Menikahi Seorang Putra Raja

Menikahi Seorang Putra Raja
episode 141


__ADS_3

Leo dan Shena saling pandang, suami Shena itu menggamit lengan istrinya dan mengajaknya keluar goa untuk bicara 4 mata.


"Sayang, ada apa ini? Kak Fey ha- ...."


Belum juga Leo selesai bicara, tangan Shena langsung menutup mulut suaminya. "Sssstt! Jangan keras-keras. Kalau kedengaran dua dayang itu, bisa gawat. Mereka pasti salah paham.


"Tapi ..."


"Ini adalah asumsiku." Lagi-lagi Shena memotong kata-kata Leo. "Meskipun ingatan kak Fey mengenai siapa dia sesungguhnya telah hilang. Dunia ini tak bisa menghilangkan janin yang dikandung kakak ipar. Namun, dalam cerita Putri Candra Kirana sebenarnya, ia tidak hamil sebelum ia menikah dengan pangeran Inu. Jika kehamilan kak Fey sampai diketahui oleh orang lain yang ada di dunia ini, maka sejarah ceritanya akan berubah."


"Lalu, kita harus bagaimana? Kita tak mungkin bisa menyembunyikan kehamilan kakak ipar yang semakin hari semakin membesar. Juga tentang status kak Refald."


"Karena itulah kita harus segera menyelesaikan kisah ini secepatnya."


"Bagaimana caranya?" tanya Leo gelisah. Ia trenyuh juga melihat Refald yang terlihat sedih menatap istrinya yang tak sadarkan diri.


"Nyi Shena, bisa kita bicara?" Seru Ken Bayan sebelum Shena menjawab pertanyaan suaminya.


"Iya, Nyi. Ada apa ya?" Shena menatap was-was dayang setia luluhurnya. Istri Leo itu berharap ia tak mendengar pembicaraannya dengan Leo tadi.


"Siapa Laki-laki itu? Kenapa tatapannya begitu menyedihkan, apa ... hubungan orang itu dengan Putri?" tanya Ken Bayan tanpa basa-basi.


Deg!


Nah loh, baru juga hal itu Shena bicarakan dengan Leo, sekarang sudah ditanyakan oleh Ken Bayan. Leo dan Shena saling pandang karena mereka tidak tahu harus jawab apa. Tidak mungkin mereka menceritakan kebenarannya. Akibatnya bisa runyam dan tak menuntut kemungkinan, mereka semua bakal terjebak di dunia ini selamanya.

__ADS_1


Shena berusaha keras memutar otak untuk mencari jawaban yang pas mengenai status Refald di sini. Dan tiba-tiba saja, sebuah ide terlintas di pikiran Shena meskipun baik Refald ataupun Fey, pasti bakal marah padanya jika mereka tahu ide gilanya ini.


"Nyi," ujar Shena sambil menggigit bibir karena ragu antara mengutarakan idenya atau tidak.


"Katakan, Nyi. Kami perlu tahu siapa orang itu."


"Nyi ... sebenarnya, orang itu agak-agak ..." Shena menggigit bibirnya lagi berharap Refald tidak marah padanya jika mendengar apa yang akan ia katakan. "Gila!"


"Hah?" Mata Leo langsung melotot melihat Shena nyebut Refald 'gila'. Ia ingin protes tapi kakinya diinjak sebelah oleh Shena sehingga Leo tak bisa bicara.


"Apa maksudmu, Nyi? Gila bagaimana?" tanya Ken Bayan masih belum mengerti.


"Begini, Nyi. Maaf kalau kami tidak memberitahumu sebelumnya. Sebenarnya, laki-laki itu adalah kakak iparku. Kakak laki-laki dari suamiku Leo ini. Ceritanya sangat panjang tapi akan kupersingkat saja." Shena memasang wajah sok serius di depan Ken Bayan yang juga sedang menyimaknya dengan seksama. "Kakak iparku itu mengira bahwa putri Galuh Candra Kirana mirip istrinya yang hilang di culik penyamun beberapa waktu lalu. Karena tak kunjung menemukan istrinya, ia jadi gila. Kebetulan, wajah istri kakak iparku itu sangatlah mirip dengan putri. Mungkin Nyai masih ingat kenapa aku dan suamiku memanggil putri dengan sebutan 'Kakak' saat kita pertama kali bertemu."


