
PERHATIAN: Ini hanya dunia halu semata, sama sekali tidak ada maksud menyinggung pihak manapun. Jika ada kejadian atau peristiwa yang sama, berarti hanya kebetulan. Mulai masuk fantasi, semoga suka dengan haluku .. wajib baca sampai akhir aku up .. hari ini bonus 4 episode sekaligus.
Happy reading!
***
Sesuai seperti apa yang diinginkan Rey, naga itu menghentikan laju gelembung udara yang mengurung Bima tepat 1 meter dari atas sungai larva itu mengalir. Mata Rey melotot melihat kondisi Bima yang lemah. Ia juga memerhatikan anggota keluarganya yang lain. Mereka semua tak sadarkan diri dan terkurung dalam gelembung udara masing-masing. Rey merutuk dirinya sendiri karena dia tidak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan orang-orang yang dicintainya.
“Apa yang harus aku lakukan, ayah? Jika kau ada diposisiku, apa yang akan kau lakukan? Tolong … beritahu aku! Aku tahu kau bisa mendengarku dimanapun kau berada sekarang,” gumam Rey lirih. Ia sudah hampir putus asa karena tak juga bisa menemukan jalan keluar untuk menghadapi naga ini.
“Hahaha … ayahmu tidak akan pernah bisa mendengar keluhanmu. Kau tahu kenapa? Karena dia … ada di dalam aliran sungai larva itu. Aku rasa, aku tidak perlu menjelaskan apa artinya, hahahaha ….” Naga hitam itu tertawa sangat keras hingga mengguncang seluruh dinding goa.
Tak butuh waktu lama, bongkahan dinding goa akibat guncangan itu langsung runtuh dan masuk ke dalam aliran sungai larva. Semua benda yang masuk kedalam sungai pijar itu, langsung lenyap tak berbekas.
__ADS_1
“Apa?” Rey menatap marah sang naga yang juga menatapnya. “Huh, kau pikir aku akan tertipu dengan bualanmu? Ayahku tidak mungkin jatuh ke sungai itu. Kau tidak tahu betapa hebatnya ayahku. Dia raja dedemit terkuat yang pernah ada didunia ini. Kau … bukanlah tandingannya. Jika ayahku mengetahui perbuatanmu ini, maka kau hanya akan tinggal legenda saja seperti sebelumnya.”
“Hahaha … aku tahu, raja Mirza Banta memang tak terkalahkan, tapi bukan berarti aku tidak bisa mengalahkannya. Setiap orang punya kelemahan, dan aku menggunakan kelemahan ayahmu untuk menyingkirkannya.” Naga hitam itu terlihat serius dengan ucapannya seolah apa yang ia katakan itu benar.
“Tidak mungkin!” sergah Rey. “Ayahku tidak punya kelemahan apapun. Kau jangan bohong! Kau pikir kau itu siapa? Kau hanyalah iblis jahat yang suka meresahkan orang lain! Huh, makhluk legenda apanya? Kau itu tak lebih hanya sekedar monster mengerikan!” Rey benar-benar tidak bisa percaya jika ayahnya yang luar biasa hebat itu dapat dikalahkan oleh naga bengis ini.
“Terserah kau mau percaya atau tidak, tapi aku memang bisa mengalahkan ayahmu dengan mudah. Kau mau tahu bagaimaan caraku mengalahkannya?” Naga itu menatap tajam Rey yang tertegun ditempatnya. Sampai kapanpun Rey tidak akan pernah percaya kalau ayahnya sudah kalah. Jelas itu sangat tidak mungkin.
“Tidak! Ayahku tidak akan kalah dari monster sepertimu, itu tidak mungkin. Kekuatan ayahku sangat luar biasa dan semakin lama … dia semakin bertambah kuat. Monster sepertimu, tidak ada apa-apanya baginya. Kau pasti berbohong padaku. Ayahku adalah raja yang tak terkalahkan. Aku yakin dia masih hidup, aku bisa merasakannnya karena darah ayah, mengalir dalam darahku. Kau tidak bisa menipuku.” Rey tetap yakin pada pendiriannya, bahwa ayahnya masih hidup dan sedang berada disuatu tempat.
