
Leo mengusap air matanya dan langsung berlari memeluk Shena. Leo menumpahkan segala perasaannya yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Leo masih belum bisa percaya kalau hidup Refald akan berakhir begitu saja tanpa ada salam perpisahan. Leo bahkan belum sempat mengucapakan hal yang ingin ia ucapkan sejak dulu terlepas dari apa yang sudah Refald lakukan untuknya.
Meskipun keduanya selalu saja bertengkar bila bersama, tak dapat dipungkiri bahwa Leo sangat menyayangi Refald lebih dari apa yang ia bayangkan selama ini. Refald selalu ada untuk Leo dan juga selalu menjaga serta melindungi Leo. Jika Refald pergi seperti ini, tentu saja, Leo tak bisa menerimanya. Shenapun mengerti dan sangat memahami seperti apa perasaan suaminya yang sedang dilanda kesedihan yang begitu dalam. Dengan sabar, Shena terus memeluk tubuh Leo agar ia kembali tenang meskipun itu tidaklah mudah.
“Percayalah Sayang. Kak Refald pasti baik-baik saja. Dia akan kembali pada kita. Kau Harus yakin itu, dia adalah kakakmu. Dan kau sangat memahami dia lebih dari siapapun.” Mata Shena juga ikutan berkaca-kaca saat mengatakan kalimat itu untuk suaminya. Bohong bila Shena tak ikut sedih, baginya Refald bukan hanya idolanya, melainkan seperti kakak kandungnya sendiri yang selalu mendukung dan membelanya.
“Aku … memang tak ingin memercayainya, Sayang. Dia tidak boleh pergi begitu saja sebelum berduel denganku. Sebab ia janji padaku. Kami akan bertarung bersama. Seorang raja dedemit seperti Refald, tak boleh mengingkari janjinya. Dia tak boleh pergi seperti ini tanpa mengatakan apapun padaku,” ujar Leo dengan nada suara yang terdengar sedih.
“Aku tahu, kau adalah adik kesayangannya, kak Refald takkan pergi tanpa pamit padamu. Dia pasti kembali berkumpul dengan kita semua. Kau dengar aku? Dia akan kembali, aku yakin … kak Refald akan kembali.” Air mata Shena jatuh membasahi pipinya dan buru-buru mengusapnya agar suaminya ini merasa kuat menghadapi kenyataan terburuk dalam hidupnya. Perlahan, Shena melepas pelukannya dan membantu mengusap air mata pria pujaan hatinya.
“Jangan tunjukkan air mata ini dihadapan kakak ipar karena bagaimanapun juga, dialah yang paling terpukul mendengar apa yang sedang dialami kak Refald sekarang ini. Kita berdua harus kuat supaya kak Fey juga kuat. Tak peduli berapa lama kita menunggu, kita harus percaya bahwa kak Refald akan bisa berkumpul kembali dengan kita. Dimanapun dia berada, dia pasti akan baik-baik saja.” Shena berusaha tegar dihadapan suaminya dan juga menguatkan dirinya sendiri. “Sekarang pergilah, kita harus cepat sadarkan kakak ipar.” Shena mengusap lembut kedua pipi Leo dan Leo mencium mesra kedua tangan indah itu.
Tanpa suara, Leo pergi meninggalkan goa dan mencari air segar di sungai terdekat. Sementara Shena, juga pergi keluar goa untuk mencari daun-daun hutan yang bisa membantu menyadarkan Fey dan memulihkan tenaganya begitu ia sadar lagi nanti. Sekarang, tinggalah Fey seorang diri dan pak Po, tiba-tiba saja datang menghampiri Fey yang terbaring lemah diatas batu besar.
“Siapa wanita ini?” gumam pak Po lirih dan ia terkejut karena melihat Fey tiba-tiba mengigau menyebut nama Refald.
__ADS_1
“Refald,” seru Fey dalam igauannya. Matanya tetap terpejam tapi peluh membasahi seluruh wajah cantik Fey. “Refald, kaukah itu?” seru Fey lagi. pak Po mundur selangkah karena ia bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Dalam mimpi Fey, ia berada disebuah tempat yang gelap dan dipenuhi oleh kabut tebal. Ia tak bisa melihat sekeliling saking tebalnya kabut itu, bahkan langit-langit juga tak terlihat sehingga Fey tak bisa memastikan pakah ia ada di dunia atau di alam lain. Samar-samar, ia melihat sosok pria berdiri tegap dihadapannya. Pria itu sama sekali tak asing lagi bagi Fey. Fey sangat yakin kalau pria gagah tersebut adalah Refald. Orang yang amat sangat dicintainya.
