
"Gawat!" gumam Shena sambil merutuki diri sendiri yang lengah dan kurang waspada.
Shena tak menyangka tempat persembunyiannya bisa diketahui secepat ini. Padahal baru saja ia keluar dari kandang macan dan kini mereka berdua malah terperangkap di kandang buaya.
"Hei kalian berdua! Berhenti berkelahi atau dua wanita cantik ini akan mati!" Seru seseorang yang sedang menyandera Shena dan Fey. Dua wanita itu ditodong tombak runcing oleh dua orang yang merupakan komplotan dari orang-orang yang berkelahi dengan Leo dan Refald.
"Honey!" ujar Refald cemas begitu melihat Fey.
"Sayang!" Leo tak kalah terkejut dari Refald saat melihat istrinya jadi ikutan disandera juga. "Sial!" geram Leo. "Oey, biksu Tong. Bagaimana ini? Kita tak boleh membunuh orang-orang ini? Tapi mereka menyandera istri-istri kita," bisik Leo pada Refald yang berdiri tegap di sampingnya.
Mata Refald terus bertatapan dengan Fey yang juga melihatnya. Ada sesuatu yang terjadi diantara keduanya sampai membuat Refald tak bisa berkata apa-apa. Fey tak lagi menolak Refald seperti sebelumnya meskipun ia tak ingat apapun tentang Refald. Sebaliknya, wanita yang dalam dunia ini menjadi putri Candra Kirana itu kini tersenyum manis pada orang asing yang serasa dekat dihatinya.
Refald tercengang melihat senyuman itu yang artinya, Fey sudah mulai merasakan betapa besar cinta Refald untuknya. Walau Fey tak ingat seperti apa hubungan keduanya di dunia ini, tapi cinta keduanya sangat kuat. Perasaan Fey dan Refald masih terhubung satu sama lain dan Refald bisa merasakan itu.
"Oey, biksu Tong! Kau dengar aku tidak!" Leo ikutan keki melihat kakak dan kakak iparnya malah saling lempar senyum bak pasangan yang sedang kasmaran dan baru saja jadian. Padahal mereka semua tak dalam waktu yang tepat untuk saling mengumbar kemesraan.
"Hedeuh! Raja dedemit sepertimu langsung jadi gila kalau sedang jatuh cinta," gumam Leo. Sementara ia sendiri menatap penuh cinta wajah cantik Shena yang mengkhawatirkan keadaan dirinya. Sedikit banyak suami Shena itu paham betul bagaimana perasaan Refald saat ini karena iapun merasakan hal yang sama. "Baiklah, kita tak perlu melakukan apa-apa demi wanita yang kita cintai." Leo sangat mengerti situasi yang terjadi saat ini.
Melawanpun sudah tak ada artinya. Yang bisa Leo dan Refald lakukan adalah tetap menjaga keseimbangan cerita karena mereka berdua bukanlah pemeran utamanya. Melihat dua lawan orang-orang desa ini tak berkutik lagi. Beberapa orang langsung menyerang Leo dan Refald bersamaan. Dua pria itu hanya diam saja dan tetap berdiri tegak menatap wajah-wajah panik istri-istri mereka. Tubuh Refald dan Leo dipukuli bertubi-tubi, tapi tak ada satupun dari mereka melawan ataupun bergeming dari tempatnya.
"Tidak! Leo! Jangan pukuli dia! Pukul aku saja! Yang penting jangan pukuli suamiku!" Isak Shena sesenggukan. Sementara Fey terus saja diam seolah merasakan sakit yang amat sangat melihat pria yang berhasil menggetarkan hati dan jiwanya tetap tersenyum meskipun ia jadi babak belur.
Shena terus berusaha melawan hendak menolong suaminya, tapi tenaganya tak cukup kuat. Orang-orang ini, memiliki kekuatan fisik yang sangat besar melebihi batas manusia normal di zamannya.
"Kakak, lakukan sesuatu. Jangan biarkan mereka terluka. Aku tak kuat melihatnya. Lebih baik bunuh aku saja daripada harus melihat suamiku seperti itu." tangis Shena semakin menjadi kala Leo tumbang penuh luka disekujur tubuhnya begitu pula dengan Refald.
"Hentikan!" seru Fey sudah tidak tahan lagi. "Jika kalian melukai mereka satu pukulan lagi, akan aku hukum kalian semua!" Seru Fey dengan lantang. Pandangan matanya tak pernah lepas dari Refald.
__ADS_1
"Memangnya siapa kau berani berkata begitu pada kami!" teriak orang yang menodongnya.
Fey mengeluarkan sebuah giok sebagai simbol keluarga kerajaan. Sontak orang itu terkejut dan seketika mereka yang melihat giok tersebut langsung berlutut dihadapan Fey.
