Menikahi Seorang Putra Raja

Menikahi Seorang Putra Raja
episode 79 Bersiap


__ADS_3

Tak terasa, sudah 30 menit lamanya Rhea terdiam sambil memangku Rey yang sedang tertidur lelap dipangkuannya. Wajah Rey memang terlihat letih dan ada sedikit luka disudut bibirnya. Rhea tidak tahu apa yang terjadi dengan pria pujaan hatinya ini selama ia dikerjai oleh keluarganya diluar sana. Yang jelas, Rey benar-benar terlihat lelah sekarang. Harusnya, Rey bisa menyembuhkan lukanya sendiri, tapi sepertinya ia terlalu letih sampai tidak sadar kalau dirinya juga sedang terluka.


“Apa yang mereka lakukan padamu sampai kau jadi begini, Pangeranku,” gumam Rhea lirih.


Dengan lembut, gadis cantik itu membelai rambut Rey yang sedikit berantakan. Semua ini seakan mimpi buruk bagi Rhea. Dalam benaknya, Rhea memutuskan untuk menikah dengan Rey begitu kekasihnya itu datang untuk menyelamatkannya, dan didetik itu juga keinginannya itu langung pupus seiring kabar bahwa Rey sudah menikah dengan wanita lain. Betapa sakitnya hati Rhea saat itu. Dan ketika hatinya sudah hancur berkeping-keping, kini ia mendengar kabar baru lagi kalau wanita yang dinikahi Rey adalah dirinya sendiri. Sungguh Rhea tidak tahu lagi bagaimana menggambarkan perasaannya saat ini. Entah ia harus sedih ataukah bahagia, semuanya masih belum begitu jelas dimatanya.


“Rhea.” terdengar suara lembut seorang wanita tiba-tiba saja memanggil namanya. Spontan Rhea langsung menoleh ke arah wanita tersebut yang tidak lain adalah ibunya sendiri, Divani.


“Ibu,” panggil Rhea senang. Ia hendak berlari menyongsong ibunya yang sudah lama sangat ia rindukan. Tapi ia lupa kalau sedang memangku kepala suaminya.


“Letakkan saja suamimu, dan ikutlah denganku,” ajak Divani dengan suaranya yang merdu.


“Tapi ... bagaimana kalau dia mencariku, Ibu?” Rhea sangat ingin mengikuti ajakan ibunya, tapi ia tidak tega meninggalkan Rey dalam keadaaan seperti ini sendirian.


“Jangan khawatir, dia akan baik-baik saja. Kalian kan sudah menikah. Tak ada yang perlu dicemaskan lagi. Ayo, ikutlah denganku sekarang.”


“Tapi kita mau kemana, Ibu?” tanya Rhea sangat penasaran. Drama apalagi yang akan mereka mainkan kali ini.


“Ketempat seharusnya kau berada, begitu suamimu bangun, ia juga akan menyusulmu.”


Rhea memerhatikan wajah suaminya yang masih tertidur lelap. Hal itu wajar terjadi karena Rey akhir-akhir ini kurang tidur gara-gara ulah keluarganya sendiri.


“Baiklah.” Meski berat, Rhea mengiyakan ajakan ibunya. Ia mengambil bantal dan langsung berdiri sambil menopang kepala Rey lalu meletakkan kepala suaminya diatas bantal yang tadi diambil Rhea sebagai ganti dirinya. Sekali lagi, gadis itu mengusap lembut kepala Rey sambil berbisik, “Temui aku segera setelah kau bangun nanti, Sayang.” Rhea mengecup pelan kening Rey yang masih terlelap lalu pergi mengikuti langkah Divani menuju kesuatu tempat.

__ADS_1


“Bagaimana Ibu bisa masuk kedalam, tadi? Padahal Rey sejak tadi kesulitan membuka pintu itu?” tanya Rhea saat keduanya berjalan beriringan bersama.


“Karena aku datang untuk menjemputmu, sudah saatnya kau mengetahui semuanya. Alasan kenapa kalian berdua harus menghadapi semua ini.” Divani menggandeng tangan Rhea sambil tersenyum. “Sebenarnya kalau suamimu mau, ia bisa saja menghilang. Tapi sepertinya ia lupa kalau masih punya kekuatan itu. Kasihan juga dia.”


“Ibu benar, aku juga baru ingat kalau Rey bisa menghilang. Dia terlihat lelah sekali. Kalian benar-benar luar biasa sampai aku sendiri juga tidak berdaya.” Rhea menatap lurus jalan yang ia lewati bersama ibunya. Dalam hal ini, ia tidak bisa menyalahkan siapapun.


