Menikahi Seorang Putra Raja

Menikahi Seorang Putra Raja
episode 142 Mengejar Refald


__ADS_3

Ternyata, Ken Sangit membawa Leo dan Shena kesebuah ruangan kecil yang ada di salah satu perut goa dimana mereka berteduh sekarang. Leo dan Shena saling pandang karena keduanya tidak tahu apa alasan Ken Sangit membawanya kemari. Seakan paham apa yang tertanam di benak pasangan suami istri yang baru saja menikah versi Ken Sangit ini, wanita perkasa itupun menjelaskan dengan bahasa yang santun dan enak didengar maksud dari tujuannya membawa Shena dan Leo ke tempat ini.


“Ini adalah kamar pengantin kalian berdua, maaf jika yang bisa kusiapkan ini hanyalah ruang sempit dan sederhana. Kami tidak tahu kalau bakal ada kejadian seperti ini dan semuanya diluar kendali kami. Sebagai pasangan pengantin baru, harusnya kalian menikmati malam pertama kalian dengan baik di tempat yang sudah aku siapkan sebelumnya. Namun, karena situasinya tidak memungkinkan untuk kembali ke istana, aku hanya bisa menyiapkan ini untuk kalian. Aku harap kalian berdua tidak keberatan.” Ken sangit membuka pintu ruangan goa yang entah bagaimana cara Ken sangit membuatnya, yang jelas goa ini benar-benar menakjubkan.


Shena sangat terkejut mendengar penjelasan salah satu dayang kakak iparnya, mulutnya bahkan menganga lebar saking tidak percayanya dengan apa yang baru saaj Ken sangit katakan.


Kamar pengantin? Malam pertama? Yang benar saja? batin Shena sambil melihat suaminya yang sedang tersenyum sumringah melihat dirinya.


Keterkejutan Shena semakin bertambah tatkala ia melihat ruangan di dalam goa sempit ini, ternyata tak sesederhana seperti yang dijelaskan oleh Ken sangit barusan. Kamar yang terbuat dari dinding goa ini jauh lebih indah dan natural dibandingkan kamar pengantin Shena dan Leo di dunia modern saat keduanya menikah dulu.


Hiasan bunga dan lampu obor di dinding goa menambah kesan romantis dan alami ruangan ini. Bau harum semerbak dari berbagai macam bunga-bunga warna warni tersebar disekitar tempat tidur yang terbuat dari batu beralaskan daun-daun kering nan lembut dan berlapiskan kain khas kerajaan Asmarantaka.


Semua keajaiban ini juga membuat Shena semakin terpana. Ini bagai mimpi untuk Shena. Berkali-kali ia mencubit lengannya untuk memastikan apakah ini nyata atau tidak dan rasanya terasa amat sakit. Artinya, yang Shena lihat ini nyata, dan bukan mimpi.


Bila Shena masih bergelud dengan pikiran dan hatinya, lain halnya dengan Leo yang merasa diuntungkan dan menang banyak dari kejadian yang terjadi dalam dunia ini. Ia tak terkejut sama sekali dan justru terlihat sangat senang. Akhirnya, iapun bisa menyalurkan birahinya di dunia ini bersama dengan wanita pujaan hatinya. Tentu saja Shena tak kuasa menolak menolak keinginan Leo jika suaminya itu sungguh ingin menikmati malam pertama lagi dengannya. Benar-benar kelakuan si Leo ini tidak berubah dimanapun ia berada.


“Kau yang buka bajumu atau aku yang buka, Sayang?” tanya Leo mulai menggoda Shena begitu Ken Sangit meninggalkan pasangan suami istri ini di dalam kamar goa.


Shena tak bisa berkata-kata lagi, biar bagaimanapun ia dan Leo telah menikah untuk yang kedua kalinya di dunia ini. Sudah kewajiban Shena juga melayani hasrat yang diinginkan suami nggak ada akhlaknya dalam keadaan apapun.


“Terserah kau saja, aku pasrah,” ujar Shena tanpa tenaga. Tanpa diminta, Shena merebahkan dirinya diatas tempat tidur dengan pandangan mata kosong.

__ADS_1


Melihat istrinya tak bersemangat begitu, Leopun akhirnya mengalah. Ia juga membaringkan tubuhnya di samping Shena dan memeluknya erat. Shena jadi bingung dengan sikap Leo, dan langung menatap wajah suaminya.


“Kenapa cuma meluk? Bukannya tadi kau ingin ….” Belum juga Shena menyelesaikan kalimatnya, Leo menempelkan jari telunjuknya di bibir istrinya.


