
Keduanya masih berciuman mesra walaupun sudah berpindah tempat. Kini, Rey dan Rhea tak lagi ada dikamar Rey lagi, tetapi sudah pindah ke kamar Rhea.
"Sepertinya, belum ada yang pulang. Apa mereka selalu pulang larut malam?" tanya Rey menyudahi ciumannya. Ia langsung merebahkan diri diatas kasur Rhea yang sempit dan hanya muat untuk satu orang.
"Biasanya jam segini mereka sudah terlelap. Aku akan memeriksa kamar nenek dulu."
"Nenek belum pulang, dia tidak ada dikamarnya."
"Bagaimana kau tahu?"
"Tahu saja." Rey tersenyum sambil menyangga kepalanya dengan satu tangan.
Rhea keluar kamar untuk memeriksa apakah sudah ada yang pulang. Ternyata memang tidak ada siapa-siapa dirumah ini. Rhea melihat dari jendela depan ruang tamu dan masih belum ada tanda-tanda kehidupan.
Karena tidak ada siapa-siapa, Rhea memutuskan kembali ke kamar dan kaget juga karena Rey belum pergi dari kamarnya.
"Aku kira kau sudah pulang," seru Rhea.
"Aku masih ingin bersamamu."
"Besok kan kita masih bisa bertemu lagi. Apa kata tetangga jika aku memasukkan laki-laki kedalam kamarku saat tidak ada seorangpun dirumah."
"Mereka pasti bakal menyuruh kita segera menikah, padahal aku mang suamimu. Jadi ini juga kamarku."
"Kau mulai lagi, sudahlah jangan ngelantur kemana-mana. Cepat pulanglah!" usir Rhea.
"Kau mengusir suamimu?"
"Bukan begitu, kita masih punya banyak waktu bersama, kita akan bertemu lagi besok."
"Tetap saja aku masih ingin berlama-lama denganmu. Apa kau tidak khawatir? Nenekmu belum pulang. Padahal ini sudah larut untuk ukuran seorang nenek."
"Nenek sangat berbeda. Tidak akan ada yang berani menyakitinya."
__ADS_1
"Bagaimana kau bisa seyakin itu? Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya?"
Mendengar ucapan Rey, Rhea jadi khawatir juga. Ia mengambil ponselnya dan menelepon neneknya, tapi panggilan Rhea tidak diangkat. Hal itu membuat Rhea jadi semakin cemas.
"Bagaiamana ini, Rey? Nenek tidak mengangkat panggilannya." Ada nada kecemasan di suara Rhea.
"Tenanglah, Sayang. Aku akan mencarikannya untukmu. Kau tunggu disini, oke."
"Aku ikut denganmu," rengek Rhea.
"Bagaimana dengan kakakmu? Harus ada orang yang menunggu kedatangannya."
Yang dikatakannya Rey benar juga. Rara pasti marah jika saat ia pulang, Rhea Tidak ada dirumah.
"Ehm, kalau begitu tolong temukan nenekku!"
"Jangan khawatir, aku akan kembali sambil membawa nenek." Reypun langsung menghilang dari pandangan Rhea.
Tak berselang lama, setelah kepergian Rey, Rara akhirnya pulang diantar oleh seorang laki-laki muda yang lumayan cool juga. Rhea tahu siapa laki-laki itu. Dan kondisi Rara saat ini, sedang mabuk berat dan juga berantakan.
"Sama-sama. Aku baru tahu kalau dia adalah kakak angkatmu. Ini pertama kalinya aku melihat wanita secantik dia. Apa dia baru datang dari luar kota?" tanya Jakson yang memang sebelumnya sudah kenal Rhea sejak lama.
"Kakakku memang tidak pernah keluar rumah, Kak. Aku mohon tolong jangan beritahu apapun tentangku pada, Kakak. Dia bisa marah besar." Rhea pun menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dan Rara tanpa ada yang ia sembunyikan kecuali hubungannya dengan Rey.
Secara garis besar, Jakson sudah tahu seperti apa Rhea. Tapi sangat miris dengan apa yang terjadi pada Rara yang buta akan kebaikan hati adiknya. Entah kenapa itu membuat Jakson ingin mengubah sikap Rara supaya ia tak seperti sekarang ini.
"Kau tenang saja Rhea, mulai sekarang aku akan membantumu mengubah sikap kakakmu."
"Apa maksud, Kakak?"
"Kau ingin dia berubah, kan? Karena itulah kau menuruti semua yang ia inginkan. Hanya ada satu cara supaya kakakmu itu bisa berubah."
"Aku sama sekali tidak mengerti, Kak. Apa yang kakak rencanakan? Cara apa itu?" Rhea jadi bingung.
__ADS_1
"Jatuh Cinta. Hanya itu caranya."
"Kakakku punya banyak kekasih, Kak. Karena dia memang cantik."
"Tapi dia belum pernah jatuh cinta, orang yang sudah pernah merasakan seperti apa indahnya jatuh cinta, pasti bakal rela dan siap melakukan apa saja demi nama cinta. Kau lihat saja, begitu kakakmu jatuh cinta padaku, ia pasti akan berubah. Aku pergi dulu, besok aku datang lagi untuk memeriksa keadaannya." Jakson pun pamit undur diri meninggalkan Rhea yang terbengong-bengong setelah mendengar perkataan Jakson.
"Apa aku tidak salah dengar?" gumam Rhea sambil melihat Jakson pergi dengan mobil mewahnya.
Rhea masuk ke dalam kamar kakaknya dan membantu menyelimuti tubuh kakaknya yang sedang tidak sadarkan diri karena mabuk.
"Pangeranku, kau benar-benar tampan! Aku baru tahu kalau ternyata kau itu sangatlah tampan. Aku kira kau itu jelek, tapi ternyata aku salah." tiba-tiba saja, Rara mengigau dan itu membuat Rhea terkejut.
"Apakah kakak, bertemu dengan Rey?" ucap Rhea lirih. Ada sedikit kekhawatiran disana.
Tiba-tiba saja terdengar pintu depan terbuka, dan neneknya masuk ke dalam rumah. Seketika Rhea keluar kamar Rara dan menghampiri neneknya.
"Besok saja kita bicara, hari ini aku lelah," ujar Nenek Haida terlebih dulu sebelum Rhea buka mulut.
Tak ada yang bisa dilakukan Rhea selain menuruti ucapan neneknya. Ia pun memutuskan istirahat dikamarnya karena besok ia harus berangkat pagi untuk kuliah. Rhea lega karena kakak dan neneknya sudah ada dirumah walaupun ada yan sedikit mengganjal dihatinya. Apalagi, Rey ternyata tidak kembali lagi kemari.
Namun, mendadak Rey meneleponnya. "Halo," ujar Rhea.
"Kau belum tidur?" tanya Rey dari seberang sana.
"Belum, semua orang sudah kembali sekarang. Apa kau ada dirumah?"
"Ehm, syukurlah kalau begitu. Maaf aku tidak bisa kesana, tapi aku janji besok aku akan menemuinya
Selamat malam, Sayang. I Love you."
"Selamat malam juga." Rhea menutup sambungan teleponnya dan tertidur tanpa mimpi. Rhea masih belum bisa tidur karena penasaran siapakah yang dimaksudkan 'pangeran' oleh kakaknya.
BERSAMBUNG
__ADS_1
****