
Meskipun pak Po berada di luar goa, ia tak benar-benar pergi meninggalkan Fey sendiri. Pemuda itu mencari keberadaan Shena dan Leo untuk memberitahu kondisi Fey saat ini. Meskipun pak Po tak mengenal betul siapa orang-orang asing ini, tetap saja ia tak bisa lepas tangan begitu saja. Sedikit banyak pak Po memahami ikatan antara Leo, Shena dan Fey yang ia yakini masih satu rumpun keluarga dan sedang menghadapi masalah besar akibat kehadirannya.
Terlebih lagi, Biku Gandasari juga sudah menjelaskan semuanya perihal situasi yang sedang terjadi. Karena itulah pak Po juga sudah mengambil sebuah keputusan besar dalam hidupnya walau ia tidak tahu apakah keputusan yang ia pilih itu tepat atau tidak.
Syukurlah pak Po cepat menemukan Leo dan Shena yang ternyata sedang bersamaan. Keduanya rupanya sama-sama mencari buah-buahan yang bisa dimakan untuk diberikan kepada Fey mengingat istri Refald saat ini sedang hamil muda dan kesehatannya sedang tidak begitu baik.
“Kisanak! Nyisanak!” teriak Pak Po mengagetkan Leo dan Shena.
Sejujurnya, Pak Po tidak tahu nama orang-orang asing ini karena baru pertama kali bertemu. Pemuda yang terlihat jauh lebih muda dibandingakn Leo dan Shena itu berlari menghampiri pasangan suami istri itu. Napasnya tersengal-sengal akibat berlari kencang.
“Kenapa kau masih ada di tempat ini?” tanya Leo heran. Ia mengira kalau pak Po sudah pergi dari hutan ini dan kembali ke habitatnya di desa.
“Mana mungkin saya pergi meninggalkan kalian yang sedang kesusahan,” ujar Pak Po masih berusaha mengatur napasnya. “Itu … Nyisanak yang di goa, siapa ya namanya saya lupa. Dia … sudah sadar!” ujar pak Po kembang kempis.
“Bukan lupa? Kau memang tidak tahu siapa kami, tapi kami tahu siapa kau! Itulah mengapa kakak ipar mau menyelamatkan hidupmu!” cetus Leo dan iapun pergi sambil menggandeng tangan Shena meninggalkan pak Po yang bingung dengan maksud ucapan Leo barusan.
Walau Leo tak banyak tahu tentang permasalahan yang dihadapi kakak dan kakak iparnya, ia bisa mengerti kalau saat ini situasinya sangat sulit. Jika tidak, mana mungkin Refald pergi begitu saja tanpa meninggalkan pesan apapun padanya.
“Kakak, kembalilah! Aku tahu … kau pasti baik-baik saja dimanapun kau berada. Aku akan menjaga kakak ipar sampai kau kembali pada kami,” gumam Leo terus berlari kencang sambil menggandeng tangan Shena menuju goa.
Shena sendiri tak bisa berkomentar apa-apa mendengar gumaman suaminya. Ia hanya melihat punggung Leo yang sedang fokus berlari agar lekas sampai di tempat Fey berada. Sama halnya seperti Leo, Shena juga sangat mengkhawatirkan kondisi Fey. Sebagai sesama wanita ia sangat tahu seperti perasaan Fey saat ini apalagi tanpa keberadaan orang yang dicintai.
__ADS_1
Begitu Leo dan Shena tiba di goa, mereka sudah tak mendapati Fey dimana-mana. Goa itu kosong dan tidak ada siapa-siapa lagi di sini. Fey menghilang entah kemana dan tidak ada jejak sama sekali. Tentu saja Leo dan Shena jadi panik. Ia khawatir Fey bertindak nekat yang bakal membahayakan keselamatannya.
“Kemana kakak ipar?” tanya Leo mengamati sekeliling area goa.
“Kita harus cepat temukan dia. Firasatku sangat tidak enak!” ujar Shena tak kalah cemas dari suaminya. Mereka berdua kembali keluar goa dan bertemu dengan pak Po yang berdiri tegap sambil menatap tajam mata Leo dan Shena.
“Aku tahu … kemana Nyisanak itu pergi,” ujar pak Po sehingga membuat Shena dan Leo saling pandang.
Tiba-tiba dari kejauhan, Leo dan Shena mendengar suara biola dimainkan. Suara itu terdengar seperti dari atas bukit yang tinggi. Leo dan Shena semakin tidak mengerti dan langsung menoleh ke sumber suara biola yang tak lain sedang dimainkan oleh Fey.
