
Leo mengendarai mobil supercar McLaren warna birunya dan melaju kencang kesebuah tempat yang sudah ia dan Refald sepakati bersama, dan itupun tanpa sepengetahuan Rey. Tepat saat melewati sebuah gurun, yang dikelilingi oleh bukit bebatuan menjulang tinggi, dari kejauhan Leo melihat mobil lamborghini huracan warna hijau muda milik putranya, Yeon terparkir rapi di pinggir jalan tepat dibawah sebuah pohon besar.
Tempat ini agak aneh menurut Leo. Yang namanya gurun itu pasti gersang dan tidak mungkin ada tumbuhan bisa bertahan hidup di tempat ini kecuali kaktus. Namun Leo heran, bagaimana ada sebuah pohon tinggi besar tumbuh ditengah gurun ini seolah pohon tersebut terlihat mengayomi mobil Yeon agar tidak terkena sengatan sinar matahari. Orang lain pasti mengira pohon itu adalah pohon keramat karena bisa tumbuh subur sendirian dipadang pasir.
“Suamiku, itu bukannya mobil Yeon?” tanya Shena pada Leo yang juga melihat mobil tersebut.
“Ehm, memang. Aku sendiri yang membelikannya untuknya. Kita lihat apa yang terjadi disana. Kenapa mobil Yeon berhenti disitu?” Leo menepikan mobilnya tepat dibelakang mobil putranya.
Betapa terkejutnya Leo dan Shena ketika melihat kedua putranya pingsan didalam mobil. Buru-buru Leo dan Shena membuka sisi pintu mobil tersebut dan mencoba menyadarkan Yeon serta Bima.
“Yeon, bangun! Bima! Ada apa dengan kalian berdua! Cepat bangun!” seru Leo tampak cemas begitupula dengan Shena. Leo mengamati keadaaan sekitar dan tidak menemukan seorangpun di tempat ini. Entah sudah berapa lama kedua putranya ini pingsan disini. “Sayang, cepat telepon ambulans,” pinta Leo pada Shena.
“Tidak perlu Ayah,” ujar Yeon yang mulai sadar dari pingsannya.
“Yeon, kau baik-baik saja?” tanya Leo mengamati keadaan putranya.
“Apa yang terjadi, Yeon? Bagaimana dengan adikmu? Apa yang terjadi pada kalian berdua?” tanya Shena masih mengkhawatirkan putra keduanya. Shena menepuk-nepuk pelan kedua pipi Bima tapi putranya masih belum sadar juga.
“Bima cuma shock saja tadi, Ibu. Jangan cemas begitu, kami baik-baik saja.” suara Yeon terdengar lemah, letih dan lelah. Ia menundukkan kepalanya untuk menghilangkan rasa pening.
Sedangkan Leo, berdiri tegak dan mengamati sekeliling. Ada sedikit kelegaan karena kedua putranya tidak mengalami luka sedikitpun meski ia sangat penasaran apa yang membuat Yeon dan Bima shock sampai pingsan. Namun Leo tidak ingin gegabah, ia menunggu Yeon siap menceritakan segalanya sembari menunggu Bima sadar. Mendadak, Leo jadi teringat sesuatu yang sangat genting.
__ADS_1
“Yeon!” teriak Leo seketika dan mengagetkan semua orang. “Dimana Rhea?” tanya Leo.
Yeon hanya melirik wajah ayahnya. ia masih terlihat lelah. “Itulah masalahnya Ayah, kaka ipar Rhea diculik,” ucap Yeon lirih.
“Aku tahu kalau Rhea diculik dan kalian berdualah yang menculiknya setelah memberikan obat tidur pada Rey dan Rhea.” Leo berdecak kesal mendengar jawaban putranya.
“Bukan itu maksudku, Ayah. Benar, kami memang berhasil menculik kakak ipar dari si Voldemort itu. Tapi ... ada makhluk lain yang menculik Rhea dari kami saat kami sedang dalam perjalanan menuju ketempat paman Refald berada. Dan disinilah kami berakhir sekarang,” terang Yeon dengan tenang.
“Apa?” Leo langsung terkejut begitu pula dengan Shena. “Makhluk? Makhluk apa? Apakah itu makhluk astral?” tanya Leo. Ia dan Shena saling pandang.