Mata Rey langsung terbelalak mendengar nama ibunya disebut oleh monters mengerikan itu. “Ibu? Apa yang kau lakukan padanya? Dimana ibuku?” teriak Rey marah. Ia sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi, tapi … mati-matian Rey berusaha keras menahan rasa amarah itu agar ia tak kehilangan kekuatannya walau Rey sangat ingin melampiaskan emosinya dengan melenyapkan naga hitam ini. Sayangnya, untuk saat ini ia tak berdaya.
Dari bawah tubuh naga hitam itu, muncullah sosok wanita yang sangat Rey kenal. Wanita itu berjalan gontai, lemah dan bertenaga. Air matanya tak berhenti mengalir membasahi pipi lembutnya. Ia menatap wajah Rey dengan penuh linangan air mata. Napasnya turun naik seolah ingin menjerit tapi tidak bisa. Wanita cantik itu, sudah tak sanggup berjalan lagi dan iapun terduduk lunglai sambil terus menangis sesenggukan tepat dibawah tubuh naga.
__ADS_1
“Ibu ….” ujar Rey lirih. Ia tak kalah terkejut dengan apa yang ia lihat. Kondisi ibunya jauh lebih mengenaskan dibandingkan dirinya. “Tidak, kenapa kau menangis. Aku akan mengalahkan monsters itu dan kita semua akan kembali pulang bersama.” Rey mencoba menguatkan hatinya walau ia sendiri tak kuasa menahan air mata saat melihat Fey terus saja menangis tersedu-sedu. Kejadian ini mengingatkan Rey saat Rhea tiada yang mengakibatkan ia harus terpisah dengan ayahnya.
“Tidak, Rey … ayahmu …” Fey menangis lagi, rasa sesak didadanya benar-benar membuatnya tak bisa bernapas, bahkan untuk bicarapun Fey sudah tidak sanggup.
“Tidak akan terjadi apa-apa dengan ayah, Ibu! Aku tidak akan pernah percaya pada apa yang dikatakan monster itu. Ayahku … dia masih hidup, aku tahu ayah masih hidup. Percayalah padaku Ibu, aku masih bisa merasakannya. Sungguh aku bisa merasakan hawa keberadaan Ayah.” Rey hendak melangkah maju tapi sang naga memberi peringatan keras untuk tidak mendekati ibunya.
“Tetaplah ditempatmu kalau kau tidak mau menyaksikan ibumu menyusul ayahmu.” Naga itu berteriak kencang supaya Rey tidak macam-macam dengannya.
“Aku tidak bisa merasakannya Rey,” isak Fey masih sambil menangis pilu. “Aku … tidak dapat merasakan jiwa ayahmu lagi. Yang kau rasakan itu … adalah aku … jiwaku dan Refald juga pernah bersatu. Namun kini, yang tersisa hanyalah aku! Sedangkan ayahmu …” Fey kembali menangis, kali ini lebih histeris lagi. Ia mencoba menahan dadanya karena tak kuasa menerima apa yang terjadi pada suaminya. “Refald ….” Suara Fey bergetar saat menyebut nama suaminya.
“Tidak!” Rey sangat shock. “Tidak mungkin! Itu tidak mungkin! Ayah … ayaaaaaaaah!” teriak Rey menggelegar dan membuat goa ini hampir runtuh. “Ayaaaah!” teriak Rey sekali lagi. Ia berharap, Refald bisa mendengar suara teriakannya seperti yang biasa ia lakukan. Rey sungguh berharap Refald kembali muncul dengan kerennya seperti waktu itu dan menyelamatkan mereka semua yang ada disini. “Ayahhhhh!” Rey berteriak lagi, tapi suaranya sudah serak sehingga tak sekeras sebelumnya. “Datanglah,” isak Rey karena sang ayah tak kunjung datang juga.
Rey terduduk lemah. Dalam hatinya ia tidak bisa percaya semua ini. Rey tidak ingin memercayainya. Keksaih Rhea itu terus memukul-mukul tanah dengan kepalan tangannya, Rey menyalahkan dirinya yang terlalu lemah dan tak berdaya. Jangankan untuk melindungi orang-orang yang dicintainya, melindungi dirinya sendiri saja ia tidak bisa. Rey menangis, ia menjerit untuk meluapkan semua amarahnya. “Arrrgggghhh!” teriak Rey dengan lantang.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***