“Refald! Kaukah itu?” tanya Fey sekali lagi. Ia tidak peduli ada di mana dia sekarang, yang penting ia bisa bertemu dengan Refald lagi.
Pria yang berdiri tak jauh dari tempat Fey pun menoleh sambil tersenyum manis pada istrinya. Yah tidak salah lagi, pria itu memang Refald. Ia sengaja menemui istrinya melalui mimpi Fey untuk menyampaikan sesuatu hal yang sangat penting. Senyuman Refald yang menawan meyakinkan Fey bahwa pria yang berdiri tegap diahadapannya benar-benar suaminya.
Sosok Refald kali ini masih menjadi misteri tersendiri bagi Fey. Sebab ia tidak tahu apakah pria tampan yang berdiri dihadapannya ini benar-benar Refald atau bukan. Apa dia masih hidup atau telah tiada, Fey sungguh tidak tahu. Namun terlepas dari siapakah Refald yang sekarang, Fey tidak peduli. Asalkan ia bisa bersama dengan Refald, itu sudah lebih dari cukup bagi seorang Fey.
“Refald, kemana saja kau? Kenapa tidak segera menemuiku? Syukurlah kau baik-baik saja,” ujar Fey antara haru dan bahagia. Ia sangat senang, bisa merengkuh kembali tubuh suaminya.
Akhirnya, Fey bisa memeluk erat tubuh orang yang paling berarti dalam hidupnya. Dengan segenap hati, Fey menenggelamkan dirinya dalam dekapan Refald seolah tak mau dilepaskan selamanya. Hanya saja, ada yang sedikit berbeda dari diri seorang Refald. Tubuh pria ini tak lagi hangat dan serasa sangat dingin. Refald juga tak bersuara dan memilih diam mematung menatap istrinya yang memeluknya dengan sangat erat seerat-eratnya.
“Ada apa? Kenapa kau diam saja?” tanya Fey bingung. “Kenapa tubuhmu dingin sekali? Apa kau kedinginan?” Fey memegang kedua lengan suaminya yang dingin karena merasa sangat cemas.
__ADS_1
“Aku baik-baik saja Honey, aku datang karena ada yang ingin aku sampaikan padamu.” mata Refald terlihat serius memandangi wajah cemas Fey.
“Apa maksudmu kau datang? Apa kau mau pergi lagi? Aku ikut denganmu,” seru Fey lebih panik dari sebelumnya. Ia tak ingin berpisah dari Rerfald. Fey bertekad, kemanapaun Refald pergi, ia akan mengikuti suaminya.
“Tidak bisa Honey, kau harus tetap di sini, bersama Leo dan Shena. Kau tak bisa ikut denganku,” terang Refald.
“Kenapa?” seru Fey dengan nada tinggi. “Aku tetap akan ikut denganmu. Jangan tinggalkan aku lagi, Suamiku. Aku hanya ingin bersamamu, walaupun aku harus mati, aku akan tetap ingin pergi denganmu.” Mata Fey mulai berkaca-kaca memikirkan segala kemungkinan terburuk saat ini.
Wajah refald yang pucat dan tubuhnya yang dingin membuat hati Fey serasa hancur sehancur-hancurnya. Ia tak ingin percaya dan tetap yakin bahwa suaminya ini masih hidup.
Aku yakin ini hanya mimpi, Refaldku tak mungkin mati. Ia takkan pernah meninggalkanku seperti ini, batin Fey mencoba menahan segala rasa kepedihan yang mendera.
Refald memejamkan mata seakan tahu bahwa Fey takkan pernah mau menuruti permintaannya. Namun, ia tak punya banyak waktu untuk meyakinkan istrinya dan harus segera memberitahu apa saja yang harus dilakukan Fey agar semua orang yang terjebak di sini bisa segera keluar dari dimensi ini.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***