"Maafkan kami, Gusti ... kami tidak tahu ..."
"Pergilah dan menghilanglah dari wilayah ini. Jangan katakan pada siapapun kalau kalian semua bertemu denganku." Fey memotong kata-kata orang yang berlutut dihadapannya.
"Tapi ... pangeran Inu sedang mencari anda Gusti ... ikutlah bersama kami ke istana!"
"Temui aku di kerajaan Gagelang. Jika dia memang benar mencintaiku, maka dia akan tahu siapa aku, tapi kalian tak boleh memberitahunya. Jika sampai dia tahu ... aku akan menghabisi kalian semua. Sekarang pergilah dan jangan pernah muncul lagi dihadapanku."
"Sendiko dawuh Gusti." Orang itu mengatupkan kedua tangannya tanpa berani protes lagi. Ia juga memimpin rekan-rekannya yang lain untuk pamit undur diri dengan berjalan mundur sambil berjongkok lalu bergegas pergi menghilang ke dalam hutan belantara.
Shena langsung berlari memeluk tubuh suaminya yang terluka sambil menangis. "Sayang, kau tidak apa-apa?" Isak Shena merebahkan kepala Leo dalam dekapannya.
"Kau ini? Babak belur begini masih saja bisa berkata mesum?" pekik Shena dan mengusap bahu Leo yang baru saja dipukulnya.
"Aku tidak mesum, Sayang. Aku berkata yang sebenarnya," kilah Leo.
"Sudah, jangan banyak bicara! Sini kubersihkan lukamu. Kau bisa berdiri, kan?" ujar Shena.
"Bisa ... tapi papah aku." Leo mulai bersikap manja. Ada untungnya juga ia babak belur sehingga Shena jadi sangat perhatian lebih padanya.
"Kalau seperti ini, aku rela babak belur setiap hari," gumam Leo sambil menatap istrinya yang sedang susah payah memapahnya berjalan menuju sungai terdekat.
"Kau bilang apa?" tanya Shena mendudukkan suaminya diatas batu besar tepat dipinggiran sungai.
__ADS_1
"Aku cinta padamu," jawab Leo.
"Bukan itu, kau tidak bilang begitu tadi." Shena mulai merobek sedikit bagian bawah kebayanya agar bisa ia gunakan untuk membersihkan luka-luka Leo.
"Saat ini ... hanya itu yang ingin aku katakan padamu." Leo menatap tajam Shena.
"Dasar tukang gombal!" ledek Shena.
"Aku tidak sedang menggombal Sayang. Aku sungguh jatuh cinta padamu. Aku mau kau memperlakukanku seperti ini setiap hari. Aku tidak keberatan jika harus terluka, dengan begitu kau bakal lebih perhatian padaku."
"Apa selama ini, aku kurang perhatian padamu?"
"Perhatian sih ... tapi tak sedalam ini." Mereka berdua saling bertatapan satu sama lain. Tak ada kata-kata yang keluar dari bibir Shena. Ia hanya fokus membersihkan luka-lukanya.
Pemandangan berbeda terjadi pada Fey dan Refald. Dalam diam, Fey berjalan pelan mendekat ke arah Refald yang berlutut dihadapan Fey. Ada darah yang keluar di sudut bibir Refald dan membuat Fey ikut berlutut untuk membantu menyeka darah bibir orang asing tapi tak lagi asing baginya.
"Kenapa kau memberitahu mereka identitasmu sebenarnya?" tanya Refald memulai pembicaraan.
Fey mulai berkaca-kaca dan mencoba menahan air matanya agar tidak tumpah keluar. "Aku juga tidak tahu, aku hanya tidak bisa melihat kau terluka lebih dari ini. Aku rasa aku sudah gila karena melakukan semua ini. Aku tak tahu apapun tentangmu, tapi aku merasakan rasa sakit yang amat sangat saat melihatmu terluka."
"Ini akan mengubah sejarah, tak seharusnya kau melakukan semua ini."
"Sejarah tidak akan berubah, orang-orang itu memang pengawal setia tunanganku dan aku yakin mereka akan mematuhi titahku dengan merahasiakan identitas asliku pada pangeran Inu. Tidak ada yang tahu seperti apa ending cerita ini. Baik aku ataupun pangeran Inu, tak pernah tahu wajah kami satu sama lain. Shena sudah memberitahuku semuanya. Akhir kisah cintaku dengan pangeran Inu akan berakhir di kerajaan paman kami, yaitu kerajaan Gagelang. Tapi kisah cintaku denganmu, terus saja abadi selamanya sampai aku terlahir kembali menjadi istrimu di masa depan." Mata Fey menatap tajam Refald yang tertegun mendengar ucapan Fey barusan.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1
siap-siap ...