
Sementara Fey dan Shena, terus berlari melalui jalan darat menuju lokasi pegunungan tempat Leo dan Refald berada. Karena Fey sedang hamil muda, ia tak bisa menggunakan kekuatannya secara maksimal. Istri Refald itu hanya menggunakan kekuatan seperlunya saja, seperti memindahkan batu atau kayu yang menghadang jalan mereka dan mengusir binatang-binatang buas yang hendak menyerang keduanya.
Sesekali, Fey mengajak Shena berayun diatas pohon layaknya seorang Tarsan untuk mempercepat perjalanan terutama saat mereka melewati rawa-rawa dan pasir penghisap. Fey sangat mengenal betul seluk beluk jenis medan hutan dimanapun ia berada karena sudah sering diajak Refald jalan-jalan berkeliling banyak hutan diseluruh penjuru dunia. Jadi, istri Refald itu langsung tahu mana jalan yang aman dan cepat untuk dilewati jika ingin menuju sesuatu di area gunung.
Untungnya, Shena juga bukan wanita manja dan lemah. Dengan cepat, ia bisa mengimbangi fisik kakak iparnya meskipun ia lebih sering ngos-ngosan. Namun, iapun juga bisa dengan cepat mengatur kembali napasnya dan bisa kembali berlari.
"Apa kau lelah, Shena?" tanya Fey disela-sela perjalanan mereka. Ia memerhatikan Shena yang sedang ngos-ngosan. Sepanjang perjalanan, istri Leo sama sekali tidak mengeluh. Pandangan matanya terus tertuju kedepan seakan tak sabar untuk segera bertemu dengan suaminya.
"Tidak Kak, tidak apa-apa. Lanjut saja. Aku ... harus tetap bertahan sampai aku bisa memastikan kalau Leo baik-baik saja." Shena memejamkan mata, untuk kembali merasakan panggilan suara hati suaminya.
"Bagus, bertahanlah sedikit lagi. Kita harus menyeberangi banyak rawa. Kemungkinan ini adalah rawa yang terakhir, sebab aku bisa merasakan aura Refald sudah dekat dengan kita."
"Ehm, aku juga bisa merasakan suara Leo terus menggema ditelingaku, Kak. Semoga saja kita bisa tiba tepat waktu." Shena membuka matanya dan memegang akar pohon besar yang menggantung lurus dihadapannya.
Awalnya, Shena sedikit takut saat ia harus bolak balik berayun diatas pohon dan bergelantungan dari pohon satu, ke pohon yang lain. Mau bagaimana lagi, cuma itu cara tercepat supaya Fey dan Shena bisa segera sampai ke tempat suami-suami mereka. Fey dan Shena tak bisa terbang seperti Refald, jadi mereka hanya bisa memanfaatkan alam yang ada.
Shena memberanikan diri beraksi seperti yang ada di film-film Tarsan. Fey juga meyakinkannya bahwa Shena tetap aman karena ia dalam perlindungan Fey. Shena juga tidak akan terluka seandainya ia jatuh karena pelindung Refald masih berfungsi dan melekat erat ditubuhnya.
Shena berusaha membuang jauh rasa gugupnya demi bisa menyelamatkan suaminya. "Ini untukmu, Leo. Tunggu kedatanganku," gumam Shena dalam hati dan iapun mulai berayun bebas menuju akar pohon lain yang ada diseberang rawa.
Aksi Shena itu membuat kagum Fey. Meski ia hanya wanita normal biasa yang tidak memiliki kekuatan apapun, tapi tekad Shena demi menyelamatkan orang yang ia cintai itu sangat kuat. Tak salah jika Shena memang pantas menjadi bagian dari keluarga Pyordova. Sebab, Shena bukanlah wanita cengeng dan lemah. Ia adalah wanita yang tangguh dan tak mengenal kata menyerah.
__ADS_1
"Tunggu aku, Refald. Aku segera datang." Feypun juga tak mau kalah dengan Shena. Ia menggenggam erat akar pohon yang menggantung itu dan mulai berayun menuju tempat Shena berdiri.
