Menikahi Seorang Putra Raja

Menikahi Seorang Putra Raja
episode 55 Penjelasan


__ADS_3

"Dimana Arka?" tanya Fey membuka pembicaraan.


Refald masih memerhatikan sekeliling dan memanggil salah satu pasukannya. "Aku akan cari tahu, Honey."


"Anda memanggil saya, Raja?" ujar salah satu pasukan dedemit Refald yang tiba-tiba saja muncul didepan Fey dan suaminya.


"Apa kau sudah meletakkannya disana mas, Gen?" tanya Refald.


"Sesuai dengan titah anda Raja," jawab makhluk yang dipanggil mas Gen.


"Pak Po masih belum kembali?"


"Dia sibuk mencari oleh-oleh sesuai titah anda, Raja."


"Suruh dia kembali lebih cepat. Pakai saja kendaraan yang bisa ia kendarai supaya lekas sampai."


"Baik, raja. Kenapa pak Po tidak menggunakan kekuatannya saja?"


"Aku menekan kekuatannya terlalu kuat saat aku mendorongnya tadi. Butuh waktu sehari untuk pak Po agar kekuatannya kembali."


"Apa perlu saya bantu dia, Raja?"


"Tidak, biarkan saja. Itu wujud balas dendamku padanya." Refald menyeringai dan pasukannyapun mengerti. "Antar aku ketempat itu sekarang. Kasihan mbak Kun. Si bengek pak Po itu harus merasakan apa yang aku dan mbak Kun rasakan."


"Baik, mari ikut saya, Raja."

__ADS_1


Refald dan Fey pergi mengikuti salah satu pasukan Refald menuju salah satu goa yang entah ada dimana sekarang. Fey hanya bisa mengikuti kemanapun suaminya pergi tanpa berani berkomentar apapun. Sebab, saat ini ia seperti orang linglung yang sama sekali tidak mengerti apa-apa. Semuanya begitu misteri dan ia tidak bisa memecahkannya hanya dengan menebak-nebak, cuma Refald saja yang tahu, ada apa dibalik semua ini.


"Memangnya, apa yang dilakukan pak Po sehingga kau balas dendam padanya?" tanya Fey saat keduanya sudah mulai masuk di bibir goa.


"Makhluk kesayanganmu itu menyebalkan sekali Honey. Disaat aku mati-matian menahan kerinduanku yang amat besar padamu, dia dan Di malah enak-enakan bermesraan. Mereka berdua tak pernah terpisah sedetikpun. Berapa kalipun aku memisahkan mereka, mereka tetap bisa kembali bersama. aku sudah jengkel sekali dengannya. Sekarang, pak Po harus merasakan bagaimana rasanya berpisah dari orang yang amat kita cintai."


Lagi-lagi Fey dibuat melongo oleh Refald, hanya karena masalah itu, Refald tega mengerjai pak Po dengan memisahkannya dari Divani.


"Kau tega sekali Refald, apa kau tidak memikirkan bagaimana perasaan Rhea? Menantu kita itu sangat merindukan ayah dan ibunya."


"Tenang saja Honey, aku tidak sekejam itu walaupun aku ingin. Pak Po akan segera tiba tepat disaat Rhea sudah sadar." Refald terlihat tenang sekali.


"Terserah kau saja, aku hanya khawatir jangan sampai ada masalah lain lagi."


Beberapa jam bersama Refald, ada banyak hal dan kejadian unik terjadi. Namun inilah Refald, semua bisa terjadi meskipun setiap kejadian yang dialami selalu diluar nalar manusia bahkan hal-hal tidak masuk akal juga bisa dialami jika bersama dengan Refald.


***


"Apa ini, Refald? Apa yang terjadi dengan nenek Haida?" tanya Fey terkejut. Ia masuk dan mendekat ketubuh wanita tua yang sedang terbaring diatas tempat tidur dimana tempat tidur tersebut terbuat dari batu.


Refald maju melangkah dan berdiri di sisi istrinya. "Dengarkan aku baik-baik, Honey. Apa yang aku katakan agak sedikit menakutkan dan juga menyedihkan. Aku harap, kau mengerti. Semua yang aku lakukan juga demi kesejahteraan kita bersama."


"Aku tahu, aku akan mendengarkan semua yang kau katakan."


Refald meletakkan kedua tangannya tepat diatas tempat tubuh nenek Haida. "3 tahun lalu," ujar Refald sambil berkosentrasi penuh pada kedua tangannya. Aku meminta nenek Haida untuk menjaga dan melindungi Rhea selama aku tidak ada. Sayangnya, usia nenek tak sampai 3 tahun. 2 bulan lagi, ia harus menghadapi kematiannya sendiri. Kau tahu artinya kan, Honey? Jika sampai nenek Haida meninggal sebelum aku kembali, maka para iblis jahat yang mengincar Rhea akan menggunakan kesempatan itu untuk mencegahku kembali ke dunia fana ini dengan cara melenyapkan Rhea."

