
Alan tak sengaja mendengar pembicaraan Rara dan Jakson yang terjadi pagi tadi. Ia sungguh terkejut mendengar bahwa mantan pacarnya tengah berbadan dua dengan sahabatnya sendiri. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah, sahabatnya itu tidak mau mengakui anak yang dikandung Rara.
Alan masih tidak percaya, Jakson tega melakukan hal sekeji itu pada Rara. Sebenarnya Alan sangat tahu, Jakson bukanlah tipe orang yang suka bermain-main dengan wanita. Jika sampai ia melakukan itu, pasti ada alasannya.
"Apa Jakson balas dendam untukku?" tebak Alan. "Jika itu benar, maka ... ini semua juga salahku." Alan tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada Rara sekarang. Kini, ia mengerti kenapa Rara tadi tidak mau menatapnya. Ia jadi merasa bersalah karena telah berkata kasar pada Rara.
Meski Rara sudah menyakitinya seperti ini, tapi Alan sama sekali tidak menyangka Jakson membuat hidup Rara menderita. Bukan ini yang ia inginkan dari Rara. Alan juga sudah mengikhlaskan semua perlakuan Rara padanya. Mana mungkin ia tega melihat wanita yang pernah dicintainya menderita. Alan tidak bisa membiarkannya. Sore ini juga, pria itu sudah mengambil keputusan untuk menemui Rara dirumahnya.
Sementara Jakson sendiri, mendapat tamparan keras dari ayahnya setelah tahu apa yang dilakukan Jakson pada Rara.
"Kau harus menikahinya. Malam ini juga? Kenapa kau mencoreng nama keluarga kita, ha? Bermain-main dengan wanita boleh saja, tapi jangan sampai diluar batas! Yang kau lakukan ini sudah melewati batas!" Teriak Nouval dan Riska berusaha menenangkan suaminya.
"Dia sendiri yang memaksaku melakukannya, Ayah!" Jakson masih sempat-sempatnya membela diri.
"Salahmu sendiri kenapa kau mau saja! Apa kau tahu? Perbuatanmu ini sudah mencoreng nama baik keluarga kita. Ratu Fey sudah mengatakannya padamu, kan? Nikahi wanita itu malam ini juga atau aku coret namamu dari daftar keluarga! Keputusanku sudah final dan tidak bisa di ganggu gugat. Kau sudah berani berbuat, jadi kau juga harus berani bertanggungjawab!" Nouval pergi dan masuk ke dalam ruang pribadinya diikuti Riska.
Sedangkan Jakson sendiri, sudah tidak punya pilihan lain lagi, selain menuruti permintaan keluarganya. Mau tidak mau, ia harus menikah dengan Rara.
***
Ditempat lain, Rhea sudah mulai bersiap untuk melaksanakan ritual terakhirnya. Ia duduk didepan cermin rias Rey sambil memakai pakaian khusus yang digunakan untuk melaksanakan ritualnya. Lama juga Rhea memandangi dirinya sendiri di depan cermin. Tak dapat dipungkiri, Rhea juga sangat gugup sekarang. Berkali-kali ia menarik napas dalam-dalam dan membuangnya lagi.
Wanita yang membantu memakaikan pakaian ritual Reha, langsung takjub melihat betapa cantiknya Rhea malam ini. Gaun putih yang terbuat dari sutera ini sangat cocok dikenakan Rhea.
"Wauw, Rhea ... kau cantik sekali! Sungguh baru kali ini aku melihatmu secantik ini," ujar Mala salah satu teman Rhea yang juga terpilih dalam tim sukses acara ritual yang sebentar lagi akan dilakukannya.
Rhea hanya tersenyum mendengar pujia sahabatnya. Ia terus menatap ke cermin yang ternyata sudah ada Rey dibelakangnya. Rey bersandar di depan jendela kamarnya dan terus menatap Rhea dalam diam. Selama Rhea dirias, Rey tidak bisa mendekat dan hanya bisa melihat Rhea dari kejauhan.
"Nah, sudah selesai." Mala mengikat tali yang ada di belakang pakaian Rhea yang sangat indah ini. "Entah kenapa aku merasa kau seperti hendak melangsungkan acara pernikahan saja. Mempelai priamu juga sepertinya juga sudah siap dibelakang," goda Mala sambil melihat Rey yang matanya tak pernah lepas dari pandangan mata Rhea.
"Jangan sembarang bicara? Kau ini ada-ada saja." Wajah Rhea tersipu malu terlebih Rey terus saja menatapnya tanpa henti.
__ADS_1
Mala tersenyum dan memeluk Rhea dari belakang. "Kau luar biasa Rhea. Semoga ritualmu sukses dan berjalan dengan lancar tanpa kendala apapun. Cayo!" Mala memberi Rhea semangat. Keduanya saling tertawa bersama dan sukses membuat Rhea rileks sehingga ia tidak gugup lagi seperti tadi.
"Terimakasih, Mala. Berkat kau, aku sudah tidak tegang lagi sekarang."
"Ehm, sama-sama. Kau pasti bisa, karena kau adalah Rhea. Primadona di kota ini. Tidak ada yang tidak bisa kau lakukan. Kami semua percaya padamu karena kaulah satu-satunya orang yang bisa melakukan semua ini." Mala menepuk pelan bahu Rhea yang menatap lurus kearah Rey. "Baiklah, aku harus pergi untuk melihat apakan diluar sana juga sudah siap atau belum. Segera susul aku jika kau sudah selesai dengan Rey." Mala menggoda Rhea lagi dan langsung pamit pergi.
