
Seperti yang diperkirakan Shena, Fey alias Putri Galuh Cadra Kirana memutuskan mendirikan sebuah kerajaan baru di wilayah perbatasan antara kerajaan Daha dan Kahuripan. Kerajaan yang merupakan kerajaannya sendiri dan kerajaan tunagannya, Raden Inu Kartapati yang sekarang entah bagaimana rimbanya. Dan Fey sendiri juga telah berganti nama menjadi Panji Semirang Asmarantaka, sedangkan Ken Sangit dan Ken Bayan, juga berganti nama menjadi Kuda Persanca dan Kuda Perwira.
Sungguh semua ini membuat Shena semakin pusing tujuh keliling. Ia berada disebuah negeri asing di zaman kerajaan dulu bersama dengan orang-orang asing kecuali Fey tentunya. Namun, bagi Shena sama saja karena kakak iparnya itu tak mengenali dirinya. Ia hanya berharap segera bertemu dengan Leo walau ia tidak tahu caranya. Dan yang membuat Shena semakin stress adalah, tidak ada listrik di zaman ini. Sinyal juga tidak ada dan baterai ponsel Shena sudah hampir habis. Lengkap sudah derita istri Leo itu. Ia tak bisa berbuat apa-apa selain menunggu.
“Siapa namamu tadi, Nyi …” tanya emban Fey yang sudah berganti nama menjadi kuda Persanca.
“Ehm, nama saya … Shena,” jawab Shena gugup.
“Shena? Aku baru dengar ada nama aneh begitu?” komentar kuda Persanca.
Wanita itupun berlalu pergi dan dengan kuat menebang banyak pohon seorang diri lalu mengangkat pohon-pohon tersebut ke tempat makannya untuk segera diolah oleh kuda perwira menjadi bahan dasar bangunan. Wanita tangguh itu juga mengangkat bebatuan seorang diri lagi untuk mendirikan istana seperti yang diperintahkan Fey padanya. Sedangkan Fey hanya diam berdiri mengamati Shena dengan penuh seksama.
Shena juga diam dan mengamati saja apa yang dilakukan para emban-emban Fey yang perkasa itu. Tenaganya benar-benar kuat melebihi pria terkuat di zaman Shena. Wanita-wanita di zaman dahulu memang sangat hebat dan luar biasa. Shena jadi teringat cerita Srikandi sang wanita kuat. Tak menuntut kemungkinan cerita itu mungkin benar-benar ada.
Mungkin wanita-wanita ini jadi kuat karena mereka sudah terbiasa melakukan segala hal menggunakan kekuatan otot-ototnya, sedangkan di zaman sekarang lebih banyak menggunakan bantuan alat serba canggih dan praktis sehingga pekerjaan bisa cepat terselesaikan dengan mudah. Apalagi zaman dahulu tak secanggih zaman sekarang, tak ada alat apapun yang bisa digunakan untuk membantu meringankan pekerjaan mereka. Semua perkerjaan berat ataupun ringan dikerjakan secara manual dan hanya mengandalkan otot saja. Wajar kalau wanita zaman dahulu kuat-kuat tenaganya.
“Wah, daebak!” gumam Shena takjub melihat betapa cepatnya kedua emban Fey mendirikan istana mereka. Dalam waktu beberapa jam saja, beberapa bangunan sederhana ala khas bangunan rumah adat jawa sudah mulai terbentuk. “Kalian hebat sekali?” puji Shena kagum. Tak banyak yang bisa ia lakukan karena tenaganya tak sekuat tenaga emban-embannya Fey.
“Apa itu daebak?” tanya Fey yang mendengar ucapan Shena.
“Itu pujian, anggap saja begitu,” terang Shena spontan. Ia tidak ingin ada pertanyaan lain lagi yang membuatnya tak bisa menjawab. Sebab, rasa shocknya tak bisa hilang dan ingin sekali ia segera keluar dari dunia asing ini supaya bisa bertemu dengan Leo dan juga yang lainnya.
