Menikahi Seorang Putra Raja

Menikahi Seorang Putra Raja
episode 40 Maaf


__ADS_3

Tanpa menunggu waktu lama, Rey menggendong tubuh Rhea masuk ke dalam kamar dan meletakkannya diatas tempat tidurnya. Rey membelai lembut wajah cantik Rhea yang tampak letih. Melihat hal itu, Rey tidak tega tapi juga tak bisa berbuat apa-apa untuk meringankan beban berat yang sedang dihadapi kekasihnya saat ini. Terlalu banyak hal yang terjadi pada Rhea dan ia baru bisa muncul sekarang.


"Maafkan aku, Sayang. Harusnya, aku datang lebih awal. Seandainya waktu bisa kuputar kembali, maka hal pertama yang ingin aku lakukan adalah menjalani hidupku hanya bersamamu. Takkan kubiarkan siapapun menyakitimu, aku ... hanya akan memberikan kebahagiaan yang tak pernah kau bayangkan." Rey mencium kening Rhea dan ikut tidur disampingnya sambil memeluk erat Rhea.


Namun, belum juga setengah jam Rhea tertidur, tiba-tiba saja, gadis itu mengigau dan tak sengaja membangunkan Rey.


"Tidak, Kakak ... jangan lakukan itu ... aku mohon!" pekik Rhea dengan mata masih terpejam. Namun keringat dingin mengalir deras disekujur tubuhnya. "Kakak!" teriak Rhea dan iapun langsung terbangun.


"Sayang, kau tidak apa-apa?" tanya Rey saat melihat Rhea ketakutan dan napasnya terengah-engah. Secepat kilat, Rey berlari keluar dan mengambilkan segelas air untuk Rhea agar istri ghaibnya ini kembali tenang. "Minumlah ini, Sayang." Rey membantu meminumkan dengan pelan begitu ia kembali ke kamar.


"Rey, antar aku ke danau sekarang juga! Cepat!" Pinta Rhea panik.


"Ada apa? Kau baru tertidur 15 menit. Istirahatlah sebentar lagi."


"Ini bukan soal latihan, aku merasakan firasat buruk, cepat antar aku kesana!" desak Rhea.


"Baiklah, ayo!" Akhirnya Rey mengalah dan ia pun langsung menggendong tubuh Rhea lalu mengilang menuju tempat yang diinginkan Rhea.


Sesampainya di tepi danau, firasat buruk yang Rhea rasakan ternyata benar terjadi. Tepat di depan matanya, Rara berjalan masuk ke dalam danau dan sudah hampir tenggelam. Rhea melompat turun dari gendongan Rey dan belari kencang masuk ke dalam air untuk menyelamatkan Rara.


Syukurlah Rhea datang tepat waktu dan masih bisa meraih tangan Rara lalu menariknya ke permukaan. Rhea membawa tubuh lemah Rara ketepian dan langsung memberikan bantuan pernapasan dengan menekan kuat dada Rara agar air yang tak sengaja terminum juga ikutan keluar.


"Uhuk ... uhuk." Rara terbatuk dan mulai sadarkan diri.

__ADS_1


"Apa yang kakak lakukan, ha?" bentak Rhea langsung.


"Bukan urusanmu! Pergi kau dari hadapanku. Aku mau mati atau tidak itu tidak ada hubungannya denganmu. Kau bukan keluargaku. Pergi!" Bukannya berterimakasih karena Rhea telah menyelamatkannya, Rara malah mengusir Rhea.


"Kakak?"


"Aku bukan kakakmu!" bentak Rara. "Jangan pernah panggil aku kakak! Pergi dan jangan pernah muncul lagi dihadapanku!" Rara terus saja mengusir Rhea.


Namun, Rhea tetap tidak mau pergi dari sini. Ia sungguh mengkhawatirkan keadaan kakaknya.


"Aku tidak akan pergi sebelum kau berjanji tidak akan melakukan hal bodoh ini lagi." Rhea menatap tajam mata Rara yang terlihat seperti orang yang kehilangan arah.


Tidak ada sahutan, Rara terdiam. Sepertinya, ia sangat lemah dan tidak punya tenaga lagi. Wanita itu menangis dalam diam dan ini pertama kalinya Rhea melihat kakaknya hancur sehancur-hancurnya seperti ini.


"Lalu, kau ingin aku bagaimana? Tidak ada yang menginginkan bayi ini. Bahkan ayahnya sendiri tidak mau mengakuinya?" Rara masih menangis. Ia sudah putus asa.


