Menikahi Seorang Putra Raja

Menikahi Seorang Putra Raja
episode 115


__ADS_3

Saat ini, tubuh Rhea tertahan diatas dahan sebuah pohon besar. Ia sangat terkejut dan agak merasa sedikit sakit dibagian lengannya akibat benturan sewaktu Rhea terjatuh tadi. Yang lebih membuat Rhea heran adalah ia tak bisa menggunakan kekuatannya.


"Ada apa ini?" tanya Rhea. Ia masih bingung dan tiba-tiba saja ia dikejutkan dengan suara benturan lain dari sisi kiri tempat Rhea berada.


"Brak!"


Suara benturan itu sangat keras terdengar dan betapa terkejutnya Rhea saat ia melihat siapa yang mengalami nasib sama seperti dirinya. "Ibu!" seru Rhea langsung.


Divani langsung terkejut mendengar suara teriakan putrinya. Hanya saja posisi Divani sedang tidak memungkinkan untuk bergerak leluasa.


"Jangan bergerak Ibu, Ibu bisa jatuh." Rhea mengingatkan.


Sama halnya dengan dirinya. Ibu Rhea terjatuh tepat diatas batang dahan dan sepertinya, dahan tersebut tak bisa bertahan lama untuk menopang beban tubuh mungil mereka. Sebab dahan itu juga tak kalah mungil dengan Rhea dan Divani.


"Sepertinya, kau akan jatuh sebentar lagi," ujar Divani.


"Bukan aku Ibu, kita berdua."


"Kau lupa Sayang. Aku sudah mati. Jadi tidak mungkin aku mati lagi. Hanya saja aku tak bisa menggunakan kekuatanku. Meskipun aku jatuh, aku tidak akan mati. Berbeda denganmu. Kau manusia, akan sangat berbahaya bila kau sampai jatuh dari situ."


"Jika begitu, kenapa wujud Ibu tak transparan lagi? Ibu seperti manusia sepertiku." Mata Rhea langsung terbelalak menyadari sesuatu. "Apa mungkin, Ibu ... jadi manusia lagi?" seru Rhea antara percaya dan tidak percaya.


"Itu tidak mungkin," sanggah Divani. Satu-satunya orang yang bisa mengubah wujud Divani menjadi seperti manusia hanyalah raja dan ratunya. Mustahil kalau ia berubah jadi manusia tanpa sebab.


"Apa ... Ibu merasakan sakit sepertiku?" tanya Divani was-was.


Divani memeriksa kondisi tubuhnya yang memang memadat dan tak transparan lagi. Ia tak merasakan sakit apapun. Artinya, tak ada yang berubah dari status Divani yang masih menjadi dedemit pasukan Refald. Hanya tubuhnya saja yang memadat kayaknya jasad manusia.


"Rhea, sepertinya aku ... jadi mayat hidup sekarang."

__ADS_1


"Apa?" Rhea terkejut mendengar pernyataan ibunya. Bersamaan dengan itu, dagan yang menopang tubuh Rhea mulai memberi tanda kalau sudah tak bisa bertahan lama lagi menempel dipohonnya.


"Jangan bergerak dulu, Rhea. Keselamatanmu jauh lebih penting dari apa yang terjadi padaku." Divani sangat mengkhawatirkan keadaan putrinya.


"Lalu apa yang harus aku lakukan, Ibu?" Rhea jadi sedikit khawatir juga. Kekuatannya dan kekuatan ibunya tiba-tiba menghilang tanpa alasan.


"Aku akan menjatuhkan diriku dan menjadi alasmu dibawah saat kau jatuh. Dahan itu sudah tak bisa bertahan lama lagi."


Krek!


Belum lama Divani selesai bicara, dahan itu sudah mulai menunjukkan eksistensinya. Perlahan tapi pasti, sedikit demi sedikit dahan itu patah dan ... wussshhh! Tubuh Rhea beserta dahan itu jatuh terjun bebas ke bawah susuai jalur gravitasi bumi yang menariknya.


"Tidak! Rhea!" Teriak Divani dan iapun ikut menerjunkan diri berharap bisa menyelamatkan putrinya jangan sampai tubuh Rhea menyentuh tanah.


Namun, apa yang dikhawatirkan Divani ternyata sia-sia. Sebab, disaat tang tepat Rey datang dan langsung menangkap tubuh istrinya dalam dekapannya. Begitu juga dengan pak Po yang langsung menangkap tubuh Divani tepat waktu. Para suami-suami kece itu datang menyelamatkan istri-istri mereka sebelum dua wanita cantik itu mendarat mulus di tanah.