__ADS_1


"Lalu apa yang terjadi? Bagaimana nenek Haida bisa hidup sampai sekarang, maksudku sampai ia membantu melakukan semua persiapan ritual Rhea?"


"Aku membicarakan masalah ini dengan Arka, karena dialah satu-satunya makhluk astral yang tak akan ikut menghilang. Arka menawarkan diri, memasuki jasad nenek Haida ketika jiwanya pergi meninggalkan raganya. Arka masuk ke dalam raga nenek Haida yang kosong dan menggantikannya sebagai nenek Haida. Kejadian itu terjadi tepat saat Rhea tenggelam di dasar danau."


"Apa?" Fey terkejut. "Apa yang membuat Rhea tenggelam di danau itu adalah iblis jahat?" tanya Fey lagi.


"Ehm." Refald mengangguk dan mulai berbalik badan menghadap istrinya. "Mereka tahu kalau sang penjaga Rhea telah tiada dan selama proses pergantian raga itulah kesempatan mereka untuk melenyapkan menantu kita. Sayangnya, usaha mereka gagal karena Rara berhasil menyelamatkannya. Mereka kesal dan akhirnya membuat Rara celaka dengan menjepit salah satu kaki Rara hingga terluka. Nyawanya hampir saja tidak tertolong jika para penduduk desa tidak datang tepat waktu. Alasan kenapa nenek Haida tidak terlalu memerhatikan Rara, karena dia adalah Arka. Kau tahu sendiri, Arka dan mbak Kun sangat menyayangi Rhea seperti putri mereka sendiri."


Fey terkejut mendengar penjelasan kebenaran dari Refald. Tubuhnya langsung lemas sampai terhuyung mundur kebelakang. Ia sudah salah menilai Rara. Gadis malang itu, menjadi korban iblis jahat yang berusaha mencelakai menantunya.


"Aku sudah memberitahu Rara segalanya, karena itulah ia berubah jadi baik lagi sekarang. Rara sudah tahu, kalau neneknya yang sebenarnya sudah meninggal 3 tahun lalu." ujar Refald dan itu membuat Fey semakin terkejut lagi.


"Apa? Ka-kau ... bilang apa?" mata Fey yang berkaca-kaca menatap tajam suaminya. "Apa maksudmu kau sudah memberitahu dia? Kapan kau bicara padanya? Kau baru saja kembali tadi dan menghabiskan waktu bersamaku? Bagaimana bisa kau bicara dengan Rara sementara ia masih ada dirumah sakit dalam keadaan koma? Ia juga sudah menjadi baik selama beberapa hari ini? Dan itu sebelum kau datang. Bagaimana bisa ...." Fey tidak sanggup meneruskan ucapannya.


"Honey, sebenarnya ... aku sudah kembali, saat menantu kita berhasil menyempurnakan latihannya. Jiwa Rhea bisa bersatu dengan alam sehingga membuka jalan untukku keluar dari sangkar yang mengurungku selama 3 tahun ini. Malam dimana Rhea menyempurnakan latihannya, aku melihat semua yang terjadi. Rara hampir bunuh diri dan Rhea berhasil menyelamatkannya. Keduanya saling berpelukan dan memaafkan satu sama lain. Hal itulah yang membuat Rhea bisa melakukan ritual sempurnanya meski saatnya belum tiba. Tidak ada yang tahu aku sudah keluar malam itu. Begitu Rey membawa Rhea pergi, aku menyamar sebagai dirimu dan datang menemui Rara untuk memberitahu segalanya termasuk ritual yang akan dilakukan Rhea."


Fey mengatupkan mulutnya dengan kedua tangan. Air mata mengalir deras membasahi pipinya. Ia tak bisa berkata apa-apa lagi. Kebenaran ini jauh lebih mengejutkan daripada saat Refald mengajaknya berenang di samudera dan bertemu dengan siluman ikan paus terbesar didunia.


Saking lemasnya, tubuh Fey terduduk dan Refald langsung menangkap tubuh istrinya sebelum menyentuh tanah. "Kau tidak apa-apa, Honey?" tanya Refald sambil mengamati reaksi istrinya.


Fey menangis, ia tidak sanggup berkata-kata. Sebab ia bingung harus bicara apa. Perasaannya campur aduk tak karuan. Ia tidak tahu apakah harus senang ataukah sedih. Yang jelas Fey tak bisa menahan air matanya keluar.


Refald mendekap mesra tubuh istrinya dan mencoba menenangkannya. "Maaf Honey. Harusnya aku datang menemuimu lebih awal, tapi aku tidak bisa melakukannya karena aku punya alasan."


BERSAMBUNG

__ADS_1


***


__ADS_2