Menikahi Seorang Putra Raja

Menikahi Seorang Putra Raja
episode 155 Jatuh


__ADS_3

Karena tak juga mendapat jawaban dari pertanyaan yang Leo ajukan, iapun memutuskan mengikuti langkah pak Po dari belakang. Tangan Leo tak pernah lepas dari genggaman tangan Shena yang sejak tadi, istrinya itu masih shock berat dengan situasi yang membingungkan ini. Sampai-sampai Shena tidak tahu lagi, apa yang harus ia katakan.


Ketiganya berjalan cepat menaiki bukit dan semakin lama, pak Po semakin mempercepat langkah kakinya seolah ia sedang buru-buru. Bahkan begitu mendekati puncak bukit, pak Po alias Ezi langsung berlari dan kadang kala melompati batu serta pepohonan yang menghadang jalan didepannya.


“Mau dibawa kemana kita?” tanya Shena. Suara biola yang dimainkan Fey, semakin lama semakin terdengar dekat dengan keberadaan Shena dan Leo saat ini.


“Sepertinya, menuju ke atas bukit. Bertahanlah Sayang. Sebentar lagi kita sampai, apa kau mau kugendong?” tanya Leo menatap wajah merah padam Shena karena kelelahan menaiki bukit yang lumayan tinggi juga.


“Tidak usah,” jawab Shena sambil tersengal-sengal. “Aku … masih kuat jalan sendiri. Aku … hanya tidak bisa mengerti, Bagimana caranya kakak ipar … yang dalam keadaan hamil muda, bisa sampai ke atas bukit ini … dan kenapa … ia memilih memainkan biolanya … di tempat ekstrim seperti ini?” tanya Shena terbata-bata sambil mencoba mengatur napasnya kembali.


“Entahlah, apapun alasannya, pasti berhubungan dengan apa yang tengah terjadi pada kakakku dan kakak ipar,” tebak Leo. “Sudah, jangan bicara lagi, Sayang. Kau bisa kehabisan napas tanpa kucium.” Leo tersenyum melihat Shena yang langsung meliriknya dengan lirikan menakutkan.


Bisa-bisanya Leo mengajaknya bercanda di saat genting seperti ini. Kalau saja ia tak buru-buru ingin mengetahui keadaan Fey secepatnya, ia pasti sudah memarahi Leo habis-habisan gara-gara ucapannya barusan.


Mata suami Shena itu, tak pernah lepas dari sosok pak Po yang terus saja berlari agar lekas sampai di atas bukit. Ia sangat heran apa yang terjadi pada pak Po dan bagaiamana ia bisa tahu kalau Fey ada di atas bukit ini?


Tak berselang lama kemudian, Leo dan Shena tiba dihamparan padang ilalang yang begitu luas dan menakjubkan. Pemandangan yang asri diselimuti kabut tipis, semakin menambah indah panorama alam yang disuguhkan di atas bukit ini. Rasa lelah yang tadinya menyerang, kini langsung hilang lenyap karena terbayarkan oleh betapa indahnya fenomena alam yang begitu luar biasa memukau mata.

__ADS_1


500 m dari tempat Shena berdiri, terdapat jurang menganga lebar dimana di depan jurang tersebut, ada seorang wanita bediri tegak disana dan sedang bermain biola. Dihadapannya, benar-benar ada sebuah gunung besar yang dikelilingi dengan bukit-bukit terjal lain di sisi kanan dan kirinya.


Kalau dilihat-lihat, deretan gunung dan perbukitan ini mirip seperti pegunungan alpen yang membentang luas di wilayah benua Eropa. Hanya beda tempat dan ukuran saja serta kondisi alamnya. Tidak ada salju di sini, tapi hawanya juga benar-benar sangat dingin hingga menusuk-nusuk tulang dan kaki.


Dengan kata lain, tempat Shena dan Leo berpijak ini, diapit oleh satu gunung yang menjulang tinggi di atas langit serta dikelilingi oleh bukit-bukit indah lainnya. Pemandangan alam di sini benar-benar spektakuler sehingga kata cantik, molek, indah, megah mengagumkan dan menakjubkan, tidak akan cukup untuk mendeskripsikannya dengan kata-kata.