Namun, Shena sadar kalau hal itu tak mungkin bisa ia lakukan karena ia tidak bisa keluar sebelum memecahkan misteri cerita di dalam dimensi lain ini. Ditambah lagi, ia juga tidak tahu bagaimana keadaan suami dan kakak iparnya, apakah mereka baik-baik saja atau tidak. Shena cuma berharap dimanapun Leo berada, suaminya itu tetap baik-baik saja dan tidak kenapa-napa.
“Apa yang harus aku lakukan sekarang? Sampai kapan aku harus terjebak di dunia ini? Bagaimana caraku agar bisa menemukan Leo? Seandainya ada petunjuk lain,” gumam Shena lirih.
“Nyi Shena,” panggil Fey membuyarkan kegelisahan Shena.
__ADS_1
Shena yang mendengar Fey memanggilnya begitu jadi ingin tertawa, panggilan ‘Nyi’ adalah kata ganti Nona kalau dalam bahasa sekarang meskipun zaman dulu, kata ‘Nona’ juga sudah digunakan dikalangan tertentu. Di tambah lagi, pengucapan kata ‘Nyi Shena’ sama sekali tidak padu dan rasanya terdengar aneh bila diucapkan di zaman istana sentris seperti sekarang ini.
Apa yang terjadi jika Leo sampai tahu kalau kak Fey memanggilku begitu, pasti dia bakal menertawaiku, batin Shena.
“Nyi Shena,” panggil Fey sekali lagi karena Shena tidak menyahuti panggilan pertamanya. “Kau bisa dengar aku?” tanya Fey sambil menatap Shena yang menundukkan kepalanya.
Sungguh Shena tak bisa menahan tawanya mendengar ia dipanggil dengan sebutan, ‘Nyi’ dan bukannya Nona atau Nyonya. Namun ia tak ingin ada masalah dan mati-matian menahan tawanya agar tak terlihat oleh Fey.
“Iya Putri, maaf. Saya kurang fokus.”
“Sepertinya kau butuh istirahat, Nyi. Nanti malam aku ingin bicara padamu. Dua embanku juga sudah membuatkan kamar untukmu. Besok, istana dan kerajaanku ini sudah jadi. Kau bisa tinggal di sini selama yang kau mau.”
“Baik, Putri. Terimakasih,” Shena menundukkan kepalanya.
Akan lebih baik bagi Shena jika untuk sementara, ia menjauh dulu dari orang-orang ini untuk memikirkan apa yang sedang terjadi dan bagaimana caranya agar bisa keluar dari sini secepatnya. Shena memasuki sebuah bilik yang baru saja jadi. Ken Bayan sepertinya juga sudah membuatkan bayang atau ranjang ala kadarnya untuk tempat Shena beristirahat.
“Empuk juga, padahal ini tak terbuat dari kapuk ataupun spon, tapi sangat nyaman sama seperti kasur yang ada di rumah, ini keren ….” Shena tersenyum dan mencoba menikmati hidup di zaman dulu. “Kapan lagi bisa merasakan seperti apa kehidupan di zaman dahulu, seperti para leluhurku. Ini benar-benar keren.”
Tak terasa, entah karena lelah atau apa. Shenapun tertidur pulas dan baru terbangun keesokan paginya. Entah berapa lama Shena tertidur dan ia mendengar ada keramaian di luar biliknya. Shena merentangkan kedua tangan dan meliuk-liukkan tubuhnya ke kanan dan ke samping agar otot-otot tubuhnya menjadi lemas. Setelah itu, ia bangun berdiri dan membuka pintu bilik kamarnya.
Shena lansung terkejut melihat banyak orang beraktivitas diluar biliknya dan mereka semua memakai pakaian ala orang jawa. Kalau laki-laki menggunakan blangkon sedangkan yang wanita menggunakan kebaya. Bahkan jenis kebaya mereka semuanya sama. Begitu pula warnanya. Mungkin saja kain yang dijual di tempat ini memang cuma punya satu warna mengingat ini masih di zaman peradaban. Kerena terlalu shock, Shena kembali menutup biliknya rapat-rapat dan bersembunyi dibalik daun pintu.