Kini, keduanya sudah sampai ditempat tadi Rey dan naga hitam itu bertarung untuk membuat kesepakatan perjanjian pernikahan. Awalnya, Rhea sangat terkejut dengan ruangan goa yang terlihat mengerikan ini. Disekitarnya, ada terdapat banyak sekali reruntuhan bebatuan dari dinding-dinding goa yang berserakan dimana-mana.


Pasti disinilah Rey tadi berada, batin Rhea.


Entah kenapa hatinya jadi trenyuh dan matanya mulai berkaca-kaca membayangkan betapa sulitnya cobaan yang dihadapi orang yang kini telah menjadi suaminya. Namun, perasaan itu hilang seiring dengan hadirnya seluruh keluarga besar suaminya termasuk ayah kandungnya sendiri, pak Po.


Fey adalah orang pertama yang memeluk Rhea ketika ia datang bersama Divani. “Selamat atas pernikahanmu, menantuku?” ujar Fey sambil tersenyum bahagia. Air matanya juga mengalir saking bahagianya.


“Kami tahu, tapi ini adalah ulah ayahmu dan ayah mertuamu. Mereka berdualah biang kerok dari semua ini. Kalau kau marah, marahi saja mereka berdua.” Fey malah tersenyum melihat wajah bingung Rhea. Mana mungkin Rhea berani memarahi ayah mertuanya sendiri walau apa yang dilakukan Refald benar-benar kelewatan.


Setelah Fey, giliran sang raja dedemit yang mengucapkan selamat untuk menantunya. “Selamat datang dikeluarga Mirza Banta, Rhea. Kini, kau resmi menjadi menantu dikeluarga kami.” Refald menatap tajam mata Rhea yang menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat pada ayah mertuanya.


Rhea tetap tidak bersuara, bukan karena dia marah, tapi karena ia masih tidak tahu apa yang harus dikatakan. Saat ini, yang ia inginkan adalah penjelasan atas semua hal yang sudah terjadi.


“Bersabarlah sedikit lagi, aku akan menjelaskan semuanya saat suamimu tiba kemari. Sementara itu, kau harus bersiap-siap,” ujar Refald yang pastinya sudah tahu seperti apa pikiran menantunya dan semua orang yang ada disini.


“Maaf, Ayah. Bersiap-siap untuk apa?” tanya Rhea lirih. Ia masih belum berani mengangkat kepalanya dihadapan ayah mertuanya.

__ADS_1


“Bersiap-siap untuk pesta resepsi pernikahanmu.” Refald tersenyum.


“Tapi, Ayah ... aku merasa tidak melangsungkan pernikahan dengan Rey, bagaimana bisa aku ....”


“Kau sudah melakukannnya saat pertama kali kau datang kemari. Saat kau membasuh muka menggunakan air kolam tempatmu berada sebelumnya, itu adalah wujud siraman yang wajib dilakukan pengantin wanita yang hendak menikah,” terang Refald.


Rhea tertegun, ia ingat kalau ia memang membasuh wajahnya dengan air kolam yang jernih itu jauh sebelum Rey datang menemuinya. “Jadi itu ....” Rhea tidak bisa melanjutkan kata-katanya.


“Penjelasan selanjutnya akan aku jelaskan saat suamimu tiba, sekarang pergilah!” ujar Refald.


“Ayo kakak ipar, kami akan mengantarmu.” Dua orang laki-laki tampan mendekat kearah Rhea.


“Leon, Bima? Jadi ... kalianlah yang ... tadi itu ....” Reha menunjuk wajah Yeon dan Bima bergantian. Dus sepupu Rey itu hanya saling pandang sambil melempar senyum.


“Benar, sosok hitam marshmello adalah kami. Hehehe ....” ujar Bima sambil terkekeh. “Ayo, Kak. Kau adalah ratu di pesta malam ini. Ikutlah dengan kami, si Voldemort itu pasti bakal takjub melihatmu nanti.


Tidak ada yang bisa Rhea lakukan selain menuruti semua yang diucapkan Refald padanya. Gadis itu pergi dan mengikuti langkah Yeon dan Bima, sementara yang lainnya sedang bersiap-siap menghadapi amukan Rey sebentar lagi.


BERSAMBUNG


***


Pasti sudah nggak sabar nunggu gimana cara Rey ngamuk, siap-siap tegang lagi hehehe ....

__ADS_1


__ADS_2