Namun tiba-tiba, Fey merasakan keram diperutnya sehingga genggaman tangan Fey melemah dan secara otomatis, tangan Fey terlepas dari akar pohon yang menggelantung itu. Dengan cepat tubuh Fey terhempas turun dan langsung masuk kedalam rawa. Yang lebih bahaya lagi adalah, rawa itu bercampur dengan pasir penghisap sehingga tubuh Fey perlahan terhisap ke dalam.
"Tidak! Kakak!" Teriak Shena sekencang-kencangnya setelah mengetahui apa yang terjadi pada kakak iparnya. Air matanyapun mulai bercucuran melihat Fey hampir saja tenggelam.
"Jangan berteriak Shena! Telingaku sakit mendengar teriakanmu," ujar Fey dengan sikap yang tenang setenang permukaan air kolam.
"Bagaimana aku tidak teriak? Kakak sedang dalam kesulitan. Apa yang harus aku lakukan?" Isak Shena sambil membersit hidungnya. Wajahnya langsung merah karena menangis bercampur panik.
"Dengarkan aku, Shena. Aku akan memotong akar-akar itu dan cepat lemparkan kembali kearahku. Lalu tarik aku. Kau bisa melakukannya, kan?" seru Fey.
"Tentu!" jawab Shena cepat. "Lemparkan akar itu padaku." Shena menunjuk sebuah akar panjang yang menggantung tak jauh dari tempatnya berdiri.
Begitu akar itu terpotong, dengan sigap, Shena langsung mengambil akar itu dan melemparkannya ke tempat Fey sebelum kakak iparnya itu benar-benar tenggelam.
Sekuat tenaga Fey mencoba meraih akar tersebut dan akhirnya, dapat! Shena langsung bernapas lega dan iapun bersiap menarik tubuh Fey ke tepi rawa.
Sambil menahan rasa sakit diperutnya Fey mencoba berbicara pada calon buah hati keduanya bersama Refald. "Bertahanlah Sayang. Kau harus kuat, kita akan segera bertemu dengan Ayahmu." Fey berusaha menenangkan janin yang ada di dalam kandungannya.
Secara ajaib, rasa sakit didalam perut Fey mendadak hilang seketika dan tenaga Fey seolah semakin bertambah. Iapun mencoba berenang dan meringankan beban Shena yang berusaha keras menarik tubuh Fey.
__ADS_1
"Bagus, Sayang. Kau anak pintar," gumam Fey senang.
Seketika Shena langsung menarik tubuh Fey aga segera keluar dari rawa penghisap. Istri Leo itu menggunakan seluruh tenaga dalamnya dan berhasil. Fey bisa kembali berada di tepi rawa dengan selamat. Melihat hal itu, Shena langsung berlari menyongsong dan memeluk tubuh Fey dengan sangat erat.
"Kakak!" seru Shena langsung ketika ia memeluk tubuh Fey yang terkejut. "Kau tidak apa-apa? Apa ada yang terluka?" tanya Shena melepas pelukannya dan memerhatikan Fey yang pakaiannya sudah kotor penuh lumpur.
"Aku tidak apa-apa. Lihatlah, aku baik-baik saja. Tapi, pakaianku jadi kotor semua." Fey memandang shock pakaiannya yang jadi hitam semua akibat lumpur yang menempel dipakaiannya.
Shena memerhatikan tubuh Fey dari atas hingga bawah seolah ada sesuatu yang mengganjal hati Shena. Hanya saja, ia tidak berani mengutarakannya dan lebih memilih memendamnya sendiri.
"Ada apa? Apa ... wajahku juga dipenuhi lumpur?" tanya Fey bingung melihat Shena menatapnya aneh.
"Ah ... tidak, Kak. Ehm, sebaiknya, kita cari sungai dulu untuk membersihkan baju Kakak."
"Kau benar, rasanya aneh jika harus berjalan dengan pakaian penuh lumpur begini." Fey berjalan mendahului Shena dan Shena hanya memerhatikan kakak iparnya dari belakang.
"Apa dugaanku salah, ya? Tapi aku yakin ...." Shena tak berani melanjutkan kata-katanya.
"Shena!" Panggil Fey dari kejauhan. "Apa yang kau lakukan disitu? Cepat kemarilah!"
"Baik, Kak." Shena berlari cepat menyusui Fey. Seandainya tebakanku ini benar, ini akan menjadi kabar yang membahagiakan, batin Shena sambil tersenyum simpul.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***