“Wuah indah sekali,” gumam Shena tergakum-kagum, tapi rasa takjubnya langsung berubah cemas ketika melihat pak Po berlari kencang menuju ke tempat wanita yang tak lain adalah Fey. Kakak ipar Shena itu sedeng bermain biola dan berjalan mendekat ke bibir jurang. “Tidak! Kakak! Berhenti! Jangan berjalan lagi!” teriak Shena menggelegar tapi orang yang diteriaki tidak mau dengar.


Sekali lagi, Leo dan Shena membelalakkan mata berharap bahwa apa yang mereka lihat ini salah. Tapi ternyata, Fey benar-benar berjalan semakin dekat ke arah jurang dengan sengaja sambil terus memainkan biolanya.


“Tidak! Kakak! Kau tak boleh melakukan itu!” teriak Leo sambil berlari menerobos rimbunan padang ilalang yang berukuran setengah badan orang dewasa.


Shena tak bisa tinggal diam dan berdiri saja. Iapun ikut berlari sambil berlinang air mata menyadari aksi nekat kakak iparnya.


“Kakak!” Shena ikutan berteriak.


Kini Shena mengerti maksud dari ucapan pak Po. Fey melakukan apa yang diminta Refald memainkan biolanya sebagai pembuka pintu gerbang dimensi waktu yang menghubungkan dunia ini dengan dunia nyata tempat mereka semua berasal. Namun terlepas dari itu, Refald yang terjebak di dasar gunung, tak bisa ikut kembali bersama dengan Leo dan Shena.

__ADS_1


Untuk itulah, begitu Fey berhasil membuka gerbang dimensi tersebut, ia berniat menerjunkan diri ke dasar jurang agar bisa berkumpul bersama dengan suami tercintanya. Artinya, Fey akan mengakhiri hidupnya untuk selama-lamanya dan tentu saja, pak Po yang mengetahui niat tersembunyi Fey, takkan pernah membiarkan hal itu terjadi.


Selangkah lagi, Fey bakal jatuh ke dasar jurang. Namun, ia berhenti berjalan karena permainan biolanya belum selesai. Tekad istri Refald itu sudah bulat dan begitu irama terakhir selesai dimainkan, maka tanpa ragu dan pikir panjang lagi, Fey akan terjun ke dasar jurang ini agar ia bisa segera bertemu dengan Refald.


“Kakak, aku mohon! Jangan lakukan itu!” teriak Shena terus berlari dan berlari, napasnya sudah tersengal-sengal tapi ia tak peduli. Sebisa mungkin ia menyusul suaminya dan pak Po yang berlari sekencang-kencangnya untuk mencegah segala kemungkinan terburuk terjadi.


Akhirnya, irama lagu dari permaian biola Fey telah selesai. Fey berhenti menggesek dan menatap lurus jurang menganga lebar dihadapannya.


“Refald … aku datang … kita berdua … takkan pernah bisa terpisahkan lagi untuk selamanya.” Fey memejamkan matanya sambil merentangkan kedua tangan, ia sudah siap terjun bebas ke dalam jurang.


Namun tepat disaat menegangkan itu, sebuah tangan terulur dan langsung menarik tubuh Fey kuat-kuat lalu mendorongnya hingga berputar 180 derajat dari sudut tempat asal Fey hendak terjatuh. Tubuh istri Refald itu kembali menjauh dari bibir jurang akibat tarikan kuat dari tangan yang tak lain adalah tangan pak Po. Saking kuatnya tarikan itu, tubuh Fey terhempas bebas menjauh dari bibir jurang dan hampir saja jatuh ke tanah kalau saja Leo dan Shena tak segera menangkap Fey dengan kedua tangan mereka.


Sebagai gantinya, pak Po yang kehilangan keseimbangan akibat tarikan tubuhnya yang terlalu kuat saat menarik Fey, jadi oleng karena tak bisa menahan dashyatnya kekuatan gravitasi bumi. Dan malangnya, pak Po sendirilah yang jatuh terjun bebas ke dasar jurang yang entah berapa jauh kedalamannya.


BERSAMBUNG


***

__ADS_1


__ADS_2