus Bima.


“Saya juga tidak tahu Pangeran. Tapi saya ada solusi jitu jika kita ingin menang dari pertarungan ini,” ujar pak sok serius. Rey pun terlihat senang karena mertuanya ternyata bisa diandalkan.

__ADS_1


“Apa solusinya, Ayah?” tanya Rey tidak sabar. “Kita harus segera mengakhiri pertarungan ini.”


“Kita bunuh saja mereka berdua dan minta tuan muda Leo bikin anak lagi yang seperti mereka,” jawab pak Po asal bicara dan seketika ia mendapat lemparan balok kayu dari Divani. “Apa ini?” teriak pak Po yang merasakan sedikit sakit dikepalanya akibat lemparan istrinya.


Berada di medan magnet tanpa kekuatan demitnya, membuat pak Po berasa seperti menjadi manusia biasa seperti manusia pada umumnya. Jika terkena pukulan dari benda apapun, ternyata sakit juga.


“Bicara apa kau, ha? Jika sampai raja dan ratu tahu kau hendak membunuh keponakan mereka, maka kau bisa dipanggang habis diatas bara api yang membara! Dasar kau!” geram Divani kesal. Ia heran, bagaimana cara menghilangkan bloonnya pak Po agat tak bikin darah tinggi.


“Di, kau tak perlu melempariku kayu seperti itu, sakit Di …,” rengek pak Po. “Aku bukan demit lagi sekarang, pukulanmu menyakiti kepalaku. Untung bukan hatiku yang kau sakiti.” Entah kerasukan setan apa, bisa-bisanya pak Po bicara sok puitis pada istrinya disaat seperti ini.


“Jangan asal bicara lagi! Cepat cari solusi yang benar, jangan seenak jidatmu saja, kau!” bentak Divani marah. Ia sangat kesal sekali dengan pak Po yang suka asal bicara bahka disaat gentig begini.


“Diam kau, Ezi! Berani buka suara lagi, akan kusumpal mulutmu pakai balok kayu ini! Kau pikir hamil dan melahirkan itu gampang apa? Kau belum pernah merasakan bagaimana rasanya melahirkan, makanya kau berani berkata begitu!” sengal Divani lebih marah pada pak Po.


“Seandainya aku bisa, aku juga ingin hamil dan melahirkan sepertimu Di, dengan begitu … aku bisa memberikan adik yang lucu-lucu untuk Rhea.” semakin lama, pak Po semakin membuat dongkol Divani. Sedangkan Rey dan Rhea hanya bisa menganga melihat pertengkaran nggak jelas suami istri itu.


Rupanya perdebatan antara Divani dan pak Po menjadi peluang besar bagi Bima dan Yeon untuk mengalahkan Rey cs selagi mereka lengah dan tidak fokus lagi seperti sebelumnya. Tanpa ragu, kedua putra Leo dan Shena itu langsung menyerang pak Po dan Rey dengan cepat tanpa aba-aba terlebih dulu.


“Ayah! Awas!” teriak Rhea mengetahui gerak-gerik Bima yang langsung mencekik leher pak Po kuat-kuat, sedangkan Yeon melakukan hal sama kepada Rey, sebab pada saat itu, kakaknya juga lengah.


Divani bergerak cepat berlari ke arah pak Po. Suaminya itu sedang terpojok dan tak bisa berbuat apa-apa. Ibu mertua Rey berusaha melepas tangan Bima yang mencengkeram erat leher suaminya. Sayangnya cengkeraman itu begitu kuat sehingga Divani semakin lemas karena kehilangan banyak tenaga.

__ADS_1


Tangan Bima yang masih bebas, berhasil menghempaskan tubuh Divani dengan kuat sehingga tubuh wanita itu terlempar jauh kebelakang dan langsung membentur batang pohon besar. Seketika, Divani pingsan akibat benturan keras itu.


“Ibu! Ayah! Rey!” teriak Rhea terkejut melihat kondisi ayah, suami, dan ibunya. Ia bingung manakah yang akan ia selamatkan lebih dulu, ketiga-tiganya sedang dalam kondisi terdesak.


“Ayo, berpikirlah Rhea. Kau harus bisa menyelamatkan mereka semua. Berpikirlah, ayo cepat berpikir!” gumam Rhea pada dirinya sendiri. Ia hampir meloncat-loncat saking paniknya. Rhea mencoba berkosentrasi dengan memejamkan kedua matanya berharap bisa mendapatkan jalan keluar secepatnya.


Begitu Rhea membuka mata, ia langsung berlari kencang menghampiri suaminya dan mencengkeram kuat tangan Yeon. Mata adik iparnya itu benar-benar menakutkan karena tampak seperti iblis jahat.


“Yeon … Yuna …” ujar Rhea sambil menatap tajam mata Yeon. Kedua tangan Rhea berusaha keras melonggarkan cekalannya pada leher suaminya. “Yuna … Yuna … Yuna …” Rhea terus menyebut nama tunangan Yeon dengan lantang tanpa memedulikan Rey yang sedang kesulitan bernapas akibat cekikan adiknya.


Diluar dugaan, usaha Rhea menggunakan nama Yuna untuk meluluhkan Yeon membuahkan hasil. Kilatan mata Yeon yang tadinya menyala merah terang, semakin memudar dan genggaman tangannya di leher Rey juga perlahan-lahan melonggar. Kesempatan emas itu, Rhea gunakan untuk menjauhkan Rey dari Yeon dengan cepat selagi Yeon melemah.


Di detik yang sama, entah mengapa … tiba-tiba saja, pak Po yang juga sedang dicekik kuat oleh Bima mendadak menghilang tanpa jejak dalam sekejap mata. Hal itu membuat Rey dan Rhea tersentak kaget melihat sosok pak Po sudah tidak ada lagi di dalam medan magnet ini. Sekali lagi, pak Po rain dari dalam medan magnet ini. Hilang ... pak Po benar-benar hilang.


Tak ada yang tahu kemana perginya pak Po dan bagaimana pasukan dedemit Refald itu bisa menghilang dari sini. Kejadiannya begitu cepat terjadi sehingga membingungkan semua orang termasuk Irene yang langsung shock dengan keanehan yang baru saja ia lihat.


BERSAMBUNG


***


Sebentar lagi penjelasan tentang bagaimana dua dedemit pak Po dan Arka bisa ada di tempat Refald. Siap-siap masuk ke dunia fantasiku ya …. Love you all

__ADS_1


__ADS_2