Rhea jadi malu sendiri karena sahabatnya itu pengertian sekali. Sebelum melakukan ritualnya, Rhea memang ingin berdua saja dengan pria yang amat dicintainya.
Begitu Mala menutup pintu, Rey menghampiri Rhea dengan gerakan super cepat. Hanya dalam hitungan detik, Rey sudah ada dibelakang Rhea yang duduk didepan cermin.
"Kau cantik sekali Sayang," Rey memeluk Rhea dari belakang.
"Kau juga tampan," balas Rhea. Keduanya saling melempar senyum.
Rey memutar kursi Rhea supaya menghadapnya. ia jongkok didepan Rhea sambil menggenggam erat kedua tangannya.
"Apapun yang terjadi, kau harus fokus pada ritualmu, Sayang. Jangan hiraukan yang lainnya. Kau hanya perlu membawa lilin itu sampai ke seberang. Aku akan menunggumu disana." Rey menatap penuh cinta manik mata Rhea.
"Jangan takut, aku akan selalu menjaga dan melindungimu. Tidak akan aku biarkan kau dalam bahaya. Malam ini, ayah dan seluruh pasukannya akan kembali bersama kita. Keluarga kita akan lengkap lagi seperti dulu, Sayang. Dan kita akan bahagia selamanya." Rey melepas pelukannya dan mencium mesra kening Rhea. "Sudah waktunya, ayo kita pergi sekarang." Rey mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan memberikannya pada Rhea.
"Kalung?" Mata Rhea langsung terbelalak melihat kalung yang sangat indah itu. "Apa ini? Kenapa kau memberiku kalung?"
"Ini bukan dariku, ini dari ibu. Ibu bilang, sebelum melakukan ritual, kau harus memakai kalung ini." Rey memakaikan kalung indah itu di leher Rhea. "Wah, kau semakin cantik saja." Rey langsung mencium lembut bibir merah delima Rhea.
"Terimakasih, Rey. Entah kenapa ... aku sudah tidak gugup lagi sekarang. Aku benar-benar sudah siap. Sepertinya, kalung ini adalah kalung penyemangat. Aku begitu bersemangat sekarang. Cepat! Bawa aku ke danau." Mata Rhea berbinar cerah. Perasaannya yang tadinya kacau, mendadak hilang dan digantikan dengan semangat 45.
Sambil tersenyum, Rey memeluk Rhea dan langsung menghilang dalam sekejap mata. Keduanya tiba dipinggir danau dimana semua orang dan penduduk setempat juga sudah tiba dan memenuhi area danau.
"Wuah, ramai sekali." Rhea tidak menyangka akan ada banyak sekali orang yang datang menyaksikan ritualnya.
"Tentu saja, bagi mereka ... ini adalah ritual memohon kesejahteraan agar tetap terjaga 0di kota ini. Tapi bagi kita, ritual ini adalah untuk mengembalikan ayah dan seluruh pasukannya. Apapun itu, tujuan ritual ini adalah untuk kebaikan kita semua." Rey menggenggam erat tangan Rhea.
__ADS_1
"Kau benar, lalu ... dimana ibu?" tanya Rhea.
Rey terdiam dan tidak langsung menjawab. Bukannya Rey tidak ingin memberitahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi ia tidak ingin Rhea kehilangan konsentrasinya karena terbawa perasaan. Akan lebih baik jika ia tidak tahu apa-apa dulu. Setidaknya, sampai ritual ini selesai dilakukan.
"Ibu sedang ada urusan penting. Ia akan kemari begitu urusannya selesai," jawab Rey. Ia tidak sepenuhnya berbohong. Fey memang sedang mengurus pernikahan Rara dan Jakson.
***
Upacara ritual segera dimulai. Rhea dibawa kesuatu tempat untuk memulai ritualnya. Dari kejauhan, Rhea bisa melihat seorang wanita tua berpakaian sama dengannya, sedang duduk bersila diiatas papan kecil yang menghadap langsung ke danau. Rhea tahu, siapa wanita tua itu. Dia adalah nenek Haida, nenek yang juga dirindukan Rhea. Ingin rasanya Rhea berlari dan memeluk sang nenek, tapi ia tidak bisa melakukannya karena ritualnya ini sudah dimulai.
"Katubkan kedua tanganmu, Rhea. Dan berdoalah sebelum kau menjalankan ritual ini," ujar nenek Haida yang duduk membelakangi Rhea.
Gadis itupun mengerti dan melakukan apa yang diperintahkan. Rhea memejamkan mata, sambil mengatupkan kedua tangannya didepan dada. Dengan khidmad, Rhea berdoa agar ritulanya ini berjalan lancar tanpa ada hambatan apapun.
Raja, Ayah, Ibu, mbak Kun dan para pasukan dedemit lainnya ... Kembalilah, ucap Rhea dalam hati.
BERSAMBUNG
***
kemunculan Refald ada diepisode selanjutnya, tunggu ya ... biar gak penasaran, simak aja video visual Refald saat ia datang yang sudah aku pos di Ig ku zariya_zaya.
kenapa aku pakai video visual? biar halunya makin komplit .. hehe. ..
oh iya .. kasih saran dong ... setuju nggak? kalau Novel "Putra Raja" diterbitkan?
Galau soalnya, sebagai penulis receh aku sadar diri lalau karyaku sangat jauh dari kata sempurna. Tapi berkat dukungan kalian, aku bisa terus nulis meski bahasa yang aku gunakan masih amburadul gak karuan.
ini Ig ku ya ...
__ADS_1