“Aku rasa bukan, Ayah. Aku kira aku cuma mimpi saat bertemu makhluk itu, tapi ternyata makhluk itu memang benar-benar ada. Aku pikir, makhluk semacam itu hanyalah legenda yang diciptakan manusia dan hanya ada didunia perfilman dan cerita. Kenyataannya, makhluk itu sungguh-sungguh ada dan kami berdua melihatnya dengan mata kepala kami sendiri. Kalian mungkin tidak akan pernah percaya, itulah yang membuat Bima dan aku pingsan, Ayah.”
Kalau berhubungan dengan Refald, baik Shena ataupun Leo sudah tidak kaget lagi jika disekitar mereka selalu terjadi atau muncul hal-hal ghaib yang sama sekali tidak bisa dicerna dengan akal sehat. Namun, jika muncul makhluk aneh seperti yang diceritakan putranya, itu membuat Shena jadi semakin bingung. Ditambah lagi, makhluk itu kini telah menculik calon menantu raja dunia lain.
Pasti makhluk itu bukanlah makhluk biasa. Entah apa yang akan terjadi jika Refald sampai tahu peristiwa yang menimpa menantunya. Sudah dipastikan rencana untuk pernikahan Rey dan Rhea telah gagal jika situasinya jadi genting seperti ini.
“Aku akan menghubungi kak Refald.” Shena bergegas mengambil ponselnya dan langsung menghubungi kakak iparnya, tapi tidak ada sahutan ataupun jawaban dari ayah Rey. Shena semakin khawatir dan ia mencoba menghubungi Fey. Syukurlah kali ini Fey mau mengangkat telepon darinya. “Halo, kakak ....” Shena pun menjelaskan apa yang terjadi disini tanpa ada yang ditutupi. Awalnya, Fey juga terjekut dan ia mengatakan akan segera ke tempat Shena dan yang lainnya berada.
“Kalian semua tunggu disitu, aku akan segera ke ... Arrrrrrhhhhg!” terdengar terikan dari seberang sana dan itu berasal dari suara teriakan Fey.
Tiba-tiba, tanpa alasan yang jelas, sambungan teleponpun terputus. Shena yang mendengar suara teriakan istri Refald itu juga langsung tertegun karena shock. Tubuhnya mendadak tegang karena membayangkan hal buruk pasti sedang terjadi di tempat Fey berada.
__ADS_1
“Sayang, ada apa? Kenapa kau terlihat syok begitu?” tanya Leo sambil memegang kedua bahu Shena.
“Leo ... sepertinya, kak Fey juga sedang dalam bahaya, sambungannya terputus setelah ia berteriak kencang. Bagaimana ini Leo. Apa yang terjadi dengannya dan juga Rhea?” Shena mulai panik, ia tidak tahu harus bicara apalagi.
Leo mengambil alih ponsel istrinya dan menghubungi nomer Fey kembali, tapi nomer tersebut sudah tidak aktif dan tidak bisa dihubungi lagi. Begitu pula dengan Refald, tiba-tiba saja sang biksu Tong mendadak hilang tanpa kabar.
Dari arah belakang Leo, muncul badai topan besar yang siap menghantam wilayah tempat Leo dan seluruh keluarganya disini. Semua orang termasuk Leo sendiri hanya bisa terperangah melihat angin topan itu bergerak cepat kemari.
“Sial! Ini sih bukan tandinganku. Dimana si biksu Tong itu? Di saat genting gini malah hilang!” Leo menatap tajam angin topan tersebut sambil memikirkan cara untuk melindungi keluarganya.
Namun, Leo bukanlah manusia super seperti kakaknya. Tentu saja hal yang tarjadi diluar nalar manusia ini tak bisa ia hadapi sendiri. Senjata secanggih apapun yang dimiliki Leo tak akan mampu menghadapi serangan badai topan yang maha dasyat itu.
Badai itu semakin dekat, Leo berdiri tegak didepan berharap ada keajaiban datang menolong keluarganya dari terpaan angin mengerikan itu. Tepat saat topan itu hendak menyapu bersih keluarga Leo, tiba-tiba ada seseorang datang dan menghalau angin tersebut dengan kekuatannya dan seketika badai itupun lenyap tak berbekas.
BERSAMBUNG
***
Wauuww ... siapa ya? Lanjut nggak ya? Hehehe ...
Ini mulai masuk fantasi nih, jangan lupa like, komen dan votenya ya ... biar aku amkin semangat gitu ... terimakasih dan love you all ....
__ADS_1