"Aku tahu ini memang sulit, tapi bagaimanapun juga, kau adalah ibunya. Sebagai seorang ibu, apa kau tega membunuh anakmu sendiri?" Air mata Rhea mengalir karena ia juga jadi teringat ibunya sendiri. "Sebenci apapun Kakak pada janin itu, darahmu tetap mengalir di dalam tubuhnya. Seiring dengan bertumbuhnya janin itu, perasaanmu juga bisa ia rasakan. Sebagian dirimu, ada dalam dirinya. Pikirkan baik-baik, Kak. Kau boleh menghukum dan menghancurkan dirimu sendiri, tapi jangan hukum dan hancurkan janin yang suci dan bersih itu. Dia tidak tahu apapun dan tidak salah apa-apa."


Rara menangis, begitu juga dengan Rhea. Baru kali ini, hati Rara tergerak dan jadi trenyuh. Ia mulai mengingat kembali perlakuan-perlakuan buruknya yang selama ini sudah ia lakukan. Mendadak, dadanya serasa sesak dan sakitnya menusuk-nusuk sampai ke dalam tulang-tulangnya.


"Anak ini, tidak akan pernah hidup bahagia Rhea," ujar Rara disela tangisannya. "Seumur hidup, ia akan menanggung dosa atas semua kesalahan yang aku buat. Jika dia tetap hidup, maka ia hanya akan hidup menderita. Tidak ada gunanya dia hidup jika seperti itu?"


"Tidak akan ada yang tahu seperti apa takdir setiap orang, Kakak. Namun, jika kau merenggut hak hidupnya, bukankah itu tidak adil untuknya? Setiap manusia yang hidup di dunia ini, pasti merasakan pahit manisnya kehidupan. Dan juga, tak selamanya orang akan hidup menderita, ada kalanya suatu saat pasti bisa bahagia. Roda terus berputar, begitu pula dengan roda kehidupan manusia. Jangan khawatirkan apapun, aku akan membantumu setiap kali kau mengalami kesulitan. Aku janji, jika anak ini lahir nanti, aku akan membantumu merawat dan membesarkannya. Karena bagaimanapun juga, dia adalah keponakanku." Rhea menggenggam tangan Rara. Air matanya terus membasahi pipi lembutnya. Sedangkan Rey, hanya diam menatap Rhea sambil berkaca-kaca.

__ADS_1


Tangis Rara langsung pecah dan ia menangis sejadi-jadinya. Rhea memberanikan diri memeluk kakaknya untuk pertama kali dalam hidupnya dan ikut menangis bersamanya.


"Kenapa kau masih bersikap baik padaku disaat semua orang menjauhiku. Padahal aku juga memperlakukanmu dengan sangat buruk. Aku bahkan tidak pernah menganggapmu ada di dunia ini. Dan yang lebih parah adalah aku berniat membunuhmu. Harusnya kau bahagia melihat aku seperti sekarang ini. Aku sudah mendapat hukuman yang setimpal. Aku bahkan tidak pantas minta maaf padamu."


"Bagaimana bisa aku membenci orang yang sudah pernah menyelamatkan hidupku? Kau adalah kakakku, dan aku adalah adikmu. Aku tahu kau menyayangiku, tapi kau tidak mau mengakuinya. Kau iri padaku karena nenek lebih menyayangiku daripada dirimu. Itulah awal alasan kenapa Kakak bersikap buruk padaku selama ini. Namun, ketahuilah Kak, nenek melakukan itu, atas perintah dari ayah mertuaku. Nenek harus menyayangiku lebih dari apapun."


"Apa? Perintah?" tanya Rara tidak mengerti.


"Ehm, aku tidak bisa menjelaskannya sekarang. Begitu ayah mertuaku kembali, beliaulah yang akan menjelaskan semuanya."


"Aku tidak mengerti apapun maksud ucapanmu. Kau beruntung Rhea. Kau punya segalanya, sedangkan aku ... lihat aku. Inilah hukuman atas kesombongan dan keserakahanku. Aku hancur sekarang. Tertawalah jika kau ingin tertawa, sebab itulah yang dilakukan semua orang ketika melihatku sekarang." Rara menyeka air matanya


Rhea memeluk kakaknya lagi. "Jangan pikirkan orang lain, kakak masih punya aku. Aku tahu ini terdengar aneh bagimu. Tapi ... aku bahagia akhirnya aku bisa memelukmu."


Lagi-lagi, Rara kembali menangis, "Disaat semua orang bahagia atas kehancuranku, kau malah bahagia karena memelukku? Rey bisa cemburu padaku jika kau memelukku seperti ini."


Rara benar-benar terharu dengan perlakuan Rhea padanya. Selama ini, ia benar-benar buta karena tak pernah melihat ketulusan hati Rhea yang selalu ada untuknya.


Rhea tersenyum, ia baru tahu kakaknya bisa bercanda seperti itu. Entah kenapa ada kelegaan dihati Rhea setelah akhirnya ia bisa memeluk Rara.


BERSAMBUNG


****

__ADS_1


__ADS_2