"Kondisi kakak suamiku sangat memprihatinkan Nyi," lanjut Shena. "Laki-laki mana yang bisa tahan kehilangan istrinya disaat ia tengah mengandung buah hati mereka."


"Hah? Apa?" Ken Bayan bisa terkejut juga. "Hamil? Maksud Nyai ... istri kisanak itu hamil?" tanyanya sekali lagi.


"Benar, Nyi." Kali ini Shena memasang wajah sedih seolah turut berduka atas apa yang menimpa Refald dan istrinya. "Penyamun bejat ... " buru-buru Shena meralat ucapannya yang tidak sopan. "Maaf, maksudku ... penjahat itu menculik kakak ipar saat ia mengandung dan hingga sekarang belum ketemu. Kakak ipar sangat stres dan sering melakukan percobaan bunuh diri. Sebab itulah aku dan Leo terus membuntutinya kemanapun ia pergi dan akhirnya sampailah kami di sini.


"Selebihnya, aku harap Nyai mau mengerti kondisi kakakku untuk memaklumi keadaannya. Biarkan kakak iparku menjaga tuan putri layaknya istrinya sendiri. Begitu putri sadar, akulah yang akan menjelaskan pada putri supaya untuk sementara ini ... pura-pura jadi istri kakak iparku. Hal ini agar ia tak buat onar dimanapun jika gilanya kumat." Shena menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan senyumnya. Ia baru sadar, kalau alasannya ini bisa pas juga.


Sedangkan Ken Bayan, berpikir keras apakah menolak ataukah menyetujui keinginan Shena. Berkali-kali, dayang itu menoleh kearah Refald yang terlihat seolah hidup enggan matipun tak mau. Tangan Refald juga tak pernah lepas dari genggaman tangan Fey yang pada kenyataannya adalah istrinya sendiri. Ken Bayan akhirnya ikutan trenyuh juga dan tanpa suara, ia meninggalkan Leo dan Shena.


"Wah, kau hebat Sayang. Aktingmu keren juga. Darimana kau belajar?" Puji Leo sambil memeluk mesra pinggang Shena.

__ADS_1


"Tentu saja darimu, dari siapa lagi?" Shena melingkarkan kedua lengannya di leher suaminya. "Dengan begini, untuk sementara kita tak perlu mengkhawatirkan status keduanya." Shena tersenyum bangga pada dirinya sendiri karena untuk sementara ia bisa mengatasi masalah status Refald dan kehamilan Fey.


"Kalau begitu, sekarang ... ayo kita honeymoon," ujar Leo tiba-tiba.


"Hah?" Ganti Shena yang memelototi Leo sekarang.


"Tak perlu kaget begitu, Sayang. Kita kembali menjadi remaja dan juga sudah menikah. Saatnya, kita honeymoon sekarang dan buat anak lagi."


"Apa kau sudah tidak waras?" Pekik Shena. "Kau tidak lihat ada dimana kita sekarang, ha? Masa iya kita honeymoon di tempat terbuka begini?" Shena mengamati keadaan sekitar hutan belantara.


"Apa salahnya, kan tidak ada siapapun disini. Dan aku yakin orang-orang di dalam sana juga tidak keberatan kalau kita berdua ... melakukan ...."


"Leo! Ini tidak lucu, meskipun kita sudah menikah, tapi melakukan bulan tertusuk ilalang di tempat terbuka adalah tindakan yang tidak bermoral. Kau harus ingat, ini zaman peradaban, bukan zaman modern!"


"Kita mojok saja kalau begitu." Leo tidak mau menyerah, ia tetap membujuk Shena agar mau melakukan bulan tertusuk ilalang bersamanya.


"Nggak! Sana pergi, honeymoon saja sendiri. Kau ini! Dalam keadaan seperti ini bisa-bisanya kau mesum begitu." Shena langsung nyelonong pergi masuk kedalam menghindar dari Leo.


Tanpa di duga, Ken Sangit datang dan menghadang langkah Shena sambil berkata, "Kalian berdua, ikut saya." Ken Sangit membawa sebuah obor yang entah ia dapat darimana sebagai penerangan.


Lagi-lagi, Shena dan Leo saling pandang karena bingung kemana Ken Sangit ini membawanya. Namun, keduanya tetap mengikuti langkah rekan Ken Bayan tersebut meskipun mereka tidak tahu sedang dibawa pergi kemana.


BERSAMBUNG


****

__ADS_1


__ADS_2