Menikahi Seorang Putra Raja

Menikahi Seorang Putra Raja
episode 147 Yeon dan Bima


__ADS_3

Pembicaraan Refald dan bibi Fey yang sekarang masih menjadi putri Candra Kirana terpaksa terjeda karena kehadiran Leo yang bikin heboh suasana. Adik Refald itu muncul dari balik semak-semak bersama Shena dan berteriak kencang begitu melihat orang aneh yang berdiri dihadapan Refald dan Fey.


"Astaga! Bagaimana bisa ... Dumbledore ada di sini?" teriaknya mengagetkan semua orang termasuk Shena sendiri.


Suami Shena itu terkejut melihat sosok berjubah putih dan berambut serupa dengan jubahnya terurai panjang hampir menyentuh tanah. Kalau dilihat-lihat, sosok putih itu memang mirip sekali dengan penyihir terkuat Hogwarts. Bedanya, sosok putih tersebut bukan berjenis kelamin pria, melainkan wanita.


"Siapa yang kau sebut Dumbledore, ha? Jangan seenaknya saja menyebut nama orang! Cepat kemari dan beri hormat pada Biku." Refald terlihat kesal karena Leo sembarangan bicara.


"Biku?" tanya Leo bingung.


"Beliau adalah Biku Gandasari, seorang pertapa sakti sekaligus bibi kandung dari kakak iparmu. Kalau kau bicara macam-macam lagi, aku pastikan kau bakal berubah jadi siamang!" ancam Refald terlihat serius dan tidak main-main.


"Hah?" seru Leo dan Shena bersamaan keduanya saling pandang dan langsung memelototi orang yang dimaksud Refald.


"Cepat minta maaf padanya! Kau ini, tidak sopan sekali pada orangtua. Bisa-bisanya kau samakan Biku dengan Dumbledore, heh?" Shena memarahi suaminya.


"Mana aku tahu kalau dia bibi Kakak ipar, Sayang? Lihat saja penampilannya? Mirip Dumbledore, kan?" Bisa-bisanya Leo mencoba membela dirinya.


"Diam kau! Cepat minta maaf sana! Atau ucapan kak Refald tadi bakal jadi kenyataan!" sengal Shena dan keduanya bersimpuh dihadapan Biku sambil mengatupkan kedua tangan mereka.


"Maafkan kami Biku," ujar Leo dan Shena bersamaan.


"Maafkan kesalahan adikku, Biku. Dia memang agak-agak bengal," ujar Refald membantu Shena dan Leo. "Dia adalah Leo, dan wanita yang ada disampingnya adalah istrinya, Shena." Refald memperkenalkan Leo dan Shena pada Biku.


"Tidak masalah Yang Mulia. Adik anda memiliki jiwa kesatria yang tinggi. Di dunia ini, tak ada seorangpun yang memiliki keberanian seperti adik anda. Anda beruntung yang mulia, anda memiliki bagian keluarga tangguh seperti dia." Biku itu menatap lekat-lekat wajah Leo dan Shena bergantian sambil tersenyum penuh makna. "Kita lupakan saja kejadian ini, dan saya harus segera kembali untuk menyiapkan ritual yang akan anda lakukan dua hari lagi. Untuk sementara, kalian berempat tinggallah di goa tempat saya bertapa. Mari ... ikutlah dengan saya." Biku Gandasari berjalan lebih dulu dan menunjukkan jalan pada Refald dkk.


Leo dan Shena sangat bingung dengan maksud dari pembicaraan Biku tadi. "Ritual? Ritual apaan?" Tanya Leo penasaran.

__ADS_1


"Ritual yang akan membawa kita segera kembali ke dunia kita." Refald dengan sabar menjelaskan apa yang akan terjadi setelah ini.


Intinya, setelah malam bulan purnama dan Refald menyelesaikan ritualnya, mereka semua akan kembali ke dunia mereka dan menyelamatkan semua keluarganya termasuk Rey dan Rhea. Walau Refald masih belum tahu seperti apa prosesnya, ia yakin kalau mereka semua yang ada di dunia ini, pasti bisa kembali dengan selamat dan membuat perhitungan pada orang yang sudah menyebabkan ia dan yang lainnya terjebak di zaman ini.


***


Malam semakin larut, Leo dan Shena tertidur lelap sambil saling berpelukan mesra. Sementara Fey sendiri tak bisa tidur karena banyak hal yang ia pikirkan. Ia juga tak melihat bibinya lagi setelah mengantarnya masuk ke dalam goa ini. Mungkin saja, bibinya pergi untuk mengurus suatu keperluan. Sedangkan Refald, ia hanya duduk diam di depan api unggun yang ia buat sendiri agar ruangan yang ada di dalam goa terasa hangat.


"Apa yang kau pikirkan, Honey? Kenapa kau tak tidur? Kau harus jaga kesehatanmu dan juga buah hati kedua kita." Refald tersenyum menatap Fey yang langsung menatapnya. "Kau mau aku peluk seperti Leo yang memeluk Shena?"