“Apa yang terjadi? Kenapa diluar ramai sekali? Apa … aku terdampar di negeri asing yang lain lagi? Astaga, ada apa dengan dunia ini? Baru kemarin aku tidur dan begitu bangun sudah banyak orang begini? Ada apa ini?” Shena bergumam sendiri.
Karena tak mendapat jawaban dari pertanyaannya, Shenapun nekat membuka kembali pintunya untuk mencoba bertanya pada orang yang ditemuinya. Shena bingung, siapa orang yang akan diajaknya bicara, ia sama sekali tak mengenal semua orang-orang ini. Bahkan Fey dan dua embannya juga sudah tak terlihat lagi disekitar sini. Dan yang semakin membuat Shena tekejut adalah, beberapa laki-laki meneriaki seseorang dan mengerumuninya. Shena penasaran siapa laki-laki yang sedang dikerumuni itu. iapun nekat menerobos dan terkejut melihat suaminya Leo ada ditengah-tengah kerumunan mereka.
“Leo!” teriak Shena senang dan hendak berlari ke arah suaminya berada. Ia lega karena pria yang dicintainya baik-baik saja, tapi sayangnya langkah Shena dihentikan oleh beberapa pengawal yang membawa tombak. “Minggir! Jangan halangi aku!” teriak Shena dengan lantang.
__ADS_1
“Shena!” panggil Leo yang juga sedang dihadang oleh pengawal istana lainnya. Leo hendak menyerang pengawal itu tapi tidak jadi karena kedatangan seseorang.
“Ada apa ini?” teriak suara seseorang yang sangat familiar di telinga Leo dan Shena, siapa lagi kalau bukan Fey yang saat ini di kenal sebagai Panji Semirang.
Semua penduduk yang tadinya berkerumun, mulai duduk bersimpuh begitu mengetahui kedatangan wanita yang mereka anggap sebagai raja di kerajaan ini.
“Kakak,” ujar Leo terbelalak, menatap wajah Fey.
Fey langsung terkejut mendengar ucapan Leo yang sama persis dengan Shena saat ia pertama kali bertemu istri Leo waktu itu. “Siapa kau?” tanya Fey dengan lantang. Ia heran, kenapa orang asing yang sama-sama berpakain aneh memanggilnya ‘Kakak’. Seingatnya, ia tidak punya adik lagi selain Galuh Ajeng yang jahat dan kejam padanya.
“Aku Leo Kak, adikmu! Aku ….”
“Dia suami saya, Pu … maksud saya … Ra-raja,” sela Shena memotong kata-kata suaminya.
“Raja?” Leo terbengong-bengong. Rasa bahagia karena akhirnya bertemu dengan istri dan kakak iparnya jadi sirna setelah mendengar ucapan Shena saat memanggil Fey dengan sebutan ‘Raja’.
Hampir saja Shena mengacaukan jalan cerita dengan mengungkap kedok siapa panji semirang itu sebenarnya. Untungnya ia ingat alur cerita dari buku yang pernah ia baca puluhan tahun silam sehingga dengan cepat Shena meralat ucapannya. Iapun memberi kode agar Leo diam dulu sementara sampai mereka berdua bisa bersama.
Jangan bicara apapun sampai aku dan kau disatukan. Itulah makna tatapan mata Shena pada Leo.
BERSAMBUNG
***
Slow up ya gaes … jangan bosan menunggu kisah seru dua pasangan somplak ini saat berada di zaman dulu. Sekali lagi ini cuma fiksi. Sekedar cerita halu yang aku ciptakan sendiri dengan ciri khas bahasaku. Jika ada kesamaan unsur, nama, budaya, adat istiadat, maka itu semata-mata hanya kebetulan.
Terimaksih untuk semuanya yang sudah menunggu cerita ini. Love you all ….
__ADS_1