
Seorang wanita berambut putih dan memakai jubah putih tulang melayang turun dari atas langit-langit dengan kilatan mata api yang menyala merah menyala. Wanita pertapa yang tak lain adalah bibi dari Putri Candra Kirana alias Fey terlihat sangat marah. Semua orang termasuk Fey sendiri tak tahu apa sebab musabab bibinya bisa semarah itu padanya.
Begitu Bibinya mendaratkan kakinya di atas permukaan tanah, Fey berusaha menenangkan dan mencari tahu kesalahan apa yang sudah ia lakukan sehingga menyebabkan bibinya jadi murka.
“Bibi,” ujar Fey hendak berlari mendekat kearah bibinya berdiri.
“Jangan mendekat!” bentak Biku Gandasari dengan keras sehingga lagi-lagi, suaranya mengagetkan semua orang yang ada di sini. “Tetap ditempatmu, Putri!” mata merah menyala Biku masih belum padam. Sedangkan Fey terus saja bingung dengan amarah bibinya yang baru pertama kali ini ia lihat.
“Maafkan aku, Biku. Aku sungguh tidak tahu kenapa Biku begitu marah? Tolong jelaskan Biku, ada apa?” tanya Fey was-was. Ia sungguh merasa tidak enak sekali. Ada sesuatu yang membuat hati Fey bergetar hebat tapi ia tidak tahu apa itu.
“Kau sudah melakukan kesalahan fatal, Putri. Kau telah mengubah takdir orang lain yang sama sekali tak ada hubungannya denganmu disaat suamimu berjuang antara hidup dan mati demi menyelamatkan kalian semua yang ada di sini. Sebentar lagi alam akan memuntahkan kemarahannya dan suamimu akan melebur jadi satu didalamnya,” terang biku dengan nada suara bergetar akibat menahan amarah yang besar.
Deg!
Jantung Fey langsung serasa berhenti berdetak mendengar penjelesan mengejutkan dan menakutkan dari Bikunya. Tak hanya Fey saja yang terkejut, Leo dan Shena juga tak kalah shock mendengar ucapan pertapa sakti itu. Keduanya saling pandang dengan hati dan pikiran yang kalut sampai keduanya tak tahu harus berkata apa. Ucapan seorang pertapa, tak pernah salah. Yang artinya, akan ada badai yang sedang menghadang dan Refald juga dalam bahaya besar.
“A-apa, maksud Biku? Apa yang terjadi dengan Refaldku! Katakan Biku? Apa salahku sehingga suamiku dalam bahaya gara-gara aku? Ada di mana Refald sekarang? Beritahu aku Biku, aku ingin melihatnya.” suara Fey jadi gemetar ketakutan membayangkan yang bukan-bukan tentang suaminya, Refald. Air matanyapun tak bisa dibendung lagi sebab ia sangat mengkhawatirkan keadaan suaminya. Terlebih kata-kata Bikunya seolah mengisayaratkan bahwa suaminya … akan menghilang selamanya.
“Apa kau tak dengar ucapanku tadi? Kau mengubah takdir orang yang berdiri dibelakangmu? Kenapa kau selamatkan dia? Harusnya orang itu sudah mati karena dihajar oleh para pengawal tadi? kau mengubah takdirnya dan sekarang nyawa suamimu harus menebusnya dengan mengorbankan nyawanya!” teriak Biku.
“A-apa?” mata Fey langsung terbelalak tak percaya. “Tidak." Fey menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak mungkin. Ini tidak mungkin. Orang ini adalah pasukan kesayangannya, dia ….” Fey berhenti bicara dan ia baru menyadari sesuatu.
__ADS_1
Semakin deraslah air mata Fey atas kesalahan fatal yang sudah ia lakukan di dunia ini sehingga suaminyalah yang harus menanggung akibatnya. Tubuhnya serasa lemah dan iapun ambruk seketika. Fey pingsan dalam linangan air mata dan kepedihan yang begitu dalam.
“Kakak!” seru Shena ikut sedih atas apa yang ia dengar barusan. Ia dan suaminya, Leo … bergegas menghampiri Fey untuk mengetaui kondisinya.
Baik Leo ataupun Shena juga sama-sama shock berat mendengar apa yang diucapkan Biku Gandasari. Keduanya bingung harus bagaimana ditambah lagi Fey juga pingsan.
Tiba-tiba, sebuah guncangan yang dikenal sebagi lindu, datang menggetarkan tanah yang ada disekitar Fey dan yang lainnya berada. Leo dan Shena sama-sama memegangi tubuh Fey dengan kuat. Keduanya panik dan tak tahu apa yang harus dilakukan.
“Kakak, kuatkan dirimu, aku yakin … kak Refald pasti baik-baik saja. percayalah Kak,” seru Shena sambil membekap erat tubuh Fey yang masih pingsan.