“Sssssttt, jangan berisik. Aku tak ingin memaksa istriku yang sedang badmood padaku. Aku akan melakukannya dengan senang hati jika kau benar-benar menginginkannya supaya saat kita bercinta, suasananya jadi indah dan romantis. Tapi ... aku rasa malam pertama ini, kita tunda dulu sampai kau mau.” Leo membelai lembut pipi Shena. “Sekarang tidurlah dalam dekapanku, kau butuh rileks.” Leo mengulurkan tangan supaya kepala Shena menjadikan lengannya sebagai bantal.


“Benarkah ini? Kau tak marah?” tanya Shena sambil terus menatap wajah suaminya. Ada rasa bersalah juga dalam diri Shena. Habis mau bagaimana lagi, ia sedang tak ingin bercinta dengan Leo.


“Kau ingin aku berubah pikiran, hm? Tidurlah, kau kurang tidur sejak kita terdampar di tempat ini. Jika kau tetap tidak mau tidur juga, maka etalibunku bisa bangun dan aku tak bisa menahan hasratku lagi saat berada dekat bersamamu seperti ini, Sayang.” Leo mencium mesra kening istrinya dan melihat Shena memejamkan matanya.


Tak ada suara lagi dari Shena, wanita cantik itu benar-benar langsung terlelap dalam dekapan Leo yang hangat dan menenangkan hati. Inilah yang dibutuhkan Shena, paling tidak untuk saat ini Shena ingin tenggelam dalam lautan cinta Leo agar ia tidak frustasi memikirkan semua hal yang terjadi di dunia ini.


***


Keesokan harinya, Leo dan Shena sama-sama terbangun dari tidur mereka. Pagi ini, istri Leo itu terlihat fresh setelah ia tidur semalaman dalam dekapan mesra suaminya. Sebaliknya, Leo malah nampak lelah karena otot-ototnya menjadi kaku dan mati rasa. Namun, ia sangat bahagia ketika Shena terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya.


“Pagi Sayang,” sapa Leo, ia menggerak-gerakkan pingganya ke kanan dan ke kiri untuk melemaskan otot-ototnya. “Bagaimana tidurmu? Kau memimpikan bercinta denganku?” Leo mulai asal nyeletuk menggoda Shena.


“Tidak, aku tidak mimpi apa-apa,” jawab Shena singkat seolah merasa ada sesuatu yang aneh sedang terjadi. Ia juga memilih untuk tidak menggubris celetukan Leo.


“Ada apa, Sayang? Kenapa kau terlihat gelisah?” tanya Leo menatap perubahan ekspresi wajah Shena.

__ADS_1


“Entahlah, aku merasa ada yang aneh saja, kejadian ini sama seperti saat aku bertemu denganmu lagi di dunia ini. Pasti ada yang kita lewatkan saat kita tertidur.”Shena terlihat gelisah.


“Ayo kita keluar dan memastikan apakah dugaanmu itu benar atau tidak,” ajak Leo.


Mereka berdua membuka pintu kamar goa. Betapa terkejutnya Leo dan Shena saat mengetahui bahwa keduanya sudah tak ada di dalam goa lagi melainkan berada di tempat asing yang tidak mereka ketahui. Pasangan suami istri itu terheran-heran karena mereka berdua tengah ada disebuah perkampunagn ramai sama seperti saat Shena menemukan Leo kembali waktu itu. Bedanya, masyarakatnya tidak sama seperti yang ada di kerajaan Fey.


Semua penghuni perkampungan ini adalah orang-orang baru yang tak dikenal oleh Shena ataupun Leo. Ini sangat aneh, sebab sebelumnya mereka berada di tengah hutan belantara di malam harinya dan tiba-tiba saja mereka ada di perkampungan ramai di pagi harinya. Bagaimana bisa itu terjadi? Hal inilah yang menjadi teka teki bagi Shena dan Leo.


“Ada di mana kita sekarang?” tanya Leo bingung sekaligus takjub juga.


“Aku juga tidak tahu,” ujar Shena sambil mengamati sekeliling. Ia berusaha mempelajari situasi dan mengingat-ngingat bagian cerita mana yang sesuai dengan kondisi mereka saat ini.


“Dimana kak Fey dan yang lainnya? Bagaimana bisa ini semua berubah hanya dalam waktu semalam?” Leo celingak celinguk kesana-kemari untuk mencari keberadaan kakak-kakaknya dan tiba-tiba saja, Leo tak sengaja melihat Refald berlari masuk ke dalam hutan. “Itu dia!” tunjuk Leo dengan kencang dan bergegas mengikuti arah Refald berlari tadi, tak lupa Leo juga menggandeng lengan Shena dengan paksa agar ikut lari bersamanya.


“Benarkah kau melihat kak Refald?” tanya Shena yang sedang berlari bersama Leo menjauh dari keramaian.


“Benar, aku yakin itu dia, sepertinya ia sedang mengejar sesuatu tapi aku tidak tau itu apa,” jelas Leo. Tatapan matanya menatap lurus ke depan.


BERSAMBUNG


****

__ADS_1


__ADS_2