“I-itu … bukannya … suara biola? Tapi … bagaimana bisa? Di zaman ini … mana ada biola? Dan siapa yang memainkannya?” tanya Shena bingung dan juga agak sedikit takut.
Leo sendiri juga tak bisa berkata-kata dan terpaku mendengar suara biola yang sebenarnya terdengar sangat merdu nan menghanyutkan. Lantunan iramanya sangat indah dan beraturan. Orang yang memainkan biola seperti ini, pasti bukanlah orang sembarangan. Butuh kepiawaian tinggi untuk bisa menciptakan irama yang membuat siapa saja jadi terlena saat mendengarnya.
Setiap melodi yang dimainkan, sangat menggetarkan hati dan jiwa pendengarnya. Sungguh, permainan biola yang menakjubkan ini, hanya Fey saja yang bisa memainkannya. Secara, dia adalah istri dari seorang raja dedemit Refald dimana setiap denting irama yang keluar dari gesekan biola tersebut mengandung arti dan makna kehidupan tersendiri. Dan yang mengetahui arti dan makna itu hanyalah Refald seorang.
Leo semakin terkejut tatkala menyadari bahwa lantunan lagu yang terdengar dari gesekan-gesekan indah yang keluar dari alat musik bernama biola, adalah permainan kakak iparnya sendiri. Tidak salah lagi, pasti Feylah orang yang sedang bermain biola sekarang. Leo sangat tahu kalau kakak iparnya memang jago bermain biola sejak dulu.
Saat Leo masih remaja, Fey pernah memainkan biola didepannya untuk menghibur Leo yang waktu itu sedang badmood akut karena dimarahi Refald habis-habisan hanya karena Leo mengajak berkelahi teman-teman satu sekolahnya dimana Leo keluar sebagai pemenangnya.
Akibatnya, Byon murka karena diminta pertanggungjawaban oleh pihak orangtua dan sekolah atas apa yang dilakukan Leo. Tentu saja, Leo jadi kalut dan langsung dihibur oleh Fey dengan memainkan biola kesukaan wanita yang kala itu masih menjadi calon kakak iparnya.
__ADS_1
Begitu pula dengan permainan biola kali ini, iramanya tak jauh beda dengan permainan biola Fey. Sebab, istri Refald itu punya ciri khas irama tersendiri dan membuat tenang hati orang yang mendengarnya. Leo yakin 100% kalau suara biola ini adalah permainan kakak iparnya.
Yang menjadi pertanyaan adalah, dari mana Fey mendapatkan biola dan kenapa memainkan biola itu disaat genting begini? Baik Shena ataupun Leo, sama-sama tidak tahu jawabannya dan menjadi misteri tak terpecahkan.
“Itu adalah suara biola yang dimainkan oleh putri Lafeysionara Kinara,” pak Po membantu menjelaskan apa yang ada dikepala Leo dan Shena. “Ayo ikutlah denganku dan kita harus hentikan dia … begitu biola itu selesai dimainkan, Putri akan menerjunkan diri ke jurang,” terang pak Po dengan kilatan api merah menyala. Ia sedikit berbeda dengan pak Po yang Leo dan Shena temui sebelumnya.
Dari nada suara pak Po, pemuda itu tak tampak seperti pak Po, melainkan orang lain. Arti kata, pak Po yang sekarang, telah kerasukan sesuatu yang tak diketahui oleh Leo dan Shena.
“Tunggu! Apa maksudmu menerjunkan diri ke jurang? Jelaskan padaku!” tanya Leo langsung panik. Pikirannya sudah mulai kearah yang bukan-bukan.
Sayangnya, pak Po tak mau banyak bicara apalagi menjawab pertanyaan Leo. Pemuda tampan itu, terus berjalan cepat dan setengah berlari menuju ke atas bukit.
Seperti halnya Leo dan Shena yang mencemaskan keadaan Fey, pak Po yang sedang kerasukan ini, juga merasakan kekhawatiran amat sangat. Bagaimanapun caranya, ia harus segera sampai di tempat Fey berada saat ini dan jangan sampai terlambat.
BERSAMBUNG
***
NB : Ini hanya cerita fiktif fantasi yang murni aku ciptakan dari dunia haluku. Jika ada kesamaan cerita dan lain sebagainya, itu hanya kebetulan semata. Harap dimaklumi.
Terimakasih bagi yang sudah setia menunggu kisah kelanjutan Refald dkk. Dan maaf kalau upnya tidak bisa rutin. Beberapa episode lagi, novel ini akan tamat dan digantikan dengan novel baru. Terus dukung semua karyaku ya gaes. I love you all …
__ADS_1