Sempat terpikir oleh gadis itu kalau ia bakal tak bisa melihat wajah tampan suaminya seandainya Rhea benar-benar jatuh ke tanah dan sudah dipastikan apa yang tejadi setelah itu. Tapi kini ia bisa bernapas lega karena Rey datang bak pahlawan kesiangan untuk menyelamatkannya.


"Rey," panggil Rhea masih tertegun. Namun tak dapat dipungkiri kalau ada rasa bahagia di hati Rhea.


"Ehm, aku disini. Jangan pernah tinggalkan aku lagi atau aku akan mengurungmu disuatu tempat supaya kau tidak melarikan diri lagi seperti yang kau lakukan sekarang ini." Sebuah ancaman manis dari Rey.


"Maafkan aku, harusnya aku mendengarkanmu. Aku sungguh-sungguh minta maaf." Rhea terlihat menyesali apa yang terjadi disini.


Sebuah ciuman manis mendarat mulus dibibir Rhea yang bergetar. "Tidak apa-apa, kau sudah bersamaku sekarang. Aku lega," ujar Rey setelah menyudahi ciumannya.


"Auch," rintih Rhea lagi. Lengannya kembali terasa sakit.


"Kenapa? Apa kau terluka?" Rey tampak cemas dan memeriksa lengan Rhea.

__ADS_1


"Lenganku menghantam Dagan dengan keras tadi, sepertinya lenganku terluka."


"Buka bajumu, aku akan memeriksanya."


"Disini?" tanya Rhea.


"Dimana lagi? Hanya ada aku, kau serta ayah dan ibu. Aku rasa ... mereka juga tidak keberatan karena kita berdua sudah menikah. Aku ingin tahu sedalam apa lukamu." Rey membantu membuka pakaian atas Rhea. Ada luka memar di lengan Rhea dan sepertinya itu luka yang serius. "Jangan banyak bergerak dulu supaya lukamu tidak terlalu parah." raut wajah Rey terlihat sedih.


Dalam keadaan genting begini, Rey tak bisa membantu apa-apa karena kekuatannya masih belum kembali. Walaupun sudah kembali, jika tetap berada di medan magnet ini, kekuatan Rey tak bisa digunakan.


"Aku baik-baik saja, jangan cemas begitu." Rhea memegang salah satu pipi suaminya.


Dua insan ini saling menatap satu sama lain. Aura cinta yang kuat menyelimuti keduanya walaupun baik Rey ataupun Rhea sama-sama tidak tahu ada dimana mereka sekarang dan bahaya apa yang bakal dihadapi mengingat tempat ini sudah melemahkan kekuatan Rhea dan kedua orang tuanya. Namun, hal itu serasa mudah karena Rey dan Rhea masih bisa bersama-sama.


Begitu pula dengan pak Po. Ia berhasil menangkap tubuh Divani dalam gendongannya. Walaupun Divani tidak bisa mati lagi, tetap saja pak Po tidak akan membiarkan istrinya jatuh ke tanah begitu saja. Seperti halnya Divani, tubuh pak Po yang harusnya transparan juga memadat. Bahkan kini keduanya terlihat seperti manusia daripada setan.


"Bagaimana aksiku ini, Di ... keren, kan?" pak Po memamerkan gigi rata putihnya.


"Kau sama saja seperti biasanya. Bedanya kau dan aku tak bisa menggunakan kekuatan kita di tempat ini," jawab Divani. Ia hanya ingin memastikan kondisi putrinya baik-baik saja. Syukurlah suami Rhea berhasil menangkap tubuh Rhea tepat waktu tanpa mengalami kendala.


Mood pak Po langsung berubah saat mendengar pernyataan istrinya. Padahal, ia kan juga ikut beromantis ria seperti putri dan menantunya walaupun ia sudah tua tapi terlihat tetap awet muda.


"Di, aku sedang mencoba beromantis ria denganmu, kenapa kau tidak peka?" tanya pak Po. "Nggak asyik, ah?" ujar pak Po mulai ngambek.


"Sekarang bukan saatnya kita untuk romantis-romantisan, Ezi. Lagian sejak kapan kau romantis padaku?" ganti Divani yang sewot. Wajah pak Po langsung cemberut akut melihat Divani sangat cuek padanya.


BERSAMBUNG


***

__ADS_1


__ADS_2