Sementara Leo, berusaha keras melindungi kedua wanita ini dari guncangan yang dashyat agar tak terluka. Dalam hati Leo, ia juga tak bisa percaya kalau kakaknya tiada. Rasaanya itu sungguh tidak mungkin.
Sungguh, hati pak Po terasa trenyuh karena baru pertama kali ini ia bertemu dengan orang sebaik Fey. Pak Po yang masih menjadi manusia biasa tak tega melihat apa yang terjadi pada wanita asing penyelamat hidupnya.
Dengan tegap dan tekad yang kuat, ia pun melangkah menuju tempat Biku itu berada dan meminta penjelasan serinci-rincinya. Pak Po ingin tahu apakah ada yang bisa ia lakukan untuk mengembalikan keadaan seperti semula agar wanita asing yang pingsan itu tak mengalami hal menyakitkan, yaitu kehilangan suami tercintanya.
“Katakan pada saya, apa yang harus saya lakukan untuk memperbaiki semuanya?” tanya Ezi pada Biku Gandasari.
Mata Biku langsung menatap benci pak Po sebab karena orang inilah kehidupan keponakannya, jadi kacau balau. Bahkan sampai mendatangkan bencana yang sebentar lagi bakal menghancurleburkan wilayah ini.
“Kau yakin?” tanya Biku. Kilatan api kemarahannya sudah mulai memudar.
__ADS_1
“Ini semua salah saya, meskipun saya tak tahu apapun siapa kalian, tapi saya merasa bahwa apa yang terjadi ini tidak benar. Jika ada yang harus saya lakukan untuk mengembalikan keadaan seperti sedia kala, maka … saya akan melakukannya.” Tak ada keraguan dari kata-kata yang diucapkan pak Po.
Bikupun memberitahu apa yang harus l pak Po alias Ezi lakukan sebelum bencana besar itu benar-benar melanda wilayah ini. Dan Ezi, hanya punya waktu 3 jam dari sekarang untuk memutuskan pilihannya begitu Biku selesai menjelaskan.
“Tak ada yang memaksamu untuk melakukan apa yang sudah terjadi. Nasi sudah menjadi bubur. Keponakanku, sudah melakukan kesalahan karena sisi hati nuraninya sebagai manusia. Namun, takdir hidupnya telah berubah ketika ia memutuskan untuk mengubah takdir hidupmu. Semua pilihan ada ditanganmu, kau hanya punya waktu 3 jam dari sekarang.” Setelah berkata seperti itu, Biku Gandasari pun menghilang dan tinggalah pak Po sendirian.
Ezi menatap sendu wajah pucat Fey yang masih pingsan dipelukan Shena. Lindu pun berhenti bergetar sehingga guncangan sudah tak terasa lagi. Namun kondisi ini hanya sementara saja, entah kapan lindu itu akan datang lagi mengguncang wilayah ini bersamaan dengan datangnya bencana yang lebih besar.
Karena tanah sudah kembali tenang, Leo menggendong tubuh kakak iparnya dan meletakkannya diatas batu besar yang ada di dalam goa. Hati Leo dan Shena masih belum bisa tenang melihat kakak iparnya belum sadar l juga. Mereka berdua cuma berharap bahwa semuanya baik-baik saja termasuk juga Refald meskipun baik Shena ataupun Leo tak bisa menjamin itu.
“Sayang,” ujar Shena pada Leo. Dalam situasi ini, ia mencoba lebih tegar agar bisa menguatkan Fey jika ia sudah sadar nanti.“Tolong carikan air, aku akan mencari beberapa daun yang bisa kugunakan untuk menyadarkan kakak ipar. Tak baik bagi kandungannya jika ia terus-terusan pingsan.”
“Ehm, aku akan segera kembali,” ujar Leo dan memegang kedua tangan istrinya. “Aku pergi dulu,” ujar Leo lirih dan juga terdengar sedih.
Shena tahu suaminya itu sedang berusaha keras menyembunyikan air matanya terlepas apa yang terjadi pada kakaknya. Meskipun Leo tak mengatakannya, Shena bisa merasakan kepedihan hati suaminya.
“Sayang,” ujar Shena dari balik punggung Leo. “Kita berdua tahu siatuasi ini benar mengejutan dan rasanya sangat sulit dipercaya, tapi … aku yakin, pasti ada jalan untuk mengatasi semua ini. Kak Refald, adalah raja paling kuat, kau juga tahu itu. Dia … takkan pernah membiarkan orang yang dicintainya menderita dan tersiksa.”Shena mencoba meyakinkan Leo agar percaya pada kekuatan kakaknya.
BERSAMBUNG
****
__ADS_1