"Tidak terima kasih," tolak Fey. "Aku tak bisa tidur karena ada yang aku pikirkan, kenapa aku tak ingat apapun tentangmu, meskipun aku ... merasa sangat mencintaimu? Bagaimana bisa aku ... ah, entahlah ... aku tak tahu harus berkata apalagi. Ini sungguh tidak masuk akal bagiku."


"Aku juga tak bisa menjelaskannya Honey. Mungkin, dengan ritual yang akan aku jalani nanti, bisa menjelaskan semua yang ingin kau ketahui." Refald bangun dan duduk disamping istrinya. "Kita harus segera kembali ke dunia nyata, sebab anak dan menantu kita serta putra-putra Leo dan Shena sedang dalam bahaya. Aku harap mereka semua bisa bertahan sampai kita datang." Mata Refald menatap langit-langit yang sedang cerah dan dipenuhi kelip indahnya bintang-bintang.


Rey, Rhea, Yeon, Bima ... kalian semua harus bertahan sampai kami tiba, batin Refald.


***


Beralih kekehidupan nyata dimana orang-orang yang disebutkan Refald tengah berada. Mata Rey dan Rhea terus manatap tajam Irene yang terlihat sangat tenang meskipun Rey-Rhea dan Pak Po-Divani sudah berhasil mengalahkan seluruh anak buahnya. Bahkan, senyum mengejek malah terlihat jelas diwajah nenek sihir itu.


"Heh, Mak Lampir!" seru pak Po disela-sela suasana tegang, terjadi diantara mereka semua yang ada dalam medan magnet ini.


"Siapa yang kau panggil Mak Lampir, ha?" Bentak Irene tak terima dirinya dikatain 'mak lampir' oleh seorang dedemit pula. Sungguh ia jadi merasa kehilangan harga diri.


"Kaulah! Satu-satunya Mak lampir yang ada di dunia ini itu hanyalah kau seorang! Kau pikir dengan tersenyum seperti itu menantuku akan terpesona padamu? Huh, aku saja ingin muntah, apalagi dia!" ejek pak Po ceplas-ceplos.


"Heh setan! Mulutmu itu tak pernah disekolahkan apa? Bisa-bisanya kau bicara seenak jidatmu padaku?" sengal Irene penuh emosi.

__ADS_1


"Memangnya ada sekolah mulut? Dimana itu? Kenapa raja tidak memberitahuku kalau ternyata mulut itu ada sekolahnya?" Mata pak Po menatap wajah Divani, Rey dan Rhea, tapi ketiganya sok cuek saja pada tatapan mata pak Po. Mereka bertiga lebih fokus pada apa yang akan dilakukan Irene selanjutnya setelah mereka semua berhasil mengalahkan pasukannya.


"Dasar boodoh!" Ejek Irene. "Ah ...karena kau menyinggung raja dedemit, aku punya kabar baik untuk kalian, eh salah ding ... bukan kabar baik kalau untuk kalian, melainkan kabar buruk."


"Jangan bertele-tele ... apa yang ingin kau katakan sebenarnya?" Sengal Rey dengan lantang. Matanya menatap marah pada Irene tapi ia tak pernah sekalipun melepas genggaman tangannya dari Rhea.


"Kau mungkin takkan pernah bisa bertemu dengan Ayah dan paman kesayanganmu lagi untuk selamanya karena mereka telah tersedot ke alam lain. Mereka sudah tak bisa kembali kedunia ini lagi. Hahaha ... itulah kabar baik yang bisa kuberitahukan pada kalian semua."


"Itu tidak mungkin," bentak Rhea.


"Raja akan kembali, aku yakin itu ..." Ujar pak Po tenang.


Sebab, ia tahu raja dedemitnya takkan mudah dikalahkan begitu saja. Jika hingga detik ini Refald masih belum muncul juga, mungkin karena sang raja sedang sibuk mengurus sesuatu entah apa itu.


"Kalau kalian tidak percaya, kenapa Samapi detik ini ... doa tak datang kemari menyelamatkan kalian? Itu sudah membuktikan bahwa apa yang aku ucapkan itu benar."


"Kurang ajar kau!" teriak Rey mulai kalap. Tanpa pikir panjang lagi, ia berlari ke arah Irene dan hendak menghajar Irene habis-habisan. "Tanpa pasukanmu, kau tak bisa apa-apa!" Erang Rey dengan lantang sambil berlari dan hendak mencekik leher Irene yang tetap berdiri tegak dan tak bergeming dari tempatnya.


"Huh, siapa bilang?" gumam Irene sambil tertawa.


Tiba-tiba saja tangan Rey yang hendak meraih leher si nenek sihir itu ditepis kuat oleh seseorang dan diserang dari arah lain sehingga Rey jatuh terguling-guling di tanah Akibat ulu hatinya ditendang dadakan.


Rey hendak membalas serangan itu, tapi matanya tertegun melihat siapa orang-orang yang menyerangnya. "Tidak mungkin! Yeon! Bima! Apa yang kalian lakukan?" seri Rey . Matanya melotot menatap dua adiknya yang berdiri tegap dihadapan Irene seolah mereka berdua sengaja melindunginya.


BERSAMBUNG


***

__ADS_1


__ADS_2